Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 77


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Airen berjalan menyusuri taman yang dia tempati saat ini, rasanya nyaman dan bahagia berada disini. Hingga Airen melihat sosok orang yang selama ini dia rindukan sedang duduk di kursi taman.


"A--ayah, I--Ibu." panggil Airen dengan suara bergetar.


Kedua sepasang kekasih itu menoleh kebelakang, mereka tersenyum melihat putrinya yang sedang menatap mereka.


"Senja." panggil ayah dan ibunya.


Air mata Iren turun dengan derasnya, panggilan yang selama ini dia rindukan dari sosok ibu dan ayahnya. Ada rasa haru dan bahagia saat dirinya bisa bertemu dengan ayah dan ibunya.


"Ibu Ayah, aku kangen." ucap Airen, kakinya bahkan tidak dapat digerakkan saat dia hendak memeluk ayah ibunya.


Mereka berdua tersenyum, "Kami juga merindukan mu sayang, tapi belum waktunya kamu berada disini. Pulanglah, ada banyak orang yang lebih merindukan mu." ucap Ibu Airen.


"A--aku ingin disini, bersama dengan kalian. Aku kangen ayah dan ibu, izinkan aku untuk terus berada disisi ayah dan ibu." pinta Airen.


Ayah Airen tersenyum hangat, "Nak, pulanglah. Disini bukan tempat mu, belum saatnya kita berkumpul bersama. Jika kamu disini, lalu bagaimana dengan Eza adik mu, sudahkah kamu bertanggung jawab terhadap Eza seperti permintaan ayah?"


Deg


Airen tiba-tiba teringat dengan adiknya, dimana Eza? Kenapa dia hanya sendirian disini. Airen merasa aneh, dimana saat ini dia berada. Begitu nyaman dan sejuk, sampai dia melupakan orang-orang disekelilingnya.


Tiba-tiba Airen mendengar suara Hans, hanya ada suara suaminya saja. Mata Airen mengedar menatap sekeliling, bahkan ibu dan ayahnya sudah tidak ada di tempat yang tadi dia lihat.


"Cahya sayang, kapan kamu sadar? Aku sudah sangat merindukan mu." ucap Hans, yang didengar oleh Airen.


Mas Hans, kamu dimana mas. batin Airen.


Airen berlari menyusuri jalan, namun dia seperti seseorang yang tersesat dan kehilangan arah. Airen terus berlari menyusuri suara yang dia dengar, hingga suara itu menghilang.


"Airen." panggil seorang wanita dari arah belakang.


Airen menoleh menatap wanita cantik yang bahkan sepertinya sama dengan dirinya, Airen melihat kecantikan wajah wanita itu, wajah yang sangat mirip dengan Gibran.


Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Gibran, dimana aku berada saat ini? Mengapa Gibran yang manis berubah menjadi wanita muda seperti ku? batin Airen bertanya-tanya.


Wanita itu tersenyum, "Kamu Airen ya? Saya Gina. Mamanya Gibran."


Deg


Mama Gibran? Arghh Sebenarnya aku ada dimana. batin Airen.


"Airen, saya mohon sama kamu. Tolong jaga Gibran, dan saya minta satu hal sama kamu. Tolong bantu mas Bima agar dapat menikah dengan Bella." ucap Gina.


"S--siapa Bella?" tanya Airen.


"Nanti kamu tahu, saat kamu telah kembali. Pergilah, sudah saatnya kamu pergi dari sini. Karena disini bukan tempat mu." ujar Gina.


"Aku ingin disini, mengapa anda mengusirku." ketus Airen.


Gina terkekeh pelan melihat tingkah wanita yang sempat dicintai oleh suaminya, Gina bersyukur karena Hans sudah menemukan pendamping hidup seperti Airen.


"Kamu harus segera pulang, Hans sepertinya sangat membutuhkan mu. Saya tidak ingin, kamu mengalami hal yang sama dengan saya. Saya minta tolong sama kamu Ren, tolong bantu mas Bima untuk menikah dengan Bella. Bantu dia mengutarakan isi hatinya, dan saya minta kamu dapat menjaga Gibran. Terimakasih banyak, saya harus segera pamit." ucap Gina, dan langsung pergi meninggalkan Airen.


"Tunggu dul--."


Oeekkk.. oekk..


Airen mendengar suara isak tangis bayi, bahkan dia mendengar keluh kesah suaminya yang terus saja memanggil dirinya agar terbangun.


"Cahya bangunlah! Lihat anak kita menangis, kalau kamu tidak ingin bangun. Aku akan segera mencarikan ibu baru untuk mereka." ucap Hans lantang.


"Mas Hans kamu sudah gila ya, dimana kamu hah. Aku bahkan tidak dapat melihat kamu, enak saja kamu berbicara seperti itu." teriak Airen, karena hanya mendengar suara suaminya saja.


Hans menimang salah satu anaknya yang terus menangis tanpa henti, bahkan anak yang satunya lagi ikut menangis. Suster masuk ke dalam ruangan untuk membantu Hans.


"Sini Tuan, biar saya bantu. Sepertinya mereka lapar." ucap Suster itu.


"Lapar? memang makanan mereka apa? Biar aku yang membelikannya." ujar Hans


"Asi tuan, tapi karena ibunya masih koma. Mereka meminum sufor saja, karena disini tidak ada stok asi untuk bayi." ujar suster menuturkan hal itu kepada Hans.


Mata Hans menatap ke arah Airen yang masih terpejam, lalu Hans menatap ke arah anaknya yang masih menangis. Tiba-tiba ide dipikirannya muncul.


"Kamu keluarlah, aku tahu apa yang harus aku lakukan." ucap Hans dingin.

__ADS_1


Suster itu langsung keluar tanpa banyak bertanya, setelah suster itu keluar dari ruangan. Perlahan Hans mendekat ke arah istrinya, Hans meletakan anaknya disamping Airen. Laki-laki itu perlahan membuka kancing baju yang dikenakan istrinya.


Sebenarnya aku tidak rela, tapi aku tidak boleh egois. Anak-anak ku harus mendapatkan nutrisi yang baik. batin Hans.


Hans menelan salivanya kasar, saat kancing baju Airen sudah terlepas. Hans mencoba untuk menenangkan pikirannya, dia langsung menyingkap baju Airen agar terbuka lebar. Hans kemudian menggendong anaknya kembali, perlahan tapi pasti dia berusaha untuk meletakkan putrinya di dada istrinya.


Anak itu seperti mencari sesuatu yang menjadi sumber hidupnya, mulutnya bergerak ke sana kesini mendusel-dusel dada ibunya.


Ck, arghh sungguh aku tidak rela jika dia berhasil menemukan chocho chips nya. batin Hans.


Ayolah Hans, jangan egois seperti ini. dia putri mu, darah daging mu sendiri. Ayo jangan seperti Papih mu yang posesif. batin Hans bermonolog sendiri.


Hans tidak sabar karena anaknya terus mencari-cari, Hans dengan hati yang sedikit tidak rela akhirnya memilih untuk membantu putrinya menemukan hal yang dia inginkan.


Hap.


"Good girl, bagaimana apa kamu senang?" gumam Hans melihat putrinya sudah menemukan yang dia inginkan.


Tiba-tiba anaknya yang satu lagi menangis, Hans dibuat pusing oleh kedua anaknya. Hans menggendong satu anaknya yang masih di dalam keranjang bayi.


"Cup cup, jangan menangis sayang. Nanti ya gantian, biarkan kakak mu lebih dulu untuk mencobanya." ucap Hans menenangkan putrinya.


Anak itu semakin menangis kencang, Hans sudah benar-benar prustasi dengan suara gangis bayi.


"Arghhh Cahya bangunlah! Bantu aku menenangkan anak-anak kita. Apa kamu benar-benar rela jika aku mencari ibu baru untuk mereka hah!" teriak Hans menatap istrinya.


Dialam sadar Airen, lagi-lagi dia mendengar suara suaminya yang mengatakan hal itu. Airen terus berlari mencari keberadaan suaminya, hingga ada cahaya terang yang menyilaukan matanya. Airen menghampiri cahaya itu dengan langkah perlahan, dan dia masuk ke dalamnya.


Hans memilih duduk di samping brankar istrinya, tatapannya fokus kepada putri keduanya. Hans berusaha menenangkan anaknya itu agar tidak menangis, tanpa Hans sadari tangan istrinya bergerak perlahan.


Airen membuka matanya perlahan, menatap ke langit-langit rumah sakit. Dirinya bisa merasakan ada yang sedang menghisap sesuatu di dadanya, bahkan Airen mendengar suara tangis bayi dengan sangat jelas. Saat Airen hendak membuka suara, namun dia menoleh ke arah samping dengan tenang dan perlahan, dilihatnya Hans yang sedang mencoba untuk menenangkan putrinya.


Airen tersenyum senang melihat suaminya kewalahan, saat Airen merasa suaminya hendak menatap ke arahnya. Airen kembali memejamkan matanya.


"Hikss.. sayang kapan kamu bangun, aku sudah tidak tahan seperti ini." lirih Hans, laki-laki itu sudah tidak peduli dengan isak tangis anaknya. Justru Hans malah ikut menangis sambil memejamkan matanya, karena rasa pusing yang sudah tak tertahankan.


"Katanya mau cari istri baru." ucap Airen dengan suara yang sangat pelan, dan masih memejamkan mata.


Deg


"Hahaha aku sudah gila, bahkan aku bisa mendengar suara mu." Hans tertawa prustasi.


Astaga mas Hans. batin Airen.


"Apa kamu serius dengan kata-kata mu, yang ingin mencari ibu baru untuk anak-anak ku?" tanya Airen sambil membuka matanya menatap ke arah Hans.


Hans diam menatap istrinya yang sudah membuka matanya, Hans diam tidak berkutik sama sekali. Rasa haru dan tak percaya karena melihat Airen sudah sadar dari komanya.


"Mas!" ucap Airen sedikit kencang, meskipun disekitar bibir dan hidungnya masih terpasang Nasal oxsygen Cannula (masker oksigen).


"S--sayang, kamu sudah sadar?" tanya Hans.


Sejak kapan suamiku menjadi bodoh seperti ini. batin Airen.


Hans langsung memeluk istrinya, meskipun tidak dapat memeluk dengan erat dan leluasa karena ada anak-anak yang terhimpit tubuh mereka.


Cup cup cup.


Hans menciumi seluruh wajah Airen, laki-laki setengah bule itu benar-benar bahagia karena istrinya sudah sadar.


"M---mas menjauhlah, berat." lirih Airen.


"M--maaf."


Hans langsung menjauh dari tubuh Airen, Hans beranjak keluar sambil menggendong salah satu putrinya untuk memanggil dokter.


"Dok, istri saya sudah sadar. Tolong periksa keadaannya." pinta Hans.


Dokter itu mengangguk, mereka masuk ke dalam ruangan Airen. Di depan pintu Hans terkejut karena istrinya kembali memejamkan matanya.


"Sayang! Cahya bangun kenapa kamu menutup mata mu kembali hah!" teriak Hans, karena dia takut jika Airen kembali koma.


Airen membuka matanya perlahan, padahal dirinya hanya ingin memejamkan mata sebentar saja.


"Tuan sepertinya nyonya hanya beristirahat." ucap dokter itu.


Mereka berdua berjalan menuju brankar tempat Airen berada bersama dengan salah satu anaknya, Dokter itu hendak mengambil anak itu agar dapat memeriksa Airen dengan leluasa. Namun Airen mencegahnya.

__ADS_1


"Biarkan dia seperti ini." ucap Airen pelan sambil mengelus punggung anaknya.


Hans sangat bahagia bisa melihat kembali ukiran senyum di sudut bibir istrinya, selama seminggu lebih dia menantikan hal ini. Hans membiarkan dokter menjalani pemeriksaan terhadap istrinya, setelah selesai dokter itu berbincang sedikit dengan Hans dan Airen lalu pamit pergi dari sana.


"Terimakasih dok." ucap Hans.


"Sama-sama tuan, nyonya. Kalau begitu saya permisi." ujarnya.


Setelah dokter itu pergi dari ruangan, Hans segera meletakkan anaknya yang sudah tertidur ke dalam keranjang bayi, dan mengambil paksa anak satunya yang masih menempel di dada istrinya.


"Kalian berdua tidur baik-baik ya, papa ingin memberikan hukuman untuk mama kalian." ucap hans sambil meletakkan anaknya ke dalam keranjang.


Airen hanya diam, Hans menatap istrinya dengan bahagia. Hans membaringkan tubuhnya di samping Airen, dan memeluk istrinya dengan begitu erat.


"Aku kangen." ucap Hans ditelinga Airen.


"Bukankah kamu berniat mencari mama baru untuk anak-anak ku?"


"Anak-anak kita sayang." ujar Hans membenarkan.


Airen diam tidak lagi berbicara, dia hanya menatap langit-langit ditempatnya berada. Airen mencoba mengingat hal yang menimpanya.


"Mas, sudah berapa lama aku disini?" tanya Airen menatap suaminya.


"Seminggu lebih, maaf karena telat untuk datang menyelamatkan mu." lirih Hans merasa bersalah.


Airen menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum. "Kamu tidak telat, aku berterimakasih karena kamu masih sempat untuk menyelamatkan ku."


Hans semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri, Hans bersyukur karena Airen sudah sadar. Airen tiba-tiba teringat dengan adiknya. "Mas, dimana Eza?" tanyanya.


"Ada, dia sedang bersama Roni. Kemarin Eza menemani mu disini, tapi aku meminta dia untuk beristirahat di apartemen Roni saja."


Airen bernafas lega, syukurlah karena adiknya saat ini baik-baik saja. Airen terus mencoba berfikir hal apa yang terjadi padanya tempo lalu. Hingga Airen teringat bahwa ibu mertuanya menurunkan dirinya dipinggir jalan.


"Mas, apa jenis kelamin anak kita?" tanya Airen tiba-tiba, kala dia sudah mengingat hal itu.


"Menurut mu?"


"Katakan mas, aku sedang tidak ingin bermain tebakan bersama mu." ucap Airen serius.


Hans terkekeh pelan, tangannya terulur membelai rambut sang istri. Hans menatap lekat sepasang manik mata istrinya.


"Mereka perempuan, meskipun mereka kembar tapi wajahnya terlihat berbeda saat dilihat secara mendalam. Kakaknya mirip dengan wajah mu, sedangkan adiknya mirip dengan wajah ku." ujar Hans bangga.


Syukurlah ternyata mereka perempuan, dengan begini bukankah mamih Hellena akan menyayangi mereka? Anak-anak ku tidak akan kehilangan kasih sayang seorang nenek kan? batin Airen.


Hans terkejut melihat air mata yang jatuh dari sudut kelopak mata Airen, dia langsung mengusapnya dengan ibu jari.


"Kenapa menangis? Apa kamu tidak bahagia dengan kehadiran mereka?"


Airen menggeleng cepat, "A--aku menangis bahagia, karena anak-anak ku tidak akan kehilangan kasih sayang dari seorang nenek." tutur Airen.


Deg


Hans terdiam, sampai detik ini Istrinya masih memikirkan tentang keinginan ibunya. Hans semakin merasa bersalah untuk hal itu.


"Sayang, terimakasih banyak." ucap Hans tulus.


Airen tersenyum dan mengangguk, dia semakin bahagia karena saat ini keluarganya sudah lengkap dengan kehadiran buah hati mereka.


Hans menatap dalam Airen, begitu pun dengan Airen yang menatap lekat mata indah suaminya. Mereka berdua larut dalam tatapan satu sama lain, hingga pandangan Hans beralih menatap bibir ranum Airen yang masih terbungkus dalam masker oksigen. Perlahan Hans membuka masker oksigen istrinya, Airen terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Aku bahkan bisa memberikan mu oksigen tanpa alat ini."


Hans semakin mendekatkan wajahnya, mengikis jarak diantara mereka. Ntah sejak kapan bibir keduanya saling menempel, saat Hans ingin memulai aksinya namun digagalkan oleh tangis bayi.


Ck sial, mereka berdua sungguh menyebalkan sekali. Pantas saja papih selalu marah-marah saat aku ataupun kak Bima dan kak raja mengganggu waktunya saat bersama mamih. Jadi seperti ini rasanya diganggu oleh darah daging sendiri. batin Hans.


"Mas bawa mereka kesini cepat." pinta Airen.


Dengan malas Hans turun dari brankar, dan mengambil kedua anak-anaknya dari keranjang bayi.



Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.

__ADS_1


__ADS_2