
(PERANG DINGIN)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Hati dan pikiran Bima tak karuan, dia bingung memutuskan untuk kembali ke mansion atau tidak. Jika kembali, tentu hatinya akan terasa sakit melihat kebersamaan adiknya dan juga seseorang yang ia cintai. Namun, Bima tak mau egois. Karena ada Gibran yang membutuhkan dirinya.
"Woi, kenapa si Bro?" tanya Rio.
"Peduli lo?" tanya balik Bima.
"Yailahh, Dokter Bima Kyle Mikhailov romannya lagi gegana."
"Tck, diam lo. Udah sono lo pergi." ujar Bima mengusir.
"Tega amad, nongkrong yuk sama anak-anak yang lain. Sudah lama lho kita ngga pernah keluar." ujar Rio.
"Malu sama yang muda, udah pada tua juga." celetuk Bima.
"Bukan tua, ini sedeng hot-hotnya. 29 tahun okelah, meskipun kalau lo udah 30 tahun hahaha."
"Meskipun gue udah 30 tahun, tapi masih gantengan + hot an gue." ujar Bima.
"Iya deh iya, percaya keturunan Mikhailov mah ngga ada yang gagal dalam pembuatannya." celetuk Rio sambil menyeruput secangkir kopi.
"Ck, males ngeladenin lo. Mending gue balik aja. sudah larut malam bye." Bima bergegas pergi dari ruangan.
"Woi tunggu." teriak Rio berlari mengejar Bima, namun dia urungkan karena melihat Dokter Novi.
Bima melihat ke arah Rio yang tengah memandang Dokter Novi.
Tck, dasar yang lagi jatuh cinta. Sakit hati baru tau rasa lo. (batin Bima).
🌹
Di kediaman Mikhailov.
Hans sempat memanggil Dokter untuk memeriksa istrinya, namun sekarang Dokter itu telah pergi. Hans masih setia menemani sang istri.
"Ughh." Airen mengerjapkan matanya perlahan.
"Syukurlah, kamu sudah sadar." ucap Hans merasa lega.
Airen menatap langit-langit kamar itu, dia sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa nyawanya agar kembali sadar sepenuhnya.
"T--Tuan, ini dimana?" tanya Airen kaget saat dia melihat sedang berada dikamar seseorang.
Hans tersenyum, "Kamar kita." jawabnya.
"Eza kemana?" tanya Airen mencari keberadaan sang adik.
"Sudah ada di kamarnya, dia sedang beristirahat." jawab Hans.
Airen hanya manggut-manggut saja, dia menyandarkan tubuhnya dengan bantal yang sedikit menumpuk.
"Sudah tidak kram?" tanya Hans.
Airen menggeleng lemah, dia pun mengusap-usap perutnya yang masih rata. Melihat pemandangan seperti itu, Hans merasa gemas sendiri dengan istri kecilnya.
"Tadi kata Dokter, untuk mempertahankan dan menjaga posisinya, rahim disangga oleh jaringan ikat yang disebut ligamen. Pada ibu hamil, pertambahan ukuran rahim dapat membuat ligamen ini menegang, sehingga muncul rasa nyeri pada perut bawah. Nyeri perut bawah ini lebih sering terjadi pada kehamilan pertama. Kamu yang sabar ya, semoga saja sudah tidak kram lagi." ujar Hans memberitahu istrinya dengan detail.
"Kok kamu bisa inget semua perkataan Dokter nya sih." protes Airen.
Hans hanya terkekeh pelan. "Kamu mau makan malam bersama dengan yang lain? atau di kamar saja?" tanya Hans kepada istrinya.
Airen tak menjawab dia bingung, disatu sisi kalau dia ikut makan malam bersama di meja makan. Tentu akan merasa canggung, namun jika makan dikamar pun tidak enak dengan anggota keluarga yang lainnya.
"Tidak apa-apa, Mamih pasti mengerti kalau kamu ingin makan di sini. Biar aku temani ya." ujar Hans dan hendak beranjak dari ranjang. Namun Airen menahan lengan suaminya.
"Tidak perlu, nanti kita makan sama-sama di sana." ujar Airen.
Hans hanya tersenyum.
***
Semua orang nampak riuh terutama Hellena yang menyiapkan banyak sekali makanan untuk kehadiran menantunya.
Sedangkan Gibran dari setadi merengek ingin bertemu dengan Airen, William sampai kewalahan menenangkan cucunya.
"Hikss.. Opa, aku mau bertemu dengan Mommy!"
"Nanti ya, Tante Iren nya sedang istirahat. Tidak boleh diganggu." ujar William.
"Hikss.. Omaaa!" teriak Gibran memanggil sang nenek.
Hellena datang dengan tergesa-gesa, dia pun mengambil alih Gibran dari gendongan suaminya.
__ADS_1
"Kenapa hm, cucu Oma yang paling tampan kenapa menangis?"
"Aku mau bertemu dengan Mommy." ujar Gibran.
"Nanti ya sayang, kasihan Tante Iren nya sedang istirahat. Kalau nanti Tante Iren sakit bagaimana?"
"Hiks.. Tapi Uncle boleh menemani Mommy, masa aku tidak boleh." ujar Gibran protes.
"Yasudah baiklah, Oma akan membawa mu ke sana." Hellena akhirnya pasrah.
Dia membawa Gibran menuju kamar Hans, meskipun dia sedikit takut karena mengganggu menantunya yang sedang beristirahat. Namun, mau tidak mau Hellena harus merepotkan menantunya demi menenangkan Gibran.
Tok..tok..tok..
"Hans, buka pintunya." teriak Hellena.
"Uncle!! dimana Mommy?" teriak Gibran.
Krek.
Hans membukakan pintu kamarnya, dia sedikit resah jika Gibran terus memanggil istrinya dengan sebutan Mommy.
"Dimana Mommy?" tanya Gibran.
"Tidak ada Mommy mu disini!" jawab Hans dingin.
"Hiks.. Oma." adu Gibran kepada neneknya.
"Sudahlah Hans, biarkan Gibran bertemu dengan Iren. Memangnya kamu tidak kasihan, melihat keponakan mu terus-menerus menangis."
"Hn." Hans hanya berdehem saja.
Hellena menurunkan cucunya dari gendongan, Gibran berlari masuk ke dalam kamar Unclenya. Dia sangat bersemangat untuk bertemu dengan Airen.
"Mommy!"
Gibran langsung memeluk Airen dengan begitu erat, Airen membalas pelukan Gibran dan mengusap lembut kepala anak itu.
"Mommy, aku kangen bangat sama Mommy."
"Kakak juga kangen sama Gibran, kamu apa kabar?" tanya Airen.
"Aku baik Mommy, tapi Daddy tidak baik karena Mommy tidak ada." ujar Gibran.
Hans yang mendengar penuturan Gibran, hatinya terasa sangat ngilu. Dia benar-benar tidak suka jika Gibran membawa-bawa Bima ke dalam kisahnya bersama dengan Airen.
Airen melirik suaminya sekilas, ternyata ada aura yang tidak bersahabat. Airen dibuat bingung, meskipun dia belum mencintai Hans namun dia harus bisa menjaga perasaan suaminya.
"Uncle, lepasin Mommy aku!" ujar Gibran.
"Apaansih, orang Mommy-nya anak-anak Uncle." jawab Hans dengan cemberut.
"Aku aduin ke Daddy baru tau rasa."
Hans tak menggubris ocehan Gibran, dia masih setia memeluk pinggang istrinya dan menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
"Uncle, lepasin Mommy! Hikss... Omaaa!!" teriak Gibran tak suka karena Hans memeluk Airen.
Duh, nih bocil ganggu aja. (batin Hans).
Hans pun langsung beranjak pergi dari kamar, sebaiknya dia menenangkan pikirannya di ruang baca pribadi miliknya.
Hans sangat lelah, seharian ini dia belum sempat beristirahat. Hans pun ketiduran di dalam ruang baca.
**
Makan malam.
Ratu membantu Mbok Nin menyiapkan makanan di atas meja makan, sedangkan Hellena sedang memasak makanan kesukaan anak bungsunya.
William menemani Eranson yang sedang asyik bermain puzzle, sedangkan Gibran tengah tertidur pulas di samping Airen.
Raja baru pulang bekerja, dia melihat semua orang yang nampak sibuk. Namun Raja enggan untuk bertanya, dia langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
"Semuanya ayo makan!" teriak Hellena dengan sangat kencang.
"Ratu, panggil suami kamu. Eranson, panggilin kak Eza di kamarnya. Mbok Nin, tolong panggilin Hans di kamarnya ya." ujar Hellena meminta tolong kepada semuanya.
Ratu pun pergi ke kamarnya untuk memanggilkan sang suami, Eranson pun begitu bersemangat memanggil Eza, begitupun dengan Mbok Nin. Mereka semua melakukan tugasnya masing-masing.
Cklek.
Bima baru pulang dari rumah sakit, dia langsung mencium tangan Papih dan Mamihnya.
"Bim, cepat mandi dan makan malam bersama ya." ujar Hellena.
"Iya Mih." Bima mengangguk patuh, dia pun bergegas menuju ke atas.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
"Tuan Hans, dipanggil Nyonya untuk segera makan malam." ujar Mbok Nin.
Airen yang mendengar, langsung memindahkan tangan Gibran yang memeluknya. Dia berjalan menghampiri pintu kamar.
Krek.
"Maaf Non, Nyonya sudah menyuruh semua orang untuk makan malam bersama."
"E--ehh iya Mbok, terimakasih banyak ya. Nanti saya menyusul." ujar Airen.
Mbok Nin pun kembali turun ke bawah, saat Airen hendak menutup pintu. Bima melewati kamar Airen.
Mas Bima. (batin Iren)
Mereka saling bersitatap untuk beberapa detik. Hingga tatapan itu putus, karena suara deheman Hans yang sudah berada di ambang pintu.
Ehem.
"Permisi." ucap Hans, dia pun langsung menerobos masuk ke dalam kamarnya.
Hati Hans begitu tersayat sembilu, melihat Kaka dan juga istrinya yang saling menatap lekat. Hans langsung membersihkan dirinya, setelah pulas tertidur dalam ruang baca.
Airen tak ingin membuat suaminya sakit hati, dia pun langsung menutup pintu kamarnya. Sedangkan Bima tersenyum kecut dan bergegas pergi dari sana.
Ternyata kamu sudah sampai di sini Ren, bagaimana cara aku untuk menghapus rasa ini. (batin Bima).
Byurr..Byurr..
Suara guyuran terdengar jelas ditelinga Airen, hatinya tak karuan melihat ekspresi wajah suaminya yang melihat dirinya saling pandang bersama Bima.
Apakah Tuan Hans, marah padaku? (batin Airen bertanya-tanya).
Krek.
Hans membuka pintu kamar mandi, dia hanya memakai handuk sepinggang. Hans menuju almari, dia mengambil beberapa pakaian miliknya dan menuju ruang ganti.
"Gibran, ayo bangun." Airen membangunkan Gibran dengan menepuk-nepuk pipi anak itu perlahan.
"Ughh, Mommy." ucap Gibran.
Airen tersenyum, "Ayo bangun, Oma sudah menyuruh kita untuk segera makan." ucapnya lembut.
"Baik, Mommy. Gendong aku ya." ujar Gibran merentangkan tangannya.
Hans keluar dari ruang ganti, dia melihat istrinya yang hendak menggendong Gibran. Namun, dengan cepat Hans langsung menggendong keponakannya.
"Sama Uncle saja, Tante Iren tidak boleh membawa yang berat-berat." ucapnya dingin.
Airen mengekori suaminya dari belakang, sedari tadi Hans belum mengajaknya berbicara. Ada perasaan sedih di hati Airen.
Bima pun berjalan keluar kamar, dia melihat Hans yang sedang menggendong anaknya. Dengan cepat Bima menghampiri Hans, dan meraih Gibran dari gendongan adiknya.
"Kemarikan, biar aku yang menggendongnya." ucap Bima yang langsung mengambil Gibran.
Hans menyerahkan Gibran, tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Bima. Dia langsung menggenggam tangan istrinya dan berjalan menuju meja makan.
Semua orang yang sudah berada di meja makan, langsung menatap ke arah mereka yang baru datang. Airen sedikit menyembunyikan wajahnya di lengan suaminya. Perasaannya sungguh campur aduk.
Raja langsung berteriak. "Wahh adik ipar, selamat datang!" ucap Raja dengan bersemangat.
Airen hanya tersenyum, dia bingung harus menjawab apa. Hans menggeser kursi agar istrinya mudah untuk masuk dan duduk.
Bima mengambil posisi kursi yang cukup jauh dari Hans dan juga Airen, mereka berdua seperti terlibat dalam perang dingin.
"Lhoo.. Hans, Bim. Kok kalian duduknya berjauhan?" tanya Raja menatap kedua adiknya.
Bahkan tidak ada satu orangpun yang menjawab, Hans langsung mengambil piring dan menyendokan lauknya sendiri. Begitupun dengan Airen, bahkan wanita itu teramat canggung untuk menyendokan suaminya. Airen hanya mengambil lauk yang paling dekat saja, bahkan hanya satu macam lauk yang dia ambil.
"Tck, makan malam apaansih ini. Ngga seru bangat! saling diam kayak gini. Sudahlah, ayo sayang sebaiknya kita tidak usah makan malam." ucap Raja kepada istrinya.
"Raja!" ucap William dengan dingin, Raja pun kembali duduk saat melihat pelototan tajam dari ayahnya.
Airen menundukkan kepalanya, dia ingin menangis. Sungguh dia tidak suka dengan situasi seperti ini, dirinya merasa bersalah pasti Bima dan juga suaminya saling diam karena tadi Airen menatap Bima.
Hans menyadari jika istrinya tidak nyaman, dia pun mengusap lembut punggung tangan istrinya. Meskipun Hans tidak menatapnya, karena dia masih marah dengan Airen.
"Maaf." ucap Iren pelan, hanya terdengar oleh Hans dan Eza disampingnya.
Mereka pun melanjutkan makan malamnya dengan tenang, hanya ada satu orang yang paling merasa pusing dan tertekenan dengan situasi yang ada. Yaitu Hellena.
Sedari tadi wanita paruh baya itu, melihat interaksi menantu dan anak-anaknya. Hellena tahu, Bima masih mencintai Airen dan Hellena juga tahu ada raut kesedihan dari wajah Hans. Dia bingung bagaimana menyatukan kembali anak-anaknya.
Tuhan, berikan kebahagiaan untuk anak-anak ku. Jangan membuat mereka saling diam dan bertengkar hanya karena cinta. Tolong segerakan Bima menemui jodoh keduanya. (batin Hellena mendoakan kebahagiaan anak-anaknya).
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.