Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 26


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Airen tak percaya, jika saat ini dirinya telah menjadi seorang istri dari laki-laki yang dia benci. Airen terus menangis sendu, dia masih belum menerima hal ini.


Ayah, Ibu. Aku harus bagaimana? batin Airen.


Hans melihat wanita yang baru saja menjadi istrinya itu, masih menangis sendu. Hans meraih tangan Airen, namun ditepis oleh Airen.


Sabar Hans, dia pasti akan memaafkan mu kelak. batin Hans.


"Endah, dimana Eza?" tanya Airen.


"Ayo kita pulang, dia ada di rumah." jawab Hans.


"Tuan, ke kontrakan Airen sebentar. Tadi saya belum sempat mengemasi barang-barang nya." ujar Endah, karena tadi Hans meminta tolong kepada Endah agar mengemas barang-barang Airen.


"Aku tidak ingin ke kota." ujar Airen sambil mengusap air matanya.


Hans tersenyum, "Tidak apa, kita tetap tinggal disini untuk sementara waktu. Aku tidak akan memaksa mu." ucap Hans.


"Ayo, Tuan." ajak Roni.


Mereka pun pergi menuju ke kontrakan Airen, namun di depan kontrakan sudah ada beberapa warga yang menunggu kedatangan mereka. Termasuk Ceu Edoh.


"Kamu tunggu disini saja, biar aku yang mengambil barang-barang mu." ucap Hans, dia pun turun sendirian.


Semua orang nampak riuh, ada yang bersorak tak suka kepada Hans. Mereka meneriaki pasangan mesum.


Ingin ku robek mulut-mulut sampah kalian! batin Hans.


"Airen nya mana? pasti dia malu ya." ucap salah satu orang yang mengontrak.


"Iya huuu, pembawa si*l, bisa-bisanya berbuat mesum di dalam kontrakan."


Hans berusaha menahan emosinya, dia tak ingin berbuat kasar karena mengingat jika Airen tengah hamil.


Hans langsung masuk ke dalam kontrakan begitu saja, dia mengambil barang-barang Airen memasukkan nya ke dalam tas. Dan keluar begitu saja.


"Huuuu, woooo." nampak riuh orang yang menyuraki Hans.


Ceu Edoh hanya diam, dia bahkan tak berani untuk berbicara apa-apa. Karena Ceu Edoh masih menghargai kebaikan-kebaikan Airen yang selalu membantunya.


🌹


Kini Hans dan Airen telah sampai di rumah yang baru saja Hans beli beberapa hari yang lalu. Airen terkejut dibuatnya, dia menatap rumah yang teramat dia rindukan.


Buliran airmata Iren membasahi kembali pipinya, dia menatap dengan lekat sambil mengenang kisahnya di rumah ini bersama orangtuanya.


Hans menggenggam tangan Iren, tidak ada penolakan darinya. Hans menghapus airmata yang berjatuh di pipi Iren.


Airen mendongakkan wajahnya, menatap lekat laki-laki bule yang baru saja menjadi suaminya. Ntah harus apa dan bagaimana, perasaan Airen sangat berkecamuk.


"Ayo, masuk. ini rumah kita sekarang." ucap Hans dengan lembut.


Airen hanya mengangguk pasrah, dia meneliti rumah yang selama hidupnya menjadi saksi suka dukanya bersama keluarganya, Airen benar-benar tak menyangka bisa kembali ke rumah ini.

__ADS_1


Ayah Ibu, aku kembali ke rumah kita. batin Iren.


Cklek..


Hans membuka perlahan hendel pintunya.


"Kakak!" ujar Eza langsung menghambur ke dalam pelukan Airen.


"Kakak, aku seneng bangat. Akhirnya kita kembali ke rumah ini, terimakasih Kak Hans." ucap Eza yang juga memeluk Hans.


Hans dan Airen tersenyum melihat Eza yang tersenyum senang.


Roni masih di luar halaman rumah, bersama dengan Endah. Mereka tak ingin mengganggu momen pengantin baru itu.


Syukurlah Tuan, setidaknya anda telah menikah dengan Nyonya Airen. Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah, meskipun awalnya saya pernah menyukai Nyonya Iren, namun dengan lapang dada saya mengikhlaskan nya. Batin Roni.


Syukurlah, akhirnya Airen menemukan pangeran berkuda putih. Semoga kamu memaafkan kesalahan dia Ren, semoga hidup kalian dipenuhi dengan suka cita. batin Endah.


Apa yang harus aku katakan kepada Tuan Besar? Bahkan Tuan Hans tak menyuruh ku untuk memberitahu mereka. Batin Roni.


Mereka berdua sama-sama kalut dalam pikirannya masing-masing, hingga mereka tersadar oleh kehadiran Siti.


"Oh Ya ampun, ternyata sahabatnya gak beda jauh. Malah berdua-duaan disini." celetuk Siti.


"Jaga omongan kamu Siti!" ucap Endah dengan suara tinggi.


Astaga, gadis di desa jauh lebih bar-bar. batin Roni.


"Terserah, mana pasangan mesum itu? Kok malah tinggal di rumah Pak Udin sih." ujar Siti yang menanyakan keberadaan Airen.


"Ini rumah Nyonya Airen." jawab Roni cepat.


"Heh Siti Durjana, Lo tadi budek hah? Mahar Airen tuh ratusan juta, tentu suaminya sangat kaya raya. Bisa membeli rumah ini untuk Airen sesuka hatinya. Bahkan dia bisa beli rumah Lo." ujar Endah.


"Eh diem Lo Endah! Kasihan bangat yang ditinggal nikah." sindir Siti kepada Endah.


"Lebih kasihan yang gagal nikah." celetuk Endah.


Siti benar-benar geram dengan Endah, saat dia hendak memukul Endah namun tangannya ditepis oleh Roni.


"Jangan kasar dengannya!" ucap Roni dengan datar.


Siti mendengus kesal, lalu pergi dari sana dengan perasaan marah. Sedangkan Endah berdecak sebal melihat tingkah Siti yang sangat menyebalkan itu.


"Dasar sepupu laknat!" gumam Endah.


"Apa dia sepupu mu?" tanah Roni.


"Bukan, tapi sepupu Airen." jawab Endah.


Roni hanya ber-oh saja, Endah hendak pulang ke rumahnya namun tangannya di tahan oleh Roni.


"Mau kemana?"


"Pulanglah, ngapain di depan rumah orang."


"Saya, antar."

__ADS_1


Duh, kalau Ibu sampe tahu aku dianterin pulang sama cowok modelan kayak gini. Bisa-bisa langsung dinikahin di tempat. batin Endah.


"Nggak usah, saya balik sendiri aja."


Roni tak menghiraukan penolakan Endah, dia langsung menarik paksa Endah untuk masuk ke dalam mobil.


Bruk.


"Tuan, apa-apaan sih. Nanti kalau Tuan mengantarkan saya pulang, yang ada kita dinikahin." ucap Endah.


Roni sedikit terkejut, namun wajahnya kembali normal.


"Tidak apa, saya sudah siap jika memang harus menikah dengan mu." ucap Roni santai.


"H--Hah?" Endah tercekat mendengar ucapan Roni.


🌹🌹


Di sisi lain keluarga Mikhailov tengah berkumpul, Mamih Hellena sangat mengkhawatirkan kondisi Hans yang tak kunjung pulang. Padahal acara pembukaan rumah sakit sudah lama berlalu.


"Pih, ayo kita ke desa menyusul Hans, Mamih takut terjadi sesuatu dengannya." ucap Hellena kepada suaminya.


Memang sudah terjadi sesuatu, bahkan kita tidak dianggap ada oleh Hans. Anak nakal itu benar-benar telah menikah tanpa berkata apapun dengan kita. Awas saja jika dia kembali pulang! Akan ku pukul pantatnya, karena membuat istriku khawatir. batin William.


"Pih, kok diem aja sih."


"Sudahlah Mih, Hans sudah besar. Nanti juga dia pulang."


Tck.


Hellena berdecak sebal, suaminya selalu cuek terhadap Hans. Tanpa Hellena sadari, padahal Papih William lebih mengawasi gerak gerik Hans semenjak kejadian Hans dengan Airen.


"Opa, Oma. Uncle Hans ndak pulang-pulang kok." ujar Gibran.


"Nanti juga Uncle pulang, kamu bawel." celetuk Eranson.


Ratu menjewer telinga putranya yang asal bicara, gen ayahnya yang asal celetuk memang benar-benar menurun kepada putra semata wayangnya itu.


"Mas, anak kamu tuh." ujar Ratu kepada Raja.


"Anak kita sayang, kan buatnya sama-sama."


Pletak.


"Aduhh, Mih kenapa sih aku ditabok terus." protes Raja.


"Jaga omongan kamu, kalau depan anak-anak!"


Raja hanya mengangguk iya, sedangkan Ratu tertawa puas melihat suaminya yang masih sering dijewer.


Bagaimana dengan kondisi Airen sekarang ya? tanya Bima dalam hati.


"Kamu kenapa Bim? Dari tadi diam saja." tanya Raja, sambil mengambil buah di atas meja.


Bima hanya menggelengkan kepalanya perlahan, dia enggan untuk menjawab pertanyaan sang kakak. Karena Bima tahu, Raja pasti akan lebih meledeknya.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


__ADS_2