Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 118


__ADS_3

Setelah sampai di kampung halamannya, Airen memasuki rumah yang dulu langsung dibeli oleh suaminya. Lucu sekali rasanya jika mengingat masa-masa itu, masa dimana suaminya berjuang untuk mendapatkan maaf darinya.


Rumah itu terawat rapih, karena memang Hans menyuruh beberapa orang untuk merawat rumah itu. Bahkan rumahnya juga sudah direnovasi demi kenyamanan dan keamanan.


Hans menaruh kopernya di dalam kamar, begitupun dengan Eza yang langsung masuk ke dalam kamarnya, karena dia sangat merindukan rumah ini. Airen menggendong Amara, sedangkan Amira ada di stroller bayi.


Airen masih mengamati setiap sudut rumah ini, bersih terawat. Dia jadi ingat bagaimana momen-momen dahulu bersama suaminya di rumah ini, meskipun sekarang rumah ini keadaan jauhnya lebih baik karena sudah direnovasi namun setiap kenangan yang ada masih tersimpan rapih dalam ingatan.


Hans keluar dari kamar, langsung menempel pada istrinya yang diam berdiri. "Sayang kenapa melamun hem?" tanya Hans di belakang istrinya.


Airen tersenyum, "Kenapa ngga bilang ke aku kalau mau renovasi rumah ini?" tanyanya.


"Kamu marah? Maafin aku, aku pikir akan menjadi kejutan yang menyenangkan untuk kamu." lirih Hans yang masih belum menyadari senyuman sang istri.


Airen terkekeh pelan, "Aku ngga marah mas, seneng malah. Makasih ya sudah merawat rumah ini. Aku bahagia." ucapnya.


Hans semakin merengkuh kencang pinggang istrinya. memberikan beberapa ciuman di leher Airen. "Euhh, geli mas! Minggir ah, aku mau ganti baju."


"Ikutt!!"


"Nggak! kamu jagain anak-anak dulu, gantian." Airen menyerahkan Amara kepada suaminya, lalu berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian yang lebih santai.


Rencananya hari ini Airen hendak ke makam kedua orangtuanya bersama dengan Eza, suami, dan anak-anaknya. Setelah itu dia ingin ke rumah paman dan bibinya, sekedar menanyakan kabar mereka. Dan juga, Airen ingin bertamu ke rumah Endah dan Mak Suma selaku bosnya dahulu.


Mereka sudah siap, Hans memanggil supir pribadinya yang memang Hans suru menginap di daerah sini agar dia lebih mudah untuk memintanya datang. Setelah supir pribadi Hans sampai, mereka pun naik ke dalam mobil hendak menuju ke tempat pemakaman umum.


Sepanjang jalan Airen terus mengukir senyumannya, ada beberapa hal yang berbeda karena sudah banyak pembangunan seperti mini market, sekolah menengah atas, maupun tempat makan sederhana dipinggir jalan.


"Tempatnya sudah berbeda, tapi rasanya masih sama." gumam Airen yang memandang wajahnya ke arah jendela mobil.


Hans hanya tersenyum mendengarnya, dia juga ingat saat mencari istrinya dulu, dan malah bertemu di depan toko kue mak Suma saat itupun karena Airen di dorong oleh bibinya. Bahkan karena saat itu Hans pun jadi mengetahui tentang kehamilan istrinya.


Masa-masa menyulitkan, namun menyenangkan. batin Hans.


Sepanjang jalan Amara terus saja berceloteh banyak hal, Airen sesekali berbicara dengan anak-anaknya hanya sekedar mengenalkan tentang ini dan itu.


Eza yang berada di depan mobil bersama dengan pak supir pun tak kalah untuk mengenang setiap kejadian yang ada di tempatnya lahir ini, ada banyak hal yang terjadi disini masa-masa susah dan senang bersama kakaknya.


Tidak lama, mereka pun sampai ditempat tujuan. Mereka keluar bersamaan, dan menuju langsung ke makam kedua orangtuanya Airen. Hans menggendong Amara sedangkan Airen menggendong Amira, Eza berjalan lebih dulu di depan.


Sesampainya di makam, Eza tentu langsung menceritakan banyak hal yang terjadi. Dia juga meminta maaf karena baru sempat datang berkunjung. Begitupun dengan Airen, namun dia hanya bergumam dalam hati tak berani mengungkapkan karena takut menangis.

__ADS_1


"Ibu ayah, aku dan kakak sudah bahagia. Kalian juga harus bahagia di sana ya, aku senang punya Kaka ipar seperti kak Hans. Keluarganya baik, ibu juga pasti sudah tahu kan? aku yakin ibu dan ayah pasti tahu." ucap Eza.


Hans dan Airen hanya tersenyum, Hans terus menggenggam tangan istrinya.


Benar apa yang dikatakan Eza, kami sudah bahagia. Lebih tepatnya sudah menemukan kebahagiaan itu, Maaf ya Yah, Bu. kalau aku baru sempat mengunjungi kalian, oiya aku datang ke sini dengan dua cucu kalian. Ini anak-anak aku, namanya Amira dan Amara. Aku harap ibu dan ayah juga bahagia di sana, aku akan terus berusaha menjadi sosok ibu dan kakak yang baik untuk anak-anak dan Eza.


Hans pun bergumam dalam hati. Terimakasih karena kalian lah Airen ada, makasih Ibu telah melahirkan istriku. Aku akan berusaha membahagiakan putra, putri serta cucu kalian. batin Hans.


Mereka pun mendoakan ibu dan ayahnya, setelah itu Eza dan Airen menaburkan bunga. Mereka pun undur diri dari sana, dan kembali masuk ke dalam mobil. Katanya Airen ingin menyapa Endah dan Mak Suma, Airen ingin bertanya bagaimana sahabatnya itu bisa bertunangan dengan asisten suaminya. Tapi, Airen ingin berjalan kaki. Oleh sebab itu, mereka kembali ke rumah dulu.


"Kakak, Eza mau main sama teman-teman ya?"


"Iya za, baliknya jangan sore-sore ya. Jangan jauh-jauh mainnya." ucap Airen menasehati.


Eza mengangguk, sebelum dia pergi Eza menyempatkan untuk mencium pipi gembul kedua keponakannya. "Cepet gede ya, biar bisa main sama om Za. Dadah Mira dan Ara."


"Dadah om Za." ucap Airen mewakili anak-anaknya.


"Mas, ayok kita ke rumah paman dan bibi dulu." ajak Airen menarik tangan suaminya.


"Bentar sayang, aku ambil stroller mereka dulu. Aku nggak mau kamu cape." Hans langsung masuk ke dalam rumah mengambil stroller anak-anaknya.


"Inta inta i--nta." Ara berceloteh, kata yang dia pelajari dari ibunya adalah Cinta.


Airen tertawa mendengarnya, sungguh anaknya ini bagaikan pinangan dari suaminya. Terkadang lucu kalau Amara berceloteh banyak, dengan wajah dari ayahnya. Seperti melihat Hans kecil yang banyak bicara, bagaimana jika sudah besar nanti ya?


Hans membawa stroller itu dan menaruh kedua anaknya disana. Mereka pun berjalan bersama menuju rumah paman dan bibi. Hans terus menggenggam tangan istrinya dengan penuh cinta.


...****************...


Setelah sampai di rumah paman dan bibinya, Airen pun disambut hangat oleh mereka. Dengar-dengar mereka sudah tulus meminta maaf kepada Airen tentang segala bentuk kesalahannya di masa lalu terhadap Airen dan adiknya.


"Bibi ngga nyangka kalau sekarang kamu sudah memiliki dua anak, bibi senang Ren." ucapnya sambil memeluk Airen.


"Aku juga senang bi, karena bisa bertemu dengan bibi dan paman lagi." ucapnya lalu melepaskan pelukan bibinya.


Paman Airen tak mau kalah, dia juga ingin memeluk keponakannya itu. Namun saat dia hendak memeluk, Hans merengkuh pinggang Airen dan menariknya ke belakang, agar menjauh dari pamannya.


Hans menatap tajam pamannya Airen, sedangkan pak Yanto selaku paman Airen langsung melangkah mundur tak berani memeluk Airen saat mendapatkan peringatan dari Hans.


Airen yang sudah paham dengan kecemburuan suaminya, lantas dia langsung meminta maaf kepada pamannya. "Maaf ya paman." ucapnya

__ADS_1


"Memangnya kamu salah apa?" tanya Hans dengan polosnya.


Ck, pake tanya salah apa. batin Airen.


Ehem.


"Yasudah ayo kita makan, kamu ajak suami kamu makan ya Ren. Biar anak-anak kamu, paman dan bibi yang jagain."


"E--eh ngga usa--."


"Ayo sayang, aku lapar." Hans menarik istrinya untuk pergi menuju dapur.


Kadang mas Hans juga ngga tau diri ya. batin Airen yang melihat tingkah suaminya.


Hans memberhentikan langkahnya, lalu berbalik ke belakang. "Jangan sampai membuat luka sedikitpun kepada anak-anak ku, awas saja kalau hal itu terjadi." ucap Hans dengan dinginnya.


Paman dan bibi Airen dibuat gemetar mendengar ucapan suaminya Airen, sungguh mereka takut jika anak-anak Airen terluka meski hanya tak sengaja.


"Mas kamu apaansih, jangan seperti itu. Kamu membuat paman dan bibi takut!"


"E--ehh ngga kok Ren, justru itu bagus. Itu tandanya suami kamu sayang bangat sama anak-anaknya, karena ngga mau mereka terluka. Udah kamu temani suami kamu makan saja, bibi dan paman yang akan menjaga anak kalian." tutur Bi Marni karena tak ingin jika Airen dan suaminya malah bertengkar, suasana pasti akan lebih sesak daripada saat ini.


Airen akhirnya membawa suaminya ke dapur, pak Yanto bernapas lega. dia langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya, karena rasanya sesak sekali.


"Suaminya Airen ternyata sangat--."


"Pak sudah, kita cukup jaga anak-anaknya. Bapak mau kalau sampai suami nya Airen mendengar ucapan bapak?"


"Bukan begitu Bu, tapi kalau suaminya Airen terus seperti itu. Pasti kelak siapapun yang ingin mendekati anak-anak mereka, akan lebih dulu mengundurkan diri karena sifat ayahnya yang posesif."


"Tapikan ini demi kebaikan anak-anak mereka, lagi juga apa hubungannya posesif dengan terluka?"


"Ibu ga liat tadi waktu bapak mau peluk Airen? Dia sangat posesif sekali, padahal kan bapak ini pamannya Airen."


"Iya juga sih, sudah pak lebih baik kita jaga anak-anak mereka jangan sampai menangis."


Sepasang suami istri itu langsung keluar rumah, mereka mengajak anak-anak Airen menghirup udara segar di desa. Meski hanya berani sampe depan halaman rumah saja, karena kalau jauh-jauh takut anak-anak Airen kenapa-kenapa.


Bersambung...


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya.

__ADS_1


__ADS_2