Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 89


__ADS_3

Maaf semuanya, aku baru sempet updet.


Selamat membaca ☺️


"Hans, tolong bebaskan kami. Kami berjanji tidak akan mengusik keluarga mu lagi, kami hanya menginginkan Laura. Kami ingin menjaga dia." ujar Daniel memohon ampun kepada hans.


"Sekarang baru sadar? Dulu mengapa kalian sangat menginginkan kehancuran rumah tangga ku bersama dengan istriku?"


Daniel dan istrinya terdiam menahan isak tangisnya, karena mereka mendapatkan kabar bahwa Laura masuk ke rumah sakit karena penyakitnya yang sudah lama. menggerogoti tubuhnya.


"K--karena kami ingin Laura mendapatkan kebahagiaanya, kami ingin Laura dapat hidup bahagia di sisa umurnya." ucap Daniel.


"Bodoh, kalian orangtua yang bodoh. Bahkan kalian tega menjauhkan anak dan ibunya." ujar Hans.


Deg


Daniel dan Lusiana menatap tak percaya, bagaimana bisa Hans mengetahui bahwa Laura sudah memiliki anak.


"Terkejut? Aku sudah mengetahui semuanya."


"Hans, kami mohon jangan beritahu soal itu kepada Laura. Kami tidak ingin putri kami memikirkan hal itu." ucap Lusiana memohon.


"Aku sudah memberitahunya, tapi dia tidak percaya karena dia beranggapan bahwa orangtuanya tidak mungkin membohongi nya."


Syukurlah. batin Daniel.


"Apa kau sedang bersyukur karena anak mu masih percaya dengan orangtua seperti kalian, apa kalian tidak kangen dengan cucu kalian? dia tumbuh menjadi anak kecil yang ceria meskipun tanpa sosok seorang ibu di sisinya, bahkan matanya sangat mirip dengan Laura. Apa kalian yakin tidak ingin melihat cucu kalian?" tanya Hans penuh penekanan.


Lusiana terdiam, karena ini semua ide dari suaminya. Daniel memberikan cucunya kepada Luis, karena memang Luislah ayahnya. Tapi Daniel mengatakan kepada Luis, bahwa jangan pernah muncul lagi dalam kehidupannya maupun kehidupan anaknya, kalau tidak Daniel tidak akan segan untuk melenyapkan cucunya. Semenjak itulah, Luis dan cucu mereka tidak lagi terdengar kabarnya.


"Tidak, kami hanya menginginkan Laura. Tolong bebaskan kami, dan tolong bantu pindahkan pengobatan Laura ke Inggris." ucap Luis memohon.


Sama sekali tak berperasaan. batin Hans.


"Oke, besok asisten ku yang akan mengurus semuanya. Kalian bebas, tapi masih dalam pantauan dan jaminan." ucap Hans lalu pergi begitu saja.


***


Airen ingin sekali mengunjungi perusahaan suaminya bersama anak-anaknya, Airen meminta tolong kepada mbok Nin untuk mengantarnya. Karena Ratu sedang sibuk mengurus Eranson dan juga Gibran.


"Mbok antar aku ke perusahaan nya mas Hans ya." ucap Airen sambil menggendong Amara, sedangkan Amira ada di stroller baby.


"Iya Non, mari mbok antar." ucap mbok Nin mengambil alih stroller.


Setelah Airen berpamitan kepada Hellena dan juga Ratu, dia segera berangkat diantar oleh supir pribadi mertuanya.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka telah sampai di perusahaan Hans. Airen dan mbok Nin berjalan memasuki perusahaan. Semua karyawan menatap Airen dan juga anak-anaknya, semuanya menghampiri Airen.


"Wah nyonya selamat ya, anak-anaknya cantik-cantik." ucap salah satu karyawan


"Iya ih gemes, mereka kembar?"


Airen mengangguk sebagai bentuk jawaban.


"Tapi aneh ya, wajahnya terlihat berbeda. Yang satu lebih mirip Tuan Hans, yang satu lebih mirip nyonya. Kalau boleh tau namanya siapa?" tanyanya.


"Amira dan Amara." jawab Airen.


"Wah Nona muda namanya bagus-bagus."


"Kalau begitu saya permisi ya, mari semuanya." ucap Airen ramah.

__ADS_1


Mereka menuju ruangan Hans, namun saat Airen membuka pintu tidak ada sosok suaminya di sana. Kemudian ada office boy yang datang menghampiri ruangan untuk membersihkannya.


"Maaf nyonya, cari tuan Hans ya?" tanyanya.


"Iya, suami saya dimana?"


"Sedang meeting." jawab office boy tersebut.


Airen mengangguk, "Yasudah terimakasih, saya akan menunggu disini." ucap Airen.


Office boy itu keluar, dia tidak jadi membersihkan ruang kerja Hans. Karena masih ada Airen.


"Mbok kalau mau pulang tidak apa, saya disini sendiri saja. Nanti juga ada mas Hans yang akan bantu jagain anak-anak." ucap Iren.


"Tidak apa-apa Non, bibi disini saja nemenin non Iren."


"Kan nanti mbok harus masak, kasihan mbak Ratu tidak ada yang membantu."


"Yasudah kalau begitu mbok pulang saja, mbok pamit pulang ya Non."


"Iya mbok, hati-hati ya."


Setelah kepergian mbok Nin, Airen menaruh anak-anaknya di ruang istirahat pribadi suaminya. Anak-anaknya tertidur pulas, Airen pun ikut tidur di samping putri-putrinya.


**


Hans tengah meeting bersama dengan CEO FA Group dari Inggris, keduanya nampak diam membisu tidak ada yang memulai pembicaraan.


"Long time no see. (Lama tidak bertemu)." ucap CEO FA tersebut yang memulai pembicaraan.


Hans mengangguk, "Saya tidak suka basa basi, langsung saja keintinya. Mengapa anda ingin bekerjasama lagi dengan perusahaan LovMart?" tanya Hans datar.


Laki-laki paruh baya itu tersenyum simpul, "You are William's son. (Kau memang anaknya si William)." ucapnya.


Roni dan asisten laki-laki itu terdiam, mereka hanya mengamati interaksi dari bosnya masing-masing.


Laki-laki paruh baya itu terdiam, kemudian bertanya kepada Hans. "Bagaimana keadaannya sekarang?" tanyanya.


Hans mengerenyitkan dahinya, "Anda menanyakan kabar siapa? Kakak saya? Orangtua saya? atau cucu anda?"


Laki-laki paruh baya itu tersenyum, "Cucu? Aku tidak mempunyai cucu."


"Saya harap anda tidak menyesali ucapan anda, karena anak dari kak Bima dan Gina tumbuh menjadi anak laki-laki yang cerdas dan kuat. Untung saja sikap egois anda tidak menurun kepadanya." ucap Hans.


"Aku tidak menyesali apapun, kenapa aku harus menyesali tentang anak kecil yang telah membuat putri ku tiada."


Emosi Hans mulai tak tertahankan, ayah dari Gina ini sungguh keterlaluan. Karena dia masih menyalahkan Gibran atas kematian Gina.


"Sadarlah tuan Jhonatan Farasya! Garis kematian seseorang telah ditentukan, mengapa anda menyalahkan anak bayi yang waktu itu bahkan belum tahu tentang apapun. Lagi pula Gina meninggal setelah usia Gibran satu bulan, dan itu pun memang karena dia koma!"


"Jika anak ku tidak melahirkan anak pembawa sial itu, mungkin saat ini Gina masih hidup. Sudahlah Hans, aku kesini hanya untuk membahas masalah bisnis." ucap Jhonatan yang tak lain adalah ayah dari mendiang Gina.


Akan ku buat kau menyesali ucapan mu itu, andai kau tahu bagaimana menggemaskannya cucu mu itu. batin Hans.


"Oke, kita bahas soal bisnis. Jika suatu saat nanti anda bertemu dengan Gibran, jangan pernah anda meminta dia untuk memanggil anda dengan sebutan kakek." ucap Hans karena kesal dengan pria tua satu ini.


Jhonatan mengangguk, "Ken kemarikan surat perjanjian kerja sama itu." ucap Jhon kepada asistennya.


"Yes sir." ucap Ken, sambil menyerahkan surat itu kepada Jhonatan.


"Ini, kau boleh membacanya terlebih dulu."

__ADS_1


Hans mengambil surat perjanjian itu, dan langsung menandatangani nya tanpa membaca terlebih dahulu.


"Tuan, kena--."


Hans mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar Roni diam. Karena Hans percaya, karena Jhonatan adalah orang yang bijak dan jujur dalam mengemban bisnis. Dan itulah sebabnya, dulu ia hendak dijodohkan oleh papih William dengan Gina. karena Gina anak dari Jhonatan, seorang pebisnis yang terbilang jujur dan terpercaya. Tapi sayang, justru Bima lah yang membuat Gina jatuh cinta.


"Sudah saya tandatangani."


"Kau begitu percaya padaku?" tanya Jhonatan.


"Tentu saja, karena papih saya tidak mungkin salah memilih orang dalam menjalankan kerjasamanya." ucap Hans datar.


Jhonatan tersenyum simpul, "Kau tahu, sebenarnya aku sangat menginginkan mu menjadi menantu ku. Tapi sayang sekali, anak ku jatuh cintanya kepada kakak mu." ucap Jhon.


"Semuanya sudah selesai, kalau begitu anda boleh pergi dari ruangan ini." ucap Hans, tanpa mau menimpali apa yang dibahas oleh Jhonatan.


"Baiklah, sampaikan salam ku untuk ayah mu." ucap Jhonatan lalu pergi bersama dengan asistennya.


***


Hans menuju ruang kerjanya, karena masih ada beberapa hal yang harus dia selesaikan. Hans masuk perlahan ke dalam ruang kerjanya, namun ia melihat sepertinya ruangan ini belum dibersihkan.


Hans menelpon Roni untuk meminta ob datang ke ruangannya, karena Hans tidak bisa bekerja dengan ruangan yang masih kotor.


Tidak lama ob itu pun datang, "Maaf tuan, tadi saya sudah mau membersihkannya. Tapi ada nyonya Airen datang." ucapnya memberitahu.


"Apa? Istriku? Lalu dimana dia sekarang." tanya Hans cemas.


"Tidak tahu Tuan, tadi nyonya Airen masih berada di ruangan ini." ucapnya.


Lalu terdengar suara isak tangis bayi, Hans menatap ke arah ruang istrirahatnya lalu tersenyum simpul. Hans menyuruh ob itu untuk datang lagi nanti.


"Pergilah, nanti saja dibersihkannya."


Hans menuju ruang istirahat, membuka pintu itu secara pelan. Dilihatnya sang istri yang tertidur pulas.


Tumben Cahya tidak bangun, padahal Amara menangis begitu kencang. batin Hans.


Hans menggendong putri keduanya, menimang agar anaknya kembali tertidur. Hans melirik ke arah istrinya, ntah mengapa tiba-tiba dia menginginkan sang istri.


"Amara sayang cepat tidur ya nak, papa kangen sama bunda kamu." gumam Hans kepada anak keduanya.


Tidak butuh waktu lama, Amara pun tertidur pulas. Hans menaruh kedua putrinya di pojok kasur. Sedangkan dirinya langsung memeluk tubuh sang istri. Hans menciumi tengkuk leher istrinya, Airen pun menggeliat terbangun.


"Uughhh."


Hans tersenyum, "Mas Hans!" protes Airen.


"Stttss diam sayang, anak-anak sedang tidur." ucap Hans menempelkan jarinya di bibir sang istri.


"Gerah mas, jangan peluk-peluk gini dong." protes Airen karena sesak.


Hans tersenyum nakal, "Selagi mereka tertidur, mari kita bermain baby." ucap Hans dengan suara berat.


"Tapi--."


Cup


Hans langsung menyambar bibir sang istri, dan melum@tnya perlahan. Airen pun pasrah, membiarkan suaminya bermain-main dengan dirinya. Dan siang itu mereka habiskan dengan cucuran keringat.


Bersambung...

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita KISAH TUAN HANS.


Mohon dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.


__ADS_2