
(BELAJAR DARI KESALAHAN ORANG LAIN)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Pagi ini Airen tengah berjalan-jalan santai, dia menikmati paginya yang sejuk. Membiarkan Eza sendiri di rumah yang masih tertidur pulas. Airen mengambil waktu pagi, karena masih belum banyak warga yang beraktivitas.
Airen ingin ke desa sebelah, karena saat ini di sana sedang ada bazar makanan yang beragam dari berbagai wilayah. Airen ingin mengajak Endah, namun dia kasihan dengan sahabatnya karena terus-menerus menemaninya. Jadi, Airen memutuskan pergi sendiri dan membelikan oleh-oleh untuk Endah.
Udara pagi di desa teramat sangat sejuk, karena ini masih jam 06.00 pagi. Belum banyak warga yang keluar beraktivitas, hanya ada beberapa orang saja.
Saat sampai di desa sebelah, Airen melihat ada seorang wanita hamil yang tengah duduk di salah satu pos sambil menangis sesenggukan. Airen menatap Iba pada wanita yang tengah hamil besar itu, dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Permisi, maaf Mbak kalau kehadiran saya mengganggu. Boleh saya duduk di sebelah Mbak?" tanya Airen.
Wanita yang tengah hamil sekitar 7 bulan itu pun mendongakkan wajahnya menatap kepada Airen, dia pun mengangguk tapi air matanya masih bercucuran.
Airen menelan salivanya, dia bingung harus bagaimana menenangkan wanita ini. Apalagi mereka baru saja bertemu, Airen tak ingin dikatakan bahwa dia seorang yang sok akrab.
"Mbak maaf, saya tidak bermaksud apa-apa. Tapi jika Mbak tidak keberatan, Mbak boleh menangis di pundak saya." ucap Airen lembut, dia menawarkan bahunya sebagai tempat sandaran untuk wanita itu menangis.
Wanita itu pun menangis sesenggukan, ternyata masih ada seseorang yang peduli padanya. Dia langsung memeluk Airen dengan begitu erat, Airen mencoba untuk menenangkan dengan cara mengusap punggung wanita itu. Setelah isak tangisnya mereda, perlahan wanita itu melepaskan pelukannya.
"Terimakasih, Dek. Kamu baik bangat." ujarnya.
"Sama-sama Mbak, kalau Mbak mau bercerita juga boleh. Itupun jika Mbak mau dan percaya dengan saya, saya tidak memaksakan kehendak Mbak." ujar Airen.
Wanita itu tersenyum senang, dia pun memang ingin menceritakan hal ini. Namun, sayangnya tidak ada tempat untuk dia bercerita.
"Saya sangat bersedih, karena laki-laki yang sering saya katakan brengs*k telah tiada untuk selama-lamanya demi menyelamatkan saya dan bayi yang saya kandung. Ayah dari anak ini, terus memaksa untuk bertanggung jawab. Namun saya enggan untuk menikah dengannya, karena saya merasa sangat benci dengan dia. Karena dia telah merenggut kehormatan saya, dan menanam benihnya di dalam rahim saya. Namun, dia terus berjuang untuk membuktikan bahwa dia benar-benar serius untuk bertanggung jawab. Saya terus menolak dengan menyakitinya menggunakan kata-kata yang kasar, dia tetap gigih berjuang untuk mendapatkan maaf dari saya. Hikss.."
Deg.
Hati Airen berdebar kencang tak karuan, ini persis seperti nasibnya. Airen mencoba kembali untuk menenangkan wanita itu.
"Kemarin, saya hampir tertabrak mobil. Namun, dia menyelamatkan saya dan bayi ini. Dia berkata sebelum akhir hidupnya, jika memang nyawanya bisa ditukar oleh maaf dari saya. Dia mau menukarnya, asalkan saya memaafkan dirinya. Dan saat itulah, saya baru menyadari ketulusan hatinya dan saya sangat menyesal untuk itu Hiksss.. D--dia juga meminta saya untuk terus menjaga dan menyayangi bayi ini." ujarnya, Wanita itu terus menangis karena tidak tahan lagi.
Airen mengusap punggung wanita itu dengan lembut, seakan merasakan apa yang dirasakan wanita itu. Tiba-tiba airmata Airen mencelos keluar begitu saja, dia membayangkan jika Hans tiada. Airen bersyukur karena bisa bertemu dengan Mbak ini, karena Airen dapat belajar dari kesalahan dirinya. Dia harus bisa memaafkan Hans, sebelum terlambat.
Aku akan mencoba untuk memaafkan Tuan Hans, dan berusaha menerima pernikahan dan juga anak ini. batin Airen.
Terimakasih Tuhan, karena telah mempertemukan aku dengan Mbak ini. Jagalah dia dan juga kandungannya, dan segeralah ganti kesedihan nya dengan kebahagiaan. Airen berdoa dalam hati untuknya.
🌹🌹
William datang ke apartemen milik Roni, dia mencari anak bungsunya itu. William benar-benar geram dengan Hans, yang tak kunjung pulang ke mansion.
Ting Tong
Siapa yang datang pagi-pagi seperti ini. batin Roni.
Krek..
"T--Tuan besar." ucapnya gugup.
"Dimana anak nakal itu?!"
"A--ada di dalam, Tuan."
William langsung masuk begitu saja, dia menatap Roni seakan bertanya dimana putranya. Roni menunjuk kepada salah satu kamar, William dengan tergesa-gesa menuju ke sana.
__ADS_1
Byurr
William menyiram Hans dengan air putih yang ada di atas meja, Hans dengan gelagapan langsung bangun.
"Papih!" ucap Hans kaget.
"Apa! Cepat pulang ke mansion, istriku sangat mengkhawatirkan mu. Dasar anak nakal, kau ini benar-benar sudah keterlaluan. Menikah pun tak bilang kepada kami!"
Apa!
"P--papih, sudah mengetahuinya?" tanya Hans tak percaya.
"Kita bicarakan ini dimansion, bahkan kau tega meninggalkan istrimu di desa sendirian. Dan tak mengajaknya pulang! Dasar tak tahu malu, kau malah menginap diapartemen asisten mu." ucap William.
Hans masih sedikit lelungu, karena langsung diguyur dengan air. William menunggu Hans di ruang tamu, sedangkan Hans bergegas untuk mencuci wajahnya.
Roni dibuat kikuk karena harus berhadapan dengan William, dia bingung harus apa dan bagaimana dalam menyikapi ayah dari bos nya.
"Hei, kau tak ingin menyuguhkan air ataupun makanan untuk ku?" tanya William.
"H--Hah? B--baik, Tuan besar. Saya akan membawanya." Roni langsung pergi menuju dapur.
Disaat bersamaan, Hans keluar dari kamarnya. Dia menemui Roni terlebih dahulu.
"Ron, kau langsung pergi ke kantor. Urus semua pekerjaan ku, kalau ada hal yang penting kirim lewat email ku."
"Baik, Tuan."
Hans menghampiri ayahnya, mereka pun segera pergi dari sana.
***
Di Mansion.
"Mamih nggak nafsu makan, bagaimana dengan kondisi Hans. Apa dia sudah menemukan Airen?" gumam Hellena.
"Mamih, tenang saja. Ayo makan, masa Mamih nggak menghargai masakan istri aku." ujar Raja yang baru saja datang.
Ratu mencubit pinggang suaminya.
"Aduhh My Queen, sakit." Raja memegangi pinggang nya yang baru saja mendapatkan cubitan dari sang istri.
"Lebay kamu Ja, sini sayang. Mamih mau makan masakan kamu." Hellena mengambil makanan yang dibawa oleh Ratu.
Raja dan Ratu saling bersitatap, mereka bahagia karena Hellena mau makan.
"Hari ini, kamu nggak jadi supir pesawat?" tanya Hellena sambil mengunyah makanan.
"Tck, ngga Mih. Jam terbang aku kemarin sudah maksimal, jadi hari ini ngambil libur dulu." ucap Raja.
Hellena hanya ber-oh saja, dia menikmati makanan yang dibuatkan oleh menantunya.
Saat Hellena tengah asyik menyantap makanannya, suara teriakan William sangat keras terdengar.
"Sayang, kamu dimana?" teriak William mencari-cari istrinya.
Dasar orang tua, diperbudak oleh cinta. batin Hans melihat ayahnya.
William langsung berbalik badan, "Apa kau sedang mengumpat ku, anak nakal?" William menatap tajam Hans.
"Tidak." jawab Hans santai, tanpa kikuk.
__ADS_1
William kembali meneriaki Hellena, sedangkan Hans hanya menghembuskan nafasnya kasar.
"Disini Pih, di ruang keluarga." teriak Hellena.
William langsung menuju ke sana, sedangkan Hans berada sedikit jauh dibelakang ayahnya. William langsung memeluk istri tersayangnya, dan dibalas oleh Hellena.
"Duhh Papah sama Mamah, sweet bangat sih." ujar Ratu menatap kepada mertuanya.
"Jangan iri, kita juga sweet. Sini peluk." Raja merentangkan tangannya, Ratu hanya acuh melihat tingkah suaminya.
"Pfftt Hahaha." William dan Hellena menertawakan putra sulungnya.
Raja memasang wajah masam sambil menggembungkan pipinya.
"Ck, Dasar lebay." ujar Hans.
Hellena langsung bangkit, dan langsung memeluk erat Hans.
"Hikss.. Anak Mamih yang paling ganteng, kenapa baru pulang hm? Kamu ngga apa-apa? Mamih sangat mengkhawatirkan kamu, Hans." ucap Hellena.
Hans justru terkekeh karena melihat wajah sang ayah yang tak bersahabat, Hans membalas pelukan Mamihnya dengan erat. Dia menjulurkan lidahnya ke arah Papihnya.
"Pfffttt Hahahaha." kini giliran Raja yang menertawakan ayahnya.
Sedangkan William menahan kesal kepada Hans, karena telah lancang memeluk sang pujaan hatinya.
"Maafkan aku, Mih." lirih Hans.
Hellena masih tidak melepaskan pelukannya dari Hans, karena dia sangat merindukan anak bungsunya itu.
"Tck, sudah lepaskan istriku!" ucap William.
Hellena hanya merungut kesal, suaminya benar-benar sangat posesif meskipun sudah tua dan mempunyai cucu.
"Papih apa-apaan sih, sama anak sendiri ngga mau ngalah." ujar Hellena.
"Kakek-kakek bu--." Raja tak melanjutkan kata-katanya, saat ditatap tajam oleh ayahnya.
"Bu bu bu apa ya? Mmm buren. ya buren (budak keren), Papih paling top. hehe." Raja hanya dapat terkekeh paksa.
Hans mencium tangan kakak iparnya, kini giliran Raja yang melotot tajam ke arah Hans.
"Adik kecil! jangan sentuh my queen." ucap Raja dingin.
"Mas Raja apa-apaan sih, orang Hans cuma cium tangan sama aku." ucap Ratu.
"Harusnya dia cukup cium tangan sama aku aja, pokoknya nanti kalau si Bima udah balik. Aku minta pembasmi kuman, biar tangan kamu kembali steril." ujar Raja.
"Eranson ngga usah dikasih kompensasi, Hans." ujar William kepada Hans, sedangkan Raja langsung melototi ayahnya.
"A--aah, kita bisa bicarakan itu lagi ya Hans, kamu ngga boleh pelit sama keponakan." ujar Raja.
"Hn." Hans hanya berdehem.
Kemana dua kecobong itu, kenapa tak nampak sama sekali batang hidungnya? batin Hans.
"Unclee Hanssss!!" Eranson dan Gibran berteriak dan langsung berlari ke arah Uncle nya yang baru datang.
Astaga, baru juga ditanyakan dalam hati. batin Hans.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.