
(MARTABAK)
Selamat membaca ☺️
malam ini Bima memutuskan pulang ke rumah lebih awal, dia melajukan mobilnya dengan perlahan karena rintik hujan kian turun dengan deras. Hingga dia melihat sosok wanita yang tengah berteduh di halte bus, Bima menepikan mobilnya di pinggir halte itu.
Bella sedikit kaget karena kedatangan seseorang, dia sebenarnya trauma dan takut dengan kejadian yang pernah menimpanya kala itu. Bella berdiri, bersiap-siap untuk lari jika orang di dalam mobil keluar.
Bima membuka pintu mobilnya, dan langsung menatap ke arah Bella. Beberapa detik mereka saling pandang, hingga akhirnya Bella memutuskan tatapan itu.
"Bella?" Bima melangkahkan kakinya cepat menuju halte.
"Kamu kenapa disini?" tanya Bima saat telah sampai di dekat Bella.
"Tidak apa-apa." jawab Bella.
"Ayo duduk, kenapa berdiri?" ujar Bima.
Bella duduk kembali, menatap lurus ke arah depan. dia berusaha untuk tidak bersitatap dengan Bima, karena hal itu mampu membuat hatinya berdetak tak karuan. Bima duduk di samping Bella, menatap gadis yang selama ini dia anggap sebagai adiknya sendiri. Ada perasaan aneh saat Bima memandang Bella, gadis ini tumbuh menjadi wanita dewasa.
Bima melepaskan jas dokternya, dia pakaian kepada Bella. Mereka saling bersitatap, karena jaraknya yang begitu dekat Bella bisa merasakan hembusan nafas Bima. Jantung keduanya sama-sama berdetak cepat, Bima langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Pakai itu, baju mu basah. Nanti masuk angin." ucap Bima sedikit salah tingkah.
"Umh, terima kasih." jawab Bella mengangguk.
Keduanya hening sama-sama diam membisu, hanya suara rintik hujan yang menyelimuti malam mereka. Hingga lima belas menit berlalu, hujan masih sama seperti tadi. Belum reda.
"Bel, saya antarkan kamu pulang."
"Ngga apa-apa kak, kakak duluan saja. Aku nanti pulang sendiri." jawab Bella.
Bima berpikir jika saat ini Bella tengah bertengkar dengan suaminya yang tempo lalu Bima temui di rumah sakit.
"Bella, jangan sungkan untuk bilang sama saya kalau suami kamu nyakitin." ujar Bima.
H--Hah?
Bella sedikit tercengang dengan ucapan Bima yang menganggap bahwa dirinya telah bersuami.
"S--suami?" tanya Bella memastikan.
"Iya suami, yang di rumah sakit itu suami kamu kan?"
"Pffttt hahaha, aku bahkan belum menikah." ujar Bella sambil tertawa.
Ntah mengapa Bima merasa bahagia saat mengetahui bahwa Bella belum menikah, hati kecilnya sungguh bahagia mendengar hal itu.
"Sungguh? Jadi laki-laki di rumah sakit itu bukan suami mu?" tanya Bima memastikan.
Bella mengangguk dan tersenyum.
"Dia mas Aryo, ayahnya Putri. Sebenarnya ibu menginginkan aku untuk menikah dengan mas Aryo, tapi--"
Deg
Hati Bima kembali merasa sakit, saat mendengar jika Ibu Bella menginginkan Bella menikah dengan Aryo.
"Tapi apa Bel?" lirih Bima.
Aku mencintai mu mas, bagaimana aku menikah dengan laki-laki lain sedangkan rasa cintaku pada mu belum kunjung hilang. batin Bella.
"Bel?" Bima menggoyangkan lengan Bella.
Bella tersadar, dia pun menggeleng lemah. "Bukan apa-apa, hujannya sudah mulai reda. Aku pamit kak."
Bima menahan lengan Bella untuk tidak pergi, ada getaran hebat dihati keduanya saat kulit mereka saling bersentuhan.
__ADS_1
Perasaan macam apa ini. batin Bima.
"Kak lepasin, aku mau pulang!"
"Saya antar kamu, jangan menolak. Ini sudah malam, saya takut terjadi apa-apa sama kamu." ucap Bima, dia langsung menarik Bella untuk masuk ke dalam mobilnya.
Bella pasrah dan menurut saja, lagi pula dia merasa aman jika didekat dengan Bima. Mereka pun pergi meninggalkan sepenggal momen di halte bus.
***
Di mansion.
Airen cemberut karena Hans tidak mengizinkan dia untuk pergi membeli martabak telor. Airen merajuk di pinggir kasur, mendekap bantal guling dengan erat.
Hans menghampiri istrinya yang sedang merajuk, Hans berjongkok di samping ranjang menghadap wajah istrinya. Airen langsung membalikan badan menghadap arah lain, dia sungguh kesal.
"Sayang, jangan seperti ini. Ayo bangun, aku sudah menyuruh Roni untuk membelikan mu martabak." ujar Hans.
"Jadi Bos mah enak ya, tinggal nyuru-nyuru aja. Padahalkan ini sudah bukan jam kantor, kasian Tuan Roni harus mencari martabak malam-malam demi anak Bos nya." celetuk Airen kesal.
Hans menghembuskan nafasnya pelan, dia duduk di tepi ranjang dan langsung membaringkan tubuhnya untuk memeluk sang istri, Hans melingkarkan tangannya diperut Airen.
"Tadikan hujan sayang, lagi juga enakan tinggal makan iyakan?"
"Lepasin mas, tau ah aku sebel sama kamu. Aku mau beli yang baru, nanti minta antar sama Tuan Roni."
"Jangan panggil dia tuan, panggil saja Roni."
Airen tak menggubris ucapan suaminya, dia langsung bangun dan keluar kamar untuk menunggu Roni di bawah. Hans mengekori istrinya dari belakang, Airen duduk di ruang depan sambil menanti kedatangan Roni.
Tak lama pintu depan terbuka.
Cklek
Roni masuk dengan membawa dua bungkus martabak telur sesuai dengan perintah Tuannya, Airen langsung menghampiri Roni.
Hans menahan amarahnya yang hendak dia luapkan kepada Roni, enak saja dia mendapatkan panggilan Mas dari istrinya. Sumpah demi apapun Hans sama sekali tidak menyukainya. Roni menelan salivanya kasar saat melihat tatapan tajam dari Hans.
Mampus gue, aduh nyonya segala manggil mas lagi. Gaji gue bisa-bisa kena potong. batin Roni.
"Ron!"
"I--ini Tuan martabaknya, kalau gitu saya pamit. permisi." ucap Roni undur diri.
Airen langsung memegang lengan Roni, berusaha untuk menahan laki-laki itu. Karena Airen sungguh ingin makan martbak langsung di tempat pedagangnya.
"Airen Cahya Senjani!" ucap Hans dengan nada tinggi saat melihat istrinya memegang Roni.
Deg
Airen melepaskan tangannya dari lengan Roni, tiba-tiba moodnya berubah menjadi sedih saat Hans membentak dirinya. Airen langsung berlari menuju kamar, meninggalkan mereka berdua disana.
Hans menghembuskan nafasnya kasar.
"Pergi kau! Ku potong gaji mu 25%!"
"T--Tuan, tapikan--."
"30%."
Yailah, punya bos gini amat sih. batin Roni.
"Berani kau mengumpat ku dalam hati, ku potong gaji mu menjadi 35%." ujar Hans, dan langsung pergi meninggalkan Roni.
Nasib nasib, gini amat ya jadi asisten. batin Roni, dia pun pergi dari mansion keluarga Mikhailov.
***
__ADS_1
Airen menangis sendu di dalam kamar, wanita itu meringkuk dalam selimutnya. Hans menghampiri istrinya dan menyingkap selimut yang menutupi tubuh Airen.
"Sayang, maafkan aku. Ayo makan, ini martabaknya sudah ada."
Hans mendengar suara isak tangis istrinya, dia mendaratkan beberapa kecupan di wajah Airen meskipun wajah itu sedang ditutupi oleh tangan istrinya.
"sudah jangan menangis, maafkan aku ya. Ayo kita makan martabak nya."
"Hiks.. kamu ngga ngerti banget mas, aku tuh lagi pengen makan martabak di tempat yang jualnya. Ini juga maunya anak kamu!" ucap Airen.
Hans kini mengerti, dia harus lebih banyak bersabar dengan mood istrinya yang tak tentu dan juga keinginannya.
"Iya sayang, ayo kita pergi untuk makan martabak disana."
"Ngga usah mas, aku tau kamu terpaksa. Udah itu aja kamu makan, aku mau tidur."
Hans mengejar nafasnya panjang, susah sekali membujuk wanita yang sedang merajuk seperti ini. Sepertinya Hans harus banyak belajar dari Papihnya.
Airen pun tertidur pulas dengan segenap perasaan kesal yang dia bawa, Hans memilih untuk ke dapur membawa martabak itu barangkali ada mbok Nin yang mau memakannya.
Drap drap drap.
Raja kaget dengan suara langkah kaki seseorang, baru saja dia tiba didapur sudah dikagetkan dengan suara langkah kaki.
"Astaga Hans, kamu ngagetin bangat sih." celetuk Raja, sambil mengusap dadanya.
"Lebay."
Hans meletakan martabak di meja dapur, dia pun duduk di kursi. Raja tersenyum melihat bingkisan martabak, dia pun duduk dan hendak membuka martabak itu.
"Wih enak nih, tumben kamu jajan beginian." ujar Raja, sambil menyuap martabak ke dalam mulutnya.
Hans tak menjawab dia benar-benar tidak mood, karena istrinya tertidur dalam keadaan marah seperti itu padanya.
"Pasti Airen ngidam ya, terus pas udah ada makanannya dia nggamau?" tanya Raja.
"Makan aja sih, ngga usah nanya." kesal Hans.
"Wiss kalem dong, makanya jangan asal nanem benih kalau belum siap seperti ini."
Hans menatap tajam ke arah kakaknya yang bermulut pedas itu, raja tersedak karena tatapan Hans yang mengerikan.
Uhuk Uhuk
Raja langsung mengambil air putih dan meneguknya samlai habis, Raja melihat Bima yang baru saja pulang dan memanggilnya untuk makan martabak bersama.
"Bim sini, ada martabak gratis nih." ujar Raja sambil memperlihatkan martabak itu.
Bima merasa perutnya lapar, dia pun menghampiri kakak dan adiknya yang duduk disana. Bima langsung melahap martabak itu tanpa permisi.
"Enak nih, tumben bangat ada yang beli jajajan beginian."
"Biasalah, Airen ngidam tapi pas udah ada nggamau di makan." jawab Raja.
"Lihatlah Bim, itu adalah contoh tong kosong nyaring bunyinya." ujar Hans sinis.
"Pfftt Hahaha, nggatau tapi banyak bicara." ujar Bima menertawakan Raja.
Ett punya adek pinter gini amat ya. batin Raja.
Bersambung...
Maaf telat up nya.
selamat berbuka puasa untuk kalian yang menjalankan.
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
__ADS_1