
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
"Ron, cepat cari hotel di sekitar sini!"
Hans tak ingin kembali pulang, sebelum dia memastikan bahwa Airen ikut bersamanya. Hans begitu khawatir dengan Airen, terlebih wanita itu sedang hamil.
"Maaf Tuan, ini desa. Tidak ada hotel disini." ujar Roni.
"Carikan penginapan, cepat!" ucap Hans.
Roni pun menurut saja, dia pergi mencari kontrakan di desa ini. Dan bertanya kesana kemari, ternyata ada seorang ibu-ibu yang memberitahukan bahwa ada satu orang yang memiliki kontrakan. Roni pun menuju alamat yang ibu-ibu itu tunjukan.
"Permisi."
Roni mengetuk pintu rumah orang itu, sambil berucap permisi.
"Iya, cari siapa?" tanya Ceu Edoh.
"Maaf Nyonya, apakah benar. Bahwa Nyonya menyewakan kontrakan?" tanya Roni.
'Astaga, aku dipanggil Nyonya oleh pria tampan.' batin Ceu Edoh.
"Iya benar, tapi maaf ya. Kontrakan nya sudah full terisi." ujar Ceu Edoh.
"Baiklah, terimakasih."
Roni pergi dari sana, dan kembali menghampiri Hans. Dia memberitahukan kepada Hans, bahwa tidak ada penginapan yang kosong.
"Beli rumah disini!" ujar Hans.
Astaga Tuan Hans, benar-benar gila. ucap Roni dalam hati.
"Apa kau mengumpat ku?" tanya Hans dengan tatapan tajam.
"T ttidak Tuan, saya tidak berani melakukan hal itu." ucap Roni terbata.
Roni dan Hans mencari bersama, rumah yang hendak mereka beli. Hingga ada seseorang yang sedang menaruh spanduk bahwa rumah ini di jual.
Hans turun dari mobilnya, dan menghampiri bapak-bapak itu. Mereka berbincang-bincang, dan akhirnya bapak itu menyuruh Hans dan Roni untuk masuk ke dalam rumahnya. Agar mereka dapat mengobrol dengan nyaman.
"Maaf Pak, apa benar rumah ini di jual?" tanya Roni yang mewakili Hans.
"Iya benar, saya mau menetap di kota. Jadi, rumah ini tak terpakai lagi." ujar bapak itu.
"Kami beli Pak." ucap Hans tanpa basa basi.
"H--Hah? Oh iya boleh-boleh. Kalian mau beli dengan harga berapa?" tanya si Bapak.
"Bapak jual dengan harga berapa?" kini giliran Roni yang menjawab.
Waktu saya beli dari Pak Yanto, ini harganya enam puluh lima juta. Tapi sekarang rumah ini sudah sedikit kumuh dan tua, apa aku kasih enam puluh juta saja ya? batin si bapak.
"Enam puluh juta." ujar si bapak.
Brak..
Bahar langsung masuk ke dalam rumah itu, setelah dia melihat spanduk bahwa rumah ini di jual. Bahar sudah lama menantikan hal ini, karena ini adalah rumah orangtua Airen. Dia. berharap, Airen akan mau menikah dengan nya dan tinggal di rumah ini.
"Pak Udin, biar saya beli rumah ini." ucap Bahar dengan suara yang tersengal-sengal.
Hans menatap tajam ke arah Bahar.
"Duhh maaf ya nak Bahar, ini udah ada yang mau beli." ujar Pak Udin.
"Saya ambil, seratus juta Pak." ucap Bahar.
Hans masih terdiam, Roni juga diam karena dia tahu masalah ini memang harus diurus dengan Hans.
"Memangnya, kenapa Nak Bahar ingin membeli rumah ini? Padahalkan rumah Nak Bahar jauh lebih bagus." tanya Pak Udin.
"Saya mau menikah dengan Airen Pak, dan ini salah satu peninggalan orangtua nya. Saya yakin, Airen mau menikah dengan saya kalau rumah ini kembali kepada dia. Saya berniat akan tinggal di rumah ini, setelah kami menikah." ujar Bahar.
Hans mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, sorot mata tajam nya menatap tak suka ke arah Bahar. Roni menatap takut melihat Hans yang seperti hendak menerkam mangsanya.
"Lho, bukannya Nak Bahar akan menikah dengan Siti, sepupunya Airen kan?" tanya Pak Udin.
"Pak Udin, Airen sudah kembali ke desa ini. Saya masih cinta sama Airen Pak, saya tidak ingin menikah dengan Siti. Bapak tolong bantu saya ya." ujar Bahar memohon.
"Tidak! Saya yang lebih dulu datang ke sini. Bapak harus menjual nya ke saya." ujar Hans yang masih menatap tajam Bahar.
Yaelah, nih bule belagu amat sih. Tampang doang ganteng, dompet pasti tipis. batin Bahar.
"Saya bingung jadinya." ucap Pak Udin.
"Pak Udin, bapak mau ke kota kan? Nah di kota membutuhkan biaya yang banyak. Bagaimana kalau yang paling mahal bayarannya, orang itu yang akan membeli rumah ini." ucap Bahar menyarankan dengan sangat percaya diri.
"Baiklah."
Pak Udin pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Saya sudah menawar seratus juta, bagaimana dengan kamu?" tanya Bahar.
"Seratus lima puluh juta (150 jt)." jawab Hans.
Astaga, kenapa loncatnya jauh bangat. Kenapa nggak loncat satu juta aja sih. Pokonya ini rumah harus sampe dua ratus juta saja. batin Bahar.
__ADS_1
"Seratus lima puluh satu juta (151 Jt)." ucap Bahar.
"seratus tujuh puluh juta (170 Jt)." ucap Hans.
Ck dia benar-benar menantang rupanya. batin Bahar.
"Dua ratus juta (200 Jt)." jawab Bahar.
Hans tersenyum smrik, "Dua ratus lima puluh juta (250 Jt)."
Apa!
Ck Si*l, kenapa dia bisa mempunyai banyak uang seperti ini. Arghhhh.
"Pak Udin, sepertinya kami yang memenangkan rumah ini." ujar Roni yang sudah melihat raut wajah Bahar seperti orang yang menahan kesal.
"Nak Bahar?" tanya Pak Udin.
"Awas kalian!"
Bahar langsung keluar rumah begitu saja, tanpa mengucapkan salam atau apa pun. Dia benar-benar kesal dengan Hans.
🌹🌹🌹
Hoekk.. Hoekk...
Airen terus mual-mual, bahkan dia izin untuk tidak bekerja hari ini. Eza sangat khawatir dengan kondisi kakak nya yang terus mual-mual.
"Kak, kita ke rumah sakit ya." ujar Eza.
"Nggak Dek, kakak hanya masuk angin saja." jawab Airen.
"Yasudah, Kakak lebih baik istirahat saja. Tidak usah memasak, biar aku beli lauk di luar." ujar Eza.
"Baiklah, ini uang nya. Eza hati-hati ya." ujar Airen, dia pun mengasih uang nya kepada Eza.
Eza langsung pergi membeli lauk, sepanjang perjalanan dia memikirkan kondisi kakaknya. Eza tak sanggup jika harus melihat Airen jatuh sakit.
Di lain sisi, setelah negosiasi dan juga melakukan transaksi jual beli, kini Hans dan Roni sudah satu malam, bermalam di rumah itu. Meskipun seperti rumah di desa pada umumnya, namun mereka sangat nyaman tinggal di sana.
Hans dan Roni berjalan-jalan keliling desa, mencari sarapan. Mereka bertemu dengan Eza diperjalanan.
"Eza!" panggil Hans.
"Lho, Om Hans kenapa bisa ada di sini?" tanya Eza yang menatap tak percaya.
"Om lagi ada pekerjaan disini, jadi tinggal sementara. Kamu mau kemana?" tanya Hans.
"Aku mau beli lauk Om, mau beli sarapan untuk aku dan kakak."
Eza menggelengkan kepalanya, lalu matanya tiba-tiba berair kala mengingat sang kakak yang terus mual-mual. Eza kasihan karena Airen terus saja bolak balik ke kamar mandi.
"Kamu kenapa Za?" tanya Hans yang melihat raut kesedihan pada Eza.
Eza tak tahan lagi, dia memeluk kaki Hans dengan erat. Hans dan Roni saling bersitatap. Hans pun berjongkok, membiarkan tinggi badannya setara dengan Eza agar anak itu mudah untuk memeluk dirinya. Hans mengusap lembut kepala Eza, memberikan kenyamanan di sana.
"Eza, cerita dulu sama Om. Kamu kenapa hm?" Hans mengusap air mata yang membasahi pipi Eza.
"Kak Iren, sakit Om." ujar Eza.
Apa!
Hans dibuat terkejut, dia tiba-tiba panik sendiri.
"Tuan, tenanglah." ucap Roni.
"Eza, ceritakan detailnya." ujar Roni.
"Kakak mual-mual terus, aku kasihan sama kakak. Setiap kali mencium bau parfum ataupun makanan dia terus saja mual-mual." ujar Eza.
Astaga, itu pasti gara-gara anak Tuan Hans. Sungguh anak dan bapak sangat merepotkan. batin Roni.
"Ron! Cepat kau carikan sarapan dan juga beli buah-buahan serta vitamin."
"Baik, Tuan." jawab Roni.
Hans dan Eza kembali ke kontrakan Airen lebih dulu, membiarkan Roni yang membeli sarapannya. Hans mengetuk pintu, namun tak ada sahutan dari dalam. Eza pun langsung mengajak Hans untuk masuk, dia tahu pasti kakaknya saat ini sedang dikamar mandi.
Hoekk.. Hoekk..
"Duh, kenapa sih mual-mual terus." protes Airen.
"Kakak." teriak Eza menggema di dalam kontrakan.
"Iya Za, sebentar."
Airen bergegas keluar dari kamar mandi, dan dia terkejut melihat Eza sedang bersama dengan Hans.
"Mau apa, kau ke sini hah!" teriak Airen.
Hoek.. Hoek...
Airen kembali mual-mual, dia berlari ke dalam kamar mandi lagi. Hans menyusul Airen dengan tergesa-gesa dan khawatir.
Hans memijat tengkuk leher Airen, meskipun Airen sempat kaget dan hendak memberontak tapi ajaibnya tangan Hans berhasil membuatnya tak merasakan mual lagi.
Nak, jangan susahkan Ibu mu. batin Hans, dia tahu gejala ibu hamil. Karena saat di rumah sakit, Hans terus bertanya kepada dokter kandungan.
__ADS_1
Aneh, kenapa rasa mualnya langsung menghilang saat tangannya menyentuh tengkuk leher ku. batin Airen.
"Sudah." ucap Airen.
Hans pun menyudahi nya, dia hendak keluar namun Airen kembali mual-mual. Hans pun dengan pelan memijat kembali tengkuk leher Airen.
Cahya, maafkan aku. Jika saja bisa digantikan, lebih baik aku yang mengalaminya. batin Hans.
Airen sudah merasa lemas, matanya yang sendu menatap ke arah Hans. Beberapa detik tatapan mereka sama-sama terkunci. Airen memutuskan kontak matanya, saat mendengar suara Endah.
"Airennn." teriak Endah.
"Ck, berisik sekali." gumam Roni.
"Apa kau bilang hah!" Endah tentu mendengar Roni mengatakan bahwa dirinya berisik.
Roni hanya diam, enggan untuk menjawab.
"Endah." panggil Airen dengan lembut.
Endah melihat wajah Airen yang sedikit pucat, dia melihat mata sahabatnya yang terlihat sayu dan sendu.
"Ya ampun Ren, Lho kok bisa sih sampe mual-mual seperti ini. Atau jangan-jangan kare---."
Pletak..
Roni menjitak kepala Endah, saat ingin marah-marah, Endah melihat wajah Hans yang sudah tak bersahabat. Hampir saja dia keceplosan berbicara.
"Jangan-jangan apa?" tanya Airen.
"Jangan-jangan, Mmm Lho masuk angin. Ya masuk angin hehe." Endah mencari jawaban yang sekiranya tepat.
"Kakak, sarapan dulu." ucap Eza.
"Eza aja dulu, kan harus pergi ke sekolah." ucap Airen.
Eza mengangguk patuh, dia sarapan dengan tenang dan setelah itu meminta izin untuk pergi ke sekolah. Hans menyuruh Roni untuk mengantarkan Eza ke sekolahnya.
"Ren, aku mau ke toko lagi ya. Kasihan Mak Suma sendirian." ujar Endah.
"Iya Ndah, kamu hati-hati ya."
Endah pun pergi, dan tinggal lah mereka berdua. Airen tentu risih dan takut, dia menyuruh Hans untuk keluar dari kontrakan nya. Karena takut tetangga mengira yang tidak-tidak.
"Tuan, pergilah. Saya tidak ingin orang-orang, menduga hal yang tidak-tidak tentang kita." ujar Airen.
"Aku akan pergi, tapi kau harus makan!" ucapan Hans begitu dingin.
Ck, nih orang niat bertanggung jawab nggak sih. Kemarin-kemarin niat mau nikahin, sekarang malah cuek gini. Datar pula. Ehh kenapa jadi ngarepin nih orang sih. batin Airen.
Airen berdecak sebal, dia memanyunkan bibirnya. Dan beralih mengambil makanannya dan duduk di ruang depan. Saat hendak menyuap, Airen kembali merasakan mual.
Hoek.. Hoek..
Ya ampun Nak, apa kau tidak kasihan kepada ibu mu. batin Hans.
"Sini, biar aku yang menyuapi mu." Hans langsung mengambil makanan di tangan Airen.
Aaaaaaaaaa
Hans menyondorkan sendoknya, Airen sedikit ragu. Namun dia tetap memakan dari suapan Hans.
Hm Enak, kenapa sekarang tidak mual? tanya Airen dalam hati.
Sudah beberapa suap Airen makan, Hans melihat ada sisa nasi disudut bibir Airen. Dia mendekatkan wajahnya, untuk melihat lebih dekat, belum sempat Hans mengambil nasi itu. Tiba-tiba ada orang yang membuka pintu rumah mereka dengan kencang.
Bruk..
"Lihat, mereka mesum di sini!" ujar Marni, menunjukan kepada orang-orang.
Hans dan Airen membelalakkan matanya, mereka sama-sama terkejut. Hans langsung menjauh dari wajah Airen dan bangkit dari duduknya.
"Wahh, mereka harus dinikahkan. Ini nggak benar, karena merusak moral." ucap salah satu warga.
Semuanya nampak riuh, Airen kalut sendiri dia tak tahu harus apa dan bagaimana. Hans berusaha untuk tetap tenang.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu. Ini tidak seperti yang kalian bayangkan." ucap Hans.
"Alah, sok-sokan nggak mau ngaku. Udah ketangkep basah juga!" celetuk salah satu warga.
"Bawa saja mereka ke pak RT."
"Iya benar-benar, ayo bawa mereka. Kita harus menikahkan mereka."
Semua warga nampak riuh, Airen sangat pusing. Saat hendak bangun, tiba-tiba penglihatannya kabur.
Bruk
Airen pun pingsan, untung saja Hans sempat menahan tubuh Airen.
"Jika terjadi sesuatu hal kepada Cahya, aku tidak akan memaafkan kalian semua!" ucap Hans dengan dingin, dia langsung membawa Airen ke rumah sakit.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.
__ADS_1