
Minal Aidin wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin🙏. Teruntuk para pembaca, Kisah Tuan Hans. Maafin author ya kalau ada kesalahan kata atau sikap author kepada kalian.
Selamat membaca ☺️
Airen dan Hans pulang ke apartemen bersama dengan putri pertamanya yang bernama Amira, karena dokter sudah memperbolehkan Amira pulang.
"Mas, Ara sama siapa?" tanya Airen mengkhawatirkan anak keduanya.
Hans tersenyum, "Jadi panggilannya Ara ya? kalau anak kita yang ini apa perlu kita panggil Ira?"
"Itu sih terserah kamu mas, aku mau manggil Amira dengan sebutan kakak saja. Kak Mira."
"Kamu tidak usah khawatir soal Amara, waktu pertama kita di rumah sakit. Amara tidur bersama dengan Kak Bima dan Bella, dihari kedua aku menyuruh Roni untuk menemaninya, lagi pula kan aku sempat balik untuk menemuinya." ujar Hans.
Airen mengangguk, syukurlah jika anak keduanya ada yang menemani.
***
Setelah sampai di apartemen, Airen dan Hans segera masuk menuju kamar mereka. Terlebih dengan Airen yang sangat mengkhawatirkan anak keduanya itu.
Krek
Airen masuk dengan perlahan, ternyata disana ada Roni dan Eza yang tengah menemani anaknya. Airen menghampiri mereka, Roni segera beranjak dari duduknya.
"Selamat datang tuan, nyonya." sapa Roni.
"Ron terimakasih banyak ya, karena sudah menjaga Amara." ujar Airen.
Roni tersenyum dan mengangguk, "Oh jadi nama nona muda Amara ya." gumam Roni.
Hans menepuk bahu asisten pribadinya, "Iya nama anak kedua ku Amara, dan anak pertama ku Amira. Tolong bantu Amira untuk kedepannya, karena dia yang akan menjadi pewaris perusahaan LovMart."
Pletak
"Mas apaan sih, anak-anak usianya baru juga sebulan sudah diberi tanggungjawab seperti itu. Pokoknya aku mau mereka yang menentukan sendiri apa keinginan."
"Tidak sayang, pokoknya Amira harus menjadi penerus ku. Kecuali Amara, dia bebas menentukan ingin menjadi apapun."
"Kenapa? Karena Amira anak pertama?" tanya Airen tak suka.
Hans mengangguk.
"Kamu bukan anak pertama mas, meskipun kak Raja anak pertama dia bahkan bebas menentukan pilihan hidupnya." ujar Airen kesal.
Hans tidak ingin terlihat diomeli oleh Airen di depan Roni, dia akhirnya menyuruh Roni untuk keluar.
"Ron keluar lah, sana pergi ke kantor." usir Hans kepada asistennya.
Roni pun mengetahui situasi ini, dia lantas berpamitan untuk pergi. Begitupun dengan Eza, dia pamit undur diri ke kamarnya.
"Sini sayang duduk dulu, nanti aku jelaskan kenapa aku ingin Amira yang menjadi penerus ku." ucap Hans lembut.
"Tidak perlu dibahas sekarang, aku lelah mau istirahat. Kamu jaga anak-anak kita." Airen menyerahkan Amira yang ada digendongan nya kepada Hans.
Airen sengaja ingin memberikan hukuman untuk suaminya itu, dia memilih untuk berpura-pura tidur meskipun sebenarnya dia masih ingin bercengkrama dengan kedua anaknya.
"S--sayang." lirih Hans.
Hans akhirnya pasrah, hari ini dia akan menjaga dua anaknya sekaligus. Hans membiarkan Airen beristirahat meskipun rasanya berat sekali.
Hans menggendong kedua putrinya yang baru satu bulan itu menuju ruang tengah, Hans menimang keduanya. Yang satu disisi kanan dan yang satu disisi kiri.
__ADS_1
Hans mengamati kedua wajah anak-anaknya, menarik sekali meskipun mereka kembar namun wajahnya sedikit terlihat berbeda apabila diamati dengan intens.
"Amira Amara kalian harus akur ya, jangan buat papa dan bunda susah." ucap Hans kepada dua putrinya.
Amara nampak tersenyum ke arah papa nya, sedangkan Amira hanya diam bahkan senyum pun tidak.
***
Kondisi Hellena sudah membaik, kini dia dapat berpergian ke butiknya. Hellena sudah memutuskan untuk menerima cucu-cucunya, bahkan dia juga memutuskan untuk menghilangkan ego nya.
"Bim, dua hari yang lalu kamu kemana? kok tidak pulang." tanya Hellena saat melihat Bima tengah asyik sarapan.
"Jagain salah satu anaknya Hans Mih." jawab Bima jujur.
"Lho memangnya Airen dan Hans kemana?" tanya Hellena khawatir.
"Anak yang satunya sakit, Hans menemani Airen di rumah sakit. Dia meminta ku untuk menjaga salah satu anaknya."
Pletak
"Kalau ngomong yang bener atuh Bim, memangnya cucu mamih tidak punya nama? kamu hanya menyebutnya yang satunya lah, salah satunya lah."
"Salahin aja papa nya, bodoh bangat emang tuh si Hans. Anaknya sakit juga dia enggak tahu." celetuk Bima.
Hellena duduk, dia ingin sekali melihat cucu-cucunya bagaimana rupanya? Apakah ada yang mirip dengannya?
"Sudah mih jangan terlalu dipikirkan, nanti darah mamih naik lagi." ucap Bima.
"Iya-iya, yasudah kamu berangkat gih. Oiya kenapa Bella belum diajak kesini?" tanya Hellena.
Deg
Mampus mamih inget lagi. batin Bima.
"Bim tunggu, mamih tidak mau tahu. pokoknya kamu segera ajak Bella ke mansion." teriak Hellena, karena Bima berlari keluar.
Dasar anak itu. batin Hellena.
***
Hingga sore hari Hans masih setia mengurus kedua buah hatinya, meskipun sedikit kesusahan namun dia masih bisa melakukannya.
Indra penciuman Hans mulai terganggu, saat hidungnya mendengus sesuatu hal yang bau. Hans mulai terganggu dengan bau seperti ini, terlebih Amira terus saja menangis semakin membuat Hans tidak tahan.
"Amira cup cup diam sayang, kamu kenapa sih dari tadi tidak ada tawanya. tiba-tiba langsung nangis gini." gumam Hans.
Hans meletakkan kedua putrinya disofa, kemudian laki-laki setengah bule itu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya.
Aku harus search google. batin Hans.
"Penyebab bayi menangis?" gumam Hans sambil mengetik hal itu di halaman google.
"Wah ternyata banyak juga penyebabnya, mari kita lihat lebih lanjut. (1. kemungkinan bayi lapar), tidak mungkin perasaan Amira baru saja menyusu. (2. Popok bayi penuh)"
Hans langsung melirik putrinya saat dia membaca poin kedua, Hans meletakan ponsel miliknya. Laki-laki itu segera mengecek popok anaknya, saat Hans hendak membukanya bau yang tadi tercium olehnya kini kembali tercium lebih jelas.
Hoekkk..
Hans menutup hidungnya, Ck sial, apakah dia pup? batin Hans.
dan benar saja, anak pertamanya itu menangis karena mungkin tidak betah popoknya penuh dengan pupnya.
__ADS_1
Cahya. lirih Hans memanggil nama istrinya.
Dengan sabar dan sedikit kesusahan, Hans mencoba untuk membuka popok Amira. Namun hasilnya dia sama sekali tidak bisa, karena terganggu dengan baunya.
Airen keluar dari kamar, dia langsung menghampiri anak-anaknya yang sedang bersama dengan Hans. Airen melirik ke arah suaminya yang sedang menutup hidungnya.
"S--sayang, Amira pup." adu Hans kepada Airen.
Tanpa memperdulikan ucapan Hans, Airen segera menggendong kedua putrinya lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Airen meletakan Amara di keranjang bayi, dan dia membawa Amira masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan Amira dari pupnya.
Hans masuk ke dalam kamarnya untuk menyusul anak dan istrinya, Hans memilih untuk menjaga Amara yang sedang berada dikeranjang bayi daripada harus melihat Airen yang tengah membersihkan pupnya Amira.
Kenapa tiba-tiba aku agak menyesal untuk memiliki anak. Jika saja waktu itu aku bisa menikahi Airen dengan cara yang benar dan semestinya, aku akan meminta dia untuk menunda agar tidak memiliki anak lebih dulu. batin Hans.
Cklek
Airen keluar dari kamar mandi, dia meletakkan Amira dikasur lalu mengambil baju dan perlengkapan lainnya seperti popok dan bedak bayi. Airen mulai memakaikan minyak telon dan juga bedak disekujur tubuh putrinya, lalu memakaikan nya popok setelah itu bajunya.
"Wah anak bunda sudah cantik, sudah wangii." ujar Airen menciumi pipi anaknya.
"Ututu kamu ketawa, manis bangat sih anaknya bunda." ucap Airen saat melihat Amira tertawa.
Hans menghampiri istrinya, mendaratkan kepalanya di bahu sang istri. Hans merengkuh pinggang Airen dengan erat.
"Giliran sama kamu dia ketawa, tadi waktu sama aku dia diam saja. Sekalipun buka mulut hanya menangis dan itu pun karena dia pup." adu Hans kepada istrinya.
"Cape kan mas? ngurus dua anak sekaligus, makanya kita tinggal sama Mamih dan mbak Ratu lagi ya. Kan kalau di sana aku enak mas ada yang bantuin, ada mbok Nin juga." pinta Airen kepada suaminya.
Hans nampak berpikir, yang dikatakan Airen benar. mereka berdua baru saja menjadi orangtua, namun tidak ada bimbingan dari orang yang lebih berpengalaman. Mungkin memang sebaiknya Hans membawa Airen kembali ke mansion, karena Mamih Hellena juga sudah mengatakan bahwa dia akan berubah.
"Iya sayang, besok kita kembali ke mansion." ucap Hans pasrah.
"Terimakasih ya mas." Airen berbalik memeluk erat suaminya.
Hans membalas pelukan istrinya, dan menciumi pucuk kepala Airen. "Maaf ya sudah membuat mu susah karena kedua anak kita, nanti setelah di mansion aku juga akan mencari baby sister untuk Amira dan Amara."
"Sttss, ngga susah mas. Hanya saja aku belum terbiasa untuk mengurus mereka berdua, terlebih kamu juga suka ngambek kalau perhatian aku hanya untuk Amira dan Amara." ucap Airen.
"Iya makanya aku mau mencari pengurus untuk Amira dan Amara, kalau nanti aku menginginkan mu, kamu siap kapan saja." ujar Hans tersenyum.
Airen hanya menghela nafas lalu tersenyum paksa, "Iya mas, yasudah sekarang kamu mandi. Bau tau."
"Ihhh wangi gini lho sayang, mana ada aku bau badan." ujar Hans percaya diri.
"Iya tapi harus tetap mandi, sudah gih sana mandi."
"Mau bareng?" goda Hans sambil mengedipkan matanya.
"Ihhh dasar tidak tahu malu, ada anak-anak juga."
"Lho memangnya kenapa? mereka pasti senang, kalau kita buatkan adik."
Airen melempar bantal ke arah muka suaminya, "Ngawur kamu, belum bisa mengganti popok anak sudah sok-sok an mau punya anak lagi." celetuk Airen.
"Yakin nggamau? Biasanya juga kamu minta nambah." ucap Hans dengan percaya diri.
Airen menatap suaminya tajam, Hans benar-benar mencari gendrang pertengkaran dengannya. "Mas Hans? mandi atau--."
"I--iya sayang aku mandi, dahh mmuach." Hans mengecup singkat bibir Airen lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi setelah melihat tatapan tajam dari istrinya.
Bersambung...
__ADS_1
Maaf author baru sempet updet🙏