Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 56


__ADS_3

(Curahan adik kakak)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Malam ini Airen bersiap-siap mengemasi barang-barang nya, karena mereka akan berangkat besok pagi.


Airen hanya memilih beberapa pakaian saja, dia tidak mau ribet. Airen mamasukan pakaian dirinya dan juga suami ke dalam koper.


Berapa pakaian yang harus dibawa? batinnya bertanya-tanya, karena ini pertama kalinya dia akan berlibur ke negara lain.


Cklek.


Pintu kamar terbuka, Hans membawakan susu ibu hamil untuk sang istri. Hans selalu memprioritaskan Airen dengan sangat ekstra, karena dia tidak mau terjadi sesuatu hal kepada anak istrinya.


"Sayang, ayo diminum dulu susu nya." ucap Hans lembut, sambil menyerahkan segelas susu yang dia pegang.


"Terimakasih mas." Airen mengambil gelas susu itu dari tangan suaminya.


Gluk gluk gluk.


Dan meneguknya sampai habis tak tersisa, meskipun sebenarnya Airen malas karena harus minum susu, jadi Hans dengan senang hati membuatkannya untuk sang istri agar dia mau meminumnya.


"Sini sayang gelasnya." Hans mengambil gelas itu dan menaruhnya di atas nakas.


Grep.


Airen memeluk tubuh sang suami dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung Hans.


Hans kaget mengapa istrinya tiba-tiba seperti ini? Hans mengusap lembut tangan Airen yang melingkar di perutnya.


"Makasih ya mas, dan maaf." ucap Airen pelan.


"Makasih untuk apa?" tanyanya.


"Makasih karena mas selalu sabar dengan segala sikap ku, dan makasih juga karena mas selalu memberikan kasih sayang, perhatian dan cintanya untuk aku." jawab Airen.


Hati Hans menghangat, darimana istrinya belajar hal seperti ini.


"Terus, maafnya untuk apa?" tanya Hans.


"Maaf karena aku belum bisa memberikan hak sebagai istri untuk kamu, maaf kalau belum sempurna untuk menjadi istri mu." lirih Airen, perasaan bersalah kemarin malam membuatnya memberanikan diri untuk meminta maaf.


Hans menghela nafasnya, dan membalikkan tubuhnya menghadap Airen. Hans tersenyum lembut dan hangat kepada istrinya, lalu mengecup singkat kening Airen.


"It's okay, aku masih bisa bersabar dan bertahan. Tapi jangan lama-lama ya, biar bagaimanapun aku pria normal lho." ujar Hans.


Airen memeluk Hans dengan erat, menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya. Hans membalasnya sambil mengelus lembut kepala sang istri.


Airen menyesap aroma tubuh Hans dengan damai, perasaan nyaman yang selalu menenangkan hati.


Semoga nanti pas liburan di luar negeri, aku sudah bisa memberikan hak mu mas. batin Airen.


"Mas kita mau liburan kemana dan berapa lama?" tanyanya.


"Mmn rahasia." jawab Hans.

__ADS_1


"Ihh kok gitu sih, masa rahasia. Aku juga mau tau."


"Nanti juga kamu tahu sayang, sebaiknya sekarang kamu istirahat ya. Besok pagi kita akan langsung berangkat." ucap Hans.


"Mas, mmm.. malam ini bolehkah aku tidur bersama dengan Eza?" tanya Airen, karena berat untuk Airen meninggalkan Eza.


Meskipun berat hati untuk memperbolehkan nya, namun Hans tak mau egois. Dia harus memikirkan perasaan istrinya lebih dulu, lagi pula nanti dia akan menikmati waktu berdua lebih lama.


"Iya sayang, boleh. Lagi pula aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, yasudah kamu istirahat di kamar Eza. Aku antar ya."


Airen tersenyum bahagia, "Makasih banyak ya mas, aku sayang kamu." ujar Airen yang langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan sang suami.


"Love you more, jadi tidur di kamar Eza atau tidak? Nanti aku bisa berubah pikiran lho, kalau kamu terus meluk aku seperti ini."


Seketika Airen langsung melepaskan pelukannya, dan mendekatkan diri ke wajah sang suami.


Cup.


Airen mengecup singkat bibir Hans, dan kemudian wanita itu berlari keluar dari kamar karena takut jika suaminya menahan dirinya lebih lama.


"Selamat malam mas Hans, I love youuu." teriak Airen sambil berlari keluar kamar.


Deg deg deg.


Jantung Hans dibuat tak karuan karena perilaku sang istri, Hans memegang bibirnya yang tadi sempat dikecup oleh Airen.


Hans terkekeh pelan, "Astaga Cahya, kamu membuat ku semakin jatuh cinta. Nanti di Prancis, aku tidak akan melepaskan mu!" gumam Hans menyeringai penuh arti.


***


Cklek


Eza membuka pintu kamarnya, dilihat sang kakak yang tengah berdiri di depan pintu sambil tersenyum hangat kepadanya.


"Kakak." ucap Eza yang langsung memeluk Airen.


"Kangen ya sama kakak." ujar Airen.


Eza mengangguk kecil, memang benar di rumah sebesar ini dia sudah jarang sekali bertemu dengan kakaknya.


"Perut kakak semakin besar, aku akan punya keponakan ya kak? Kok kakak ngga ngasih tau aku, kalau kakak hamil." ujar Eza sebal.


"Nanti kakak ceritakan, ayo ajak kakak masuk dulu. Malam ini kakak akan tidur di kamar mu."


"H--Hah, atau jangan-jangan kakak berantem ya sama kak Hans?" tanya Eza penuh selidik.


"E--ehh, sembarangan kamu kalau ngomong. Kakak sama kak Hans baik-baik saja, kakak cuma ingin menghabiskan waktu bersama dengan adik kakak. Emang salah gitu?"


"Ngga salah sih, cuma heran aja. Kok tumben kak Hans membiarkan kakak tidur di kamar aku, biasanya juga dia tidak mau jauh-jauh dari kakak." ujar Eza.


"Ihhh sudah ayo masuk." Airen menarik Eza masuk ke dalam kamar, dan menutup pintunya.


"Za kamu sinian, kakak mau cerita banyak hal sama kamu." ucap Airen sambil menepuk-nepuk kasur sebelahnya.


Dengan senang hati Eza menerima, dia langsung tiduran di samping kakaknya. Airen mengusap lembut kepala adiknya itu.


"Kabar kamu gimana Za?" tanya Airen tiba-tiba.

__ADS_1


"Ck, kayak ngga ada pertanyaan lain gitu? Masa kakak nanyain kabar, Alhamdulillah aku mah baik dan sehat." ucap Eza.


"Lho emang kakak salah nanyain kabar kamu? Kan bisa saja kamu sedang not fine."


"Za, kamu bahagia tidak?" tanya Airen.


sontak hal itu membuat Eza bangun dari tidurnya, dan memposisikan dirinya agar duduk sambil menatap wajah sang kakak.


"Kakak lihat aku, memang ada wajah kesedihan yang terpancar dari wajah tampan ku ini?" tanyanya Narsis.


"Kak, Alhamdulillah aku bahagia. Karena kita memiliki keluarga yang lengkap dan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah. Kakak tidak usah khawatir tentang aku, sekalipun aku sedih itu hal yang wajar, karena hidup tidak melulu tentang kebahagiaan. Terkadang aku sedih, mungkin karena kangen dengan ayah ibu. Aku selalu berandai-andai jika saat ini mereka ada diantara kita, pasti mereka bahagia karena melihat kakak telah berkeluarga. Bahkan saat pesta pernikahan kakak, aku seperti menjadi mata untuk ayah dan ibu. Aku bahagia kak." ucap Eza dengan jujur.


Airen tertegun dengan ucapan adiknya, air matanya mencelos begitu saja. Tidak Airen sangka, jika Eza dapat berpikir dewasa seperti ini.


"Kakak jangan menangis, kasihan ponakan aku nanti mereka menjadi cengeng seperti kakak." Eza mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Airen.


Grep


Airen memeluk adiknya dengan erat, dia langsung menumpahkan air matanya. Menangis sendu sambil memeluk Eza.


"Hikss.. maafkan kakak Za, kalau kakak belum bisa memberikan kebahagiaan untuk kamu. Kamu jangan merasa sendiri ya, kakak akan selalu ada untuk kamu. Bukan hanya kakak, tapi kak Hans juga. Eza harus bicara apapun yang ingin Eza ceritakan, jangan sungkan sama kakak ya Za." ucap Airen.


Eza tidak dapat lagi menahan tangisannya, biar bagaimanapun dia hanya seorang anak berusia 12 tahun tanpa adanya seorang ayah dan ibu.


Setelah menetralkan perasaan nya, Airen melepaskan pelukannya. dia menatap wajah sang adik, dan tersenyum hangat kepada Eza.


"Fahreza Sanjaya, adik kakak yang paling tampan, paling baik, paling pinter. Sayang, jaga diri kamu ya. Kakak minta izin untuk pergi berlibur ke luar negeri bersama dengan kak Hans, nanti kakak janji akan membawa Eza juga, tapi tidak sekarang ya sayang? Eza tidak apa kan?"


Eza tersenyum, "Ngga apa-apa kak, bahkan aku bisa berlibur kapan saja. Aku ini anak lelaki, yang bahkan belum memiliki istri. Jadi kakak tenang saja, aku pasti akan menikmati masa muda nanti dengan berkeliling dunia, kakak siapin uangnya aja untuk aku hehe." ujar Eza terkekeh.


"Ck dasar kamu ini, syukurlah kalau kamu mengerti. Terimakasih Eza karena sudah mau mengerti dan memahami kakak. Yasudah ayo kita tidur, besok kakak berangkat. Kamu jangan sedih ya, dan jangan menyusahkan Mama Hellena." Airen memberikan beberapa nasehat untuk adiknya.


"Iya, kakak tenang saja. Yasudah ayo kita tidur, oiya aku boleh mengusap perut kakak tidak?" tanyanya dengan mata berbinar.


Airen mengangguk iya, sebagai bentuk jawaban untuk adiknya. Mata Eza berbinar, setelah Airen mengizinkannya untuk mengusap perutnya.


"Haii, ini om kalian. Om yang paling tampan. Meskipun Om Eranson dan Om Gibran juga tak kalah tampan, namun Om yang pasti akan melindungi kalian. Om dengar kalian ada dua ya, hebat sekali ayah kalian--."


Pletak.


"Jangan bicara sembarangan kamu! Kamu masih bocah bau kencur." ujar Airen.


"Aduh kakak sakit tau, Hei kalian jangan seperti Mama kalian yang galak ya. Om menyayangi kalian muah." ucap Eza dan langsung mencium perut sang kakak.


"Teulimakasih Om Euza." ucap Airen yang menirukan suara anak kecil.


"Ayo kak kita tidur, selamat malam kakak ku yang paling cantik."


Airen terkekeh, sedangkan Eza langsung memejamkan matanya. Karena dia sudah mengantuk berat.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


Selamat berbuka puasa ( untuk nanti saat telah waktunya berbuka ).

__ADS_1


__ADS_2