
Secret wedding.
Sekar membuat nasi goreng dengan bersemangat, dia berusaha membuat masakan yang terbaik. Saat Sekar sedang memasak, suaminya pulang dari masjid.
Firson yang merasa haus, lantas dia langsung menuju dapur mengambil air. Firson yang hendak masuk ke dapur cukup terkejut dengan kehadiran Sekar di sana, Sekar tidak mengetahui kedatangan suaminya begitupun bi Marni karena mereka membelakangi Firson.
Dia bisa masak? batin Firson.
Fir langsung membuka kulkas, Bi Marni dan Sekar cukup terkejut mereka langsung menoleh ke belakang. Alangkah kagetnya Sekar mendapati suaminya yang sedang mengambil minum. Firson menatap istrinya sekilas, hanya beberapa detik pandangan mereka bertemu. Sebelum Sekar memfokuskan dirinya ke masakan yang sedang dia buat.
"Non bibi tinggal ya, bibi lupa kalau ada cucian." Bi Marni pamit undur diri meninggalkan Sekar, sebenarnya bi Marni hanya beralasan saja. karena dia ingin membuat pasangan suami istri itu dapat berbincang satu sama lain.
"Permisi den." ucap bi marni saat melewati Firson.
Hening, hanya suara gerakan Sekar memasak yang terdengar. Firson duduk di kursi meja makan, pandangannya menatap ke arah Sekar yang baru sehari menjadi istrinya. Firson tersenyum miris dengan hidupnya, bisa-bisanya kakeknya membuat perjodohan konyol seperti itu. Tapi biar bagaimanapun Firson akan mencoba menjalani pernikahan ini dengan baik.
drrddtt... drddtttt...
Firson sedikit terkejut dengan dering ponsel, dia merogoh ponsel di saku celananya. Ternyata asistennya yang menelpon.
📞"Ada apa Jo?" tanya Firson.
📞"...................."
📞"Oke ngga apa-apa, kamu segera kirim dokumennya ke saya."
Firson mendapatkan laporan dari asistennya bahwa dia tidak dapat menemani Firson untuk meeting nanti, karena Firson memberikan dua pekerjaan sekaligus untuk asistennya itu.
Aroma masakan mengalihkan perhatian Firson, sungguh menggoda membuat perut menjadi lapar.
Kruukkk..krukkk... suara bunyi perut Firson terdengar sangat jelas.
Sial! batin Firson, sungguh dia malu.
Sekar terkejut saat mendengar perut suaminya bersuara, dengan segenap keberanian yang ada Sekar mengambilkan nasi goreng yang sudah siap untuk suaminya. Dengan langkah perlahan Sekar menuju meja makan, Sekar terus menunduk menatap piring yang berisikan nasi goreng yang dia bawa.
Duh ini manggilnya apa ya? batin Sekar, karena dia bingung memanggil suaminya.
"A--ayah ini sarapannya." tutur Sekar kepada suaminya, karena tadi Sekar ingat jika ibunya memanggil ayahnya yang tak lain adalah suaminya dengan sebutan ayah.
"Hah?! Kamu panggil saya apa barusan?" tanya Firson memastikan bahwa dia tak salah dengar.
"A--ayah." Sekar semakin menundukkan wajahnya tak ingin melihat suaminya.
Firson menghembuskan nafasnya pelan, dia tak habis pikir dengan istrinya ini. Bukankah dia suaminya kenapa malah dipanggil ayah?
"Saya suami kamu, bukan ayah kamu."
"S--saya tahu, tapi ibu panggil ayah saya juga dengan sebutan ayah." tutur Sekar menjelaskan.
Sungguh Firson tak habis pikir.
"Kita belum memiliki anak, saya juga masih menjadi seorang suami bukan seorang ayah. Jadi kamu ganti nama panggilannya, jangan panggil saya ayah."
"Terus panggilnya apa? O--om? Kaka?" tanya Sekar tanpa menatap suaminya.
Firson menghembuskan nafasnya pelan, lantas dia berdiri agar sejajar dengan istrinya. "Kalau berbicara itu tatap mata lawan bicaranya, jangan menunduk. Ngga sopan." ucap Firson.
Setelah mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya, dengan perlahan Sekar mengangkat wajahnya berusaha menatap mata suaminya.
Deg. Pandangan mereka bertemu, jika dilihat dari dekat Firson mengakui bahwa istrinya ini memiliki mata yang sangat indah dan menawan.
Ehem. Firson berdehem.
"Selain om dan kakak ada lagi tidak?" tanya Firson kepada istrinya.
"A--abang? M--mas?" setelah Sekar mengatakan itu, Firson lebih setuju jika istrinya memanggil dirinya dengan sebutan mas.
__ADS_1
"Mulai sekarang panggil saya mas." pinta Firson.
"I--iya mas, ini nasi gorengnya. Tadi mas lapar kan?" Meski sedikit masih canggung dan ragu, Sekar berusaha menjalankan perannya sebagai istri.
Firson mengangguk, dia mengambil piring nasi goreng yang ada di tangan Sekar. Fir duduk kembali, dan mulai melahap nasi goreng buatan istrinya. Suapan pertama mampu membuat Firson hanyut dalam rasa nasi goreng itu, Enak juga. batin Firson.
Sekar masih setia berdiri di tempatnya, kakinya terasa lemas tak berdaya. Sungguh dia ingin menghilang dari sini sesegera mungkin. Siapapun tolong Sekar, wanita itu benar-benar merasa gugup dan gelisah.
"Duduk, kamu juga harus makan."
"Saya nanti saj--."
"Saya bilang duduk!" Sekar lantas menurut, dia langsung duduk di samping suaminya.
Tanpa Sekar sadari senyuman di bibir Firson terukir, meski tidak terangkat penuh namun mampu membuat seorang AlFirson Prasetya tersenyum.
"Aaaa.." Firson mengangkat sendok yang sudah ada nasi gorengnya ke arah Sekar, ntahlah mengapa Firson melakukan itu. Yang jelas saat ini hati nuraninya ingin berbagi makanan dengan Sekar istrinya, padahal Firson paling tidak suka jika ada orang yang menyentuh makanannya.
Sekar mengerutkan keningnya, "Cepat kamu makan, saya pegal."
"Tapi ma--- aammm." saat Sekar hendak mengatakan mas, Fir justru langsung menyuapi Sekar yang membuka mulutnya.
Demi apa pun saat ini Sekar berkeringat dingin, ntah perasaan apa ini. Begitu dengan Fir, dia bingung dengan dirinya sendiri mengapa melakukan hal itu?
Argh sial, kenapa aku melakukan itu. batin Fir.
Canggung. keduanya justru malah saling diam, Fir bahkan tidak menyuapi Sekar lagi. Sedangkan Sekar ingin pergi namun sepertinya sangat susah sekali.
"Kakak!!" teriak Bunga yang menuju dapur.
Sekar buru-buru bangun, dia langsung beralih ke depan kompor untuk sekedar menghangatkan nasi goreng yang dia buat. Firson sedikit menahan tawanya karena istrinya itu seperti seseorang yang sedang ketakutan.
Menarik juga ternyata. batin Fir.
"Selamat pagi kakak ipar!!" sapa Bunga menggema, bunga adalah orang yang penuh dengan energi.
"Wihhh, aku mau nasi goreng kayak kaka ipar kak. Enak ya kak? enak dong, buatan kak Sekar itu yang terbaik sepanjang jaman." tutur Bunga yang duduk berhadapan dengan Firson.
"Bunga!" Sekar memberikan isyarat kepada adiknya itu agar tidak melakukan hal-hal diluar batas.
"Apaansih kak, orang aku lagi masa pendekatan dengan kaka ipar. Harusnya kak Sekar juga bisa lebih dekat sama kakak ipar, apalagi nanti malam kalian pasti tidur satu kamar, kan sebentar lagi aku pulang ke kampung."
Uhukk.. uhukk..
Yang mau tau lanjutan ceritanya, silahkan kalian klik profil aku. Ini karya baru aku ya guys, mohon dukungannya. Terimakasih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu tiga hari cukup untuk Hans beristirahat, kini dia kembali ke perusahaannya karena ada banyak pekerjaan yang menanti dirinya. Bahkan kini Roni pun sudah kembali, perihal tentang sekretaris sementaranya itu pun sudah terselesaikan.
Saat ini keluarga Mikhailov sangat damai dan tentram, di sisi lain Bima sedang menyusun rencana agar bisa berbulan madu. Karena sampai detik ini dia selalu gagal membuatkan adik untuk Gibran.
Bima tengah bergelendot manja di samping Bella, sedangkan Gibran tengah asyik bermain bersama dengan Eranson dan juga Eza. Bima mendengus kesal, karena istrinya terus memperhatikan anak mereka.
"Sayang, ngamar yuk." ajak Bima.
"Apaansih mas, tuh liat anak kita lucu ya." ujar Bella melihat Gibran dengan sayang, Bima merasa beruntung memiliki Bella disisinya. Dia yakin Gina pasti ikut bahagia jika Bella yang menjadi ibu sambung untuk anaknya.
"Kita bikin yang lebih lucu yuk, kasih adik buat Gibran."
Pletak. Raja menjitak kepala adiknya dari belakang sofa.
"Masih siang woi, lagi juga ngga malu apa itu kalau anak-anak ngeliatin." tutur Raja.
"Ehh ada kang supir, sirik aja nihh. Bilang aja si Ratu ogah kan deket-deket sama lo." ucap Bima kepada kakaknya itu.
"Biar supir bukan sembarang supir, gue ini supir pesawat. Bel, kamu kok mau sih sama makhluk kayak si Bima." Raja duduk di sofa yang masih kosong.
__ADS_1
"Heh makhluk dimensi lain diem aja ya! Ngga usah ikut campur rumah tangga orang." jawab Bima, kalau sudah bersama Raja bahkan Bima ikut-ikutan absurd seperti kakaknya.
Hans keluar sambil menggendong putri pertamanya, saat melihat abang-abangnya sedang bersantai duduk di sofa lantas Hans memutar badannya untuk kembali ke atas.
"Hans woi mau kemana?!" teriak Raja memanggil adiknya.
Ck, sial. batin Hans.
Hans berusaha tak peduli, dia terus melangkahkan kakinya untuk naik kembali ke atas. "Bim, kalau kita kasih tau aib si Hans ke Airen seru kali ya." ucap Raja sedikit keras.
Wajah Hans sudah masam, dia lantas berbalik badan. Menatap tajam kakak pertamanya. Kenapa di rumah ini, isinya orang abnormal Mulu sih. batin Hans.
Raja terkekeh, saat Hans tidak jadi ke atas. Hans ikut duduk disofa, namun dia memilih menjauh dari Raja.
"Sini Hans, Abang mau gendong keponakan abang tersayang."
"Halahh pasti ada maunya tuh si Raja, palingan juga minta saham buat si Eranson." celetuk Bima yang melihat kakaknya seperti itu.
Aku dimana? aku siapa? mengapa aku disini? batin Bella yang resah melihat tingkah ketiga kakak beradik ini.
"Abang tau Bim, kamu juga pasti mau kan."
"Bahasa lo tumben bagus bang." tutur Bima, saat mendengar raja memanggil aku kamu.
Raja berdecih sebal, selalu salah jadi dia. Ngomong ini salah, itu salah. Mamih Hellena kemudian datang menghampiri ketiga anaknya yang dirasa sedang berdebat.
"Bel, kamu kok tahan disitu. Kalau mamih mah mending pergi aja." Hellena melihat Bella anteng - anteng saja disaat ketiga adik kakak itu beradu mulut.
"Lah terus mamih ngapain ke sini?" tanya Raja.
"Mau lihat ngambil cucu mamih, sini Hans Amira biar sama Mamih saja. Eza, Eran, Gibran, yuk kita ke taman belakang. Kalau kalian disini bisa-bisa ketularan bodohnya papa kalian." Hellena mengambil cucunya dari gendongan Hans, lantas dia bergegas menuju taman belakang bersama kedua cucunya yang lain dan juga Eza.
Bella langsung menyingkirkan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya, Bella berteriak. "Mah tunggu, aku ikut!" Bella berlari mengejar Hellena, dia tak tahan kalau bersama ketiga bapak-bapak itu.
"Sayang, kok aku ditinggal!" rengek Bima.
"Yailah baru ditinggal ke halaman belakang, apalagi kalau ditinggal pergi haji. Dasar sumaketri."
"Sumaketri?" tanya Hans tak tahu dengan ucapan Raja.
"iya, si bimakan sumaketri. Suami Manja Ke Istri." tutur Raja menjelaskan.
"Lo nyadar ga sih? Kalau lagi ngomongin diri lo sendiri." Bima menatap tajam kakaknya.
Hans hanya diam mengamati kedua abangnya yang sedang berseteru.
"Bentar deh, gue heran sikap kita yang begini gen dari mana ya?" Raja mulai mempertanyakan sikapnya yang aneh nyeleneh.
"Kalian aja, gue ngga." jawab Hans.
"Kayaknya sih papih." jawab Bima enteng.
Hatchii!! Terdengar kencang suara papinya yang bersin.
"Raja! Bima! Hans! Kalian berani membicarakan papi hah!!" teriak William kencang dari arah kamarnya.
Hal itu membuat Raja dan Bima lari ketar ketir, karena tahu pasti habis ini papih nya turun. "Kak Raja sam Bima tuh pih, aku ngga ikut-ikutan!!" ujar Hans.
"Ja adik lo Cepu amat."
"Adik lo juga, huh dasar anak papi mami. Awas lo Hans, abang aduin ke istri mu kalau waktu SD kamu pernah naksir anak kepala sekolah!!" Raja dan Bima lari sejauh mungkin yang mereka bisa, karena saat ini bukan hanya papih nya saja yang mencari mereka. Tapi Hans juga sedang mengejarnya.
Bersambung...
Haii maaf ya aku baru sempet updet.
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya.
__ADS_1