Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 74


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Hans berjalan dengan langkah kaki yang gontai, rasa haru kian menyeruak dalam hati saat dirinya sudah berada tepat di depan ruang rawat anak-anaknya.


Hati Hans mulai deg-degan, dia tak menyangka bahwa hari ini sudah menjadi seorang ayah dari dua orang anak sekaligus. Saat Hans masih diambang pintu, ada suster yang hendak masuk ke dalam untuk memeriksa anak-anak Hans.


"Tuan mau masuk? Ayo silahkan." ucap suster tersebut.


Hans mengangguk dan tersenyum tipis, laki-laki itu mengikuti langkah kaki suster yang masuk ke dalam ruang rawat anaknya. Hati Hans berdebar cukup kencang, saat melihat kedua anaknya di dalam inkubator.


Tanpa sadar air matanya berjatuhan saat Hans melihat suster itu sedang memeriksa keadaan anaknya, tiba-tiba suara isak tangis bayi kian pecah di dalam ruangan.


Hans melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan anak-anaknya, Hans tersenyum bahagia melihat dua wajah anak-anaknya. Meskipun kembar, mereka jauh dari kata mirip. Wajah yang satunya lebih dominan wajah dirinya, sedangkan wajah anak yang lainnya lebih dominan wajah Airen.


Suster yang melihat Hans menitikan air mata dan tak sanggup untuk berkata, suster itu pun memberitahu kepada Hans tentang perkembangan anak-anaknya.


"Tuan, jangan khawatir. mereka berdua dalam keadaan baik, mungkin butuh dua minggu di dalam sini. Mereka berdua anak yang kuat, pertumbuhan dan perkembangannya sesuai dengan apa yang kita mau." ujar suster itu.


Hans hanya mengangguk-angguk saja, dia masih terus memandangi wajah anak-anaknya yang terlihat lucu dan menggemaskan.


"Sus, yang mana anak pertama?" tanya Hans tanpa melihat suster itu, karena matanya terus tertuju pada anak-anaknya.


Suster itu menunjuk salah satu inkubator di sebelah kanan.


"Ini dia anak pertama, dan yang sebelah kiri adiknya. mereka berdua hanya beda 3 sampai 4 menit saat lahir." ujar suster itu.


Hans tersenyum bahagia, dia bersyukur karena kondisi anak-anaknya semakin baik. Hans terus mengamati wajah kedua anaknya, mereka benar-benar tidak bisa dikatakan kembar karena wajahnya langsung bisa dibedakan saat mengamati lebih dalam.


"Tuan, apa ada yang masih ditanyakan?" tanya suster itu.


Hans menatap ke arah suster itu, memang dia hendak menanyakan jenis kelamin anak-anaknya.


"Mm, apa jenis kelaminnya?" tanya Hans.


"Apa? Jadi tuan tidak tahu jenis kelamin anak-anak tuan?" tanya suster itu tak percaya.


Hans menggeleng, memang kesepakatannya bersama dengan Airen tidak ingin tahu jenis kelamin anak mereka sebelum lahir. Dan karena jenis kelamin pulalah Airen sampai seperti ini, andai Mamihnya tidak menuntut seperti itu. Mungkin saat ini Airen dan anak mereka lahir dengan kondisi yang baik, dan di rumah sakit yang lebih layak.


Suster itu tersenyum, "Selamat ya tuan, anda memiliki dua putri. Mereka semua berjenis kelamin perempuan " ujar suster itu.


Hans nampak diam, sedetik kemudian laki-laki itu tersenyum bahagia. syukurlah jika kedua anaknya perempuan, pasti Mamihnya akan menyesal.


"Terimakasih sus, boleh tinggalkan saya sendiri disini bersama dengan anak saya?"


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."


Suster itu keluar dari ruangan, membiarkan privasi untuk Hans bersama dengan anak-anaknya. senyuman Hans terus mengembang, melihat kedua putrinya yang lucu dan menggemaskan.


"H--hallo jagoan papa." hanya itu yang dapat Hans ucapkan, bibirnya terasa kelu untuk berbicara.


Tanpa sadar tatapan Hans melihat ke arah putri pertamanya yang wajahnya sangat mirip dengan Airen. Hans menteskan air matanya, perasaannya campur aduk antara bahagia sedih dan kecewa.


"Kalian harus sehat ya, dan semoga bunda kalian cepat sadar, agar keluarga kita kembali bersama." lirih Hans.


Oekk.. oeekk..


"Cup cup cup, jangan menangis." ujar Hans mencoba mendiamkan.


Aku harus bagaimana? Cahya cepatlah sadar, bantu aku mengurus anak kita. batin Hans.


Hans merasa lega, setelah beberapa menit akhirnya putrinya terdiam. Hans melihat dua bayi mungil itu terlelap tidur, sudut bibir Hans terangkat mengembang.


"Papa tinggal dulu ya, nanti papa kesini lagi. Maaf untuk saat ini papa belum memberikan nama untuk kalian, kita tunggu bunda kalian sadar ya."


Cup cup


Hans mencium kening kedua anak-anaknya, dia pun pergi dari ruangan meskipun terasa berat untuk meninggalkan.


***


William mencoba untuk menelpon Hans ataupun Bima, namun hasilnya nihil. Kedua putranya sama sekali tidak menjawab panggilan telepon darinya.


Anak itu benar-benar keterlaluan, kenapa masalahnya menjadi rumit seperti ini. batin William.


"Opa, Daddy aku dimana?" tanya Gibran.


"Opa juga tidak tahu, sebaiknya Gibran bermain bersama dengan kak Eranson ya." ucap William


"No, aku ingin bermain dengan kak Eza. kenapa mansion ini sekarang nampak sepi, ini semua salah Oma yang membuat mommy Iren hilang." ujar Gibran.


"Gibran diam! Sejak kapan kamu berani seperti itu pada Oma mu." bentak William kepada cucu keduanya.


Mata Gibran berkunang-kunang, karena dibentak oleh kakeknya. Gibran berlari menuju kamar Ratu untuk mengadukan apa yang kakeknya lakukan terhadapnya.


"Opa jahat!" teriak Gibran, sambil berlari.


William memijat pelipis kepalanya yang pusing, kenapa masalahnya menjadi serumit ini bahkan hingga detik ini dia belum mendapatkan kabar tentang anak dan menantunya.

__ADS_1


"Pih." panggil Hellena.


"Lho Mamih, kenapa disini? istirahat saja Mih."


Hellena menggeleng, wanita paruh baya itu tak dapat istirahat karena merindukan anak-anaknya yang belum kembali padahal sudah hampir dua hari.


"Mamih kangen Hans, Bima dan juga Airen." lirihnya pelan.


"Pih temukan mereka, bawa Hans kembali ke mansion ini bersama dengan Airen. Mamih janji akan tetap menyayangi anak-anak Hans meskipun mereka berjenis kelamin laki-laki."


"Iya mih, Papih akan berusaha mencari mereka."


***


Pukul 19.45 malam.


Hans masih setia berada di sisi istrinya, dia menantikan Airen sadar dan bangun dari koma nya. Hans selalu berharap jika ada gerakan tangan istrinya.


"Sayang bangunlah, aku sudah melihat anak-anak kita. Sekilas mereka mirip, namun saat ditegaskan wajahnya sama sekali tidak mirip. Apa kamu tidak penasaran bagaimana wajah mereka berdua? Ayo bangun, aku belum memberikan nama untuk mereka. Sayang, Cahya sampai kapan kamu menghukum ku seperti ini Hem?" gumam Hans bermonolog sendiri.


Krek


Bima masuk ke dalam sambil menenteng makanan di tangannya, dia sengaja tadi keluar untuk mencari makan malam sekaligus membelikan makanan untuk Hans.


"Hans ayo makanlah dulu."


"Aku tidak lapar."


Bima menghela nafasnya pelan, dan meletakan makanan itu di atas nakas samping brankar. Bima menepuk pelan bahu adiknya.


"Hans, makanlah biarpun hanya beberapa suap saja. Lihatlah tubuhmu kurus seperti itu, kalau kau terus seperti ini bisa-bisa aku jauh lebih tampan dari mu. Apa kamu tidak takut, saat Airen sadar lalu melihat kondisi suaminya yang jelek dan tak terawat kemudian cintanya untuk mu hilang? apa kamu mau? Atau mungkin Airen akan lebih terpana saat melihat ku." ujar Bima.


Hans menatap tajam kakaknya, sedetik kemudian pria itu berjalan menuju kamar mandi. Hans melihat dirinya di depan cermin, memang benar saat ini kondisi fisiknya sangat kacau mulai dari wajah yang terlihat kusam, kantung mata yang mulai membesar, bahkan mata panda yang saat ini dia miliki. Hans menatap cermin itu, tubuhnya pun memang sudah sedikit kurus.


aku tidak boleh seperti ini, aku harus terlihat lebih tampan dari sebelumnya. batin Hans.


Hans keluar dari kamar mandi, dia menghampiri kakaknya.


"Aku tidak akan membiarkan istriku mencintai pria selain aku." ujar Hans.


Bima terkekeh, "Kau dengar Airen? suami mu tidak ingin cinta mu terbagi." ujar Bima.


"Ck, sudahlah sebaiknya kau pergi dari sini. Kak, sebaiknya kamu pulang mungkin Papih mencari mu."


"aku tidak akan meninggalkan mu sendirian."


"Hans, biarkan kakak menemani mu sampai Airen sadar."


Hans tersenyum kecut, sampai kapan kakaknya akan menemani dirinya? Toh Hans pun tidak tahu kapan Airen sadar.


"Tidak, sebaiknya kau pulang. Jangan biarkan Gibran sendiri, aku bisa mengurus diri sendiri. lagi pula nanti aku bisa meminta bantuan kepada Roni." ujar Hans.


"Baiklah jika kamu memaksa, aku kan pulang. Kalau ada waktu luang, aku akan berkunjung ke sini."


"Tidak perlu, jaraknya cukup jauh. Nanti setelah keadaan Airen sudah membaik, aku akan membawanya pindah ke rumah sakit di pusat kota. agar lebih memudahkan akses apapun."


"Yasudah kalau begitu aku pulang, tapi bolehkah kamu mengantarkan ku untuk melihat keponakan ku?"


Hans tersenyum dan mengangguk, sebelum keluar dari ruangan. Hans mencium kening istrinya, dan selalu berpamitan kepada Airen saat hendak pergi.


Hans dan Bima berjalan beriringan menuju ruang rawat anak-anak Hans, Bima masuk ke dalam untuk melihat kedua ponakannya.


"wah ini anak-anak mu Hans?"


"Hn."


Bima tidak menyangka meskipun mereka kembar, wajahnya terlihat berbeda saat ditegaskan yang satu mirip dengan Airen dan yang satu mirip dengan Hans.


"Lihatlah meskipun mereka kembar, tapi keduanya benar-benar berbeda. Wajah yang satunya memiliki sepenuhnya wajah Airen, dan wajah yang satunya memiliki penuh wajah mu. Mereka terlihat lucu dan menggemaskan, apakah mereka perempuan?" tanya Bima kepada Hans.


Hans mengangguk, sambil mengamati wajah anaknya.


"Mamih pasti menyesal." gumam Bima.


Hans menatap kakaknya, "Jangan beritahu siapapun kalau anak ku perempuan, kau harus merahasiakan ini."


Bima mengerti, dia mengangguk.


"Kalau tentang kondisi Airen?"


"Jawab apa adanya, jika saat ini Airen koma. dan bilang pada semuanya bahwa aku akan keluar dari mansion, karena istriku tidak baik-baik saja. sesuai dengan apa yang aku ucapkan tempo lalu."


"Apa kau yakin?"


Hans mengangguk mantap.


"Sangat yakin, karena menurutku ini yang terbaik. aku akan membina rumah tangga ku sendiri, bersama dengan Cahya dan juga anak-anak kami. Dan juga bersama Eza." ujar Hans.

__ADS_1


Bima menghela nafasnya, dia harus menghargai keputusan adiknya. Meskipun Bima tidak ingin jika mereka semua harus terpisah satu sama lain.


"Baiklah, dimana Eza?" tanya Bima penasaran.


"Ada bersama dengan Roni, aku memintanya menjaga Eza untuk sementara waktu sampai Cahya sadarkan diri. Karena aku tidak ingin jika Eza melihat kakaknya koma."


Bima menatap kedua keponakannya yang tertidur lelap di dalam inkubator, ada rasa nyeri di hati saat melihat kejadian ini terulang kembali. Tidak pernah Bima sangka, jika kisah Hans jauh lebih rumit.


"aku percayakan semuanya pada mu Hans, aku percaya kamu bisa melewati masa-masa ini. Kalau begitu aku pamit pulang, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menelpon ku." ujar Bima.


Hans mengangguk, dan langsung memeluk kakaknya.


"Terimakasih karena ada disaat aku dalam keterpurukan." gumam Hans.


Bima membalas pelukan adiknya, dan mengusap lembut punggung Hans. Mereka bedua larut dalam perasaanya masing-masing. Hingga tersadarkan oleh tangisan bayi.


"Hei hei hei, keponakan Daddy kenapa menangis Hem?" ucap Bima.


Pletak


"Enak saja kau ingin anak-anak ku memanggil mu Daddy." ucap Hans sambil menjitak kepala kakaknya.


"Awwhh, ck memangnya kenapa? Gibran saja memanggil Airen dengan sebutan Mommy."


"No, tidak akan kubiarkan putri ku memanggil mu Daddy."


"Ayolah Hans, apa salahnya sih."


"Sangat salah."


Untuk sekarang Bima hanya pasrah, tapi dia berjanji akan membuat anak-anak Hans memanggilnya Daddy.


"Yaudah, kalau begitu aku pergi. Dah, jaga diri baik-baik jangan lupa jaga kesehatan." pesan Bima kepada Hans.


***


Bima sampai di mansion pukul 21.00 malam, laki-laki itu langsung masuk ke dalam mansion. Bima berpapasan dengan ratu yang hendak mengambilkan susu untuk Gibran.


"Lho Bim, kamu sudah pulang? Dimana Hans dan Airen?" tanya Ratu menatap Bima.


Belum sempat Bima menjawab, Hellena datang memeluk Bima dengan erat. Bima membalas pelukan Mamihnya.


"Bim, dimana adik mu?" tanya Hellena khawatir.


"Rumah sakit." jawab Bima jujur.


Apa!


"Rumah sakit mana Bim? Ayo kita ke sana, kenapa Hans bisa masuk rumah sakit?" ujar Hellena panik.


Mamih hanya mengkhawatirkan Hans? bahkan dia tidak menanyakan tentang Airen. batin Bima.


"Mih ada apa?" tanya William yang baru saja sampai.


"Pih, Hans masuk rumah sakit. ayo pih kita lihat Hans."


"Bim apa benar? kenapa bisa Hans sampai masuk rumah sakit?"


Bima semakin jengah dengan tingkah kedua orangtuanya, apakah mereka pikir Hans yang sakit?


"Bukan Hans yang sakit, tapi Airen koma. Dan Hans memutuskan untuk pergi dari mansion ini."


Deg


semua orang terkejut dengan pernyataan Bima, Hellena terdiam kakinya terasa lemas, hal yang tidak pernah ia duga akan terjadi seperti ini.


"Bim jangan bercanda!" teriak William.


Bima tersenyum kecut, melihat ke arah Papih dan Mamihnya.


"terserah Papih mau percaya atau tidak."


Bima pergi dari sana, namun tertahan oleh pertanyaan yang diberikan Hellena.


"B--bagaimana dengan anak-anak Hans?"


"Menurut Mamih apakah mereka akan baik-baik saja? Disaat kondisi ibunya koma."


Apa! tidak mungkinkan jika anak Hans meninggal?


"Ini semua salah Airen, kenapa dia kabur hingga menyebabkan dirinya koma!" teriak Hellena prustasi.


"Kabur? Mamih yang menurunkannya dipinggir jalan! Bahkan Airen diculik oleh Daniel, dan dia disiksa. Apa Mamih mau membela diri, dengan menyebut bahwa ini semua kesalahan Airen sendiri?" teriak Bima, laki-laki berumur 30 tahun itu tidak habis pikir dengan ibunya.


Bima melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamarnya, dia tidak ingin berdebat dengan Mamih ataupun Papihnya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa vote, komen, like dan berikan hadiah ya. terimakasih atas dukungannya


__ADS_2