
(Pelengkap Rasa)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹
Kedua pasangan yang telah selesai dari aktivitas privasinya, kini mereka sama-sama terdiam saling memeluk dan memberikan kehangatan.
Tanpa mereka tahu, akan ada guncangan dalam rumah tangganya. Mereka menikmati paginya dengan penuh keringat dan kebahagiaan yang terpancar.
"Mas bangun, kamu harus bekerja."
"Aku males kerja kalau kayak gini, mau sama kamu terus."
"Kan tadi bilangnya minta asupan vitamin buat semangat kerjanya, kok sekarang malah jadi males sih." gerutu Airen.
Hans terkekeh, "Perhitungan bangat sih sama suami sendiri juga."
"Sudah ah, aku mau mandi."
Airen memilih untuk mandi terlebih dahulu, Sedangkan Hans masih berbaring di atas kasur sambil menunggu istrinya selesai mandi.
Setelah Airen selesai mandi, kini giliran Hans yang masuk ke dalam kamar mandi. Airen menyiapkan pakaian suaminya dengan telaten, dan dia segera ke bawah untuk membantu Ratu dalam menyiapkan sarapan.
"Mbak, yang lain belum pada bangun?" tanya Airen heran.
Ratu tertawa pelan, "Sudah pada pergi Ren, kamu sih lama bangat di dalam kamar." ujar Ratu.
Sontak hal itu membuat Airen malu, pipinya berubah menjadi kemerahan. Ratu yang melihat adik iparnya tersipu malu kini tawanya semakin pecah.
"Ya ampun Ren, santai saja. Mbak juga paham kok."
"Mbak ihh, jangan dibahas."
Ratu berhenti untuk menggoda Airen, karena tidak tega dengan wajah adik iparnya itu. mereka pun duduk untuk sarapan, namun Airen masih menunggu kedatangan suaminya.
"Kamu makan duluan saja Ren, Hans nanti menyusul."
"Tidak apa-apa Mbak, aku mau nungguin mas Hans. Mbak sarapan duluan saja." ujar Airen.
Ratu mengangguk, dia menikmati makannya lebih dulu. Karena tadi saat yang lain sarapan, ratu belum sempat untuk ikut sarapan bersama.
Drap drap drap
Suara langkah kaki Hans semakin jelas terdengar, Hans melangkahkan kaki jenjangnya menuju meja makan.
"Sayang, Aku mau langsung ke kantor, ini sudah kesiangan." ucap Hans lembut.
"Ngga sarapan dulu mas?"
"Tidak, sudah terlambat." ujar Hans, dia pun mengecup kening sang istri.
Cup
"Aku berangkat ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, hati-hati mas." ujar Airen.
Hans melangkah keluar menuju mobilnya, dia pun berangkat dengan tergesa-gesa karena hari ini jadwalnya sangat padat.
"Parah si Hans, mbak sama sekali tidak dihiraukan keberadaannya." ujar Ratu.
"Maaf ya mbak."
"E--ehh, kok malah jadi kamu yang minta maaf sih. Mbak becanda Ren, tingkah si Hans memang seperti itu. Mbak sih sudah maklum, karena Hans itu tipekal cowok yang memang seperti itu, beda bangat sama mas Raja." ujar Ratu membandingkan suaminya dengan adik iparnya.
"Iya mbak benar, kak Raja sama mas Hans beda bangat sikap dan sifatnya."
"Nah itu kamu tahu, tapi nanti saja kita cerita lagi. Sekarang kamu sarapan dulu."
Mereka berdua sarapan bersama dan saling bertukar beberapa cerita, Airen bersyukur karena memiliki kakak ipar seperti Ratu.
🌹
Bima melihat Bella dan juga anak perempuan dalam gendongan Bella, gadis itu tertidur pulas di bahu Bella, Bima hendak menghampiri mereka namun langkahnya tertahan karena Bima melihat ada sosok laki-laki yang tengah berjalan ke arah mereka. Bima hanya mengamati interaksi mereka dari kejauhan.
Apakah itu suami Bella? batin Bima, ntah mengapa ada sesuatu yang menyakitkan dalam hatinya.
"Bel, makasih ya kamu sudah siaga membawa Putri ke rumah sakit." ucap Aryo.
__ADS_1
"Sama-sama mas, apa tidak sebaiknya putri di rawat di rumah sakit saja?"
Aryo menggelengkan kepalanya, "Kita pulang sekarang, putri ngga akan mau dirawat disini."
Dengan hati yang kesal, Bima menghampiri mereka yang hendak pergi. tiba-tiba Bima ingin bertanya langsung kepada Bella, apa benar bahwa itu suaminya.
"Permisi." ujar Bima.
Bella dan Aryo melirik ke arah sumber suara, Bima mencoba tersenyum ramah kepada laki-laki yang tidak jauh beda usia dengannya.
Masih tampanan gue. batin Bima.
"Ada apa ya dok?"
"Tidak ada, perkenalkan saya Bima kakak angkatnya Bella." ujar Bima sambil mengulurkan tangannya kepada Aryo.
"Saya Aryo, saya baru tahu jika Bella memiliki kakak angkat. Bahkan dia seorang dokter." ucap Aryo, sambil melirik ke arah Bella.
Dari dulu hingga saat ini, kamu selalu menganggap ku sebagai adik. Bisakah kamu menganggap aku lebih dari itu. batin Bella.
"Mas Aryo, sebaiknya kita pulang sekarang. Biarkan putri istirahat dengan baik." ucap Bella.
Segitunya kamu Bel sama aku, aku mencoba untuk menahan mu tapi kamu malah ingin pergi dari ku. batin Bima.
"Maaf ya pak dokter, saya harus membawa anak saya untuk pulang dan istirahat. kami permisi." ujar Aryo, melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Bima.
Bima menatap punggung Bella yang kian menjauh dari pandangannya, hatinya kembali merasakan sesuatu yang sulit untuk diartikan.
***
Roni memberikan jadwal agenda Hans hari ini, Hans mengecek agendanya dia prustasi karena harus balik malam lagi.
"Tuan sebaiknya anda bersiap-siap, karena ada clien yang meminta untuk bertemu anda di sebuah restoran." ujar Roni memberitahu.
"Hm, kapan?"
"Siang ini."
"Oke."
Hans kembali melanjutkan pekerjaannya, sebelum dia pergi bertemu dengan client yang Roni sebutkan tadi. Setelah selesai, Hans langsung bergegas ke restoran yang di tuju.
Hans melajukan mobilnya perlahan menuju alamat restoran yang Roni kirim, namun Hans merasa hatinya tidak karuan.
Sedangkan di mansion, Ratu mengajak Airen untuk pergi menemaninya bersama Gibran. Ratu ingin membeli hadiah untuk Eranson, karena akhir-akhir ini anaknya begitu semangat untuk belajar.
"Ren, antar mbak belanja ya."
"Ke mall mbak?" tanya Airen.
"Tidak, nyari toko besar dipinggir jalan saja."
"Mama, aku ikut ya." ucap Gibran kepada Ratu.
"Oke sayang, tapi rahasiakan ini dari kak Eran ya."
Gibran mengangguk patuh, mereka pun pergi untuk mencarikan Eranson hadiah. Ratu membawa mobilnya sendiri, Karena memang wanita itu bisa membawa mobil. Airen menatap takjub kepada Ratu, karena menurutnya Ratu adalah wanita yang serba bisa.
Tak lama, mereka pun sampai di toko serba ada. Ratu memilihkan beberapa hadiah untuk anaknya, mulai dari baju hingga mainan. Begitupun Airen, dia membelikan beberapa mainan untuk Eran, Gibran dan juga Eza.
"ayo Ren kita ke kasir."
Mereka pun melakukan transaksi pembayaran, Gibran hanya mengamati kedua mama nya. Tangannya tidak terlepas dari genggaman Airen.
"Mommy, kita makan direstoran itu yuk. aku lapar." ujar Gibran sambil menunjuk restoran di sebelahnya.
"Ayo Ren, kamu juga pasti laparkan." ucap Ratu.
Airen mengangguk, mereka pun pergi ke restoran itu. Saat Ratu memarkirkan mobilnya, dia melihat ada mobil yang sangat mirip dengan milik Hans.
Namun Ratu tidak memperdulikannya, mereka pun masuk ke dalam restoran itu. Saat mereka hendak duduk, mata Airen menatap sosok laki-laki yang sangat ia kenali tengah dipeluk oleh seorang wanita. Meskipun jaraknya cukup jauh, namun Airen masih bisa melihat dengan jelas aktivitas yang mereka lakukan.
Deg
Mas Hans. lirih Airen dalam benaknya.
"Lepas Laura!" Hans mendorong Laura agar menjauh dari tubuhnya.
"Baby, aku tahu kamu sangat merindukan ku bukan? Ayolah, jangan sungkan seperti itu." ujar Laura, berusaha untuk menggoda Hans.
__ADS_1
Hans memicingkan matanya menatap Laura, lalu Hans tersenyum smrik, dan tertawa miris untuk Laura.
"Aku heran, untuk apa kamu kembali?"
"Tentu saja melanjutkan pernikahan kita." jawab Laura tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Airen masih mengamati interaksi mereka, meskipun hal itu membuat hatinya sakit tidak karuan. Namun Airen melihat, suaminya berusaha untuk menjaga jarak dengan wanita itu.
"Ren, kamu kenapa?" tanya Ratu menatap Airen yang seperti tidak baik-baik saja.
"Aku ngga apa-apa kak, lanjutkan makannya." ucap Airen.
Hingga akhirnya mata Airen melotot sempurna, saat wanita itu langsung menyambar bibir suaminya. Airen menjatuhkan sendok yang dia pegang, hatinya sangat sakit melihat hal itu. Ratu langsung menyadari suatu, matanya menatap arah pandang mata Airen. Ratu pun melotot sempurna, saat melihat Hans bersama dengan Laura.
Hans mendorong Laura dengan kasar, hingga wanita itu terjembap jatuh ke lantai. Hans segera menghapus bekas jejak bibir Laura yang menempel di bibirnya.
"Enyahlah dari hidupku!" ujar Hans, dan langsung meninggalkan Laura, namun tangannya di tahan oleh Laura.
Emosi Hans meluap-luap, ingin sekali dia menampar wanita dihadapannya ini. Namun Hans teringat akan istri dan juga ibunya.
Plak
Airen menampar Laura dengan cukup kencang, hingga meninggalkan bekas tamparan di pipi Laura.
Semua orang menatap tak percaya, begitupun dengan Hans dia sangat terkejut dengan kehadiran istrinya yang tiba-tiba.
"Beraninya kamu menampar saya, dasar jal@ng!" teriak Laura kepada Airen.
Plak
Airen kembali menampar pipi Laura, Hans mencoba untuk menenangkan Airen biar bagaimanapun dia tidak boleh emosi.
"Sayang, sebaiknya kita pulang ya. aku bisa jelaskan ini semua."
Airen langsung menatap tajam suaminya, Hans terdiam tak berani untuk berbicara. Tiba-tiba aura istrinya menjadi begitu berbeda.
"Saya peringatkan kepada kamu, untuk tidak lagi menghubungi suami saya! Apapun bentuk hubungan kamu dan suami saya di masalalu, saya tidak peduli! Satu yang pasti, sekarang jangan sentuh sesuatu yang sudah menjadi milik saya!" ucap Airen tegas kepada Laura.
Setelah mengatakan hal itu kepada Laura, Airen mendekatkan dirinya kepada Hans dan membisikkan sesuatu ditelinga suaminya.
"Dan untuk kamu mas, kalau aku melihat kejadian seperti tadi lagi. Jangan salahkan aku, jika aku memutuskan untuk pergi dari sisi mu."
Deg.
Tiba-tiba hati Hans tak karuan, saat mendengar suara istrinya yang begitu lantang. Airen mundur beberapa langkah, dari tubuh suaminya.
Airen membalikan badannya, menatap Laura yang sudah menatapnya dengan penuh kebencian. Airen tersenyum, dan menggandeng tangan suaminya dengan erat.
"Kalau begitu kami permisi." ucap Airen dengan elegan.
Airen menarik lengan suaminya menjauh dari sana, mereka pun pergi dari restoran itu. Saat sampai diparkiran Airen melepaskan gandengannya dari lengan Hans, dia hendak masuk ke dalam mobil Ratu. Namun tangannya dicekal oleh Hans.
Hans menarik Airen perlahan, untuk masuk ke dalam mobilnya. Ratu hanya diam, membiarkan mereka menyelesaikan urusannya. Ratu langsung pergi bersama Gibran, meninggalkan Hans dan Airen di sana.
Di dalam mobil Airen hanya terdiam tanpa sepatah kata pun, Hans menghembuskan nafasnya kasar.
Grep
Hans memeluk Airen, tidak ada berontak ataupun membalas dari istrinya. Airen hanya diam, matanya menatap lurus ke arah depan.
"Sayang, maafkan aku." ucap Hans dengan suara berat.
Jantung Airen berdebar menahan rasa sakit yang sedari tadi menyeruak dalam hatinya, bahkan aroma farfum wanita itu masih tercium jelas di jas suaminya.
air mata Airen keluar begitu saja, Airen menangis tanpa suara hatinya begitu sesak dan sakit. Hans pun tak kuasa melihat tangisan istrinya, dia menghapusnya dengan tangannya yang gemetar.
"Sayang, jangan diam saja. Kalau kamu mau marah, ayo pukul aku saja." pinta Hans.
Airen hanya diam tak menggubris ucapan suaminya, bayang-bayang kejadian tadi masih tercetak jelas dalam memorinya. Airen menyaksikan sendiri bagaimana wanita itu mencium suaminya, bagaimana wanita itu memeluk suaminya. sakit sekali.
Hans tak kuasa melihat istrinya menangis dalam diam, hanya suara isak tangis yang terdengar. Hans merasakan sakit, dia gagal untuk membahagiakan istrinya. Hans pun menangis, dan memeluk Airen dengan erat.
"Sayang, jangan seperti ini. Bicaralah."
"K--kita pulang mas." ucap Airen terbata.
Hans mengangguk, dan mencium pucuk kepala istrinya lalu melajukan mobilnya membelah keramaian jalan.
Tuhan, sakit sekali. Tolong berikan aku kekuatan, untuk tetap bisa bertahan. jangan sampai rasa cemburu ku menghancurkan rumah tangga kami. batin Airen.
__ADS_1
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.