Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 76


__ADS_3

(Teruntuk yang puasa, part Bima dan Bella di skip ya jangan dibaca sekarang)


Selamat membaca ☺️


Mamih Hellena jatuh sakit karena terus-menerus memikirkan Hans, dia tidak ingin jauh terpisah dengan anak kesayangannya. William merasa prustasi karena harus melihat istrinya terbaring lemah di atas tempat tidur, Hellena tidak ingin di rawat dia hanya ingin melihat Hans.


"Pih, mamih ingin bertemu dengan Hans. Mamih kangen sama anak bungsu kita pih." lirih Hellena dengan suara berat.


"Mih jangan seperti ini ya, papih berusaha akan menemukan Hans dan juga Airen. Tapi mamih harus berjanji, untuk tidak mengharapkan cucu perempuan. Mih, tidak semua keinginan yang kita mau itu harus terwujud." William berusaha menasehati istrinya.


Hellena menatap sendu ke arah suaminya, getaran rasa bersalah kian menyeruak dalam hati. Hellena menyadari sepenuhnya kesalahan dirinya kepada Airen, andai saja jika dia tidak egois mungkin Airen tidak akan koma.


Ren, maafin mamih. Kamu sama Hans cepat kembali ya, mamih tidak tahu kamu dan Hans sekarang dimana. Mamih harap kalian sehat, dan perihal cucu mamih, apa benar mereka sudah tidak ada? batin Hellena bermonolog sendiri.


William melihat air mata yang turun dari pelupuk mata Hellena, lantas laki-laki paruh baya itu mengusapnya dengan lembut.


"Mamih harus sehat, papih yakin Airen akan memaafkan mamih. Bukan cuma Airen, tapi Hans juga." ujar William.


Hellena tersenyum dan mengangguk, dia bersyukur karena diusianya yang sudah tidak lagi muda namun dia masih mendapatkan cinta dan kasih sayang yang berlimpah dari suaminya.


**


Raja masuk ke dalam kamarnya, dia melihat istrinya tengah berada di balkon. Raja menghampiri Ratu yang sedang melamun, dia langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Apa yang kamu pikirkan hem?" tanya Raja.


Ratu menghela nafasnya pelan.


"Airen." jawab Ratu.


Raja mengerutkan keningnya, dia langsung membalikan posisi tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya.


"Kenapa memikirkan Airen?" tanya Raja antusias.


"Airen koma, mas."


Apa!


Raja tidak dapat mengatakan apapun, karena saat ini pikirannya melayang ke arah saat dirinya berdebat dengan Hans. Dan Hans bilang bahwa dirinya akan angkat kaki dari mansion ini, jika Airen dalam keadaan tidak baik. Ratu tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya, dia mengajak Raja untuk duduk di tepi ranjang.


"Mas."


Raja mulai menangis, laki-laki satu ini memang terbilang sering menangis dari pada saudaranya yang lain. Perilaku Raja memang begitu unik, jauh dari tipe idaman pria. Ratu dengan sigap membiarkan suaminya bersandar di bahunya.


"Mas sudah jangan menangis, malu sama putra kita." ujar Ratu.


"Hikss.. bagaimana aku tidak menangis, kamu tahu kan aku berdebat waktu itu dengan Hans dan malah menyalahkan Airen." ucap Raja sendu.


Cklek.


Eranson masuk ke dalam kamar kedua orangtuanya tanpa mengetuk pintu lebih dulu, dia melihat pemandangan yang menjijikan menurut dirinya.


"Apa laki-laki itu benar ayah ku?" gumam Eranson yang masih bisa didengar Raja.


"Hei bicara apa kamu hah, berani sekali berbicara hal seperti itu dengan seseorang yang sangat berjasa dalam proses pembuatan diri mu." ujar Raja menatap tajam ke arah putranya.


Adeuhh, mulai deh nih anak sama bapak. batin Ratu.


"Papa kenapa menangis seperti anak kecil? tidak malu sama mama memangnya?" ujar Eran.


"Istriku ini mencintai ku, untuk apa aku malu dengannya."


"Tapi wanita itu mama ku tahu."


"Istri ku."


"mama ku."


"Istri ku."


"Mama ku."


"Diam kalian berdua!" teriak Ratu dengan penuh amarah.


Mampus, aura membunuh sudah terasa menyelimuti ruangan ini. batin Raja dan Eran bersamaan.


Ratu menatap tajam ke arah suami dan anaknya, lalu wanita itu menyeringai tajam. "Keluar dari kamar ku!"


"Tapi say---. Tapi Mom--."


"Keluar!" teriak Ratu kepada suami dan anaknya .


Raja dan Eranson pun keluar dari kamar, karena mereka tidak berani jika membuat Ratu marah. Itu akan sangat mengerikan.


***


Bima membawa Gibran ke rumah sakit, karena dia tidak ingin merepotkan orang rumah terlebih ibunya yang sedang sakit.


Rio berjalan mendekati Bima yang sedang berjalan di koridor sambil menggendong anaknya.


"Woi, kemana aja lo baru keliatan." ujar Rio merangkul bahu Bima.

__ADS_1


"Bukan urusan lo."


Rio mendengus kesal, Bima tuh kalo lagi cuek seperti ini sangat mirip dengan Hans. Namun kadang ada saja tingkah random nya seperti Raja.


"Kerja kok bawa anak si bro."


"Om Rio diem ya, tidak apa-apa kok Daddy kerja bawa aku. Karena inikan rumah sakit Daddy, jadi bebas dong." celetuk Gibran.


Bima tersenyum, "Good boy."


Ck anak sama bapak sama aja, sama-sama nyebelin. batin Rio.


Saat mereka sedang melintas, mereka berdua melihat dokter Novi yang sedang bersama dengan Bella. Mereka berdua nampak akrab berbincang bersama, Rio dan Bima saling pandang sedetik kemudian mereka menghampiri kedua wanita itu.


"Assalamu'alaikum dokter Novi." ucap Rio kepada Novi.


"Wa'alaikumussalam." jawab Bella dan Novi bersamaan.


"Tante cantik." ucap Gibran dan langsung turun dari gendongan ayahnya, kemudian anak laki-laki itu memeluk Bella.


"Bel, kamu kenal sama dokter Bima?" bisik Novi di telinga Bella.


Bella menatap wajah Bima yang sedang menatap ke arahnya, Bella hanya mengangguk untuk pertanyaan yang diberikan oleh Novi sahabatnya.


Rio paham dengan situasi seperti ini, sepertinya Bima sudah jatuh cinta kepada Bella karena melalui tatapan matanya saja sudah beda.


"Dokter Novi, bisa kita berbicara sebentar?" ujar Rio


Novi tersenyum dan mengangguk, mereka pun pergi meninggalkan Bella dan Bima bersama Gibran di sana.


Bagus Rio, gaji mu akan ku tambah. batin Bima.


"Daddy, ayo ajak tante cantik ke ruangan Daddy." ucap Gibran.


"E--ehh, tidak bisa Gibran. Tante mau pulang." ucap Bella sambil mengelus kepala Gibran.


Gibran menatap sendu ke arah Bella, berharap wanita itu mau ikut dengannya ke ruangan sang Daddy. Bima pun berharap demikian, semoga Gibran berhasil membujuk Bella.


Ayo Gib, menangislah. Biarkan tente cantik mu ini bertahan lebih lama bersama kita. batin Bima menatap ke arah anaknya.


Aduh bagaimana ini? aku tidak ingin perasaan ku larut lebih dalam untuk kak Bima. Karena ibu sudah menjodohkan ku. batin Bella.


"Gibran, lain kali ya sayang. tante masih ada urusan." ujar Bella lembut.


"Hikss.. Daddy, kenapa semua orang tidak mau bersama ku hikss.." Gibran memulai dramanya.


Bima ingin sekali tertawa melihat wajah anaknya, sepertinya dia harus memasukkan Gibran ke kelas akting. Anaknya sungguh luar biasa hebat.


Deg


Bella di tahan dengan tangisan Gibran, biar bagaimanapun dia adalah anak dari sahabatnya. Bella tentu saja tidak tega, karena Bella sudah jatuh cinta terhadap ayah dan anak satu ini.


"Gibran sayang jangan menangis ya, baiklah tante ikut bersama kalian." ucap Bella.


"Benarkah?"


Bella tersenyum dan mengangguk-angguk kecil, Gibran merentangkan kedua tangannya meminta digendong oleh Bella. Dengan senang hati Bella menggendong Gibran. Mereka akhirnya menuju ruangan Bima.


Setelah sampai di ruangan, Bella dan Bima teringat akan kejadian tempo lalu saat dimana mereka dipergoki oleh Hellena. Bella berfikir mungkin rencana pernikahan mereka yang dikatakan Tante Hellena memang tidak akan terjadi.


Mamih pasti lupa dengan kata-katanya, terlebih saat ini Mamih sedang sakit dan memikirkan Hans. Gagal untuk ku menikah dengan Bella. batin Bima.


"Tante cantik, mau jadi mommy aku tidak? Kan waktu itu Oma bilang Tante cantik akan jadi mommy aku. Tapi sepertinya Oma lupa." ujar Gibran.


Bella tidak menjawab, hening sudah di dalam ruangan tidak ada satupun yang berbicara.


"Daddy sama tante cantik kok diem-dieman, ndak seruu ah." ujar Gibran.


"Gibran, sebaiknya kita bermain di taman depan rumah sakit yuk. Biarkan Daddy kamu bekerja." Bella mengajak Gibran, karena jika disini pikirannya melayang membayangkan hal-hal waktu itu.


"Ay--."


"Tidak!" jawab Bima cepat, memotong ucapan Gibran.


Gibran menatap intens wajah ayahnya, Gibran tahu hal apa yang harus dia lakukan agar Daddy nya bersama dengan Tante cantik.


"Ughh, Daddy aku ke luar dulu ya, aku mau ke kamar mandi. Perut aku sakit, ugh." Gibran langsung berlari keluar, dan mengunci pintu ruangan Daddy nya dari luar.


Saat Bella hendak mengejar Gibran, namun tangannya dicekal oleh Bima. Degup jantung Bella berdetak cepat, saat kulitnya bersentuhan.


"Mau kemana hem?"


"I--itu Gibran." ucap Bella pelan.


"Tidak usah dikejar, dia anak yang pintar."


Bima langsung menarik Bella ke dalam pelukannya, ntah mengapa laki-laki itu sekarang sangat berani terhadap Bella. Ada rasa ingin memiliki Bella sepenuhnya dalam diri Bima.


"K--kak." lirih Bella.


"Diamlah, atau aku akan berbuat lebih dari ini." ucap Bima mengancam Bella.

__ADS_1


Bella terdiam, membiarkan Bima memeluk dirinya. Bima terus memeluk erat Bella, hingga dia ingin sesuatu yang lebih dari ini. Bima mengendurkan pelukannya, dia menatap wajah Bella yang menunduk. Kemudian Bima mengangkat dagu Bella, agar wajahnya menatap dirinya.


"Bagaimana kalau kita mengulangi kejadian waktu itu?" ucap Bima dengan suara berat.


"K--kak aku tid--."


Cup


Bima langsung mengecup bibir Bella, sontak Bella langsung terdiam mencerna apa yang baru saja terjadi kepada dirinya. Bima tersenyum, dan langsung mendaratkan bibirnya kembali.


Hmmpphhh.


Kecupan yang mendarat kini menjadi sebuah ciuman yang panas bagi keduanya, Bella meronta memukuli dada Bima. Namun laki-laki itu sama sekali tidak menggubris apa yang dilakukan Bella terhadapnya, Bima melepaskan tautan bibirnya setelah dirasa Bella hampir kehabisan nafas.


"Kak apa yang kamu lakukan! Ini tidak benar, aku harus pergi kak." ucap Bella yang hendak pergi.


Bima mencekal lengan Bella, dan menariknya kembali menghadap tubuhnya. Bima mengecup seluruh wajah Bella.


"K--kak jangan seperti ini, a--aku aku akan segera menikah. Tolong lepaskan aku." lirih Bella.


Deg


Ada perasaan tidak suka bagi Bima saat Bella mengatakan hal itu, hati Bima memanas tidak rela jika Bella menikah dengan laki-laki lain. Bima langsung menyambar bibir Bella, membungkamnya dengan bibirnya. Bella terus meronta, sedangkan Bima semakin menuntut masuk lebih dalam. Bahkan Bima menarik tengkuk leher Bella agar mereka memperdalam ci*mannya.


Bima melepaskan tautan bibir mereka, Bima menatap Bella dengan penuh amarah. Bella benar-benar tidak menyangka jika Bima dapat melakukan hal ini kepadanya, bahkan isak tangis Bella sudah tidak dapat dibendung.


"K--kak l--lepaskan aku, hiks.."


"Kenapa kamu mau menikah hah!" teriak Bima yang sudah diselimuti amarah.


"Karena aku harus segera menikah." jawab Bella.


"Tidak boleh!"


"Dengan persetujuan mu atau tidak, aku akan tetap menikah!" jawab Bella tidak kalah galak dengan Bima.


"Apa kamu mencintainya?" tanya Bima dengan menatap tajam ke arah Bella.


"Ya, a--aku sangat mencintainya!"


Bima tersenyum kecut mendengar penuturan Bella, untuk sekian kalinya hati dia benar-benar hancur seperti ini. Bima tidak suka Bella mengatakan hal tadi, Bella melihat Bima terdiam dia langsung berusaha menuju pintu ruangan untuk melarikan diri. Saat Bella hendak membuka pintu itu, namun sayang pintunya terkunci.


Bima tersenyum penuh kemenangan, tidak dia sangka jika Gibran sampai mengunci pintunya dari luar. Perlahan Bima berjalan mendekati Bella yang sudah ketakutan terhadap dirinya.


"Kak aku mohon jangan seperti ini, aku ingin pulang." lirih Bella.


Bima mendorong tubuh Bella ke pintu dan menghimpitnya dengan tubuhnya, keduanya bisa merasakan deru nafas masing-masing. Bahkan jantung keduanya sama-sama berdetak kencang.


Bella tidak berani menatap Bima, sedangkan Bima mengamati wajah Bella dengan penuh sayang. Tangan Bima terulur mengusap bekas air mata yang ada di pipi Bella.


"Kamu pasti bohongkan, kamu tidak akan menikah kan Bel?" ucap Bima lembut.


Bella tidak menjawab.


"Bel katakan!" teriak Bima.


"Aku akan menikah." reflek Bella.


Bima tersenyum smrik, laki-laki itu kembali membekap mulut Bella dengan bibirnya bahkan dengan kasarnya Bima menggigit bibir bawah Bella.


Kak kenapa kamu seperti ini. batin Bella.


Air mata Bella sudah bercucuran, Bima tidak menghiraukannya karena hati dan pikirannya sudah dilanda ingin memiliki Bella seutuhnya. Bima beralih ke leher jenjang bella dan meninggalkan beberapa karya disana, Bella terus meronta dengan mendorong Bima namun sayang sekali tenaganya jauh lebih besar Bima. Saat tangan Bima menyentuh bagian dada Bella, wanita menangis sejadi-jadinya.


"Hikss... kak lepaskan! Kamu brengsek." teriak Bella sambil menangis.


Deg


Bima tersadar atas apa yang dia lakukan, laki-laki itu langsung menjauh dari tubuh Bella. Ada rasa penyesalan saat dia tidak dapat mengendalikan dirinya, Bella menangis sendu menatap tajam ke arah Bima.


"Kenapa kak? kenapa kamu melakukan hal itu kepadaku yang bahkan hanya kamu anggap sebagai adik? Kenapa kak!" teriak Bella, air matanya terus bercucuran.


"A--aku, aku khilaf. Maafkan aku bel, aku sangat menyesal." ucap Bima pelan.


Khilaf? Menyesal? kamu benar-benar keterlaluan kak, aku pikir kamu mencintaiku karena kamu sampai berani melakukan hal itu. Ternyata aku salah. batin Bella.


Cklek


Gibran membuka pintu, Bella langsung keluar begitu saja dengan baju yang berantakan. Bella terus menangis sepanjang koridor.


Bima diam ditempatnya, dia menyesal karena telah melakukan hal itu kepada Bella. Tidak seharusnya dia memperlakukan Bella seperti tadi, tapi apa boleh buat semua diluar kendalinya. Ntah mengapa ada perasaan ingin memiliki Bella seutuhnya.


"Daddy apa yang terjadi? Kenapa tante cantik keluar sambil menangis." tanya Gibran kepada ayahnya.


Bima menatap Gibran kemudian tersenyum, "Tidak apa nak." jawab Bima.


Tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang diam-diam memfoto Bella saat keluar dari ruangan Bima. Orang itu tersenyum licik sambil menatap layar ponselnya.


"Tidak ada yang boleh merebut Dokter Bima dari ku, akan ku buat jal*ng itu malu dan menderita." gumam orang itu.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like yaa.


__ADS_2