
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Hans berangsur pulih, dia tidak akan menyerah untuk menemukan Airen. Dia tetap harus menikahi Airen, bagaimana pun caranya.
"Tuan, hari ini ada jadwal untuk mengunjungi pembukaan rumah sakit yang ada di Desa kota G." ujar Roni, memberitahu tentang jadwal Hans hari ini.
"Ayo, berangkat."
Hans tak ingin membuang banyak waktunya, karena dia masih harus mencari Airen.
"Baik, Tuan."
Mereka pun bergegas untuk ke desa, Hans mengirim pesan pada sang ibu bahwa dia menuju desa karena ada pembukaan rumah sakit baru yang ada di sana.
🌹🌹
Pak Yanto dan Bu Marni tidak terima karena Bahar membatalkan pernikahannya dengan Siti. Mereka merasa marah dengan Airen, pasti semua karena kedatangannya.
Mereka berdua menghampiri Airen di toko kue Mak Suma, Marni langsung masuk begitu saja. Dia menarik Airen dengan kasar.
"Bibi, arghh lepaskan Bi. Sakit." ujar Airen yang meringis karena tangannya di tarik paksa.
"Astaga, Nenek lampir." gumam Endah.
Endah menyusul Airen yang ditarik keluar oleh Marni, di sana Marni dan Yanto marah-marah dengan keponakan nya. bahkan mereka tak segan, untuk menampar Airen.
"Dasar jal*ng, beraninya kamu datang kembali ke desa hah. Pernikahan anakku dibatalkan, itu karena mu! Dasar anak pembawa si*l." ujar Marni yang tak henti-hentinya mencengkram tangan Airen dengan kasar.
"Bu Marni, jangan kasar dengan Airen! Saya akan laporkan Ibu ke polisi." ucap Endah.
"Diam kamu!" bentak Yanto ke arah Endah.
"Ndah, aku nggak apa-apa kok. Kamu tenang aja oke." ucap Airen yang berusaha agar tetap tenang.
Plak! Plak!
Yanto menampar Airen dengan kencang, Marni tersenyum puas melihat suaminya menampar keponakan nya.
"Kamu benar-benar tak tahu diuntung! Kehadiran kamu itu memang membawa kesi*lan. Kakak saya meninggal itu gara-gara kamu. Dan sekarang ulah kamu juga, menggagalkan pernikahan anak saya." ujar Yanto.
Airen sudah tak dapat membendung air matanya, karena sang paman menyalahkan dirinya atas kematian orangtua nya.
"Cukup! Aku juga nggak mau ayah dan ibu meninggal, Paman! Asal paman tahu, bukan aku yang menyebabkan orangtua ku meninggal. Dan bukan aku yang membuat pernikahan Siti batal!" teriak Airen yang sudah tak tahan lagi.
"Kamu! Mulai berani kamu hah." teriak Marni yang tak mau kalah.
Bruk..
__ADS_1
Marni mendorong Airen dengan kasar, hingga Airen terjembap ke tanah. Airen mengaduh kesakitan, dia memegang perutnya yang tiba-tiba terasa sangat sakit.
"Airen!" teriak Endah, dia menghampiri Airen yang masih tersungkur di tanah.
Semua orang langsung mengerubungi mereka, Airen menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Dia terus merintih kesakitan.
Hans dan Roni, sudah ada di desa yang ada di Kota G. Saat mereka hendak melintas, mereka melihat segerombolan orang-orang yang tengah mengerubungi sesuatu.
"Ron! Hentikan mobil nya." ucap Hans, ntah mengapa dia penasaran dengan kejadian itu.
"Ada apa Tuan?" tanya Roni.
"Lihatlah, sepertinya ada keributan yang terjadi." ujar Hans.
Tidak biasanya Tuan Hans, akan ikut campur masalah orang lain. Biasanya dia acuh. batin Roni.
"Kita harus segera ke rumah sakit Tuan, karena pembukaan nya sebentar lagi. Dan mereka sedang menunggu anda." ucap Roni.
"Ck, aku ingin melihat itu dulu."
Hans turun dari mobilnya, perlahan tapi pasti. Langkah kaki Hans mendekat ke arah orang-orang yang tengah mengerubungi sesuatu.
"Ren, kamu baik-baik aja? Ayo kita ke rumah sakit." ajak Endah karena melihat raut wajah Airen yang sangat kesakitan.
"N--ndah, perut aku. S--sakit." ucap Airen terbata.
"Permisi!" suara bariton itu langsung membuat orang-orang minggir, Orang-orang menatap Hans dengan takjub karena ketampanan yang ia miliki. Parasnya yang seperti bule, menjadi salah satu daya tariknya.
"C--Cahya!" ucap Hans dengan panik, dia pun menghampiri Airen.
Airen tak menggubris ucapan Hans, dia benar-benar tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Karena saat ini sakit diperut nya sudah tak tertahankan.
Hans menggendong Airen ala bridal style. Endah, Marni, dan juga Yanto terperangah. Melihat laki-laki tampan di hadapan mereka yang tengah menggendong Airen.
"T--Tuan, teman saya mau dibawa kemana?" tanya Endah.
"Rumah sakit, ayo ikut lah!." ujar Hans, dengan sigap Endah pun ikut karena takut terjadi sesuatu hal dengan teman nya.
"Ron, cepat jalankan mobilnya!" ujar Hans.
Roni menatap ke arah kursi tengah, dia terkejut karena Airen tengah kesakitan dalam pelukan Hans.
"A--Airen." Roni kaget melihat Airen dipangkuan Hans.
Hans duduk di kursi tengah, bersama dengan Airen. Sedangkan Endah dia bingung sendiri duduk dimana. Namun dengan sigap, Roni menyuruh masuk Endah untuk duduk di depan. Mereka pun pergi ke rumah sakit.
Setelah kepergian mereka, Yanto dan Marni saling pandang. Mereka sama-sama kesal dengan Airen.
"Bubar!" ujar Yanto.
__ADS_1
Semua orang langsung bubar begitu saja, Marni sangat kesal karena ada pemuda tampan yang menolong Airen.
"Pak, kenapa sih ada aja orang yang membantu si Iren." ujar Marni.
"Nggak tau Bu, kita harus memberi dia pelajaran nanti. Ayo Bu, kita balik dulu. Kasian Siti menunggu kita." ajak Yanto kepada istrinya.
🌹🌹
"T--Tuan, sakit sekali." gumam Airen sambil terus memegangi perutnya.
"Ron, cepatkan laju mobilnya!" suruh Hans kepada Roni.
Hans menatap Airen dengan sedih, karena saat dirinya tak bersama dengan nya. Dia malah terluka seperti ini.
Mereka telah sampai di rumah sakit, Roni langsung buru-buru keluar, untuk memerintah kan pembukaan rumah sakit agar disegerakan.
Hans menggendong Airen masuk ke dalam rumah sakit, semua perawat dan juga beberapa dokter langsung di buat bingung.
"Hei! apa kalian semua mau ku pecat hah!" teriak Hans diambang pintu.
***
Hans menunggu dengan sabar hasil pemeriksaan Dokter yang tengah memeriksa Airen. Endah dibuat gelisah, begitu pun Roni.
Cklek..
Dokter keluar, Hans langsung menghampiri Dokter dan bertanya.
"Bagaimana Dok?" tanya Hans.
"Untung saja, kandungan Nona Airen kuat. Dia hanya mengalami guncangan mendadak, yang mengakibatkan dia syok dan perutnya menjadi nyeri. Tapi semuanya aman Tuan." ucap Dokter itu.
Apa!
Mereka bertiga dibuat terkejut, terlebih Endah.
"Dok, apa maksudnya? Teman saya tidak sedang hamil!" ucap Endah.
Saat Dokter itu ingin menjelaskan, namun Hans menyuruh nya untuk diam dan segera pergi. Hans memberikan kode kepada Roni, agar menyelesaikan masalah ini.
"Baik, Tuan." ucap Roni.
Hans langsung masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya, Airen yang sedang tertidur pulas di atas brankar.
Hans menghampiri Airen dan duduk di dekatnya, dia mengelus kepala Airen dengan sayang. Tak pernah dia pungkiri, saat ini Airen sedang hamil anaknya.
'Aku tidak tahu harus bagaimana, apakah kamu akan menerima kehadiran dia di kehidupan kita. Aku tahu, aku memang salah. Aku pun menyesal, aku berharap kamu dapat memaafkan ku, dan menerima kehadiran seorang anak yang sedang tumbuh di dalam rahim mu.' batin Hans.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.