Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 91


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Hari ini Bella selesai mengajar, wanita itu memilih ke taman sebentar untuk menenangkan pikirannya. Bella mendapati pesan dari ibunya di kampung, bahwa ia disuru menikah segera dengan Aryo.


Bagaimana ini? Apakah aku harus memilih mas Aryo. batin Bella.


Kebetulan Gibran, Eranson dan juga Ratu sedang bermain di luar. Mereka pun memilih untuk ke taman, Gibran melihat sosok Bella seperkian detik kemudian anak itu langsung menghampirinya.


"Tante cantik!" teriak Gibran berlari ke arah Bella.


Sontak hal itu membuat Bella tersadar dari lamunannya, Gibran langsung memeluk Bella dengan erat.


"E--ehh Gibran, kamu sama siapa?" tanya Bella sedikit gugup, Karen ia takut Gibran ke sini bersama dengan Bima.


"Sama mama Ratu, tante." Gibran menunjuk ke arah Ratu.


Bella tersenyum ke arah ratu yang semakin mendekat.


"Hai Bel, kamu kenapa di sini?" Ratu duduk di samping Bella.


"Eee mm hanya sedang melihat pemandangan bunga saja kak." jawab Ratu sedikit gugup.


"Tante cantik ayo kita ke mansion, oma selalu menanyakan tante cantik kepada Daddy." ucap Gibran antusias.


Bagaimanapun ini. batin Bella tak enak.


Ratu melihat raut wajah Bella yang kurang membaik, "Gib, kamu main dulu sama kak Eran ya. Mama mau berbicara sebentar dengan tante cantik." ucap Ratu.


Gibran pun mengangguk patuh, dia bermain bersama Eranson di taman itu.


"Ada apa Bel?" Ratu memulai pembicaraan.


Bella melirik ke arah Ratu, wanita yang selama ini menjaga nya selama di kota. Wanita yang menganggapnya adik, dan memberikan Bella kasih sayang yang besar.


Bella langsung memeluk Ratu, menumpahkan segala kesedihan yang ada. Ratu cukup terkejut, dia memilih untuk mengusap-usap punggung Bella. Setelah Bella cukup tenang, Ratu kembali bertanya.


"Ada apa hem?" tanyanya lembut.


Ratu melepaskan pelukannya, matanya menatap ke arah depan. "I--Ibu memintaku untuk menikah dengan mas Aryo." ucap Bella.


"Kamu mencintainya?" tanya Ratu.


Bella menghembuskan nafasnya perlahan, "Untuk sekarang tidak, tapi mas Aryo bilang dia mencintai ku. Ibu bilang, usia ku sudah tidak muda lagi nanti siapa yang mau sama aku. Tidak mungkin aku terus menerus melajang, lagi pula mas Aryo mencintai ku begitupun dengan anaknya, terus kata Ibu urusan rasa cinta ku bisa di pupuk nanti setelah pernikahan." ujar Bella menceritakan hal itu kepada Ratu.


"Lalu apa ada pria yang kamu cintai?"


Bella menatap ke arah Ratu, Bella tersenyum lalu menggeleng pelan. "Tidak." jawabnya.


Maaf kak, aku tidak bisa menceritakan bahwa aku masih mencintai Bima. batin Bella.


Kakak tahu kamu bohong bel, tercetak jelas di wajah mu kalau kamu mencintai seseorang. apa itu Bima? batin Ratu bertanya-tanya.


***


Hari ini Airen sudah bisa mengatur waktunya untuk suami dan anak-anaknya karena sekarang Airen dibantu dengan dua pengasuh bayi.


"Mas ini kemejanya." Airen menyerahkan kemeja berwarna coklat itu kepada suaminya.


"Terimakasih sayang." Hans mengambil kemeja itu dari tangan istrinya dan segera memakainya.


Saat ini Amira dan Amara sudah berada di tangan pengasuh mereka, jadi Airen tidak perlu khawatir untuk lebih lama menyiapkan segala keperluan suaminya.


"Sayang tolong siapkan bekalnya, tidak sempat kalau sarapan di rumah." ucap Hans.

__ADS_1


Airen mengangguk, dia bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal sarapan untuk sang suami.


"Pagi non." ucap mbok Nin.


"Pagi mbok." jawab Airen tersenyum hangat.


"Perlu bantuan Non?"


"Ngga mbok, ini cuma nyiapin bekal untuk mas Hans." ujar Airen.


Mbok Nin pun membiarkan Airen melakukannya sendiri, tidak butuh waktu lama untuk Airen menyiapkan bekal sarapan.


Hans turun, dan menghampiri istrinya yang masih di dapur. "Sayang, sudah?" tanyanya.


"Ini mas bekalnya." Airen memberikan kotak makan itu kepada suaminya.


Hans tersenyum sambil mengambil bekalnya, "Aku berangkat ya, dimana anak-anak?"


"Ada sama mbok Ti dan mbak Ica." jawab Airen.


Hans menoleh ke arah mbok Nin, "Mbok, tolong panggil mereka ya. Saya ingin menemui anak-anak lebih dulu." ucapnya meminta tolong kepada mbok Nin.


"E--ehh, biar aku saja mbok." ujar Airen.


"Ngga usah, kamu disini temani aku." Hans menahan pinggang istrinya. Airen hanya pasrah saja, mbok Nin pun memanggil mbok Ti dan juga Ica.


Mereka pun datang, dan segera menghampiri Hans dan juga Airen. "Ada apa tuan?" tanya Ica.


Hans menoleh ke arah istrinya mengisyaratkan agar Airen mengambil satu persatu anak-anaknya. karena Hans ingin mencium mereka.


Airen pun mengambil Amira lebih dulu dari mbok Ti, Hans tersenyum hangat kepada anak pertamanya itu. Hans segera mengecup pipi gembul putrinya. Airen pun mengembalikan Amira kegendongan mbok Ti, dan mengambil Amara dari gendongan Ica. Dan Hans melakukan hal yang sama kepada Amara putri bungsunya.


Cup cup


"Baik-baik di rumah ya cantiknya papa." gumam Hans.


Hans tersenyum menatap wajah istrinya. seperkian detik kemudian laki-laki itu mengecup singkat kening sang istri.


Cup


"Ehem ehem, kamu ini lho Hans ngga tau tempat. Lihat situasi dulu dong, masih ada mbok Nin, mbok Ti dan juga Ica." ujar Hellena yang baru datang, namun langsung disuguhkan oleh kemesraan anak bungsunya.


"Belajar dari Papih." jawab Hans santai.


Hellena menatap tajam kepada anaknya itu, Hans tidak mau berlama-lama lagi. dia pun pamit kepada istri dan juga ibunya.


"Hati-hati mas, jangan lupa di makan bekalnya."


"Iya sayang, I love you." ucap Hans kemudian pergi dari sana.


Hellena mengambil Amara dari gendongan Airen, "Wahh cucu Oma yang satu ini gembul bangat ya, lihat nih perutnya Endut hehe." ucap Hellena.


"Ndak endut Oma, ini seksi." Airen menyahut.


Mbok Nin dan yang lainnya pun terkekeh melihat tingkah mertua dan menantu satu ini, "Oiya kalian harus terbiasa ya jika melihat sikap laki-laki di rumah ini yang bucin akut seperti Hans tadi." ujar Hellena kepada mbok Ti, mbok Nin dan juga Ica.


"Iya Nyah, siap." jawab mereka kompak.


"Mah, mbak Ratu kemana?" tanya Airen penasaran karena tidak melihat ratu.


"Lagi keluar sama Gibran dan juga Eranson."


Airen hanya manggut-manggut saja, "Oya mbok Ti, sini biar Amira sama aku saja. Mumpung Mira dan Ara lagi digendong sama aku dan juga mamah, sebaiknya mbok Ti dan juga mbak Ica sarapan lebih dulu." ucap Airen menyarankan.

__ADS_1


"Baik non, terimakasih ya." ucap mereka.


Airen pun mengangguk, selagi mereka sarapan. Airen dan juga Hellena memilih untuk ke halaman belakang rumah.


***


siang ini Barra mengunjungi perusahaan Hans, untuk membahas masalah bisnis lebih lanjut. Selain itu ada keluh kesah yang ingin Barra ceritakan kepada Hans.


Barra masuk ke dalam ruangan Hans tanpa izin, karena memang sudah kebiasaan laki-laki satu ini. Hans yang sedang menyantap makan siang pun sedikit terkejut karena kedatangan sahabatnya yang tiba-tiba.


Hans menatap tajam ke arah Barra, namun bukan merasa bersalah. Barra justru menyantap makanan Hans.


"Barr!" ucap Hans tajam.


Uhukk.. Uhuk..


Barra mengambil air minum milik Hans, dan meneguknya hingga habis.


"Sorry bro, lagi juga ucapan Lo dingin bangat. Keselek kan gue jadinya."


Hans menghela nafasnya kasar, "Habiskan saja." ucapnya, karena sudah tidak mood untuk makan.


"Yailah barengan aja nih, berbagi itu indah." ujar Barra.


"aku tidak suka berbagi apapun kepada siapapun."


"Aku tahu, kau lebih memilih untuk melepaskannya jika hal itu sudah disentuh oleh orang lain, bagaimana jika aku menyentuh Aire--."


"Bosan hidup?" tanya Hans mengintimidasi.


Glek


Barra menelan salivanya kasar karena tatapan dan juga ucapan sahabatnya yang terbilang menyelekit.


"Aduhh hot Daddy yang satu ini cukup sensitif ya, santai bro. Just kidding hehe." ucap Barra guna mencairkan suasana.


"Langsung saja, mau apa kau kesini? Tidak mungkinkan jika bos besar menumpang makan?"


raut wajah barra tiba-tiba berubah menjadi sedih, barra mendekat ke arah Hans dan duduk di sampingnya.


"Oma minta gue segera menikah." ucap Barra sendu.


"Ya nikah." jawab Hans.


Barra membelalakan matanya, "Eh bujug dah, Lo kira nikah gampang bangat. Pengalaman Lo aja ribet, sebenarnya kalo boleh milih gue milih ngga nikah. Tapi Oma gue maksa pengen gue nikah, apa perlu gue sewa orang aja ya. Buat pernikahan kontrak gitu." ujar Barra meluapkan isi hatinya.


"Pernikahan bukan permainan, kalau emang mau nikah yaudah nikah saja. Ngga usah pake pernikahan kontrak segala."


"Masalahnya gue ngga cinta sama perempuan bro, karen--."


"Lo belok?" tanya Hans santai.


"Eh busetdah, kagak gitu konsepnya bang. M--maksud gue itu, gue lagi ngga jatuh cinta sama perempuan. ngga ada wanita yang lagi gue cintai gitu, enak aja player wanita dibilang belok." protes barra tidak terima.


"Bisa ajakan Lo bosen sama perempuan karena keseringan nganu, terus pengen nyoba hal baru."


Virus kak Raja lagi bereaksi terhadap tubuh si Hans, sumpah ya keturunan om Willi bener-bener aneh. Meskipun nih anak dibilang dingin, kalo udah keluar sifat kak Raja udah ngga ketolong. batin Barra.


"Catet! gue udah lama ngga nganu, pokoknya Lo harus bantuin gue cari istri. Biar Oma ngga nanya melulu, pokoknya kali ini Lo harus bantuin gue titik." ujar Barra.


"Oke." jawab Hans setuju.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita KISAH TUAN HANS.


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


__ADS_2