Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 73


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Bima dengan sabar menunggu Hans untuk sadar, pria berumur tiga puluh tahun itu merasakan betul apa yang dirasakan adiknya. Karena Bima pernah mengalami hal serupa seperti ini, dulu juga Mamihnya menginginkan cucu perempuan namun tidak semaksa seperti sekarang. Jika Gina masih hidup, mungkin kasih sayang Hellena untuk Gibran tidak sebesar saat ini.


"Hans, sadarlah. Istri dan anak mu membutuhkan mu." gumam Bima di sisi brankar.


Krek


"permisi Tuan, ada dokter yang ingin menyampaikan sesuatu." ucap suster tersebut.


Bima keluar mengikuti langkah kaki suster yang membawanya menuju dokter, Bima dan dokter itu nampak berbincang tentang keadaan Airen.


"Bagaimana Dok?" tanya Bima langsung.


"Dengan berat hati, pasien atas nama Airen Cahya Senjani dinyatakan koma setelah melewati masa kritisnya." ucap dokter itu.


Deg


Bima semakin kalut, hal ini seperti Dejavu bagi dirinya. Dulu istrinya pun dinyatakan koma setelah melahirkan, bahkan Gina alm istri dari Bima dinyatakan meninggal setelah sebulan koma.


"Berdoalah, agar pasien dapat sadar kembali. Kami sudah berusaha semampu kami, pasien juga sudah dipindahkan ke ruang rawat inap nomor xx." ujar dokter tersebut memberitahu Bima.


"Baik dok, terimakasih. Lalu, bagaimana dengan anak-anaknya?"


"Mereka berdua dalam keadaan baik, saya baru melihat perjuangan ibu dan anak yang luar biasa. mereka sangat tangguh dan kuat, kesehatannya oke, organ-organ nya juga lengkap. Mungkin akan butuh beberapa Minggu di dalam inkubator, agar mereka mendapatkan perawatan yang lebih intensif untuk pertumbuhan dan perkembangannya."


Bima hanya mengangguk, dia merasa lega karena keponakannya baik-baik saja. Tapi, dia mengkhawatirkan Airen jangan sampai adik iparnya senasib dengan istrinya dulu.


"Kalau gitu, saya permisi Tuan."


"Baik dok, terimakasih."


Bima melangkahkan kakinya menuju ruangan Hans, dia akan memberitahu hal ini kepada adiknya.


Cklek


Hans menatap ke arah pintu yang terbuka, baru saja dia hendak keluar untuk melihat istri dan anak-anaknya.


"Hans, sebaiknya kamu istirahat dulu." ucap Bima memapah adiknya untuk kembali ke brankar.


"bagaimana kondisi istriku?" tanya Hans dengan suara pelan.


Bima tersenyum, "Sebaiknya kamu makan dulu, setelah itu baru melihat Airen dan juga anak kalian. isi tenaga mu dahulu." ucap Bima menyarankan.


Hans menurut saja, dia tidak ingin sakit karena dia harus merawat istri dan anak-anaknya. Meskipun terasa pahit dan hambar, Hans tetap memaksakan dirinya untuk makan beberapa suap.


"Ini obatnya." ujar Bima menyodorkan beberapa obat kepada Hans.


Hans menatap ke arah kakaknya, Bima yang ditatap seperti itu merasa heran dan aneh. "Ada apa? Apa kau tidak percaya, jika ini obat asli?"


Hans menggeleng lemah, "T--terimakasih kak." ucap Hans pelan.


H--Hah?


"Coba ulangi, aku ingin mendengarnya sekali lagi."


"Cari mati?"


Bima terkekeh, syukurlah sepertinya adiknya memiliki mental yang lebih kuat daripada dirinya. Bahkan Hans mampu untuk makan dengan lahap, meskipun Bima tahu jika Hans terpaksa melakukan hal ini.

__ADS_1


***


Hans melangkahkan kakinya menuju ruang inap Airen, dia sudah tahu dari Bima kakaknya jika Airen saat ini koma.


Di depan pintu ruangan, Hans nampak ragu dan gelisah. Rasa sakit kian menyeruak dalam hati, andai saja jika saat itu dia berhasil menyelamatkan istrinya mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.


Krek


Dengan langkah kaki yang gontai Hans masuk ke dalam ruangan, dilihatnya Airen yang berada di atas brankar dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.


"Sayang." panggil Hans.


Laki-laki itu duduk di samping brankar istrinya, Hans menggenggam tangan Airen yang dingin. Hans berusaha menahan isak tangisnya, pertama kali dalam hidupnya dia merasakan hal serapuh ini.


"B--bangun, Cahya dunia ku gelap jika kamu seperti ini. Ayo sayang bangun, kita lihat anak-anak kita sama-sama. oke tidak apa, kalau kamu masih ingin tidur dan istirahat. Tapi aku harap kamu sadar kembali, aku dan anak-anak membutuhkan mu." gumam Hans.


Bima melihat hal itu dibalik pintu yang terbuka sedikit, Bima mengurungkan niatnya untuk masuk. Hal yang baru saja dia lihat, seperti kilasan memori dirinya bersama dengan Gina. Bima menangis sendu di balik pintu, berusaha untuk tidak mengeluarkan suara.


Kenapa hal ini harus menimpa adik ku? Mengapa Tuhan? tidak cukup kah, jika hal itu hanya aku saja yang mengalaminya. batin Bima.


Berbeda dengan dirinya, saat Bima dalam keterpurukan ada banyak anggota keluarga yang menemaninya. Mamih Hellena, Papih William, Raja, Ratu, papa mertuanya, bahkan Hans dan juga Rio ada pada saat itu. Sedangkan sekarang, Hans hanya memiliki Bima sebagai salah satu keluarganya.


Bima tersadar dari lamunannya saat dering ponselnya berbunyi, Bima segera menjauh dari pintu ruangan itu.


Drrdttddd drddttt


πŸ“ž"Hallo Bar, bagaimana?" tanya Bima diambang telepon.


πŸ“ž"Daniel dan istrinya sudah ditangkap, saat ini kami tengah mengurusnya dikantor polisi." Barra memberitahu Bima.


πŸ“ž"Laura?"


πŸ“ž"baiklah, untuk sekarang urus saja orangtuanya pastikan mereka dipenjara."


πŸ“ž"baik, Bang Bima bagaimana kondisi Airen dan anak-anaknya?" tanya Barra penasaran.


πŸ“ž"ck, aku bukan Abang mu. Stop memanggilku Abang, sudahlah sebaiknya kau urus saja hal itu. Nanti kalau sudah selesai, kamu dan yang lainnya boleh mengunjungi Hans di rumah sakit xx. Ingat bar, jangan beritahu hal ini kepada keluarga ku." ucap Bima memperingatkan.


πŸ“ž"Oke ban--."


Tut..


Bima langsung mematikan panggilan teleponnya, dia kesal dengan barra yang terus menerus memanggilnya Abang. Padahal Hans saja memanggilnya kakak, norak sekali bahasa Barra.


***


Di mansion, William hanya menunggu kabar saja karena dia tidak tahu harus mencari Hans dan Airen kemana? William memilih untuk berada di sisi istrinya.


"Pih, bagaimana apakah Airen sudah ditemukan?" tanya Hellena khawatir.


William tersenyum dan mengelus lembut kepala Hellena, "Belum, kita doakan saja semoga Airen baik-baik saja."


"Ini semua salah Mamih, seharusnya Mamih tidak meninggalkan Airen di tepi jalan." lirih Hellena.


"Oma, kenapa Oma meninggalkan mommy di pinggir jalan? Kenapa Oma jahat sekali." ujar Gibran yang baru datang.


"Gib jangan seperti itu dengan Oma mu. Ayo cepat minta maaf." ucap William.


Gibran menggelengkan kepalanya, dia lebih memilih untuk berlari ke kamarnya daripada meminta maaf dengan Oma nya.


Kenapa semua orang jadi menyalahkan istri ku. batin William.

__ADS_1


Raja datang, anak laki-laki pertama dikeluarga Mikhailov itu duduk di samping sebelah kiri ibunya. Raja mengelus lembut lengan ibunya.


"Mamih jangan merasa bersalah seperti ini, yang dikatakan Papih benar. istrinya Hans pasti baik-baik saja, lagi pula ini salah dirinya kenapa dia tidak kembali ke mansion." ucap raja.


"Mamih takut jika Airen tidak baik-baik saja, itu artinya Hans akan meninggalkan mansion ini. dia akan meninggalkan Mamih, jika Airen ditemukan dalam kondisi yang tidak baik." lirih Hellena.


Raja menarik nafasnya pelan, meskipun Hans sudah berlaku kurang baik terhadap ibunya. Namun dia tetap mendapatkan kasih sayang dan kekhawatiran dari Mamih Hellena, Raja sungguh iri dengan kasih sayang yang melimpah untuk Hans.


***


Roni membawa Eza ke apartemennya untuk sementara waktu, karena Hans sudah berpesan kepada Roni untuk menjaga adik iparnya.


"Om, aku ingin bertemu dengan kak Iren." ujar Eza.


Astaga anak ini memanggil ku Om, apa aku setua itu? padahal usiaku lebih muda daripada Hans. batin Roni.


"Eza untuk sementara waktu tinggal di apartemen om ya, nanti kalau sudah dapat panggilan dari om Hans baru kita menemui kakak Eza oke." ujar Roni.


"Aku ingin sama kakak, biarkan kami tinggal di desa saja Om. Aku pikir Oma Hellena tidak jahat terhadap kakak, ternyata dia sama seperti bibi. Jika Oma Hellena tidak meninggalkan kakak di pinggir jalan, mungkin hari ini aku masih bisa bertemu dengan kakak." lirih Eza, rasanya begitu kecewa terhadap keluarga kakak iparnya itu.


"Eza, sini om beritahu. Sebenarnya semua keluarga om Hans sayang sama Eza dan kak Iren. hanya saja cara mereka untuk menginginkan sesuatu harus benar-benar terwujud, Eza sabar ya pokoknya nanti pasti akan bertemu dengan kakak mu."


Eza mengangguk, dia tidak ingin merepotkan orang lebih banyak lagi. Untuk sementara waktu, Eza akan mengikuti setiap perkataan Om Roni, Eza melihat jika Om Roni bukanlah orang jahat. Jadi dia dapat mempercayai nya.


🌹


Hans terus menemani istrinya di sisi brankar, dia ingin jika orang yang pertama Airen lihat setelah sadar adalah dirinya. Hans tidak pernah berhenti untuk menggenggam tangan istrinya, sedetik pun dia tak mampu untuk beranjak.


Bima masuk ke dalam ruangan, laki-laki itu menepuk bahu adiknya. Hans menoleh ke arah kakaknya untuk sesaat, lalu tatapannya kembali kepada wajah istrinya.


"Hans, sebaiknya kamu makan dan mandi setelah itu istirahat. Biarkan aku yang gantikan untuk menjaga Airen." ujar Bima.


Hans diam sama sekali tidak menjawab ucapan kakaknya, pikirannya saat ini hanya fokus akan Airen.


"Hans, kalau kamu seperti ini bisa sakit. Kau ingat? Aku pernah ada di posisi mu, waktu itu kau bilang dan menasehati ku untuk tetap menjaga kesehatan karena ada Gibran yang lebih membutuhkan ku, dan aku harus menjaga dan melindunginya. Lalu bagaimana dengan mu? Bahkan kamu belum melihat anak-anak mu, Kesehatannya? wajahnya? jenis kelaminnya? Bukannya kau belum tahu itu semua."


Hans tersadar, apa yang dikatakan kakaknya benar. Hingga kini dia belum melihat bahkan menyentuh anak-anaknya. Hans hanya mendengar suara Isak tangis anak-anaknya ketika lahir.


Hans bangun dari brankar, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Airen yang masih terus memejamkan matanya.


"Sayang, aku lihat anak-anak kita lebih dulu ya. Jangan cemburu oke, karena aku lebih mencintai kamu (ibunya) daripada mereka."


Cup


Hans mengecup keninga Airen sekilas, dia berbalik melihat kakaknya.


"Kak tolong jaga istriku, tapi ingat jangan menyentuhnya. Menjauhlah 3 meter darinya." ucap Hans, dia pun pergi untuk melihat anak-anaknya.


Dasar bocah tengik itu, benar-benar ya. batin Bima.


Bima duduk menggantikan Hans, namun posisinya cukup jauh dari Airen sesuai permintaan adiknya.


"Hai Airen bagaimana kondisi mu? bangunlah jangan buat adik ku seperti itu, memangnya kamu tidak kasihan padanya? Badannya pun sudah terlihat lebih kurus, karena tidak ada yang merawatnya. Airen, kakak memang pernah mencintai mu, tapi sepertinya Hans adalah orang yang paling tepat untuk mu. Baru pertama kali dalam hidup ku, melihat seorang Hans Alister Mikhailov dalam keterpurukan seperti itu."


"Hans memang orang yang cuek dan dingin, tapi sepertinya dia mampu untuk memberikan seluruh hidupnya demi orang yang dicintainya. Apa kamu tahu? Dia bahkan sampai menentang Mamih, biasanya dia akan mengedepankan Mamih dinomor satu. Sepertinya, hal itu sudah berubah. Sekarang kaulah nomor satu dalam hidupnya, aku tidak berharap banyak untuk Hans selain kebahagiaannya. Sudah cukup dia menderita dan tersiksa di waktu usia muda, karena harus terus belajar untuk menjadi penerus papih. sudah cukup Hans melewati banyak masalah dalam kisah hidupnya, aku harap ini yang terkahir kalinya. Semoga kedepannya dia dan kamu terus bahagia bersama anak-anak kalian." ucap Bima panjang lebar di sisi brankar, Bima berharap Airen dapat mendengarnya meskipun matanya terpejam.


Cepatlah sadar Airen, aku tahu kamu pasti mendengar semuanya. batin bima


bersambung..


Terimakasih banyak untuk kalian yang selalu mendukung cerita ini, dengan memberikan dukungannya melalui vote komen dan like serta hadiah.

__ADS_1


__ADS_2