
Selamat membaca βΊοΈ
Saat ini Barra sedang berada di Amerika, bukan untuk berlibur melainkan bertemu dengan investor yang akan berkontribusi dalam peluncuran produk baru perusahaannya.
Hari ini Barra berjalan santai di kota New York, melihat manusia super sibuk yang berlalu lalang. Pemandangan seperti ini memang jauh berbeda dengan di Indonesia.
Barra memilih singgah di sebuah kafe, memesan secangkir kopi americano. Melihat pemandangan melalui kaca di sisinya.
"Sangat Indah, nyaman sekali rasanya. Nanti, harus kembali ke sini. Bersama dengan... siapa ya?" gumam Barra, tiba-tiba dia memikirkan tentang seorang pasangan yang akan mendampinginya.
Tidak lama kopi yang Barra pesan pun datang, "Thank you." ucap Barra.
Melihat orang-orang yang berlalu lalang sambil menyeruput kopinya, membuat dirinya lebih rileks dan santai. Sesaat melupakan kepenatan yang ada. Hingga suara dering ponsel mengganggunya.
Drddttttt... drddtttt...
"Ck ganggu aja." gumamnya sambil melihat layar ponselnya.
Hans? batin Barra.
π"Ganggu bangat Lo." omel Barra saat mengangkat sambungan telepon.
π"Dokumen lo ada yang ketinggalan." ujar Hans dingin.
π"Apa!" Barra membuat semua orang yang sedang berapa di kafe menatapnya.
π"Makannya cari istri, biar apa-apa diingetin."
π"Sini istri Lo buat gue."
π"Bosen hidup?"
π"Ngeri-ngeri, yauda susul gue ke new york sini. Tolong bawain, biar sekalian bantuin gue. Kan lo juga harus turun tangan dong."
π"Oke."
Tutt...
Eh busetdah nih anak cepet amat, tumben dia mau. Batin Barra.
***
Hans tersenyum bahagia, karena ini kesempatan dirinya untuk mengajak Airen pergi ke new york. Hans melangkahkan kakinya ke ruang bermain anak-anaknya, mencari sosok sang istri.
"Sayang." panggil Hans.
"Mas, kenapa?" tanya Airen yang tengah menggendong Amira.
"Aku mau berbicara sebentar, ayo ikut."
Airen pasrah saat tangannya ditarik oleh suaminya, Hans membawa Airen sedikit menjauh dari Ica dan juga mbok Ti.
"Ikut aku ke new york yaa." pinta Hans langsung.
"H--Hah? Dimana new york mas?" tanya Airen tak tahu.
Astaga istriku benar-benar tidak tahu new york? batin Hans.
"Amerika sayang, ikut yaa. Sekalian jalan-jalan."
"Amira dan Amara bagaimana? memangnya mereka sudah boleh pergi ke luar negeri?"
Ngga usah dibawa, mereka tuh ribet. batin Hans.
"Kita berdua aja, titip Amira dan Amara sama mamih. Lagi juga kan ada Ica dan juga mbok Ti, kamu ngga usah khawatir sama mereka."
"Tapi mas--"
"Ngga ada tapi-tapian, aku ngga menerima penolakan. Pokoknya kamu harus mau, lagi pula kita hanya tiga hari di sana. Pliss yang, kali ini mau yaa." pinta Hans dengan manja.
Airen dibuat bingung, mungkin dia akan langsung mau jika saat ini belum ada Amira dan juga Amara. Airen tengah berpikir mempertimbangkan ini semua, tentu saja perasaannya sebagai seorang ibu tidak tega meninggalkan anak-anaknya.
"Mas, ajak Amira dan Amara ya. Aku ngga tega ninggalin mereka."
"Kan ngga lama, cuma tiga hari kok. Aku ingin menghabiskan waktu berdua, karena semenjak ada mereka waktu aku sama kamu ngga banyak." lirih Hans.
"Kalian pergi aja, soal Amara dan Amira serahin sama mamih. Kamu ngga usah khawatir Ren." ujar Hellena yang datang menghampiri.
"Mamih?" Airen terkejut dengan kehadiran mertuanya yang datang tiba-tiba. Sedangkan Hans tersenyum bahagia, karena mamih nya dapat diandalkan di saat seperti ini.
"Tuh dengerin apa kata mamih, kamu ngga usah khawatir. Aku janji, cuma tiga hari kita di sana."
"Yauda gih sana kalian siap-siap, kalau bisa nanti jam 8 malam langsung berangkat saja. Atau mau besok pagi aja?" Hellena berbicara sambil mengambil Amira dari gendongan Airen.
"Cup cup, cucu Oma cantik bangat sih." gumam Hellena.
__ADS_1
Airen terdiam, sungguh hatinya tidak rela jika harus meninggalkan anak-anaknya. Hans memeluk Airen dengan erat. "Ngga usah mikir macem-macem, aku jamin mereka aman sama mamih." bisik Hans ditelinga sang istri.
"Ngga gitu mas, cuma ngga tega aja ninggalinnya." Hans mengendurkan pelukannya, menatap wajah sang istri dengan lembut.
Cup
"Jangan sedih gitu dong wajahnya, nanti kita beliin oleh-oleh yang banyak untuk mereka. Atau perlu kita buat adik untuk mereka disana, kan bagus lebelnya Made in new york." ucap Hans terkekeh.
Airen berdecak sebal sambil mencubit pinggang suaminya, "Oke, ngga ajak mereka. Tapi ajak Eza ya. Aku ingin Eza juga merasakan pergi ke luar negeri, waktu kita ke Prancis dia ngga ikut. Boleh ya mas." pinta Airen.
Harus bawa Roni buat jagain Eza, biar Roni yang ajak Eza keliling kota new york. batin Hans.
"Oke sayang, ajak Eza. aku setuju."
"Makasih mas, kapan kita berangkat?"
"Nanti jam 8 malam, sekarang kamu packing aku bantu. Biarin Mira dan Ara sama mamih dulu. Ayo sayang." Hans menarik lengan Airen menuju kamar, karena mereka harus bersiap-siap untuk pergi ke new york.
***
Sedangkan Bima yang tengah berada di rumah Bella, mendapatkan pesan dari sang ayah. π©"Besok pagi kamu harus pulang! Atau kamu ngga akan bisa melihat Bella lagi."
Begitulah pesan yang terdapat di ponsel Bima dari sang ayah, Bima menelan salivanya kasar. Jangan-jangan papih udah tau semuanya. batin Bima.
"Kak disuru ibu ikut makan malam." ucap Bella lalu pergi ke dapur.
Bima mengangguk, mengikuti langkah Bella dari belakang. Bima duduk di kursi samping Bella, Bu Ani tersenyum bahagia melihatnya.
"Ayo nak Bima makan yang banyak ya, jangan sungkan." ucapnya.
"Terimakasih Bu." ucap Bima tersenyum hangat.
Bella memilih diam, jujur saja perasaannya saat ini sangat bahagia karena bisa merasakan kembali makan bersama dengan orang yang memenuhi seluruh hatinya. Namun tetap saja, ada perasaan sedih dan kecewa kala mengingat hal yang pernah terjadi diantara keduanya.
Mereka pun makan dalam hening, hanya suara dentingan sendok yang berbunyi memenuhi ruangan. Bella hanyut dalam pikirannya, begitupun dengan Bima. Jujur saja dia ingin lebih lama bersama Bella, namun saat melihat pesan ancaman dari papih William membuatnya harus pulang ke mansion. Karena Bima tahu, papih nya tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.
Makan malam pun selesai, saat Bu Ani hendak mengambil piring kotor milik Bima namun di cegah oleh Bima. "Nggausah Bu, biar saya saja." ujar Bima.
"Ngga apa-apa, biar Ibu saja. kamu dan Bella lebih baik berbincang di depan."
"Biar Bella yang membersihkannya Bu, lebih baik ibu saja yang temani kak Bima."
Tiba-tiba Bima memiliki ide, "Biar saya dan Bella yang membersihkannya, lebih baik ibu pergi beristirahat saja." ucap Bima yang mendapati tatapan tajam dari Bella.
"Wah baiklah kalau begitu, ibu akan pergi istirahat." ucap Bu Ani lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kamu semakin cantik ya." puji Bima.
Bella melirik Bima, "Apaansi kak, ngga ada uang receh." jawab Bella jutek.
Bima terkekeh, dirinya sama sekali tidak pernah menyangka bisa jatuh cinta terhadap seseorang yang sudah ia anggap sebagai adiknya.
"Bel, besok aku harus pulang ke kota. Kamu disini baik-baik ya, jangan deket-deket sama cowok lain. Aku pasti buktikan ke kamu, kalau aku serius sama kamu." Bima memberitahu hal itu kepada Bella.
Ada perasaan tidak rela di hati Bella, saat mendengar bahwa mereka akan berjauhan kembali. Meskipun Bella belum percaya jika Bima mencintainya, namun tidak menutup perasaannya bahwa dia memang tidak ingin jauh dari Bima.
"Pulang aja, ngapain bilang."
"Harus bilang, kan sama calon istri. Kalau aku kenapa-kenapa dijalan juga setidaknya kamukan jadi tau."
Bella langsung menatap tajam Bima, karena tidak suka dengan perkataan laki-laki itu. "Kalau kamu kenapa-kenapa, aku akan nikah sama mas Aryo."
Prangg (anggep bunyi piring pecah)
Bima menjatuhkan piringnya, saat mendengar ucapan Bella. ada rasa sesak di dada yang menggerogoti hatinya, saat mendengar hal seperti itu.
Bima langsung mengumpulkan serpihan pecahan beling, namun karena tidak hati-hati tangannya tergores.
"Awwhh." ringis Bima.
"Kak bisa ngga sih hati-hati, sini kak, kamu duduk dulu. aku ambilin hansaplats bentar." ujar Bella khawatir pergi mengambil hansaplats.
Bima tersenyum bahagia, karena melihat kepanikan di wajah Bella. meskipun hatinya masih tidak nyaman karena ucapan Bella tadi. Bima membasuh bekas luka itu dengan air hangat yang dia ambil sebelum Bella kembali ke dapur.
Bella datang membawa kotak P3K ditangannya, Bella duduk di samping Bima dan segera meraih tangannya. "Ini luka nya udah dibersihin?" tanya Bella.
Bima mengangguk, Bella hendak mengoleskan alkohol namun ditahan oleh Bima. "Nggausah pake itu, ini cuma luka ringan kok. langsung pake Betadin sedikit saja." ucap Bima, Bella pun mengangguk patuh.
Ada perasaan bahagia di hati Bima, karena mendapatkan perlakuan seperti ini dari orang yang dia cintai. Sedangkan Bella menahan getaran di dada saat memasangkan hansaplats di tangan Bima.
"Sudah."
Bima tersenyum, "Bagus, terimakasih ya calon istri." Tiba-tiba muka Bella berubah menjadi jutek kembali.
"Bel, aku besok mau pulang ke kota. nanti kamu kangen, sini dong mau peluk boleh ngga?" Bima merentangkan tangannya.
"Ngga boleh." jawab Bella.
__ADS_1
"Padahal dulu kamu selalu meluk aku lho." ledek Bima.
"Ihh apaansi itukan dulu, udah sana katanya mau pulang ke kota." Bella bangun hendak menaruh kembali kotak P3K, namun Bima berdiri dan menarik Bella ke dalam pelukannya.
"Jangan berontak, sebentar saja." pinta Bima dengan suara berat.
Sebenarnya Bella ingin berontak, namun ntah mengapa tubuhnya merespon lain. Bella ikut larut dalam momen ini, pelukan hangat Bima sedikit menenangkannya.
Bima memeluk Bella semakin erat, tidak ingin menyisakan jarak sedikit pun. "Kak pengap!" protes Bella.
"Makanya mau ya jadi istriku, aku mau kita kayak gini saat tidur. Meskipun mungkin nanti aku akan bersaing dengan Gibran untuk memeluk mu saat tidur." ucap Bima tanpa melepaskan pelukannya.
"Lepasin, nanti Ibu lihat."
"Biarin aja, syukur-syukur juga langsung dinikahin."
Bella menginjak kaki Bima, sontak hal itu membuat Bima melepaskan pelukannya. "Awwhh, kdrt ini namanya Bel."
Dokter mesum dasar. batin Bella.
"Udah sana kakak pulang." ujar Bella mengusir.
"Kamu ngusir aku? Nanti kangen lho."
"Nggak!"
"Yauda kalau gitu aku nggamau pulang."
"Kak, Gibran butuh kakak. sudah sana pulang."
Bima tersenyum, "Gibran juga butuh mommy nya, Bel ganti panggilannya dong. Jangan panggil kakak, mas gitu biar sweet."
"Nggak! Sana kak pulang."
"Aku pulang, kalau kamu panggil aku mas bima."
"Nggak mau!"
"Iya aku tahu, kamu nggak mau aku pulang kan." ujar Bima tersenyum meledek.
Ck, sumpah ya nih kenapa jadi ngeselin gini. batin Bella.
"Mas Bima, pulang."
"Ngga denger, ulangi!"
"Mas Bima!"
"Apa sayang?"
Bella benar-benar sangat kesal dengan laki-laki narsis di hadapannya ini, Bella hendak memukul Bima namun lengannya lebih dulu dipegang oleh Bima.
"Mau apa? Jangan dipukul, cium dong." ucap Bima menggoda.
"Ihhh mas Bima kenapa jadi narsis gini! Aku ngga suk---."
Cup
Bima mengecup bibir Bella dengan singkat, namun mampu membuat Bella diam terpaku. Bima terkekeh, dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Bima menyambar kembali bibir kenyal itu, Bima menggigit bibir bawah Bella agar terbuka. lalu menerobos masuk ke dalamnya, mengecap setiap inci yang ada. Bella tidak melawan, melainkan larut terbuai dalam permainan.
Hingga suara Bu Ani menyadarkan mereka, "Bell! Nak Bima masih ada?" teriak Bu Ani yang hendak ke dapur.
Bella mendorong dada Bima, lalu sesegera menghapus bekas c*umannya. "Mas gosok bibirnya!" ujar Bella memberitahu.
Sedangkan Bima terkekeh melihat raut wajah Bella yang ketakutan, sungguh dirinya ingin menikahkan Bella sesegera mungkin.
"Ehh nak Bima tenyata masih ada toh, kalian abis ngapain?" tanya Ibu.
"Abis Ce--cerita Bu, yaa cerita. kita abis ngobrol sebentar aja kok, nih kak Bima juga udah mau pulang. yakan kak?" ucap Bella gugup.
Maaf Bu, Bella bohong. Nanti kalau jujur, bisa-bisa Ibu langsung nikahin Bella. batin Bella.
"Iya Bu, saya mau pulang ke kota besok. Titip Bella ya Bu, kalau ada yang mau ngelamar Bella, tolak ya. Sayakan calon mantu ibu, lagi usaha biar anak ibunya mau. pokoknya doain biar Bella mau, secepatnya nanti kita akan menikah." ujar Bima.
"Ibu seneng dengarnya kalau gitu, ditunggu kabar baiknya ya."
"Iya Bu, kalau gitu saya pamit ya." Bima mencium tangan Bu Ani, lalu pergi setelah mengacak-acak rambut kepala Bella.
"Jangan bandel ya, nanti hal tadi aku kasih tau Ibu." bisik bima ditelinga Bella.
Bima tersenyum, lalu pergi dari sana. Sedangkan Bella masih terpaku karena kejadian tadi.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita KISAH TUAN HANS.
Berikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.
__ADS_1