
Selamat membaca βΊοΈ
Seminggu berlalu, Hans masih setia untuk selalu menemani istrinya. Dia selalu berharap jika Airen terbangun dari komanya segera mungkin, Hans menatap lekat manik mata sayu Airen yang terpejam. Rasa rindu akan kecerewetan istrinya kian menghiasi dirinya.
"Sayang, ini sudah seminggu lho kamu belum bangun juga. Ayo dong bangun, kamu ngga kasihan sama aku dan anak-anak kita hm? Maaf Cahya, maaf karena aku datang terlambat untuk menyelamatkan mu. Sayang pliss buka mata mu, ayo lihat aku. Cahyaa!" ujar Hans, sambil terus menggenggam tangan istrinya dan menahan rasa sesak di dada.
Hans menundukkan kepalanya, menangis sendu karena Airen tak kunjung ada tanda-tanda untuk sadar.
Drrddtt drddttt
Dering ponsel membuat Hans sadar, laki-laki setengah bule itu segera mengambil ponsel miliknya di saku celana.
π"Tuan, saya akan berkunjung ke rumah sakit. Apa ada hal yang ingin Tuan titip?" tanya Roni.
π"Tidak ada, bawa saja berkas pekerjaan yang harus aku selesaikan ke sini. Oiya, bagaimana dengan Eza?" tanya Hans.
π"Dia tidak bawel Tuan, tapi saya merasa Eza kesepian. Terlebih harus saya tinggal karena bekerja, dia pasti merasa kesepian di apartemen."
π"Bawa Eza sekalian ke sini, biarkan dia disini."
π"Baik tuan."
Tut..
Hans menghela nafasnya pelan, dia memandangi wajah istrinya.
"Sayang, kau dengar? Eza kesepian. Ayo makanya kamu harus sadar, karena ada banyak orang yang membutuhkan mu. Termasuk aku." lirih Hans.
Cklek
"Selamat pagi Tuan, saya ingin memeriksa Nyonya Airen." ujar dokter itu.
"Silahkan Dok."
Hans mundur, dia membiarkan Dokter itu memeriksa istrinya, Hans mengamati segala aktivitas yang dilakukan dokter kepada istrinya hingga dokter itu selesai memeriksanya.
"Bagaimana Dok?" tanya Hans penasaran.
"Sama saja seperti kemarin-kemarin, tidak ada tanda-tanda jika pasien akan sad--."
"Istri saya pasti sadar, tidak apa jika dia ingin tidur lebih lama." Hans memotong ucapan dokter itu.
Dokter itu mengangguk, seperti sebelum-sebelumnya Hans selalu berfikir positif jika istrinya akan sadar, meski pada kenyataannya sangat sedikit kemungkinan jika Airen sadar.
"Mm Tuan, kedua anak anda sudah dalam kondisi baik. Mereka tidak perlu dirawat di dalam inkubator. Apakah Tuan setuju, jika anak Tuan dipindahkan ke ruangan lain?"
"Bawa mereka ke sini, biarkan di samping ibunya." ujar Hans.
"Baiklah kalau begitu saya permisi."
Hans mengangguk, dia duduk kembali di sisi brankar. Hans terus menggenggam tangan Airen. Tangannya kemudian terulur untuk membelai wajah Airen, wajah yang terakhir kali dia lihat dalam keadaan takut dan sedih. Saat itu Hans melihat luka lebam bekas tamparan di wajah istrinya, dan untuk saja sekarang sudah membaik.
"Hei sayang, masih mau istrirahat lebih lama Hem? Oke tidak apa, aku masih sanggup untuk menjaga mu dan anak-anak kita." ujar Hans tersenyum kecil.
***
Eza sangat bersemangat karena dirinya akan bertemu dengan kakaknya, Roni dan Eza sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Roni bahagia, karena senyuman diwajah Eza begitu merekah.
"Za, saya mau tanya sama kamu boleh?" tanya Roni memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Boleh om."
"Kamu kenalkan sama teman kakak mu yang namanya Endah?"
Eza mengangguk, "Kenal bangat, kan itu sahabat baiknya kak Iren. Om suka ya sama kak Endah?" tanya Eza penasaran.
__ADS_1
Roni diam tidak menggubris ucapan Eza, dia hanya fokus menyetir.
"Tau apa kamu tentang rasa suka?" tanya Roni.
"Mmm, kata kak Iren kalau rasa suka itu umum. Jadi kalau Om suka sama kak Endah juga tidak masalah, kan bisa saja kita menyukai seseorang karena orang itu baik sama kita. Seperti aku yang menyukai Om Roni, karena Om Roni itu baik. Suka kan umum, jadi katanya tidak terbatas. Bisa saja kita suka dengan binatang, atau hal lainnya. Seperti kesukaan kita terhadap satu makanan, seperti itu. Kalau cinta itu baru beda om." tutur Eza menjelaskan.
Bisa-bisanya aku diajarin sama anak yang baru sekolah menengah pertama. batin Roni.
Eza dan Roni sama-sama mengobrol tentang banyak hal, tak jarang Roni sesekali menanyakan tentang Endah. Ntah mengapa ada ketertarikan dirinya terhadap sahabat istri tuannya.
Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya mereka telah sampai di rumah sakit, Eza mengikuti langkah kaki Roni masuk menuju rumah sakit.
"Om kita kok ke rumah sakit?" tanya Eza.
"Nanti Eza tahu kok."
Perasaan Eza tidak enak, apa ada sesuatu hal yang terjadi dengan kakaknya? Pikiran buruk tentang kakaknya terus berputar dikepala Eza. Hingga akhirnya mereka telah sampai di depan pintu ruang rawat inap pasien. Roni mengeluarkan ponsel miliknya dan menelpon Hans meminta izin untuk masuk ke dalam ruangan.
Krek
Hans keluar, dia tidak ingin jika Eza terkejut melihat kakaknya terbaring tak sadarkan diri di atas brankar. Hans ingin berbicara pelan-pelan dengan adik iparnya itu.
"Kak Hans." ujar Eza yang langsung memeluk kakak iparnya.
Roni yang melihat situasi ini langsung pamit untuk pergi ke halaman depan rumah sakit, dia tidak ingin mengganggu privasi antara kaka dan adik itu.
"Kak Hans, dimana kak Iren? Aku kangen kak, kakak ku baik-baik saja kan?" tanya Eza menatap Hans.
Hans tersenyum, dia menyuruh Eza untuk duduk lebih dulu. Hans perlahan mengusap lembut kepala Eza dengan sayang.
"Apa Roni menjaga mu dengan baik?" tanya Hans mencoba untuk basa basi.
"Baik kak, om Roni orangnya baik kok."
Hans tersenyum, dia sedikit terkejut karena Eza memanggil Roni dengan sebutan om, padahal dirinya jauh lebih tua dari Roni saja dipanggil kakak.
"Aku sudah mengatakan itu lebih dulu kepada kak Iren, jadi untuk apa aku berjanji kembali."
"Za, ada yang ingin kakak sampaikan. Tapi Eza janji ya tidak boleh menangis, Eza harus kuat oke."
Eza mengangguk, dirinya semakin dibuat penasaran oleh Hans. Apa maksud dari tidak boleh menangis? Apa sesuatu telah terjadi kepada kakaknya?
"Aku janji kak."
Hans menghela nafas berat, sedikit sulit untuk memberitahukan hal ini kepada Eza. Namun, cepat ataupun lambat Eza pasti akan mengetahuinya.
"Za, kak Iren sudah melahirkan dan---."
"Hah serius kak? Dimana keponakan ku, aku ingin melihatnya. Apa ada yang mirip dengan ku?" ujar Eza antusias karena mendengar jika kakanya sudah melahirkan.
"Jangan potong ucapan kakak Za."
"Baiklah kak, silahkan lanjutkan."
"Kakak mu sudah melahirkan, dan sekarang d--dia k--koma." ujar Hans, mencoba untuk tidak bersedih di hadapan Eza.
Apa!
Eza diam mencerna ucapan kakak iparnya itu, ada perasaan sakit dan ngilu saat mendengar kata 'koma'. Tentu Eza tahu hal itu, karena dia sudah cukup dewasa untuk tahu hal-hal seperti itu. Eza berusaha menahan air matanya agar tidak turun, karena dia sudah berjanji untuk tidak menangis.
Hans yang melihat adik iparnya menahan tangis, dia langsung membawa Eza kedalam dekapannya.
"Menangislah Za, tidak apa-apa." lirih Hans.
Hikss... Hiksss..
__ADS_1
Sebisa apapun Eza menahan, namun dia tetap mengeluarkan tangisannya. Hatinya benar-benar hancur, mendengar kabar jika kakaknya koma. Hans ikut menangis pilu, saat mendengar suara Isak tangis Eza.
Setelah cukup lama kedua laki-laki berbeda generasi itu menangis, akhirnya Hans mengajak Eza masuk ke dalam untuk melihat keadaan kakaknya.
"K--kakak." lirih Eza yang melihat kondisi kakaknya.
Hans membiarkan Eza duduk di samping Airen, Hans hanya mengamati interaksi Eza terhadap kakaknya.
"Kakak, jangan tinggalkan aku. Aku butuh kakak, ayo bangun kak." ucap Eza sendu.
Hans memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak ingin menangis kembali saat melihat pemandangan seperti ini.
Cahya, kau dengar? Adik mu saja membutuhkan mu. Ayo bangun sayang, ada banyak orang yang membutuhkan mu. batin Hans.
πΉ
Barra senang, karena Daniel dan istrinya sudah ditetapkan hukumannya. Saat ini Barra sedang mencari Laura, agar wanita itu pun bisa dipenjarakan.
Kemana aku harus mencari wanita licik itu. batin Barra.
Barra melajukan mobilnya menuju perusahaannya, ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan lebih dulu.
Barra masuk ke dalam ruangannya, dia pun mulai menangani semua berkas dan dokumen yang berserakan.
Tok tok tok
"Masuk." ucap Barra.
"Tuan, ada tuan besar LovMart yang ingin menemui anda." ujar sekretaris Barra.
Tidak mungkin Hans kan? batin Barra.
"Baiklah, suru dia masuk."
Sekretaris Barra keluar, dan memanggil orang yang ingin menemui Barra. William langsung masuk ke dalam ruangan teman dari anaknya itu.
"Barra."
"H--Hah? Om Willi." Barra langsung beranjak dari kursi kebesarannya.
"Om tau, kamu pasti tahu dimana Hans berada. Cepat katakan kepada Om." ujar William.
Kalau gue kasih tau om Willi, bisa dipenggal kepala gue sama si Hans. Duh nih anak sama bapak kenapa wajahnya sangat gitu sih, bikin orang takut aja. batin Barra.
"Cepat katakan!" ujar William.
"S--saya tidak tahu Om."
"Bohong! Kau pasti tahu, karena kau adalah sahabat baiknya."
"Om yang seharusnya lebih tahu, karena Om adalah ayahnya. Maaf om saya lancang berkata demikian, dan maaf saya tidak dapat memberitahukan hal itu kepada om karena Hans yang meminta saya untuk tidak memberitahu siapapun tentang keberadaannya termasuk keluarganya." ujar Barra.
Ck, kenapa mereka semua menurut sekali dengan Hans. batin William.
"Barra, kau tidak kasihan pada om mu ini? Lihatlah, aku ini sudah tua jadi tidak dapat bermain petak umpat dengan Hans. jadi tolong beritahukan saja dimana dia, aku berjanji tidak akan memberitahunya kalau aku tahu dari mu." ujar William seperti Raja.
Astaga, tadi wajahnya terlihat sangar seperti Hans. Kenapa sekarang terlihat menjadi lebay seperti Kak Raja. Sungguh om Willi memang aneh. batin Barra.
"Maaf om, aku tetap tidak bisa memberitahukan hal ini kepada om."
"Ah kau ini, yasudahlah." William langsung keluar dari ruangan Barra, percuma saja membujuk laki-laki sepertinya.
Lihat itu? Raut wajahnya sekarang berubah seperti Bang Bima. batin Barra.
Bersambung...
__ADS_1
Mumpung hari Senin, jangan lupa berikan votenya ya.
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen, like dan berikan hadiah yaa. Terimakasih orang-orang baik.