Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 58


__ADS_3

(Makan malam)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Airen yang baru bangun tidur terkejut karena tidak mendapati Hans disamping dirinya. Airen bangun, dan mencari sang suami ke dalam kamar mandi. Mungkin dia berada di sana pikirnya, namun nihil suaminya tidak ada di mana-mana.


Mata Airen mengedar menatap sekeliling ruangan, ingin rasanya dia menangis karena tidak mendapati sang suami di kamarnya. Namun, pandangan Airen tertuju pada sebuah buket bunga di sudut ruangan.



Airen menghampiri dan mengambilnya, disana bahkan ada secarcik surat yang tertera. Airen langsung membuka dan membaca surat itu.


...πŸ’Œ...


Hai Ma Cherie (sayangku), selamat sore menjelang malam. Maaf, jika saat kamu terbangun dari tidur aku tidak ada disisimu. Jangan takut, aku tidak pergi jauh dari mu, bahkan aku masih bisa melihatmu saat ini. Ikutin intruksi surat ini saja, kamu akan menemukan dimana aku berada saat ini. Langkah pertama, kamu harus menuju tempat tidur dan mencari petunjuk lainnya di sana. Selamat bersenang-senang Cahya ku. I love you❀️.


Begitulah kutipan surat yang tertera, Airen terkekeh dengan tingkah suaminya. Dia langsung menuju tempat tidur, untuk mendapatkan petunjuk lainnya.


"Suami ku sungguh keterlaluan, mengerjai istrinya yang sedang hamil!" gerutu Airen.


Airen mencari petunjuknya namun dia tidak menemukan apa-apa di tempat tidurnya, Airen sangat kesal.


"Argh, dimana petunjuknya? Mas aku ingin menyerah saja. Kamu keterlaluan sekali, memberikan hal seperti ini."


Hingga mata Airen tertuju ke arah kolong ranjang, dia menyeringai lalu berusaha melihat ke bawah apakah ada sesuatu di sana? Dan ternyata benar saja, ada kotak dan juga secarcik surat lagi.



"Wahh, apa ini?" gumam Airen sambil mengutak Atik kotak hitam tersebut.


Airen langsung membukanya, dia sangat terkejut mendapati handphone bagus di sana. Airen tercengang melihat handphone seperti itu.


Namun, Airen lebih tertarik dengan suratnya. Dia meletakan handphone itu di tempat tidur, kemudian membaca suratnya.


...πŸ’Œ...


Kamu hebat karena telah berhasil menemukan kotak ini. Sayang, maaf karena selama hampir tiga bulan pernikahan kita, aku belum membelikan ponsel untuk mu. Dan sekarang aku berikan ini padamu, tapi jangan sampai kamu mengabaikan aku karena ponsel ini ya. Untuk petunjuk selanjutnya, kamu buka ponsel ini dan cari menu pesan. Aku sudah mengirimkan pesan untuk mu, love u my wife❀️.


Begitulah isi pesan yang tertera di atas kertas putih, ada kebahagiaan tersendiri yang menyentil hati kecilnya.


"Mas, kamu sweet bangat sih. Terharu aku jadinya, mari kita coba ponsel baru hehe." gumam Airen, dia pun membuka ponsel itu.


"Mana ya menu pesan?"


Airen mengotak-atik ponsel itu, dan tak beberapa lama dia menemukankannya.


...πŸ’Œ...


clue : Aku ada di dalam almari.


"Apalagi yang mau mas Hans berikan?" gumam Airen sambil menuju ke arah almari.


Airen membuka almari, dia melihat-lihat dulu ada apa kira-kira? Airen pun mulai mencarinya, tangannya lihai dalam mencari kesana kesini. Hingga akhirnya, Airen menemukan kotak lagi.


"Apa ini?" Airen pun mulai membuka kotak kecil itu.



"American express? Apa ini?" gumamnya.


Airen mengambil isi di dalam kotak itu, dan ternyata itu adalah sebuah kartu hitam. Airen mengamatinya, dan bertanya dalam hati untuk apa kartu ini? .


Tring.


Ponsel yang dipegang Airen berbunyi, dan ada notifikasi pesan masuk. Airen segera membukanya.


πŸ“© : Cahya, itu black card untuk mu. Maaf selama ini aku belum memberikannya, sekarang aku berikan ini untuk mu. Pakai sesuka mu, ini nafkah yang aku berikan untuk mu. Kalau masih kurang, nanti aku tambah sayang. I Love you.


"Love you more mas Hans, bagaimana bisa dia bilang ini nafkah? ini hanya sebuah kartu hitam. Apa tuh tadi namanya, ah sudahlah masa bodo. Nanti kutanyakan kepada mas Hans, bagaimana cara menggunakan nya." gumam Airen.


Airen membuka surat kecil yang terselip di dalam kotak itu.


...πŸ’Œ...


Clue : aku adalah tempat pertama yang kamu kunjungi setelah bangun tidur.


"Kamar mandi!"


Airen segera menuju ke sana dengan tergesa-gesa, dia membuka pintu kamar mandi perlahan.


Krek.



Airen terkejut dengan pemandangan kamar mandi, karena saat tiba disini Airen bahkan belum melihat bagaimana kamar mandi itu.

__ADS_1


Kaki Airen perlahan mendekat ke arah bath up yang sudah dihiasi kelopak mawar merah, dan juga lilin-lilin yang berterbaran.


Mas, kamu sweet bangat sih. Makin cinta aku sama kamu. batin Airen.


Tring.


πŸ“© : Mandilah, aku menunggu mu. Jangan lupa simpan handphone dan kartunya^_^


Begitulah isi pesan yang dikirimkan oleh Hans kepadanya, Airen sangat bahagia seumur hidupnya baru ini dia diperlakukan bak seorang Ratu.


Baiklah aku akan mandi.


Airen pun memulai aktivitas mandinya, dia sangat menikmati hal ini. Bahkan sampai terlena oleh pemandangan dan juga aroma harum yang tercium.


Setelah selesai, Airen langsung memakai handuk dan mengambil ponsel juga kartu card miliknya. Dia bergegas keluar, untuk memakai baju.


Tring.


πŸ“© : Ke ruang ganti.


Begitulah isi pesan yang masuk, Airen langsung bergegas ke ruang ganti. Lagi dan lagi Airen dibuat terkejut oleh suaminya.



"Mas Hans sungguh menyiapkan hal ini untukku?" gumam Airen.


Airen langsung memakai baju yang sudah disediakan oleh suaminya, untung saja ini gaun untuk bumil. Karen perut Airen sudah agak membesar, terlebih dia hamil anak kembar.


Setelah selesai memakai baju, Airen mempoles wajahnya dengan make up tipis. Dia sangat bersemangat untuk bertemu dengan suaminya.


Tring.


πŸ“© : Ke ruang depan.


Setelah selesai, Airen langsung ke ruang depan sesuai dengan instruksi yang suaminya katakan.



Airen dibuat takjub, oleh pemandangan di hadapannya. Banyak sekali hadiah yang sudah disiapkan untuknya. Airen terharu karena dia sama sekali tidak menyangka jika suaminya, memikirkan hal sedemikian rupa.


Mas, kamu sweet bangat sih. aaaaaa. batin Airen.


Tring.


πŸ“© : Sayang, pilihlah tas yang ada di dalam sini.



"Ini cocok, bagus deh. Lalu sekarang kemana?" gumam Airen bertanya, karena dia tidak menemukan cluenya.


Airen membuka kotak itu satu persatu, berharap dia menemukan petunjuk selanjutnya. Dan benar saja, ada salah satu kotak kecil yang di dalamnya berisikan surat.


...πŸ’Œ...


Hampir selesai, sekarang pergilah ke kamar dan buka laci di samping tempat tidur. Setelah itu kamu keluar, nanti aku kirim seseorang untuk menuntun mu keluar menemui ku.


Airen berdecih sebal, kenapa lama sekali. Dengan langkah yang gontai dia masuk kembali ke dalam kamar dan membuka laci di samping tempat tidur.


Lagi dan lagi, itu adalah kota. Airen membuka kotak itu perlahan, ternyata hanya bunga mawar namun dia membuka lebih dalam ada beberapa gulungan uang dollar.



Tring


πŸ“© : Ambil uangnya sayang, pasukin ke dalam tas kamu. Aku tidak akan membiarkan tas yang kamu kenakan kosong. Jangan lupa black cardnya juga pasukin. Love you❀️.


Airen memasukkan semua uang dollar itu ke dalam tasnya, dia berjalan ke luar untuk melihat apakah sudah ada seseorang yang akan mengantarkannya?


Ting tong.


Airen membuka pintu kamar hotel dengan perlahan, ternyata sudah ada seorang wanita yang menunggunya di luar. Airen tersenyum ramah kepada wanita bule itu.


"Let me take you madam." ucapnya.


Airen hanya mengangguk dan tersenyum, karena dia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh wanita itu. Mereka jalan beriringan menuju luar hotel.


Mobil mewah berhenti di hadapannya, Airen mengerutkan dahinya. Hingga pintu mobil itu pun terbuka lebar.



Seorang pria dengan setelan jasnya keluar dari dalam mobil, seorang laki-laki tampan yang sangat gagah dan berwiba. Hans, tersenyum ke arah sang istri. Sedangkan Airen menatap takjub suaminya.


Apakah aku sedang bermimpi? Bagaimana bisa, aku menikah dengan laki-laki tampan dan kaya. batin Airen.



Tidak hanya Airen yang dibuat takjub, namun Hans juga demikian. Istrinya terlihat sangat seksi, dengan gaun yang membalut tubuh istrinya yang sedang hamil.

__ADS_1


Sungguh, aku ingin menerkam mu sekarang juga. batin Hans.


"Tuan putri, apakah sudah siap?" tanya Hans sambil mengulurkan tangannya ke arah sang istri.


Airen tersenyum dan mengangguk, dia menerima uluran tangan suaminya. Mereka pun berjalan menuju mobil.


"Ayo sayang, aku akan menunjukkan suatu hal kepada mu." ucap Hans, sambil mengecup punggung tangan istrinya.


Mas kamu sweet bangat sih, Aaaaa jantung ku ketar ketir seperti ini. batin Airen.


***



Saat ini mereka tengah menikmati makan malam bersama dengan pemandangan menara Eiffel yang menghiasi malam indah mereka berdua, Airen sungguh luar biasa bahagia karena memiliki suami yang mencintainya setulus hati.


Hans terus menatap sang istri yang terlihat sangat cantik, Hans mengulum senyumannya melihat Airen yang makan dengan lahap.


"Lapar bangat sih sayang."


"Kamu sih mas, lamaaaa bangat. Anak kita sudah lapar tau."


Hans terkekeh, "Bagaimana dengan kejutannya? Maaf ya, aku tidak tahu bagaimana cara membahagiakan mu. tapi aku selalu mencoba untuk membuatmu merasa bahagia. Aku juga bukan laki-laki romantis, ini pertama kalinya aku membuat kejutan seperti itu untuk mu." ujar Hans.


Pertama kalinya? Aaaa benarkah? aku orang pertama yang menerima perlakuan manis ini. Mas, aku sangat mencintai mu. batin Airen.


Airen bangun dari kursi, dan berjalan pelan ke arah suaminya. Airen langsung duduk dipangkuan sang suami, sontak hal itu membuat Hans terkejut namun masih dengan ekspresi datarnya.


Jangan memancing ku plis. batin Hans.


Grep


Airen memeluk leher suaminya, dan membenamkan kepalanya di leher Hans. Sedangkan Hans fokus dengan apa yang dilakukan istrinya, sambil memegangi pinggang Airen.


"Kenapa hm?" tanya Hans lembut.


"Hiks.. Terimakasih mas, terimakasih untuk semua hal yang kamu kasih ke aku. Maaf jika aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu." lirih Airen dengan suara isak tangisnya.


Hans tersenyum, "Sama-sama sayang, syukurlah kalau kamu bahagia. Tapi jangan menangis seperti ini dong."


"Ihhh inikan tangis bahagia, aku bahagia karena memiliki suami seperti mu. Maaf jika dulu aku sering mengatakan bahwa kamu breng--."


"Tidak perlu dilanjut, nanti aku sakit lho. Memang mau tanggung jawab?"


Airen melepaskan pelukannya, dia menatap lekat mata Hans. Perlahan Airen mengikis jarak diantara mereka, ntah dorongan dari mana dia bisa berani seperti itu.


Dan... Cup.


Airen mengecup singkat bibir Hans, namun saat dia hendak menjauh tiba-tiba Hans menarik tengkuk lehernya dan mereka pun bertukar lum atan. Suara decapan kian menghiasi malam indah mereka.


Suasana kota Paris yang romantis, menghiasi malam indah mereka berdua. Baik Hans dan Airen sama-sama larut dalam kenikmatan yang ada. Hingga akhirnya, Hans menghentikan aktivitas mereka. Karena nafas Airen yang sudah hampir kehabisan.


Hans terkekeh melihat semburat kemerahan terpancar dari pipi istrinya, sedangkan Airen menahan malu setengah mati.


"Ciee yang sudah pinter, cepet bangat sih belajarnya." goda Hans.


"Iya dong, kan mas yang ngajarin." Airen berusaha memendam rasa malunya.


"Nanti kita belajar yang lebih ya?" ada pancaran harapan yang tercetak jelas dari tatapan mata Hans kepada Airen.


Hans melihat raut wajah istrinya, mungkin memang benar dia harus bisa lebih bersabar lagi. Hingga Airen sendirilah yang siap untuk menyerahkan diri kepadanya.


"Bangun sayang, kamu duduk ditempat kamu ya? Kita lanjut makannya oke." suara Hans tiba-tiba berubah, seperti ada kekecewaan yang mendalam.


Kenapa? Kenapa aku masih belum siap. Ayo Airen, ini sudah kewajiban mu. batin Airen.


"No mas, aku mau disini."


Hans mengerenyitkan dahinya, dan menghembuskan nafasnya kasar.


"Hn." jawab Hans.


Airen tidak mau diam berada dipangkuan suaminya, dia bahkan bergerak kesana kesini. Hingga akhirnya Hans tidak tahan dengan susuatu dibawah sana.


"Bisa diam tidak sih? Kalau memang ingin disini kamu diam. Memangnya kamu mau tanggung jawab kalau dia bangun? Kalau kamu belum siap, jangan menyiksaku seperti ini!." ucap Hans dengan nada yang sedikit membentak.


Deg


Semenjak hamil Airen menjadi lebih sensitif, dibentak seperti itu saja sudah membuat hatinya tidak karuan. Dengan tubuh yang lemas, Airen bangun dari pangkuan suaminya.


Dia duduk dikursinya, dan langsung melahap makanan yang ada. Meskipun ini pertama kalinya bagi Airen dalam mencoba makanan luar negeri, namun ntah mengapa rasanya bersahabat dengan lidahnya.


Mau marah, ngga enak. Udah dibeliin ini itu, bingung duh. batin Airen.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.

__ADS_1


tetap sehat dan bahagia semuanya ❀️.


__ADS_2