
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Roni sudah membawa keluarga Airen yang ada disini, untuk ikut ke kota. Agar menyaksikan repsesi pernikahan Airen dan juga Hans. Hal ini dilakukan, agar Airen tak merasa kesepian dan sendirian.
Ceu Edoh, Mak Suma, Paman dan Bibi Airen, serta Endah juga Siti sepupu Airen telah datang ke mansion utama Mikhailov.
Mereka nampak takjub melihat rumah yang sangat besar ini, ada keirian di hati Marni selalu bibi nya Airen.
Sial, bisa-bisanya Airen menikah dengan laki-laki kaya raya. Seharusnya anakku yang berada disini. batin Marni tak terima.
Sedangkan dihati Yanto, ada sedikit rasa senang karena melihat keponakannya sudah hidup dengan bahagia dan berkecukupan.
Kak, lihatlah Airen sudah menikah dan memiliki keluarga yang kaya. Maaf, bila aku masih membenci keponakan ku. Karena aku tak terima, jika kamu meninggal karena Airen. batin Yanto.
sedangkan Ceu Edoh dan Mak Suma, nampak tengah berbincang. Mereka bisik-bisik tetangga, menganggumi sosok suami Airen. Sunggu kaya raya luar biasa.
"Si Airen enak ya Ceu, hidupnya sekarang serba berkecukupan." ucap Mak Suma.
"Iya Mak, syukurlah sekarang dia ngga perlu bekerja lagi. Saya kasihan sama Iren kalau harus bekerja." ucapnya.
Alhamdulillah Ren, aku bahagia karena sekarang kamu memiliki semua hal yang dulu ngga kamu punya. batin Endah.
Saat mereka tengah berbincang di ruang tamu, Hellena menghampirinya.
"Hallo semuanya, wahh kedatangan tamu dari desa nih." ujar Hellena, sambil menyapa mereka semua.
"Maaf Nyonya--"
"Panggil tante saja, jangan nyonya." ucap Hellena kepada Endah.
"E--ehh, iya tante. Mmm Airen dimana ya?" tanyanya.
"Kamu caper bangat sih Ndah, ngapain segala nanyain Airen." ketus Siti.
"Aku cuma bertanya keberadaan sahabat aku, emang salah?" ujar Endah tak mau kalah.
"Alah, bilang saja kamu caper."
"Siti, cukup." ujar Yanto memperingati anaknya.
"Sudah-sudah, tidak apa. Airen masih di kamar, tunggu sebentar lagi ya, dia pasti keluar." ucap Hellena.
"Maaf ya Bu, memang anak itu sangat pemalas." ujar Marni, menjelek-jelekkan Airen.
"Bukannya si Siti ya yang malas." celetuk Mak Suma.
"Diam! Cukup." teriak Hellena.
Semua orang langsung terdiam, tidak ada yang berani berbicara lagi. Hellena langsung pergi dari sana karena tak ingin mendengar celotehan mereka. Hellena menyuruh Mbok Nin, menyiapkan sarapan untuk mereka.
🌹
"Mas, ayo bangun. Malu sama mama, semenjak tinggal disini aku selalu bangun siang terus." ucap Airen kepada suaminya.
"Hmm, sebentar lagi sayang. Biarkan aku memeluk mu, Mamih pasti mengerti. Lagi pula kamu sedang hamil, biarkan kamu dan anak kita istirahat yang cukup." ucap Hans dengan mata terpejam.
"Mas, aku laperrr. Ayoo bangun, kamu tega biarin aku sama anak kita kelaparan?" rengek Airen dengan sangat memelas.
Hans membuka matanya perlahan, melihat raut wajah istrinya dengan gemas. Hans mengucapkan selamat pagi kepada istrinya, dan mencium lembut seluruh wajah Airen.
"Ihhh kamu belum mandi, jangan cium-cium dulu." protes Airen.
"Sudah ayo, katanya mau mandi. Mau bareng tidak?" goda Hans.
"Aku duluan, kamu nanti saja." Airen segera bangkit dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi.
Hans menatap punggung istrinya yang pergi masuk ke dalam kamar mandi, Hans langsung mengambil laptotpnya. Karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Aku harus menyelesaikan pekerjaan secepatnya, karena aku ingin pergi honeymoon ke berbagai negara. Kalau disini, bisa-bisa digangguin sama si Gibran. batin Hans.
Tidak butuh waktu lama, Airen keluar dari kamar mandi. Dia melihat suaminya yang tengah sibuk dengan laptopnya. Airen berlalu pergi ke dalam ruang ganti, suaminya sama sekali tak terganggu.
Kerjaan Mulu heran. batin Airen kesal.
Brak.
Airen menutup pintu ruang ganti dengan kencang, sehingga menyadarkan Hans dari layar laptopnya. Hans menyunggingkan senyumannya.
Maaf ya sayang, bukan aku tak menyadari kehadiran mu. Hanya saja aku ingin fokus untuk menyelesaikan pekerjaan sebantar. Agar nanti, kita dapat berbulan madu dengan damai tanpa pengganggu. batin Hans.
**
Airen menuruni tangga dengan kesal, bisa-bisanya Hans mengabaikan dirinya.
Awas saja, kalau minta peluk cium. batin Airen.
Pandangan mata Airen membola, saat melihat orang-orang terdekat di desanya datang ke mansion ini.
"Wahh. Endahhh!" teriak Airen dan langsung berlari memeluk Endah sahabatnya.
"Ren, ya ampun aku kangen bangat sama kamu." ucap Endah tanpa melepaskan pelukannya.
"Tck, lebay bangat." ujar Siti.
Airen melepaskan pelukannya dari Endah, dia tersenyum menatap ke arah paman dan bibinya. Airen mencium tangan mereka.
"Paman, bibi apa kabar?" tanya Airen.
"Baik." jawab Marni ketus.
"Alhamdulillah kami baik Ren, kamu bagaimana?" tanya Yanto tiba-tiba.
H--Hah, sejak kapan paman berbaik hati seperti ini? batin Airen.
Ayah apa-apaan sih, segala basa basi seperti itu ke si Airen. batin Siti tak terima.
__ADS_1
Begitupun dengan raut wajah Marni yang kesal dengan perilaku suaminya, mengapa tiba-tiba menjadi baik seperti itu.
"Alhamdulillah paman, aku juga sangat baik." jawab Airen.
"Eza dimana?" tanya Yanto.
"Belum pulang sekolah." jawab Airen.
"Ren, ya ampun. Mak sampai tidak menyangka, rumah suami kamu bagus seperti ini. Pasti kaya bangat ya, sering-sering balik ke desa dan beli roti di Mak Suma ya Ren." ujar Mak Suma.
Airen tersenyum, "Mak Suma tenang saja, ini juga sebenarnya udah kangen bangat sama kampung halaman." ucap Airen.
Saat mereka tengah asyik berbicara, Ratu menghampiri mereka dan menyuruh semuanya untuk ke meja makan. Karena harus sarapan dulu.
"Airen, ajak semuanya ke meja makan ya. Kita sarapan bersama." ucap Ratu, dia pun pergi kembali ke dapur.
Mereka semua ikut ke dapur, untuk sarapan. Airen benar-benar sangat bahagia, karena ada Endah sahabatnya. Begitupun dengan keluarganya.
"Ndah, kamu datang jam berapa?" tanya Airen.
"Tadi pagi, sekitar jam 06.00 mungkin."
"Kemari sama siapa?"
"Itu lho, anak buah suami mu." ucap Endah.
"Ohh, Tuan Roni."
"Kok kamu manggil dia Tuan?"
"Ceritanya panjang, nanti saja. Mending sekarang kita sarapan. Aku udah laper bangat."
"Pasti kamu digempurnya kebangetan ya? Lagian kamu Ren, punya suami bule sih." ujar Endah ambigu.
"Apanya yang digempur?" tanya Airen tak tahu.
"Ren, ayo makan sayang. Nanti lagi bicaranya ya." ucap Hellena samb tersenyum ke arah menantunya.
"Memang si Airen mah, tidak punya sopan santun." ujar Marni.
Hans datang, dia mendengar apa yang dikatakan oleh Bu Marni. Hans menatap tajam ke arahnya.
"Beraninya kau mengatakan hal itu dengan nyonya di rumah ini!" ujar Hans dengan suara dingin dan menusuk.
Waduh, serem amat ya suaminya neng Iren. batin Ceu Edoh dan Mak Suma.
Lihatlah, titisan suamiku. Astaga Hans, kau benar-benar melupakan Mamih! Awas saja, nanti akan Mamih adukan ke Papih. Bahwa nyonya di rumah ini, telah digantikan oleh menantu kesayangan ku. batin Hellena.
"Mas sudah, ayo sini duduk." Airen menarik lengan suaminya, agar dia duduk di sampingnya.
Astaga, suaminya si Airen benar-benar hot. Gue harus menggodanya. batin Siti tersenyum smrik.
"Sayang, suapi aku." pinta Hans sambil merengek seperti anak kecil.
Semua orang menatap tak percaya, mereka langsung menganga. Begitupun dengan Hellena, dia menepuk dahinya. melihat tingkah anak bungsunya.
Bisa langsung jadi kucing jinak gitu ya. batin Mak Suma.
"Mas malu sama yang lain, nyuap sendiri ya?" bisik Airen.
"Sayanggggg! Suapi aku, pokoknya ngga mau tau." rengek Hans.
Akhirnya dengan pasrah, Airen menyuapi suaminya dengan sangat telaten. Meskipun ada sedikit perasaan malu dengan sikap suaminya.
🌹🌹
Malam pun tiba, suasana dikediaman Mikhailov sangat ramai sekali.
"Opaaa!" teriak Gibran dan Eranson, saat melihat sang kakek yang sudah pulang dari Prancis.
Grep.
William langsung memeluk erat kedua cucunya, Raja melewati anaknya begitu saja. Dia langsung memeluk istrinya di hadapan orang banyak.
"Sayang aku rindu." ucap Raja.
Bugh.
Bukan mendapatkan pelukan dari sang istri, namun Raja malah mendapatkan pukulan di perutnya.
"S--sakit sayang."
"Makanya jangan peluk-peluk, malu sama yang lain." ujar Ratu.
Matanya mengedar menatap sekeliling, dan benar saja. Wajah-wajah asing baru Raja lihat saat ini.
"Mereka siapa?" tanya Raja.
"Semuanya perkenalkan ini anak pertama saya, namanya Raja. Dan itu suami saya." ujar Hellena memperkenalkan kepada mereka.
Wahh, semuanya sangat tampan! jiwa Jomblo Ceu Edoh dan Mak Suma meronta-ronta.
"Hallo, saya Ceu Edoh."
"Saya Mak Suma."
Ceu Edoh dan Mak Suma berbondong-bondong untuk bersalaman dengan Raja, Ratu terkekeh saat melihat suaminya yang dikerubungi oleh para ibu-ibu.
"Kok pada tua-tua sih Mih." protes Raja.
Pletak.
Raja mendapatkan jitakan dari Ratu dan juga Hellena, mulutnya benar-benar tak dapat terkontrol.
"Raja!" ujar Hellena dengan tatapan tajam.
"Kenapa Mih?" Raja malah bertanya.
"Ayo mas, mending mandi dulu. Biar otak kamu seger dan dapat difungsikan kembali." Ratu langsung menarik suaminya dari sana.
__ADS_1
"Ceu Edoh, Mak Suma. Maafin anak saya ya, memang perilakunya agak beda dari yang lain." ujar Hellena merasa tak enak.
"Ngga apa-apa Bu, wajar sih kita memang sudah tua." Ceu Edoh terkekeh.
"Oiya ini kenalin suami saya, namanya William. Pih, mereka semua keluarga Airen dari desa. Ini paman dan juga bibi nya." ujar Hellena.
"William."
"Yanto."
Mereka bedua berjabat tangan, sebagai bentuk kekeluargaan.
"Kalau begitu saya tinggal sebentar ya, mau bersih-bersih dulu." ucap William.
"Oiya Pak, silahkan." Yanto mempersilahkan.
"Opa, aku ikut ya." pinta Gibran.
"Gibran dan Eranson sama Oma dulu ya, biarkan Opa kalian bersih-bersih." ucap Hellena.
"Hmm, otey deh."
Mereka semua kumpul di ruang keluarga, kecuali Bima yang memang sudah izin kepada Hellena bahwa dia tidak akan pulang malam ini.
***
Bima menatap bintang malam, dia memutuskan tidak pulang karena tak ingin membuat hatinya kian sesak dan sakit.
Bima menghembuskan nafasnya perlahan, ini patah hatinya untuk pertama kali dalam hidupnya. Bima tak pernah merasa sesedih dan sesakit ini.
Kenapa rasanya sangat sakit sekali. batin Bima.
Rio datang sambil membawa wine di genggaman tangannya, dan menuangkan minuman itu untuk sahabatnya.
"Minumlah, ini akan membuat mu tenang." ujar Rio.
"Tck, kau pikir aku bodoh. Minuman memabukan seperti itu malah menyesatkan."
"Ayolah Bim, sesekali."
"Aku cukup belajar dengan kejadian Hans, tak ingin sama sepertinya."
"Hei bro, tidak ada wanita diantara kita, lagi pula kita tidak berada di dalam club. Apa yang kau takutkan? Meskipun aku sama-sama seorang player seperti Barra. Tapi, aku tidak berniat untuk menjebak mu, karena kau duda pasti sudah tau rasanya. Untuk apa aku mengenalkan rasa itu pada mu." ujar Rio sambil menyesap wine.
"Terserah, kau saja yang menikmatinya. Aku ingin menikmati malam ini saja, tanpa pengaruh apapun." ujar Bima.
Rio pasrah, memang sulit untuk membujuk rayu Bima.
Setelah puas menatap langit malam, dengan bulan dan bintang menjadi penerang. Akhirnya Bima memutuskan untuk ke apartemen nya, namun sayang sekali Rio sudah tak sadarkan diri di atas rooftop.
"Dasar, bisa-bisanya dia mabuk kepayang. Padahal aku meminta dia untuk menemani ku, malah dia yang asyik dengan minumannya." gumam Bima saat melihat Rio yang sudah tertidur pulas di sofa yang ada di atas rooftop.
Bima berlalu pergi dari sana, dan meninggalkan Rio yang sudah tertidur atau pingsan karena mabuk.
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena ini baru jam 10 malam. Jadi dia tak ingin terburu-buru, untuk sampai ke apartemen.
Saat di pertengahan jalan, Bima melihat seorang wanita yang teriak meminta tolong karena ada beberapa preman yang mengganggunya.
Bima memberhentikan mobilnya, dia langsung turun dan memukuli preman itu.
"Woi!"
Bugh! Bugh! Bugh.
Semua preman itu langsung lari, saat melihat keganasan yang terpancar dari wajah Bima. Nafasnya memburu seperti seseorang yang ingin menerkam habis.
Setelah preman itu pergi, Bima menghampiri wanita yang terduduk lemas dan menangis sendu di atas aspal. Karena sepertinya wanita itu hendak diperkosa.
"Jangan menangis, kamu sudah aman." ucap Bima lembut, sambil mengulur tangannya.
Deg.
Jantung Bella berdegup kencang, saat menyadari suara yang sangat familiar ditelinga nya. Bahkan kata-kata pria ini mengingatkannya dengan kejadian 7/8 tahun yang lalu.
Bella mendongakkan kepalanya, menatap wajah lelaki itu dengan tatapan sendu nya.
Deg.
"B--bella?" gumam Bima, terlihat jelas kekhawatiran dari wajah Bima yang melihat darah mengucur dari pelipis Bella.
"Hiks.. Hikss.." Bella menangis pilu, ntah perasaan apa yang saat ini dia rasakan.
"Ayo, kita ke rumah sakit." ajak Bima.
Bella hanya terus menangis tanpa mengatakan apapun, hingga akhirnya dia pingsan. Bima kaget dibuatnya, dia langsung membawa Bella masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju rumah sakit.
***
Di rumah sakit.
Bella masih terpejam, selang infus bahkan sudah menempel di tangan wanita itu. Bima menatap iba terhadap wanita di hadapannya ini.
Ini sangat aneh, bukankah kejadian ini adalah kejadian 7/8 tahun yang lalu. Bahkan kejadian seperti ini yang waktu itu, adalah pertemuan aku dan Bella untuk pertama kalinya. batin Bima.
Perlahan Bella membuka matanya, menatap sekeliling ruangan dan dia menemui sosok laki-laki yang menolongnya. Bahkan pernah menolongnya waktu itu dengan kejadian serupa seperti ini.
7 tahun yang lalu, aku mencintai seseorang yang menolong ku. Cinta pertama ku yang tak sempurna, bahkan sekarang aku mencintai orang itu lagi untuk yang kedua kalinya. batin Bella.
Bima tersenyum melihat ke arah Bella yang sudah membuka mata, perlahan Bima mendekati brankar.
"Syukurlah, kamu sudah sadar." ujar Bima.
"Terimakasih banyak, k--kak." ucap Bella.
Bima mengangguk, dan menyuruh Bella untuk beristirahat. Sebenarnya Bima ingin tahu, mengapa malam-malam seperti ini Bella keluar sendiri. Bukankah dia sudah memiliki suami dan keluarga?
Namun pertanyaan itu, Bima urungkan. Nanti saja dia akan bertanya kepada Bella, jika waktu dan kesempatannya memungkinkan.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat. Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.