
(BERINTERAKSI)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Sudah beberapa hari belakangan ini Airen merasa hampa dan resah sendiri, bukannya dia merasa bahagia karena Hans tidak lagi menampakkan dirinya, namun seakan ada kekosongan di hatinya.
Endah yang menemani Airen cukup lama, dia melihat sahabatnya yang nampak merasa sepi. Setiap hari, Endah selalu menemani Airen sesuai dengan permintaan Hans. Dan beberapa hari belakangan ini, Airen bahkan terus mual-mual.
"Ren, mual-mual kamu parah bangat. Apa sebaiknya kita pergi ke Dokter?" tanya Endah yang sudah merasa khawatir dengan Airen.
Airen menggelengkan kepalanya lemah, dia berusaha tersenyum kepada Endah agar tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Kamu nggak ada, ngidam apa gitu?" tanya Endah.
"Hufhh, nggak Ndah. kadang aku cuma merasa ingin melihat wajah laki-laki itu." ucap Airen yang tak ingin menyebutkan nama Hans.
"H--Hah, laki-laki mana Ren?" tanya Endah yang sedikit penasaran.
"Tck, nggak usah dibahas." ujar Airen yang sedikit kesal.
Hadeuh, dasar bumil. Mood nya gitu amat. batin Endah.
🌹
Hans menarik nafasnya dalam-dalam, menghembuskan nya dengan kasar. Dia menatap berkas-berkas di meja kerjanya yang sangat berserakan.
Selama di kota, Hans belum balik ke mansionnya. Dia tinggal di apartemen Roni, tapi Hans tetap mengabari ibunya karena tak ingin membuat Hellena khawatir.
Roni masuk ke dalam ruang kerja Hans, dengan membawa sejumlah dokumen dan juga berkas-berkas yang masih harus dicek dan ditandatangani oleh Hans.
"Tuan, ini semua pekerjaan yang harus anda selesaikan." ucap Roni memberitahu.
"Hn, kenapa sebanyak ini?"
"Karena cukup lama kita di desa, dan Tuan sama sekali tidak menghiraukan tentang pekerjaan."
"Hufhh, apa agenda hari ini?" tanya Hans menatap Roni.
"Tidak ada, saya mengambil jadwal hari ini agar Tuan hanya mengerjakan ini sampai selesai. Dan besok, baru ada beberapa meeting dengan client." ujar Roni.
Arghh. Ini sangat mempusingkan. batin Hans dengan raut wajah yang nampak pucat.
Tidak biasanya Tuan Hans seperti ini, padahal dia sangat tergila-gila dengan pekerjaannya. Airen benar-benar telah merubahnya. batin Roni.
"Kalau begitu, saya permisi Tuan." ucap Roni undur diri dan pergi dari ruangan.
Hans berdiri dan menatap ke arah luar jendela, dilihatnya pemandangan Kota yang sangat padat dan ramai. Hans memikirkan Airen, apakah dia dan calon anak mereka baik-baik saja?.
🌹
Sedangkan di rumah sakit, Bima juga nampak lesu. Karena saat di rumah Gibran selalu bertanya-tanya tentang keberadaan Airen dan juga Hans. Sungguh ribet memiliki anak yang super aktif.
"Woi! Kenapa sih bro, muka gitu amat." ujar Rio, sahabat sekaligus rekan kerjanya.
__ADS_1
"Bisa diem gak? Pusing kepala Gue." Bima memijat pelipisnya.
"Sini Gue obatin, gratis 100% tanpa asuransi apapun." ujar Rio.
"Sebaiknya Lo temui Dokter Frans! Lo harus berobat padanya." ujar Bima dengan nada yang sedikit meninggi.
"Jir, Lo kira ada masalah sama telinga Gue gitu?" protes Rio tak terima.
"Iya emang! Gue suruh Lo diem, tapi buktinya Lo gak dengar."
"Nggak asik bangat Lo Bim, dasar duda sensian." celetuk Rio.
Bima melotot tajam ke arah Rio, seketika bulu kuduk Rio merinding melihat tatapan tajam dari sahabatnya.
Gil@, keturunan Mikhailov kenapa semuanyaa seperti ini ya. Kak Raja juga biar dia orang yang humoris, kalau udah melotot udah kayak mau nerkam orang. Apalagi si Hans, dih amit-amit dah dia mah. batin Rio.
"Pergi dari ruangan ku! atau pergi dari rumah sakit ini!" ucap Bima dengan nada yang sedikit mengintimidasi.
Glek
Rio menelan salivanya kasar, kalau sudah diancam seperti ini lebih baik pergi saja. Rio tak ingin mengambil resiko dengan mengganggu Bima.
Brakk
Rio menutup pintu ruangan Bima dengan sangat kencang, dia langsung pergi dari sana dengan perasaan kesalnya.
Dikoridor rumah sakit, Rio bertemu dengan dokter Novi spesialis kulit yang tengah berbincang dengan salah satu pasien.
Rio mengukir senyumannya, melihat Dokter Novi yang menggunakan jilbab begitu cantik. Rio mengingat ucapan Bima yang berkata bahwa dirinya cocok dengan Dokter Novi.
"Ada apa, Dok?" tanya pasien wanita itu menatap heran kepada Dokter Novi.
"Tidak apa-apa, oiya yasudah kalau masih belum ada perubahan. minggu depan Mbak periksa ke sini lagi." ujar Novi sambil tersenyum.
"Baik Dok, kalau begitu saya permisi." ujarnya.
Novi hanya mengangguk dan tersenyum, pasien wanita itu membalikkan badannya untuk pergi dari sana. Pandangannya bertemu dengan Rio.
Deg
Lho, itukan Tuan Rio? Apa dia seorang Dokter? Arghhh seharusnya sewaktu aku menghangatkan ranjangnya, aku tidak memakai pil kontrasepsi. batin Wanita itu.
Astaga, kenapa pasien Novi adalah wanita yang pernah menghangatkan ranjangku. Tck, Si@l. batin Rio, dia buru-buru untuk pergi dari sana.
Dokter Rio kenapa seperti seseorang yang tengah ketakutan? batin Novi.
"Tck, awas saja. aku akan meminta pertanggung jawaban darimu." gumam wanita itu.
"Pertanggung jawaban, apa Mbak?" tanya Novi kepada pasiennya.
"A--anoo, bukan apa-apa. Kalau begitu saya permisi Dok." dengan cepat wanita itu melangkah kakinya pergi dari hadapan Novi.
🌹🌹
Sore ini, Endah mengajak Airen untuk berkeliling melihat desa, agar pikiran Airen sedikit lebih fresh. Mereka berjalan dengan santai sambil berbincang-bincang.
__ADS_1
"Kasihan bangat sih, pengantin anyar ditinggal pergi sama suaminya." celetuk Siti.
"Hahaha, kasihan bangat sih yang gagal nikah." ucap Airen yang sudah geram dengan Siti.
H--Hah?
Siti dan Endah sama-sama terkejut dengan pernyataan Airen, mereka sama sekali tidak menyangka jika Airen bisa membalas hal seperti ini.
"Awas Lo, Ren! Gue benci sama Lo, Nggak akan Gue biarin Lo bahagia." ujar Siti yang sudah kesal dengan Airen, dia pun langsung pergi begitu saja.
Airen dan Endah menatap kepergian Siti, Airen sedikit lega karena satu pengganggunya telah pergi.
"Ren, gokil. Lo keren deh, bisa ngebales ucapan si Durjana." ujar Endah sambil mengacungkan jempolnya.
"Aku juga nggak tau Ndah, mungkin bawaan anakku." ucap Airen santai.
"Wihh, romannya udah ngakuin nih." Endah menggoda Airen.
"Ihhh Apaansih. Kalau membunuh tidak berdosa, sudah ku gugurkan anak ini." ucap Airen.
"Astaghfirullah. Istigfar Ren." ujar Endah.
Hoekk.. Hoekk..
Airen langsung mual-mual setelah habis berbicara seperti itu, dia mencari rumput untuk memuntahkan isi perutnya.
"Ren, kamu gak apa-apa?" tanya Endah sambil memijat tengkuk leher Airen.
"Nggak apa-apa, Ndah. Mmm Ndah, tolong belikan aku air putih ya, aku tunggu disini." ujar Airen meminta tolong.
"Oke deh, kamu tunggu disini sebentar. Aku pergi ke warung itu dulu."
Endah langsung bergegeas cepat menuju warung, sedangkan Airen tersenyum senang karena Endah sudah menjauh.
Kira-kira cara ini masih ampuh tidak ya? batin Airen.
Airen mencoba untuk mengelus perutnya yang masih rata, dia mencoba untuk berinteraksi dengan anaknya yang masih didalam kandungan. Karena Airen pernah mencoba hal ini, dan nyatanya berhasil. Karena setelah melakukan ini, dia pasti tidak mual-mual lagi.
"Anak Bunda, Ibu, Mamah, atau Mommy. Tapi terserah kamu nanti, mau panggil aku apa. Mm maafkan aku ya, jangan marah seperti ini. Jangan membuatku mual-mual oke, aku dan Tuan H--Hans sangat menyayangi mu." ucap Airen sambil mengelus-elus perutnya, Airen masih canggung dan kaku bagaimana cara berinteraksi dengan anaknya yang masih didalam perut.
Dan benar saja, cara itu masih ampuh. Rasa mual Airen sedikit mereda, Airen tersenyum senang. Endah berlari menghampiri Airen, dan menyerahkan satu botol air mineral.
"Nih Ren, cepat minum." ujar Endah dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Makasih Bestiii." Airen mengambil air mineral yang sudah dibelikan oleh Endah, dia pun meminumnya dengan beberapa tegukan.
Apa anak ini ikut minum ya? Sebaiknya aku minum lebih banyak, mungkin dia juga haus. Hehe. batin Airen.
Kalau hamil gitu kali ya, minum banyak makan banyak. Mood gampang berubah, ternyata serumit ini. batin Endah yang melihat Airen terus meneguk minumannya.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.
__ADS_1