
(TERKEJUT)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Hari ini Airen libur, dia menghabiskan waktu bersama Eza. Airen mengajak adiknya untuk pergi jalan-jalan ke taman.
"Za, jalan-jalan yuk. keliling taman." ajak Airen.
"Ayo kak, udah lama aku nggak keliling lihat-lihat daerah sini." ujar Eza, bersemangat.
"Yauda, kamu selesaikan tugas sekolah dulu. kakak mau siap-siap oke."
Airen mengganti pakaian nya dengan pakaian yang casual, sementara Eza menyelesaikan tugas sekolah nya. sambil menunggu Airen siap-siap.
"Eza, lihat kakak! Bagus nggak Dek?" tanya Airen sambil memutar tubuh nya.
"Wahh, kakak cantik bangat. Baju baru tuh kayak nya."
"Iya dong, kemarin kakak beli baju ini bareng teman kerja kakak. meskipun harga nya cukup mahal, tapi nggak apa-apa, kakak suka bangat sama baju nya. bagus yaa!"
"Iya bagus kak, kakak terlihat semakin cantik. pasti pakai uang yang dari Om Dokter ya." ujar Eza.
"Iya dari mana lagi, kan kakak belum gajian."
"Yauda, ayo kak kita berangkat. aku udah selesai ngerjain tugas nya."
Airen dan Eza pun pergi jalan-jalan melihat taman. setelah sampai di sana Eza meminta Airen untuk membelikannya es krim. Airen pun membeli dua es krim, yang satu rasa coklat dan yang satu lagi rasa vanilla untuk dirinya. sebab Airen kurang suka dengan rasa coklat.
"Nih, es krim nya." Airen memberikan es krim pada Eza.
"Enak bangat kak, sering-sering dong traktir aku kayak gini!" ucap Eza, sambil menikmati es krim nya.
"Makanya, Eza doain kakak terus. biar rezeki nya lancar."
Eza hanya manggut-manggut saja, mereka berdua menatap ke arah keluarga yang terbilang harmonis. tiba-tiba Eza menitikan air matanya, Airen yang paham akan perasaan sang adik. dia pun berusaha untuk memberikan pengertian dan ketenangan untuk Eza.
"Kak, kenapa ya Ibu sama Bapak cepet bangat ninggalin kita." lirih Eza.
"Dek, sesuatu hal yang terjadi di dunia ini memang seperti itu. cepat atau pun lambat, kelak kita akan menyusul mereka. Eza nggak boleh sedih, nanti Ibu sama Bapak ikutan sedih. ngeliat Eza." ucap Airen, yang berusaha untuk membuat Eza mengerti.
Saat mereka dalam suasana yang terbilang sedikit sedih, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan suara Gibran yang berteriak ke arah Airen.
"Mommyyyyyy!"
Gibran berlari menghampiri Airen yang terduduk di kursi taman, mata Airen mengedar mencari sosok Gibran.
"Gibran hati-hati, Nak!" teriak Bima, memperingatkan sang putra untuk berhati-hati.
Airen menemukan Gibran yang tengah berlari ke arah nya, bibir nya mengukir senyum saat Gibran berlari ke arah nya dengan wajah yang begitu ceria. ada kehangatan tersendiri bagi Airen yang melihat wajah Gibran seperti itu.
Bruk..
Gibran jatuh tersungkur ke tanah, Bima dan Airen sama-sama panik dibuat nya. Mereka dengan sigap menghampiri Gibran.
"Hikss.. aduhh Daddy, Mommy. kaki aku sakit." ucap Gibran, mengaduh.
Airen membawa Gibran ke dalam gendongannya, dan berusaha menenangkan Gibran agar tak menangis.
"Sayang cup cup cup, udah ya jangan nangis lagi. Gibran kan anak kuat." ujar Iren sambil mengelus-elus kepala Gibran dengan sayang.
__ADS_1
Gibran berusaha untuk tak menangis, namun rasa perih dilutut nya membuat dia tak kuasa menahan tangis nya.
"Hikss.. peulih Mommy." adu Gibran.
Airen membawa Gibran untuk duduk di kursi taman, Bima mengikuti kemana Airen duduk. Dia mengambil alih Gibran agar terduduk di pangkuan nya.
"Sayang, udah ya jangan nangis. Gibran kan anak pintar dan kuat, kita pulang saja ya. obati luka nya dulu." ajak Bima pada Gibran.
"Tapi ajak Mommy, ya Daddy!" pinta Gibran.
"Airen, ikut saya ke rumah ya. Gibran ingin sama kamu." ucap Bima.
"Iya, mas Bima."
Akhirnya Airen pasrah untuk ikut Bima pulang ke rumah nya, menemani Gibran yang ingin bersama nya.
🌹🌹🌹
Hans keluar dari kamar dengan lesu, dia turun ke bawah dan melihat sang bunda yang sedang duduk di ruang keluarga. Hans pun menghampiri Hellena, dan langsung tiduran di pangkuan Ibunya.
"Hans, kamu kenapa nak?" tanya Hellena khawatir.
Hans bergeming, dia tak ingin menjawab apa pun. ntah mengapa perasaan nya sedari tadi tak enak dan gelisah.
"Pasti ada masalah dengan hati nih." tebak Hellena yang melihat raut wajah anak nya.
Hans masih diam tak menjawab, rasa nyaman yang diberikan sang bunda membuat nya sedikit tenang.
"Hans, kalau ada masalah cerita sama Mamih! jangan dipendem kayak gini. bikin khawatir tau!" ucap Hellena.
"Aku nggak apa-apa Mih."
"Kalau nggak kenapa-kenapa, kamu nggak mungkin kayak gini!" ucap Hellena sambil mengusap lembut kepala Hans.
"Sayang!" teriak William.
"Disini Pih!"
Hellena melambaikan tangan nya ke arah William, Hans menatap tak suka pada ayah nya. dia tahu pasti sebentar lagi dia akan di usir oleh Papih nya.
"Dasar anak nakal! bangun nggak? enak aja tiduran di paha istri Papih, ini tuh milik Papih. kalau kamu mau, mending cari istri sana!" ucap William yang langsung membangunkan Hans dari paha Hellena.
"Dasar orang tua!"
"Dasar anak nakal!"
mereka berdua sama-sama berdebat tak mau kalah, Hellena hanya menepuk jidatnya melihat tingkah anak dan ayah yang sedang bertengkar.
"Pih udah ih, malu sama umur!" ujar Hellena memperingatkan.
William cemberut, dia langsung memposisikan kepala nya untuk tiduran di paha Hellena menggantikan Hans.
"Wlek, makanya cepat nikah!" William menjulurkan lidah nya, kepada Hans.
"Aku nggak mau nikah!"
"Apa?!" ucap William dan Hellena bersamaan.
Hans hanya melirik orang tuanya sekilas, dia memutar bola matanya malas.
"Kamu kalau bercanda kira-kira dong! enak aja nggak mau nikah. Mamih tuh kepengen punya cucu dari kamu!" ucap Hellena.
"Aku nggak mau nikah, apalagi punya anak!" ujar Hans.
__ADS_1
"Tck, nanti aja kalau udah ngerasain proses pembuatan anak kamu pasti nagih Hans." ucap William dengan gamblangnya.
Hellena mencubit pinggang William dengan keras, karena kesal dengan suami nya yang tak dapat menyaring ucapan nya.
"Aduhh, sakit sayang!" William mengaduh kesakitan.
"Rasain! maka nya jaga tuh omongan."
"Ihh biarin aja, lagi juga kan si Hans udah gede. justru Papih ngebantu dia biar mau nikah!"
"Aku nggak mau nikah!" ucap Hans dengan nada yang sedikit tinggi.
Akhirnya mereka semua terdiam tak membahas masalah pernikahan. semua kalut dalam pikirannya masing-masing. Hingga mereka dikejutkan dengan suara Gibran.
**
"Oma! Opa! aku bawa Mommy." teriak Gibran yang berada di gendongan Bima.
"Gibran, jangan panggil Mommy ya. panggil kakak aja oke." ujar Airen.
Tiba-tiba tatapan Gibran berubah menjadi sendu, hampir saja anak itu ingin menangis namun untung saja Bima berhasil membujuknya.
"Mommy pasti cuma becanda, udah nggak usah sedih." bujuk Bima, sambil melirik ke arah Airen seakan memberikan kode.
Airen mengerti, akhirnya dia tak mempermasalahkan ucapan Gibran terhadap nya.
Hellena dan William berjalan lebih dulu, untuk keluar menemui Gibran dan juga Airen. William sangat penasaran dengan seseorang yang disebut Mommy oleh cucu nya itu. Sementara Hans masih asyik di ruang keluarga.
"Assalamualaikum, Om Tante. Saya Airen."
sapa Airen saat melihat kedatangan mereka berdua, tak lupa Airen mencium tangan mereka sebagai bentuk rasa hormat kepada yang lebih tua. Eza pun mengikuti apa yang Airen lakukan.
"Wa'alaikumussalam, ayo duduk dulu nak." ajak Hellena.
saat mereka hendak duduk, Hans keluar dari ruang keluarga.
"Uncle, kenalin ini Mommy aku. cantik kan?" ujar Gibran yang melihat kedatangan Hans.
Deg
'Cahya?' batin Hans.
'Tuan Hans.' batin Airen
Baik Hans dan juga Airen, mereka sama-sama terkejut tak menyangka. ada perasaan menggelenyar di hati Hans, kala Gibran memanggil Airen dengan sebutan Mommy.
"Lho itukan Om tampan!" ucap Eza yang mengenali Hans.
"Eza, kamu kenal dengan adik Om?" tanya Bima penasaran.
"Iya itukan Om yang waktu---."
Airen membekap mulut Eza, karena dia takut jika Eza menceritakan bahwa Hans pernah mengantarkan nya pulang ke rumah.
'Duh ini mah masuk kandang singa namanya! Kenapa harus nih orang sih!' batin Airen.
'Kenapa harus kak Bima lagi!' batin Hans.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.
__ADS_1