Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 120


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Ada banyak hal yang terjadi dalam dua bulan belakangan ini, mulai dari kabar kehamilan Ica. pernikahan Roni dan Endah yang sudah memasuki usia satu bulan, hubungan Gibran dan kakeknya yang perlahan membaik.


Saat ini mereka semua menghabiskan waktu bersama, berkumpul di mansion Mikhailov. Mansion ini sangat ramai, bahkan mereka juga tidak sabar menunggu kelahiran anaknya Bima dan Bella yang katanya satu Minggu lagi akan lahir.


"Selamat ya Ca atas kehamilannya." tutur Airen memberikan ucapan selamat kepada Ica yang dulunya adalah baby sister anaknya.


Meskipun Ica lebih tua dari Airen, namun dia ingin dipanggil nama saja oleh Airen. Begitupun Airen yang enggan dipanggil nyonya, karena sekarang Ica bukanlah baby sister anaknya.


"Makasih ya Ren, kamu juga ngisi lagi dong. Biar barengan sama aku."


"Ngga dulu deh, anak-anak sedang aktifnya. Nanti saja kalau sudah empat atau lima tahunan."


Dua wanita itu asyik berbincang seputar kehamilan, sedangkan Bella yang ingin bergabung justru malah di tahan oleh Bima. Akhir-akhir ini Bima menjadi suami yang super posesif, karena takut sesuatu terjadi kepada istrinya.


Endah dan Ratu asyik menggendong kedua anak Airen, sambil bercanda dengan Eza Gibran dan Eranson. Begitupun dengan para laki-laki yang asyik berbincang seputar bisnis, hanya Bima dan Bella yang asyik berduaan.


Papi Willi, mami Hellena dan Kakek Jo hanya mengamati interaksi anak-anaknya. Sekarang Kakek Jo sering mengajak Gibran keluar hanya sekedar untuk bermain, dia sudah mulai mengikhlaskan kepergian Gina dan tak lagi menyalahkan Gibran.


"Bim, kamu jadi suami jangan posesif bangat. Bella juga pasti mau berbincang dengan Airen dan yang lainnya." mami Hellena menasehati anaknya dengan lembut.


Semua mata langsung tertuju kepada Bima yang memang sedang melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Aku cuma takut mih, kan seminggu lagi Bella mau lahiran." ucap Bima.


Mamih Hellena tahu, Bima mungkin masih trauma dengan kejadian yang menimpa Gina saat hendak melahirkan Gibran. Makanya Bima berusaha agar istrinya aman, jauh dilubuk hati terdalamnya dia takut kehilangan Bella. Dia takut kejadian dulu terulang kembali.


"Mas, aku ngga kemana-mana. Cuma duduk di kursi itu, ngobrol bareng sama Airen dan yang lainnya. Ya sayang yaa, kali ini aja. Aku janji, kalau mau ke dapur bilang sama kamu." Bella tahu kekhawatiran suaminya itu.


"Kamu mah khawatirnya berlebihan Bim, padahal ini masih di ruangan yang sama. Ngga mungkin si Bella kenapa-kenapa kalau cuma duduk doang." ujar Raja.


Mendengar kakaknya berbicara seperti itu, dia pun mencoba untuk tenang. Benar apa yang dikatakan Raja, toh kan mereka masih satu ruangan, dan Bella juga hanya duduk saja. Akhirnya dengan pasrah Bima pun merelakan istrinya duduk bersama dengan Airen.


"Yasudah kamu boleh disana, tapi janji jangan banyak gerak yang meresahkan ya."


"Iya mas, makasih sayang." Bella pun pindah duduknya, dia duduk di samping Airen dan akhirnya ikut berbincang bersama. Begitupun dengan Bima yang sudah ikut berbincang bersama Hans, Raja, Roni dan Barra.


Suara tangis Amara pecah karena Gibran mencubit pipinya gemas, Endah dengan segera memberikan Amara kepada Airen.


"Ya ampun anak bunda diapain sama Om Iban, ututu tayang."


Gibran yang mendengar jerit tangis Amara, dia pun malah ikut menangis. Semuanya terkekeh pelan, Bella dengan langkah perlahan menghampiri anaknya.


Gibran merentangkan kedua tangannya, minta di gendong oleh Bella. Bella menyanggupinya, sontak saat Bella hendak menggendong Gibran mata Airen dan yang lainnya melotot. Karena tidak mungkin jika Bella menggendong Gibran yang sudah berusia lima tahun, pasti sangat berat.


"Bella!!" teriak Ratu.


Bella yang sudah mulai mengangkat Gibran langsung merasakan nyeri dibagian perutnya, dan langsung menurunkan kembali anaknya itu. Karen tidak ingin membuat yang lain cemas, apalagi suaminya. Bella berusaha menyembunyikan rasa sakit itu.


Bima langsung menghampiri istrinya, "Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Bima cemas.


"Ngga apa-apa mas, mbak Ratu mah emang suka ngagetin." ucap Bella berusaha santai, padahal ntah kenapa perutnya sangat sakit.


"Sshhh s-sakit." rintihan Bella sudah tak tertahankan, rasa sakitnya begitu mendalam dia rasakan.


Mamih Hellena langsung menyuruh Bima untuk membawa Bella ke rumah sakit, semua orang panik termasuk Gibran yang menangis karena melihat mommynya kesakitan.


Bella digendong oleh Bima menuju mobil, disusul oleh mamih Hellena dan papi William. Dan juga Roni yang disuruh menyetir oleh Hans, sedangkan Gibran langsung diambil alih oleh kakek Jo.


Ratu langsung naik menuju kamar Bella, mengemasi barang-barang yang dibutuhkan untuk di rumah sakit. Hans menggendong Amira, sedangkan Airen berusaha mendiamkan Amara yang masih menangis.


Semua kepanikan di rumah itu terjadi, Barra ikut menyusul ke rumah sakit bersama dengan Raja dan Ratu. Sedangkan yang lainnya di rumah, termasuk Ica dan Endah yang tidak ikut ke rumah sakit.


"Hans, papa bawa Gibran pergi bermain ya. Nanti kalau sudah lahiran kabarin." tutur kakek Jo, kepada Hans.


"Iya pah, titip Gibran ya." Kakek Jo mengangguk, dia menggendong Gibran membawanya untuk pergi bermain.


Eza membawa Eranson pergi bermain di halaman belakang rumah, bersama dengan Endah dan juga Ica yang menemani mereka. Sedangkan Hans membantu Airen untuk menidurkan anak-anaknya di dalam kamar.


"Mas, sebaiknya kamu pergi aja ke rumah sakit. Biar Amira dan Amara sama aku disini."


"Ngga sayang, udah banyak orang disana. Nanti saja kalau sudah lahir, kita sama-sama pergi menjenguk."


🍁🍁🍁


Di rumah sakit. Bima tidak henti-hentinya menangis melihat istrinya kesakitan. "M-as sudah jangan menangis." Bella yang tengah kesakitan justru malah berusaha menenangkan suaminya.


"Hikss... A--aku ngga tega ngeliat kamu kesakitan." tutur Bima.

__ADS_1


Mamih Hellena menggelengkan kepalanya melihat tingkah Bima, bukannya menenangkan Bella dia malah menangis kencang seperti itu.


"Dokter kenapa istriku belum juga ditangani hah!!" teriak Bima.


"Sabar tuan, karena nyonya baru pembukaan tiga." ucap dokter yang menangani Bella.


"Shhh M--mas kamu jangan teriak-teriak gitu. Nambah sakit dengernya."


Bima pun diam tak berani memarahi dokter, dia hanya terus menangis sambil terus mengusap-usap punggung istrinya. Lintasan bayangan tentang lahiran Gina dulu, kian memenuhi relung pikiran Bima. Dia semakin kalut dan takut, jika seandainya Bella pergi meninggalkan dirinya.


Waktu terus berjalan hingga akhirnya Bella sudah memasuki pembukaan sepuluh, semua orang disuruh keluar. Namun tidak dengan Bima yang setia berada di sisi istrinya, meski takut dia berusaha memberanikan diri.


"Ayo nyonya kita lakukan sekarang." tutur sang dokter.


Bella yang dari tadi ingin mengejan akhirnya sekuat tenaga dia mengejan dengan sekali hentakan. "Aaaaaaa!!" Bima dan Bella berteriak bersama-sama.


"Sedikit lagi nyonya ayo."


"H--huhh hah hah, engggg aaaaa."


Tak lama suara tangis bayi menggema memenuhi isi ruang persalinan, Air mata Bima terus mengalir karena rasa sakit dicengkeram oleh istrinya. Bima semakin menangis saat melihat bayi berlumuran darah yang diangkat oleh sang dokter.


"S--sayang, sayang ituu--." Bima mengukir senyumannya saat melihat anak mereka, namun ucapannya terhenti karena melihat Bella memejamkan matanya.


Deg. Tidak, ku mohon tuhan. Tidak lagi. batin Bima berdetak cepat saat melihat istrinya memejamkan matanya.


"Hikss... Sayang!! Bellaaa bangun, jangan tinggalkan aku dan anak kitaa!! belaaa!!" Bima menangis sambil berteriak histeris. Sontak suaranya sampai terdengar keluar.


Mamih Hellena menelan salivanya, perasaannya pun cemas saat mendengar kata-kata Bima. Apa yang sebenarnya terjadi?


"P--pih." lirih Mamih Hellena, kakinya tak bertenaga mendengar jerit tangis anaknya. Begitupun dengan Raja yang dari tadi dirangkul oleh Ratu, pun dengan Roni yang baru pertama kali mendengar Bima seperti itu.


Dokter dan suster pun kaget melihat dokter tampan yang terkenal arogan dan dingin di dalam rumah sakit ini justru menangis pilu melihat istrinya memejamkan matanya.


"B--bela sayang, bangun. J-jangan tinggalkan aku dan anak kita hikss..."


"Bella!!" teriak Bima.


Brak.


pintu ruang persalinan dibuka oleh papih William yang sudah tidak kuat mendengar jerit anaknya, semua orang semakin dibuat diam tak berkutik. Bahkan isak tangis anak Bima dan Bella pun masih menggema.


"M--mas." panggil Bella dengan suara pelan.


Bima menangis haru melihat istrinya membuka mata, dia mengembangkan senyumannya. Tak henti-hentinya Bima mencium kening Bella. "Terimakasih, T--terimakasih sayang." cup cup cup.


Bella tersenyum tulus, dia pun menitikan air matanya. Melihat besarnya cinta suaminya untuk dirinya, Bella terharu karena sekarang dia benar-benar menjadi seorang ibu.


Papih William menghela nafasnya kasar, dia keluar dari ruang persalinan dan menutup pintu kembali. Ada kelegaan di hati papi Willi, saat melihat Bella membuka matanya.


"Pih gimana?" tanya Mamih Hellena.


Papi William tersenyum, "Semuanya baik-baik saja. Kita tunggu sampai Bella dan cucu kita dibersihkan dan dipindahkan ke ruang rawat inap."


Semuanya bernafas lega.


🍁🍁🍁


Bella sudah dipindahkan ke ruang rawat, begitupun dengan anaknya. Setelah dokter mengecek kesehatan ibu dan anaknya, Bima dapat benafas lega karena istri dan anaknya dalam keadaan baik.


"Mas, Gibran dimana?" saat ini justru Bella malah mengkhawatirkan anak pertamanya, dia mencari Gibran karena tadi dia melihat anaknya itu sedang menangis.


Bima bersyukur karena cinta Bella untuk anaknya benar-benar tulus, dia bersyukur karena Bella yang menjadi ibu sambung Gibran.


"Masih di mansion, kamu tenang saja. Gibran pasti aman, mungkin sekarang bersama dengan kakeknya. Dia pasti senang mendapatkan adik yang sangat menggemaskan." Bima terus menatap putrinya, lengkap sudah keluarga kecilnya.


Istri, anak laki-laki, dan anak perempuan. Ini adalah kesempurnaan untuk dirinya, hidupnya kini telah lengkap sempurna.


"Mirip kamu bangat mas."


"Iya dong, aku kan papanya. Makasih ya sayang." Bima terus mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Bella.


Bella tersenyum, "Sama-sama mas, sudah dong jangan bilang makasih terus."


Tok tok tok.


krek.


"Bella sayang, mana cucu mamih nak?"

__ADS_1


Semua rombongan masuk ke dalam, Mamih Hellena langsung menghampiri menantu dan cucunya. Raja dan Roni duduk di sofa, Ratu ikut melihat keponakan barunya.


"Ya ampun Bim, mirip bangat sama kamu."


"Kan aku yang buat."


"Selamat ya Bim, Bel. Lucu bangat sih anak kalian." tutur Ratu.


"Makasih mbak, lucu sih tapi sayang bangat ngga mirip sama aku."


"Kamu nyesel kalau anak kita mirip papanya hah?" Bella terkekeh pelan, melihat protes suaminya.


Raja dan Roni pun ikut melihat, mereka semakin penasaran dibuatnya semirip apa sih sama si Bima.


"Tuan, Nyonya. selamat atas kelahiran anak keduanya." tutur Roni menjabat tangan Bima.


"Terimakasih Ron, cepet nyusul ya sama Endah." Roni mengangguk dan tersenyum.


"Kenapa harus mirip si Bima sih, kan aku jadi ngga kasihan kalo ngeledeknya."


Plak.


Raja dapat pukulan ringan di lengannya, dari sang mamih. "Kamu ini sudah tua, ngga usah meledek anak kecil. Cukup Hans dan Bima dulu kamu ledek sampai nangis, cucu-cucu Mamih ngga boleh." ujar Hellena.


"Sayang Mamih galak, aku dipukul." rengek Raja memeluk Ratu.


"Ja, malu sama umur." ledek papi William.


"Papi juga gini kok ke Mamih, pasti ngadu ke Mamih kalau di celetukin si Hans."


Benar saja, papi William juga ikut-ikutan merengek ke Mamih Hellena. Dua pria tua ini benar-benar sangat menyebalkan.


Untung aku bekerja dengan tuan Hans, setidaknya hanya dia yang normal di keluarga ini. batin Roni.


Bella tertawa melihat tingkah papa mertua dan kakak iparnya, sungguh ajaib memang keluarga ini. Bella memang sudah biasa dengan tingkah absurd mereka.


"Bim, sudah diberi nama?" tanya Ratu.


Bima menatap Bella, lalu bergantian menatap putrinya. Bima mengangguk, "Sudah."


"Gebila Putri Kyle Mikhailov."


"Baguss, mamih setuju."


"Nama apa rel kereta, panjang amat." celetuk Raja.


"Ja, kamu kalau mau menjudge orang itu intropeksi diri dulu. Nama anak kamu juga panjang, Pangeran sonharth Mikhailov."


"Tapikan tiga kata aja mih, kalau si Bima empat kata."


"Bang, mending lo keluar aja deh. Ntar anak gue ketularan bodohnya." Bima terang-terangan mengusir Raja dari ruang rawat istrinya.


"Pih dikatain bodoh tuh sama si Bima."


"Lho kok papih? kan kamu yang dikatain."


"Gen aku kan dari papih." jawab Raja dengan mudahnya.


"Kalian berempat, keluar!!"


Mamih Hellena yang sudah kesal pun langsung menyuruh para pria untuk pergi ke luar, semuanya menurut. Bella dan Ratu terkekeh pelan melihat mereka berempat tak berkutik, sedangkan Roni langsung izin untuk pulang. Dia sudah tak tahan lagi bersama dengan para makhluk disini.


"Tuan, saya pamit pulang."


Bima mengangguk. "Terimakasih banyak Ron."


"Sama-sama tuan, kalau gitu saya permisi."


Roni pun pulang menuju mansion keluarga Mikhailov, sedangkan Raja merangkul adik dan ayahnya menuju ke kantin rumah sakit.


"Mending kita cari makan, laper nih. Kamu juga pasti laper kan Bim, habis nangis butuh tenaga lagi." Raja sengaja meledek adiknya yang tadi meraung-raung di dalam ruang persalinan.


CK, bakal jadi bahan ledekan seumur hidup pasti. batin Bima.


Bersambung...


Halo semuanya, cerita kisah tuan Hans hampir tamat nih. Aku mau ngeja cerita yang berkaitan dengan anak-anak mereka dulu, biar cerita yang satu dan lainnya saling terhubung.


Kira-kira cerita tentang siapa dulu ya? Eran? Eza? Gibran? atau Dua A?

__ADS_1


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah.


__ADS_2