Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 106


__ADS_3

Hai semuanya maaf ya, aku baru up. makasih banyak untuk kalian yang masih menunggu cerita ini.


Kesempurnaan tentang cinta ialah ikatan yang sah dalam pernikahan.


Hari ini, tentunya hari yang sangat mendebarkan bagi Bella. Bukan hanya Bella, tapi seluruh keluarga Mikhailov. Karena si duda anak satu akan segera menghapus gelar dudanya menjadi seorang suami.


Bima menatap dirinya di depan cermin, kemeja khusus yang dibuatkan oleh sang ibunda untuk dirinya di acara yang spesial ini.


Gin, hari ini aku akan menikahi Bella. Aku harap, kamu bahagia dengan semua ini. Aku harap kamu bisa menerima kehadiran Bella di dalam kisah kita. Meski aku tahu, kamu sekarang lebih bahagia di alam mu. batin Bima.


Lamunan tentang dirinya, Gina dan Bella waktu itu teringat jelas di benak Bima. Bagaimana dulu persahabatan mereka terjalin, bahkan Bima sendiri tidak menyadari bahwa ada seseorang yang terluka dibalik kisah cintanya bersama Gina. Namun, biar bagaimanapun itu bukanlah kesalahan Gina maupun dirinya. Karena memang sudah digariskan dalam takdir.


Bahkan Bima tidak percaya, wanita yang dulu dianggapnya sebagai adik. Kini sebentar lagi akan menjelma menjadi istrinya.


Krek..


"Daddy!" Gibran masuk ke dalam kamar sang ayah.


Bima lantas memeluk dan menggendong putranya, "Daddy ganteng ngga?"


"Ganteng dong, meski gantengan Uncle Hans. Tapi Daddy tetap yang paling ganteng bagi aku."


"CK itu sama saja kamu mengatakan bahwa uncle Hans lebih tampan." umpat Bima kesal.


Gibran memeluk leher Bima, ntah mengapa sikapnya berubah seperti ini. "Daddy, jangan pikirkan mommy ya. Semalam mommy datang di mimpi aku, kata mommy bilangin ke Daddy bahwa mommy bahagia dengan pernikahan Daddy dengan Mommy bella." ungkap Gibran menceritakan mimpi semalamnya.


Bima tertegun, mungkinkah ini pertanda bahwa Gina benar-benar setuju dengan pernikahan ini? Bima tersenyum lalu mengelus rambut Gibran dengan sayang.


"Gibran bahagia tidak?"


"Bahagia dong, karena sebentar lagi aku punya mommy. Makasih ya Daddy." ungkap Gibran mencium pipi ayahnya.


Bima tentu merasa lega dengan semuanya, syukurlah bila ini termasuk kebahagiaan Gibran. Tidak lama Hans dan juga Raja masuk ke dalam.


"Bim, sudah siap?" tanya Raja kepada adiknya.


"Uncle Hans, Daddy aku tampan kan?!." bukan Bima yang menjawab, melainkan Gibran bertanya kepada uncle nya.


"Masih tampanan Om Raja nih." sahut Raja.


"Di keluarga Mikhailov, Om Aja yang paling jelek." sontak ungkapan Gibran membuat Hans dan Bima tertawa terbahak-bahak.


"Kalau bukan keponakan, udah gue buang ke tengah laut." gumam Raja menahan kesal di dada.


"Ayo cepet, lo mau nikah ga. Ntar si Bella gue nikahin sama si Barra mau Lo?"


Pletak


"Bang, ada si Gibran. Ngomong kira-kira lah." ucap Hans.


Bima dan Raja menatap heran ke arah Hans, bagaimana tidak? Karena dia memanggil Raja dengan sebuatan Abang.


"Ini mah gue harus syukuran tiga hari tiga malem, tumben pake bangat bangat bangat adek gue yang paling cakep manggil gue Abang." ungkap Raja sebagai rasa syukurnya.


Sedangkan Hans hanya acuh melihat tingkah kakaknya, Gibran minta turun dari gendongan Bima. Lalu menarik tangan Bima juga Hans untuk keluar dari dalam kamar.


"Ayo Daddy, Uncle kita keluar, nanti ketularan virus nya Om Aja." ucap Gibran.


Demi apa Raja ingin sekali mengadu nasibnya kepada Tuhan, bahwa ini ketidakadilan yang dia rasakan paling dalam.


Awas aja Lo Bim, kalau sampe pas malam pertama nitipin si Gibran ke gue. Gue lempar tuh anak Lo ke tengah laut. batin Raja.


***


Sedangkan Airen dan Ratu menemani Bella berdandan, baik Airen maupun Ratu sangat antusias dengan kehadiran Bella di tengah keluarga ini.


"Mbak aku seneng bangat, ngga nyangka orang yang dulu pernah nolongin aku kini akan menjadi kakak ipar aku." ungkap Airen.


"Mbak juga seneng Ren, karena sebentar lagi Gibran punya mommy." ungkap Ratuu.

__ADS_1


Mereka berdua asyik berceloteh menceritakan hal-hal yang sering terjadi di mansion ini. Sedangkan Bella memilih untuk mendengarkan saja, sungguh ini kebahagiaan yang luar biasa bagi dirinya.


Tidak lama Mamih Hellena dan juga Bu Ani masuk ke dalam ruang make up, "Ini masih lama tidak? Penghulunya sudah ada." ucap Mamih Hellena.


"Sebentar lagi nyonya."


"Oke baiklah, Oiya Ren kamu di cariin suami kamu di bawah. Ratu, kamu di cariin Eranson juga. Kalian berdua ke bawah saja, biar nanti Bella Mamih yang nemenin." ucap Hellena.


Airen dan Ratu mengangguk patuh, mereka ke bawah lebih dulu. Airen hendak menghampiri suaminya, namun tidak jadi karena dilihatnya Hans tengah berbincang dengan para tamu yang ada. Airen melangkahkan kakinya mencari keberadaan anak-anak nya yang sedang bersama dengan Mbok Ti juga Ica.


"Mbok, sini biar Amira sama aku." Airen mengambil alih salah satu anaknya.


"Anak bunda udah wangii." ucapnya sambil menciumi pipi gembul Amira.


Lalu Airen bergantian mengambil Amara dari gendongan Ica, menimang-nimangnya dengan sayang.


"Sudah non, biar nona muda sama kita. Non temani Tuan Hans saja." ungkap Mbok Ti.


"Ngga apa-apa mbok, lagi pula acaranya belum mulai. Mau main-main sama mereka aja."


Mbok Ti dan Ica hanya mengawasi Airen yang tengah asyik bermain dengan anak-anaknya. Bahkan mereka dengan setia menemani. Sedangkan Hans mencari-cari keberadaan istrinya.


"Ron, kamu lihat istri saya tidak?" tanya Hans saat Roni lewat.


"Tidak tuan, saya belum bertemu dengan nyonya Airen."


Hans mengangguk, lalu kembali mencari istrinya. Kepala Hans sedikit pusing, karena dari kemarin dia kurang istirahat. Hans memilih duduk sebentar, memijat pelipis kepalanya.


"Hans, Lo kenapa?" tanya Barra yang melihat Hans duduk sambil memijat kepalanya.


"Pusing dikit."


"Apa perlu gue telpon dokter?" tanya Barra.


Hans menggeleng pelan, "Ngga usah, panggilin istri gue aja gih." ucap Hans dengan nada menyuruh.


Nih orang, mau sehat mau sakit kalau udah merintah emang semena-mena. batin Barra.


Barra mencari Airen, pucuk dicinta ulam pun tiba justru Barra melihat Ica. Dia langsung menghampiri sang pujaan hatinya.


"Hai Ica, kamu lihat Airen tidak?" tanya Barra.


Airen yang melihat Barra bertanya hal itu kepada Ica, dia pun berpikir apakah dia sama sekali tidak terlihat oleh Barra?


Ica dengan santai menunjuk Airen, "Itu nyonya Airen." sungguh menjengkelkan bagi Ica, karena pria yang ada dihadapannya ini bertanya hal yang sudah jelas adanya.


Barra sedikit kikuk, karena tidak menyadari bahwa Airen sedari tadi ada di dekatnya. "Oh ini, Ren dicariin si Hans. Dia sakit, noh orangnya lagi duduk di dekat vas bunga."


Airen sedikit terkejut, sakit apa suaminya? "Mbok, titip mereka sebentar." ucap Airen menyerahkan Amira ke mbok Ti dan Amara ke Ica.


Airen langsung mencari keberadaan suaminya, sedangkan Barra mengambil Amara dari gendongan Ica. Sengaja ingin lebih dekat dengannya.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya Airen menemukan suaminya yang sedang duduk sendirian. Airen pun menghampiri Hans. "Mas?" panggil Airen pelan.


Hans memasang wajah manjanya di depan sang istri, Airen terkekeh pelan lalu duduk di samping Hans. Dengan cepat Hans merangkul pinggang Airen, dan menyandarkan kepalanya di dada sang istri.


"Kata Barra kamu sakit? Apanya yang sakit?" tanya Airen lembut.


"Sakit kepala." ucap Hans memberitahu.


"Yaudah kamu tunggu sebentar ya, aku ambil obatnya dulu."


"Ngga usah, aku mau kamu disini. Susah bangat nyari-nyari kamu sayang."


Airen mengelus lembut kepala Hans, "Kalau ngga minum obat, nanti kalau kamu pingsan yang ada acaranya jadi kacau. Aku ambil sebentar ya."


"Kamu disini saja, ngga usah kemana-mana. Aku mau kamu."


Airen pasrah saja, sungguh kalau suaminya sudah mode manja seperti ini dia bahkan tidak bisa kemana-mana.

__ADS_1


"Pijitin yang." keluh Hans.


Airen dengan sabar memijat kepala Hans, berusaha untuk sedikit mengurangi pusingnya. Kebetulan sekali Roni lewat, "Mas Roni." panggil Airen.


Hans yang tadi memejamkan matanya, langsung melek saat istrinya memanggil Roni dengan sebutan mas.


"Apa kamu bilang?" tanya Hans dengan tatapan tajamnya.


"H-hah? Umm itu Roni tolong panggilin Mbok Nin, minta dia untuk bawa obat sakit kepala sama minum dan makannya." ucap Airen meminta tolong.


Roni mengangguk patuh, lalu pergi ke dapur memanggil mbok Nin. Sedangkan Hans merajuk karena panggilan istrinya.


"Mas, aku tuh ngga enak kalau manggil Roni aja. Kan tuaan dia, masa manggilnya gitu."


"Kamu nyonya, biarin aja ngga usah mikirin soal umur. Aku nggamau kamu manggil ke yang laen dengan sebutan mas."


"Iya mas, aku minta maaf ya. Yauda sini kepalanya aku pijitin lagi." Airen berusaha menahan kesalnya.


Mereka pun melanjutkan aktivitasnya, sampai mbok Nin datang membawakan makanan juga obat yang tadi Airen pinta.


"Nih ayo makan dulu."


"Suapin." rengek Hans manja.


Airen menahan kesal dalam hati, "Aaaa."


Hans memakan dengan lahap, setelah selesai makan. Airen pun menyerahkan obat sakit kapala kepada Hans untuk segera meminumnya.


Tidak lama terdengar suara pembawa acara, Karena acara intinya akan segera dilaksanakan. "Ayo mas, kita ke sana." ajak Airen.


Hans pun mengangguk, mereka berjalan menuju tempat akad. Riuh orang-orang melihat Bima dan Bella yang ternyata sudah duduk bersandingan.


"Para hadirin tamu undangan yang terhormat, di mohon untuk diam. Karena acara ini akan kita mulai sebentar lagi." ucap pembawa acara.


"Baiklah, saudara Bima apakah Anda siap?" tanya pak penghulu.


Bima mengangguk, lalu tangan mereka berjabatan. "Saudara Bima kyle Mikhailov bin William Mikhailov saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan pinangan mu Bella binti ....."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Bella binti .... dengan mas kawin tersebut tunai."


"Bagaimana para sak..."


"SSSAHHHH!!" Barra teriak paling kencang dan antusias.


"Alhamdulillah." ucap semua orang saat akad itu telah berlangsung.


"Biasanya yang jomblo yang teriaknya paling kencang." celetuk Raja, sontak hal itu membuat Barra memasang wajah masamnya.


Awas saja, kalau Ampe gue nikah. Gue adain pesta tiga hari tiga malam. batin Barra.


Bella dan Bima saling bertukar cincin, lalu menandatangani buku nikah masing-masing. Bella mencium tangan Bima, lalu bergantian Bima mencium kening Bella. Hal itu tentu saja mendapatkan sorotan dari Hellena dan juga Gibran yang sedari tadi bersama dengan sang Oma.


Syukurlah Bim, sekarang kamu telah memiliki istri. semoga pernikahan mu sakinah mawadah dan warahmah. batin Hellena.


Mommy, lihatlah Daddy dan mommy Bella sudah menikah. apakah mommy bahagia? Aku sangat bahagia mommy. batin Gibran.


Semua orang larut dalam lamunannya masing-masing, sedangkan Hans malah bermanja mesra kepada istrinya.


"Kita nikah lagi yuk." ucap Hans tiba-tiba.


"Apa mas? kamu mau nikah lagi?" Airen langsung menyingkirkan tangan suaminya dari perutnya.


"Ngga gitu yang, maksud aku kita akad lagi."


"Bodo aku sebel sama kamu, udah punya anak dua juga."


Salah lagi ya ampun. batin Hans.


Bersambung...

__ADS_1


Hai semuanya, sekarang Bima udah ngga duda lagi nih. Yang mau kondangan silahkan, pestanya belum kelar. sampe sini dulu ya, besok lagi pestanya.


Maaf aku baru sempet updet, makasih untuk kalian yang terus support aku. Jangan lupa Vote komen like dan hadiahnya yaa.


__ADS_2