Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 8


__ADS_3

(TIGA BERSAUDARA)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Tengah malam begini, tiba-tiba Hans ingin menjahili Iren dengan menelponnya di malam hari.


Drrdddttt.. drddtt...


Bima mengucek matanya perlahan, dia mendengar dering ponsel. Bima melangkahkan kakinya, mengambil ponsel di atas nakas.


"Idiot? siapa ini, kenapa Airen tak mengambil Sim card nya. astagaa gadis itu." gumam Bima.


ponsel Iren terus berdering, Bima pun penasaran siapa yang menelepon Airen. akhirnya Bima mengangkat telepon itu.


πŸ“ž"........."


Baik Bima maupun Hans sama-sama terdiam, mereka sama-sama menunggu ada yang berbicara.


'Duh, nih orang bener-bener idiot sih. nelpon tapi kok gak ada suaranya.' batin Bima.


'Si Cahya, kenapa sih? kenapa nggak ngomong' batin Hans.


akhirnya mereka sama-sama membuka suara secara bersamaan.


πŸ“ž"Hallo?"


Bima dan Hans sama-sama kaget dibuatnya, mereka langsung mematikan panggilan itu.


"Suara cowok? Apa itu pacarnya Iren?" Bima bertanya-tanya dalam hati.


"Si*l, siapa cowok itu!" batin Hans.


semenjak kejadian itu, Hans atau pun Bima sama-sama tak bisa tertidur. mereka akhirnya memilih untuk mengambil air di dapur.


Hans mengambil air di kulkas untuk mengisi dahaganya, segar rasanya. tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang yang kian mendekat ke arahnya.


Drapp.. Drap..


"Ngapain kamu disini?" tanya Bima.


Hans hanya mengangkat botol minum itu ke arah Bima, dia malah dengan pertanyaan bodoh kakaknya.


"Tck, nggak baik malem-malem begini minum air dingin." ucap Bima.


Hans tak peduli, dia terus menyesap minumannya sampai habis. Hans duduk di kursi dapur, diikuti oleh Bima.


"Kamu kenapa, ada masalah? tumben nggak bisa tidur." tanya Bima.


"Kepikiran seseorang!" jawab Hans jujur.


"Sama kakak juga." jawab Bima, mereka berdua seakan adu nasib bersamaan.


"Mikirin siapa?" tanya Hans.


"Mikirin calon Mommy-nya Gibran, oiya kata Gibran dia kerja di perusahaan kamu? bagian apa?" tanya Bima antusias.


"Mana Gue tahu!" jawab Hans, ntah mengapa rasanya Hans kesal dengan ucapan Kakaknya, karena pikirannya langsung tertuju pada Iren.


"Yailah santai dong, ubah napah Hans. Masa manggil kakak, Lo Gue sih!" ujar Bima.


"Dorrr!" tiba-tiba Raja mengagetkan kedua adiknya yang sedang berada di dapur.

__ADS_1


"Astaghfirullah, gila Lo!" ucap Bima ke arah Raja.


"Tadi nyuru ubah panggilannya, Lo sendiri aja manggil si Raja. pake bahasa Lo Gue!" ucap Hans.


"Kalian berdua emang nakal!" ucap Raja, menjewer telinga kedua adiknya itu.


"Aduhh sakit Ja, kira-kira lah!" ngaduh Bima.


"Apa kamu bilang hah?!" ucap Raja sambil mengencangkan jewerannya.


"Sakit Bang, lepasin!" ucap Bima.


"Nah gitu dong! yang sopan." Raja ikut duduk di sana bersama adik-adik nya.


"Baru balik Lo?" tanya Bima.


"Emang susah ngajarin adek ke jalan yang bener, iya Gue baru balik!" ucap Raja.


"Kalian berdua ngapain ngumpul di dapur tengah malem begini?" tanya Raja, pada kedua adiknya.


"Kepikiran seseorang!" ucap mereka bersamaan.


"Hahahaha, Duda sama Perjaka tua lagi meratapi nasib." Raja menertawai adiknya dengan puas.


"Apa Lo bilang? coba ulangin!" ucap Hans, sambil menatap dengan tatapan membunuh ke arah kakaknya.


"Iya iya bukan perjaka tua, adek Gue yang paling ganteng + genius kan baru 27 tahun!" ucap Raja, karena takut jika Hans marah dengannya.


"Gue juga sebentar lagi bukan Duda! lagi berjuang buat dapetin gadis 19 tahun, biar mau jadi ibu sambungnya Gibran." ucap Bima, yang dapat tertawaan dari adik dan juga kakaknya.


"Pffttt Hahahaha, wah parah Lo Bim, pedofil gila. gadis 19 tahun sama duda 30 tahun. hahaha" Raja tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Bima.


Hans juga menertawakan Bima, namun tidak sampai seperti Raja yang kelihatannya sangat luas menertawakan adiknya itu.


"Kalo Gue sih udah punya My Queen, Lo sama Hans tuh hati-hati. nanti menyukai satu orang yang sama lagi!" ucap Raja memperingatkan.


Hans dan Bima saling pandang. tiba-tiba rasa takut menghantui hati dan pikiran mereka berdua, karena ucapan sang kakak.


🌹🌹🌹


Hari ini Airen membawa bekal ke kantor, dia membuat porsi lebih banyak. karena ingin berbagi dengan Maya dan juga teman-teman yang lainnya.


"Eza, kakak berangkat kerja dulu. nanti jangan lupa kunci pintunya. Dah Assalamualaikum." ucap Airen, dan bergegas untuk ke kantor.


***


"Airen, kamu dicariin Pak CEO tuh, disuruh ke ruangannya kalau udah dateng." ucap Maya memberikan pesan dari Hans.


"Oh oke, makasih ya May. "


Airen berjalan menuju ruangan Hans, dia sedikit gugup. karena takut mendapatkan hukuman lagi.


"Masuk!"


'Astaga, nih orang kok bisa tau Gue udah ada di depan pintu!' batin Airen.


Ceklek


"Selamat pagi, Tuan. ada yang bisa saya bantu?" tanya Airen basa basi.


"Kamu semalem kemana?" tanya Hans.


"S--saya Tuan?" Airen menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Hm."


"Saya di rumah, emangnya kenapa?" tanya Airen.


"Tidur sama siapa?" tanya Hans.


"Tidur sendirian, emang kenapa si. Tuan kok aneh bangat!" ucap Airen, yang merasa tatapan Hans sedikit aneh.


"Jangan bohong kamu!" bentak Hans.


"Lho, kok Tuan sewot sih! saya udah jawab yang sebenarnya, kalau Tuan nggak percaya yauda! lagian apa hak Tuan atas hidup saya? mau saya tidur dimana ge, sama siapa ge. itu bukan urusan Tuan!" ucap Iren dengan lantangnya.


"Ohh berarti yang semalem itu bener, kamu ngejual tubuh kamu sama pria tua!"


"Tuan jangan asal bicara ya! saya nggak pernah ngejual tubuh saya! ini namanya pencemaran nama baik." ucap Airen.


"Saya nggak asal bicara, semalem saya nelpon kamu! dan yang mengangkat teleponnya laki-laki!" bentak Hans.


"Lho kok Tuan jadi bentak-bentak saya sih! asal Tuan tau, saya emang ngejual ponsel saya ke konter! dan lupa buat ngeluarin sim card nya!" teriak Airen tak mau kalah.


"Oh."


'Pria ini benar-benar menguras emosi, pagi-pagi sudah mengajak ribut hal yang tak penting! lagi juga apa urusannya dengan dia!' batin Airen.


"Sudah sana!" ucap Hans.


"Iya! ini juga udah mau keluar!" ucap Airen.


"Tunggu! bawa apa kamu?" tanya Hans.


"Nasi sama lauk!"


"Siniin, kebetulan saya belum sarapan!"


"Ihh enak aja! ini saya buatkan khusus buat teman-teman saya! kalau Tuan lapar, suruh aja Pak Roni beli makanan." ucap Airen.


"Airen Cahya Senjani! kamu mulai berani sama saya hah!" bentak Hans.


'Duh serem juga nih orang kalau marah-marah.' batin Airen.


"I--iya Tuan, nih!"


Iren menaruh kotak makan itu dengan kencang, dia langsung keluar dari ruangan dengan perasaan kesalnya pada Hans.


Brakk..


Iren menutup pintu dengan kencang, dia mengumpat Hans dengan berbagai macam cacian dan Hinaan.


'Amit-amit, punya suami modelan kayak gitu! Gue sumpahin keselek tuh makanan!' batin Airen.


'Gue benci, pokonya benci bangat sama tuh cowok!' umpat Airen.


Di lain sisi, Hans yang ingin menyantap tiba-tiba langsung bersin dan alhasil dia keselek.


Hachii.. uhuk-uhuk (anggep aja bunyi bersin dan batuk ya)


"Pasti gadis itu sedang mengumpat ku!" ucap Hans.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen, dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❀️.

__ADS_1


__ADS_2