
(Paris Prancis)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Airen merasa lega karena telah berbicara dengan adiknya semalam, kini dirinya tengah mandi tenggelam hanyut dalam lamunan. Hingga ia tersadarkan oleh ketukan pintu kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang, jangan lama-lama. Ayo cepet." ucap Hans dengan lembut.
"Ihh mas Hans bawel, nanti dulu mas. Aku masih pengen berendam." teriak Airen.
"Tapi ini sudah lama, kalau kamu tidak mau keluar. aku dobrak pintu ini." ancam Hans kepada istrinya.
Bisanya maen anceman, ga seru bangat. batin Airen.
"Iya-iya, yasudah kamu sana. Aku mau keluar, jangan ngintip awas." ucap Airen.
Hans menyeringai, "Iya sayang oke."
"Balik badannya mas, aku mau langsung ke ruang ganti."
"Hn, ini udah madep belakang."
Krek
Airen membuka pintunya perlahan, mengintip sang suami apakah benar dia sudah madep belakang atau belum, ternyata sudah. Dengan langkah yang pelan-pelan Airen keluar dari kamar mandi.
Ngintip dikit gpp kali ya, lagi juga kan udah sah. Terus juga dia make handuk. batin Hans.
Hans penasaran dia langsung berbalik badan, sungguh pemandangan yang luar biasa karena bisa melihat tubuh istrinya yang berbalut selimut.
Sedangkan Airen tidak tahu kalau suaminya mengintip dirinya, Airen langsung masuk ke dalam ruang ganti.
Sayang, kapan aku boleh berkelana dalam setiap inci tubuh mu arghhh, lama bangat sih. batin Hans prustasi.
***
Airen dan Hans sudah siap, mereka turun ke bawah untuk sarapan lebih dulu. Hans dengan setia selalu menggandeng tangan sang istri.
"Mommy!" teriak Gibran yang langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Airen.
"Hai tampan."
"Mommy aku kangen deh, sudah lama kita tidak berbicara bersama. Mommy mau kemana?" tanya Gibran yang melihat Hans membawa koper.
"Mau pergi berlibur." jawab Hans.
"Aku ikut ya Uncle, mau nemenin mommy." ucap Gibran dengan mata yang berbinar.
Hans menatap tajam kepada Bima, dan juga Mamih Hellena berharap kedua orang itu dapat membujuk Gibran.
Bima mengerti maksud tatapan dari sang adik, dia menghampiri Gibran dan menggendongnya. Bima menarik nafas dalam-dalam.
"Son, Uncle mu mau berlibur bersama dengan tante Airen. Nanti kamu liburannya sama Daddy aja ya." ucap Bima.
"Ndak mau Daddy, aku mau sama Mommy."
"Bagaimana dengan tante cantik?" tanya Bima.
"Otey, kita liburan bersama Tante cantik saja."
"Wihh, siapa tuh Bim tante cantik? roman-romannya Mamih bakalan ngadain resepsi pernikahan lagi nih." celetuk Raja.
"Diam lo Ja, ngawur aja kalau ngomong." ujar Bima, sambil membawa Gibran untuk duduk di kursi.
"Raja memberikan doa baik untuk kamu, seharusnya kamu aamiin kan. Jangan sewot gitu dong, sekalipun benar kan Alhamdulillah." ujar Hellena.
"Tau nih punya adek satu sensian bangat dah, inget noh kalau lo nikah dalam waktu tiga bulan si Hans bakalan ngasih hadiah." ucap Raja memperingatkan.
"Sudahlah, ayo kita sarapan bersama. Raja, kamu antarkan adikmu setelah ini." ucap William.
"Siap Pih, ini juga kan udah siap nih."
Mereka semua makan bersama, saling bertukar cerita di meja makan. Bahkan sesekali menanyakan tentang kehamilan Airen. Rona bahagia terpancar jelas di wajah Hans, Hellena sangat senang karena anak bungsunya itu kini menemukan kebahagiaannya.
Setelah selesai sarapan, semuanya saling bergantian memeluk Hans dan Airen. Terlebih Hellena dia sampai menangis haru karena anak dan menantunya akan pergi berlibur.
"Awas saja kalau kamu membuat menantuku kelelahan." ujar Hellena memperingati.
"Mamih tenang saja, orang si Hans sampai detik ini belum berhasil membobol gawang lagi." celetuk Raja, sontak hal itu membuat Ratu kesal terhadap suaminya.
"Mas Raja!"
Hellena yang mendengar itu merasa heran, apakah anaknya benar-benar tidak menginginkan hal itu? atau Airen yang tidak mau?.
"Jangan kelamaan Hans, nanti karatan kayak si Bima." celetuk William.
"Papih!" tatapan tajam dari Hellena, dan juga Bima.
"Lho emang bener, bahkan milik Papih jauh lebih tajam ketimbang si Bima yang sudah hampir 5 tahun tidak di asah."
Bugh.
Satu bogeman dari Hellena mendarat di perut William, sedangkan semua orang tertawa puas karena Tuan Mikhailov dibuat tidak berdaya oleh sang istri.
"Mih, Pih, kami berangkat. Assalamu'alaikum." ucap Hans dan Airen.
"Wa'alaikumussalam hati-hati ya, Hans jaga menantu dan cucu Mamih. jangan sampai terluka oke."
Hans mengangguk iya, Eza menghampiri sang kakak dan memeluknya erat.
"Kakak hati-hati, kak Hans tolong jaga kakak ya. Baliknya jangan lupa bawa oleh-oleh." ucap Eza berusaha menampilkan wajah bahagianya.
__ADS_1
"Iya Za, kamu baik-baik disini jangan merepotkan mama hellena dan juga mbak Ratu." pesan Airen kepada adiknya.
"Kamu tenang saja nak, Mamih tidak merasa direpotkan oleh Eza. Malahan Mamih seneng, berasa punya anak bujang. Yasudah kalian hati-hati, dadah." ujar Hellena.
Gibran dan juga Eranson pun berganti memeluk Airen, awalnya Gibran menangis karena tidak ingin Airen pergi namun untung saja, Bima dapat membujuknya.
Akhirnya mereka pun pergi menuju bandara, dan sesampainya di sana mereka langsung masuk ke dalam pesawat pribadi milik keluarga Mikhailov. Dan memakai jasa pilot pribadi pula, Raja senang mengantarkan sang adik ke Prancis karena pasti dia akan mendapatkan bayaran yang besar dari adiknya ini.
"Mas, aku takut." ucap Airen.
"Ngga apa-apa sayang, kan ada aku. Jangan takut ya, ayo sini." ucap Hans lembut.
Airen pun masuk ke dalam pesawat, dilihatnya tidak ada orang kecuali dia, suaminya dan beberapa staff pramugari di sana. Bahkan tempatnya juga berbeda dengan pesawat yang Airen sering lihat lewat handphone.
"Mas, kok cuma ada kita aja? penumpang yang lainnya mana?" tanya Airen.
"Ini pesawat pribadi milik Papih, jadi hanya ada kita berdua. kan aku bilang ingin menikmati waktu berdua dengan kamu."
"Wihh keren ya, kamu kaya bangat sih mas. Anak aku pasti tidak akan kekurangan gizi hehe." Airen terkekeh dengan ucapannya.
"Anak kita sayang, kan buatnya sama-sama." ujar Hans membenarkan.
Blushh, rona merah terpancar jelas di pipi Airen. Kenapa suaminya menjadi berani seperti ini.
"Udah ih, aku mau duduk." Airen langsung duduk tanpa menghiraukan suaminya, bahkan dia malu untuk menatap Hans.
Manis bangat sih, aaaaa jadi pengen gigit tomat. batin Hans.
🌹🌹🌹
Hari ini Bima bersama beberapa para dokter dan perawat sedang ada kunjungan ke salah satu sekolah anak, untuk pemeriksaan kesehatan bagi setiap anak-anak.
Mereka semua bersiap-siap, dan berangkat bersama ke beberapa sekolah. Setelah sampai mereka pun disambut oleh para guru dan kepala sekolah.
"Terimakasih untuk para Dokter, yang sudah mau mengunjungi sekolah ini. Dipersilahkan untuk segera memasuki ruang kelas." intruksi dari kepala sekolah pun sudah diberikan.
Mereka masuk ke dalam kelas, setiap kelasnya ada satu dokter dan dua perawat untuk mendampingi. Ada juga satu guru disetiap kelas, untuk mengarahkan dan membimbing murid-muridnya agar mau diperiksa.
Krek
"Hallo semuanya, apa kabar?" tanya Bima yang baru saja memasuki kelas.
Deg
"K--kak Bima." gumam Bella, yang kaget dengan kedatangan Bima.
"Bella?"
Bella hanya mengangguk, sedangkan Bima heran dengan Bella yang berada disini. Mungkinkah dia sedang menemani anaknya yang waktu itu?
"Bu guru, pak Dokter nya tampan ya. Cocok deh sama Ibu." ujar salah satu murid.
Bima terkejut dengan ucapan anak itu, ternyata Bella salah satu guru di sekolah ini. Namun sejak kapan?
"Kamu ngajar disini Bel, sejak kapan?" tanyanya.
"Dokter, semuany sudah siap." ujar perawat kepada Bima.
"Baiklah kita mulai pemeriksaannya."
Salah satu perawat mengabsen setiap nama yang ada, dan mereka yang dipanggil langsung maju ke depan untuk pemeriksaan gigi mata dan telinga bahkan organ-organ lainnya.
Semuanya nampak tertib karena arahan yang diberikan oleh Bella kepada murid-muridnya, Bella selalu mengajak anak muridnya berbicara saat mereka sedang diperiksa. Ada yang menangis karena takut, namun hal itu tidak berlangsung lama karena ajaibnya Bella mampu membujuk anak itu untuk mau diperiksa dengan tenang.
Hal itu membuat Bima semakin kagum dengan Bella, bahkan Bella yang dulu terbilang tomboy tidak ada lagi saat ini. Bima mengapresiasi sikap Bella yang berubah menjadi luar biasa. Sosok keibuannya muncul, apa mungkin karena sekarang Bella sudah menikah? Bima bertanya-tanya dalam hati.
Semua anak telah selesai pemeriksaan, Bima tersenyum ke arah Bella.
"Terimakasih karena telah membantu untuk memperlancar pemeriksaan." ucap Bima kepadanya.
"Sama-sama kak."
"Kamu luar biasa berubah, aku salut sama kamu Bel. Kamu ingat kita pernah main basket bersama? bahkan saat itu kamu sering mengalahkan ku. Tapi sekarang sepertinya aku tidak yakin, jika kamu menang. Dari penampilan mu saja sudah mengatakan bahwa kamu akan kalah." ujar Bima terus terang.
"Apakah penampilan menjamin kemenangan?"
"Tentu saja, dulu kamu hanya suka memakai pakaian seperti cowok. Lihatlah sekarang, kamu begitu feminim. Kapan-kapan kita main basket bersama, apa kamu mau?" tanya Bima penuh harap.
"Akan aku pertimbangkan."
Mereka berdua terlihat sangat akrab, dan mengulang beberapa momen saat dulu. Bertukar cerita ini dan itu, tanpa disadari keduanya menahan degup jantung yang menggebu.
"Ibu!" teriak anak perempuan.
"Hai Putri, bagaimana pemeriksaan kamu hm?" tanya Bella.
"Lancar bu, tapi sayang Ibu tidak menemani di kelas aku." lirih Putri.
"Tidak apa sayang, kamu hebat karena berhasil menjalani pemeriksaan dengan baik. Nanti Ibu belikan lolipop untuk kamu."
Ini? Bukankah ini anak Bella, aku penasaran siapa suami Bella. Kenapa hatiku mendadak tidak rela seperti ini. batin Bima.
"Lho ini Om dokter kan? Hai Om, apa kabar?" tanya putri kepada Bima.
"Hai, kabar om sangat baik. Bagaimana dengan mu?"
"Aku sangat baik om, karena ibu selalu menjaga ku." Putri memperlihatkan deretan giginya saat membanggakan Bella di depan Bima, senyuman tulus yang terukir dari bibir Putri mampu menyentuh hati Bima.
Iya kamu beruntung memiliki ibu sepertinya, dia wanita yang cerdas dan penuh dengan kasih sayang. batin Bima.
🌹🌹
Di Paris Prancis.
Kini Hans dan Airen sudah sampai di negara dengan keindahan menara Eiffel, Airen benar-benar takjub tak menyangka jika saat ini dirinya sudah berada di Paris Prancis.
__ADS_1
Demi apa ini seperti mimpi, impian ku yang terwujud. batin Airen.
"Sayang, ayo kita ke hotel lebih dulu. Aku sudah menyiapkan jadwal selama kita disini."
"Mas, terimakasih aku bahagia."
Airen langsung memeluk suaminya dengan erat, dia tidak menyangka karena salah satu impiannya untuk dapat pergi ke negara ini akhirnya terlaksana.
Untung saja mbak Ratu memberitahuku, kemana Istriku ingin pergi. batin Hans.
"Sama-sama sayang, ayo ke hotel dulu. Nanti kamu bisa sepuasnya memelukku."
Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke hotel, dan menaruh barang-barang di sana. Roni sudah menyiapkan segala keperluan Tuan nya selama berada di Prancis. Bahkan hotel pun Roni yang mengurusnya.
Cklek.
Hans membuka pintu kamar hotel, Airen menatap takjub dan kagum dengan isi kamar hotel bahkan kasurnya pun dihiasi dengan mawar merah.
Airen berlari ke arah balkon kamar, dia bahkan sampai menitikan air matanya saat melihat pemandangan menara Eiffel.
Hans mengejar istrinya ke balkon, dan langsung memeluk Airen dari belakang. Menenggelamkan kepalanya diceruk leher sang istri.
"Sayang kenapa kamu menangis, apa aku menyakiti mu?" tanya Hans khawatir.
Airen menggelengkan kepalanya, tubuhnya berbalik menghadap suaminya. Airen mengukir senyuman termanis untuk Hans, lalu memeluk erat Hans.
"Hikss.. Terimakasih banyak mas, aku bahagia sangat bahagia. Terimakasih untuk semua hal yang kamu lakukan buat aku." ucap Airen tulus dari dalam hatinya.
Deg
Hati Hans menghangat, syukurlah jika istrinya bahagia. Hans mengelus lembut kepala Airen, dan menciumi pucuk kepalanya dengan sayang.
"Aku juga bahagia, terimakasih karena telah hadir dalam kisah ku. Jangan pernah berniat untuk pergi dariku, I love you my Light." ucap Hans dengan sangat lembut.
Airen menghapus jejak airmatanya, dia menatap sang suami penuh tanya.
"My Light apa mas?" tanyanya.
Sontak hal itu membuat Hans tertawa terbahak-bahak, astaga dia lupa jika istrinya bahkan tidak menguasai bahasa asing.
"Cahya ku, kamu Cahya ku. Airen Cahya Senjani istriku." ucap Hans.
"Mas ngga nyesel nikah sama aku?" tanyanya.
Hans mengerenyitkan dahinya, seakan tidak suka dengan pertanyaan yang diberikan Airen kepada dirinya. Airen yang tahu tatapan tajam itu, dia terkekeh pelan.
"Maksudnya tuh, kamu ngga nyesel nikah sama perempuan kampungan seperti aku? Kita ini beda kasta lho."
"Ngawur kamu, ngomong apasih. aku ngga suka, kalau kamu bicara seperti itu." ucap Hans sambil mengerecutkan bibirnya.
"Ya ampun ayah nya anak-anak aku kalau ngambek gini gumush bangat sih mas, aku makin cinta deh." ujar Airen terkekeh.
Airen melingkarkan tangannya di leher Hans, menatap dalam suami tampan nya itu. Hans pun merangkul pinggang istrinya dengan erat.
"Mas?"
"Hn" jawab Hans tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.
"Jangan dipeluk erat-erat, kasihan anak aku sesek di dalam perut."
"Anak kita sayang."
"Iyaa anak kita." jawab Airen ketus.
Hans terkekeh, mereka saling menatap dalam satu sama lain. Pandangannya terkunci, degup jantung Airen sungguh luar biasa berdebar.
Seperkian detik kemudian, Hans langsung menyambar bibir manis istrinya. Dan melahapnya dengan dalam. Hans menarik tengkuk leher sang istri, agar memperdalam lum atanya.
Hmpphhh.
Keduanya hanyut dalam gelora perasaan yang menggebu, bahkan kini Airen tidak sungkan untuk membalas ciuman dari Hans. Mereka hanyut dalam perasaan yang membuncah bahagia, hingga desiran aneh mendorong Hans untuk melakukan yang lebih. Tangannya mulai nakal, berkeliaran ke dada sang istri. sontak hal itu membuat Airen menghentikan aktivitasnya.
"M---mas." panggil Airen dengan suara yang meremang.
"Yes baby?"
Airen melihat kilatan gairah muncul dalam mata suaminya, bahkan dia merasakan sesuatu yang menyentuh bagian area depannya. Sesuatu hal yang ternyata sudah bangun.
"Kenapa hm? Kamu merasakannya bukan?" tanya Hans dengan senyum menyeringai, dia semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Airen.
Aduh, gawat. Aaaaa aku belum siap, gimana ini. Mas Hans serem bangat sih. batin Airen.
"Awwhhhh, m--mas perutku sakit. aawssshh, mas perut ku, mas ini s--sakit." Airen meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Apa? Sayang, ya ampun. Ayo kita ke rumah sakit seja." ujar Hans panik.
"T--tidak usah mas, aku mau duduk di tepi ranjang saja." ucap Airen.
Hans pun membantu istrinya memapah ke dalam kamar, dan merebahkan tubuh Airen di sisi ranjang. Airen duduk sambil membelonjorkan kakinya, Hans mengambil bantal untuk penyanggah kepala istrinya.
"Sayang, sebaiknya kita ke dokter saja ya? aku takut kamu dan bayi kita kenapa-kenapa."
Mas Hans maaf, sebenarnya sakitnya tidak seberapa. aku hanya melebih-lebihkan agar terbebas dari mu. Aku masih belum siap kalau sekarang. batin Airen.
"insyaallah ngga apa-apa mas, hanya keram saja mungkin. sini tangan kamu." Airen mengambil tangan suaminya, dan meletakkannya di perutnya.
Airen mengelus perutnya dengan tangan suaminya, Hans tersenyum dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Hei kalian mengganggu papa dan mama tahu, apa kalian tidak ingin papa jengukin?" ucap Hans berbicara kepada anaknya.
Merasa berdosa bangat gue, ngebohongin suami. Maafin aku mas, aku janji akan segera memberikan hak mu. batin Airen.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.