Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 31


__ADS_3

(PERTAMAKALI MAKAN MALAM BERSAMA)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Setelah kejadian yang memalukan tadi, akhirnya Airen engga untuk berbicara dengan Hans. Airen malu karena Hans membahas tentang dia yang pernah mengumpatnya.


Airen memilih masuk ke dalam kamar, dia sungguh tak ingin berinteraksi dengan Hans. Airen sangat malu dibuatnya.


Sedangkan Hans mengira jika istrinya masih belum dapat menerimanya, dengan sabar Hans mencoba untuk tetap menjalani ini semua. Dia yakin, kelak Airen akan menerima dan jatuh cinta padanya.


Ngga apa-apa Hans, kau pasti bisa mendapatkan nya. batin Hans.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Hans.


Hans memejamkan matanya sebentar, tiba-tiba dia teringat koper yang sudah dia bawa kesini. Hans langsung menuju keluar, dia pun memarkirkan mobilnya lebih dulu ke halaman rumah Airen. Hans langsung membuka bagasi mobil, dan mengambil kopernya.


Saat Hans menutup bagasi, dia dikejutkan dengan kedatangan paman dan juga bibi nya Airen.


Mau apa mereka ke sini. batin Hans.


Marni melihat Hans dari atas hingga ujung kaki, dia benar-benar menyesal karena telah membiarkan Airen menikah dengan pria tampan dan juga kaya. Seharusnya anaknya lah yang bersanding dengan Hans.


Seharusnya waktu itu, aku ngga usah memprovokasi warga untuk menikahkan si Iren dengan bule ini. batin Marni.


"Assalamu'alaikum." ujar Yanto.


"Wa'alaikumussalam." jawab Hans dengan datar.


Hans masih diam, dia enggan untuk menawarkan masuk ataupun basa basi. Hans menatap tajam ke arah Marni, karena pernah hampir mencelakai Airen dan juga calon anaknya.


"Dimana Airen?" tanya Yanto.


"Sedang istirahat." jawab Hans dengan datar.


Arghh suaminya si Iren, kenapa harus seperti patung hidup sih. batin Yanto.


Sedangkan Airen diam-diam tengah mengamati mereka dari balik jendela, karena kamar Airen memiliki jendela yang langsung mengarah ke luar rumah.


"Astaga, apa yang sedang mereka bicarakan. Paman terlihat sangat kesal dengan Tuan Hans." gumam Airen.


"Aku ingin berbicara dengan keponakan ku." ucap Yanto, sedangkan Marni hanya diam. Dia takut dengan tatapan tajam yang diberikan Hans.


"Aku suaminya, bicarakan saja padaku." ucap Hans.


"Jadi begini, saya masih memiliki hak atas rumah ini. Karena rumah ini dibangun di atas tanah warisan yang saya miliki." ujar Yanto dengan percaya diri.


Tck. Kalian pikir, aku bodoh. batin Hans.


"Tapi saya membelinya dari Pak Udin, dan semua atas nama Pak Udin. Tidak ada atas nama anda. Jika anda ingin protes, anda boleh menemui Pak Udin. Dan meminta uang atas tanah anda kepadanya, karena saya telah membayar penuh untuk itu." ujar Hans.


"Saya engga peduli dengan Pak Udin, kamu harus membayarnya ke saya. Lagi pula saya ini termasuk mertua kamu, karena Airen adalah keponakan saya." ucap Yanto dengan penuh percaya diri.


"Mertua? baiklah, saya pikir kalian berdua juga termasuk orangtua Airen. Justru karena itulah, kalian harus mengikhlaskan tanah kalian kepada Airen, sebagai bentuk kasih sayang orangtua kepada anaknya." ujar Hans.


"Tck, ngga bisa gitu. Kami juga punya anak, tanah itu untuk warisan anak kami." ucap Marni.


"Mari kita selesaikan masalah ini ke pengadilan, siapa yang berhak atas tanah itu." ucap Hans dengan dingin.


Marni dan Yanto tiba-tiba saling pandang, mereka tentu takut. Karena memang tidak ada tanah mereka di atas rumah itu, rumah itu memang sepenuhnya milik Airen. Bahkan, mereka yang telah menjual rumah itu kepada Pak Udin dan memakan uangnya tanpa mereka kasih sepeser pun kepada Iren.


"Tidak usah ke pengadilan, saya ikhlaskan untuk Airen." ucap Yanto, mereka pun langsung pergi dengan perasaan marah serta kesal.


🌹


Hans tengah berada di dapur, sejak tadi Airen belum kunjung keluar dari kamar. Hans pikir istirnya tengah beristirahat, jadi dia enggan untuk mengganggunya. Sedangkan Eza, terlihat kaget saat mendapati Kakak iparnya yang berada di dapur.


"Lho, Om Hans?"

__ADS_1


Hans memutar tubuhnya, dia tersenyum melihat ke arah adik iparnya itu.


"Kapan sampai, Om?" tanya Eza dan langsung menghampiri Hans.


"Belum lama."


"Oh, Om e--ehh kakak aja deh. Kan sekarang Om Hans kakak ipar aku." ucap Eza sambil tersenyum.


Hans mengerenyitkan dahinya, dia pun mengulas senyum dan bertanya kepada Eza.


"Kamu sudah tahu?" tanya Hans.


"Sudah Kak, tadi kak Iren memberitahu Eza. Makasih ya kak." ucap Eza.


"Makasih buat apa?"


"Makasih, karena kakak mau menerima Kak Iren sebagai istri kakak. Aku senang, karena kita tak lagi kesusahan. Sebab kak Hans pasti memenuhi semua kebutuhan aku dan kak Iren, iyakan kak?"


Hans tersenyum, dan mengelus kepala Eza dengan sayang. "Tentu saja, apapun yang Eza inginkan tinggal bilang saja ke kakak. Oke." ucap Hans.


"Oke kak, oiya kak Iren kemana?" tanya Eza karena dia baru saja bangun tidur di kamar sebelah. Dan Eza ingin mengambil minum ke dapur ternyata malah bertemu dengan Hans.


"Sedang istirahat, Eza mau bantu kakak?" tanya Hans.


"Bantu apa kak?"


"Masak, untuk nanti makan malam."


"Memangnya Kak Hans bisa masak?" tanya Eza.


"Tentu saja." jawab Hans dengan cepat.


Mereka pun langsung bergerak cepat untuk memasak, Hans dengan sangat terampil dan telaten membedah ikan yang tadi diberikan Bahar.


Eza menatap kagum kepada kakak iparnya itu, tak disangka Hans sangat terampil dalam segala bidang.


Aku bersyukur karena suami kakak, adalah orang yang ahli dalam segala hal. Semoga Kak Hans juga ahli dalam menjaga dan melindungi serta menyayangi kakak. batin Eza.


***


Malam hari.


"Za, dimana kakak mu?" tanya Hans.


"Belum keluar kak."


"Biar kakak yang panggilin, kamu tunggu disini." ucap Hans.


Hans dibuat panik oleh Airen, pikiran negatif tiba-tiba menghantuinya. Hans langsung mengetuk-ngetuk pintu kamar Airen.


"Cahya, buka pintunya. Ayo kita makan." ujar Hans sambil mengetuk-ngetuk pintu.


Krukk.. Krukk.. (Anggap saja suara bunyi perut lapar)


"Duhh, lapar. Mau keluar tapi malu." gumam Airen.


"Airen Cahya Senjani! Kalau kamu ngga keluar, aku dobrak pintunya." ujar Hans penuh ancaman.


"Ayah mu, bawel sekali Nak." ucap Airen sambil mengelus perutnya, dia pun terkekeh pelan menyadari tingkahnya yang seperti ini.


"Cahya! dalam hitungan ketiga aku dobrak pintu ini."


1


2


Krek...


Airen membuka pintunya, dia langsung menunduk tak berani menatap Hans. Karena masih malu dengan kejadian tadi.

__ADS_1


Grep


Hans memeluk erat Airen, karena dia sangat mengkhawatirkan istrinya itu.


Bayangan malam kelam itu tiba-tiba muncul di dalam benak pikiran Airen, seketika dahinya bercucuran keringat akibat rasa ketakutannya.


Hans merasakan tubuh Airen yang bergetar hebat, Hans pun melepaskan pelukannya. Dilihatnya Airen yang tengah memejamkan matanya, dahinya berkerut dan bercucuran keringat.


"Cahya, Hei. Bukan matamu sayang, tatap aku. Tenanglah." Hans tahu pasti istrinya kembali mengingat tentang kejadian malam itu.


Airen membuka matanya perlahan, nafasnya tersengal-sengal. Keringatnya peluh membasahi seluruh wajahnya. Hans tersenyum tulus kepada Airen, dia mengusap lembut keringat yang ada di wajah istrinya.


Hans kembali menarik Airen kedalam dekapannya, namun saat ini dekapannya tidak begitu erat. Hans mengelus rambut Airen dan menciumi pucuk kepala istrinya itu.


"Tenanglah, ini aku, suami mu. Jangan takut, kamu pasti bisa menghilangkan trauma itu. Maafkan aku." ucap Hans dengan lembut.


Airen berusaha mengontrol hati dan pikirannya, dia berusaha menghilangkan kejadian itu dalam pikirannya. Airen langsung mengingat akan Mbak-mbak yang bercerita dengannya.


Aku harus bisa menghilangkan trauma ini, aku ngga mau menyesal dikemudian hari. Aku harus terbiasa dengan sentuhan yang diberikan Tuan Hans. batin Airen.


"M--Mas." ucap Iren terbata.


"Iya sayang?" Hans masih memeluk Airen, dan dia tersenyum senang karena Airen memanggilnya dengan sebutan Mas.


"A--aku, aku lapar." ucap Airen.


Hans terkekeh, dan melepaskan pelukannya. Dia menatap mata Airen dengan sangat dalam, Hans ingin Airen melihat ketulusan yang ada pada dirinya.


Blush.


Pipi Airen merona seketika, dia menahan malu saat ditatap seperti itu oleh Hans. Airen menatap ke arah lain, bahkan kakinya sulit untuk bergerak. Padahal dia ingin segera berlari menjauh dari suaminya ini.


Gumush bangat sih, istriku ini kalau malu. batin Hans.


"Sudah, ayo kita makan." ajak Hans.


Airen mengangguk dan mereka pun menuju dapur.


"Kakak, lama bangat. Aku lapar tau." protes Eza.


"Kan bisa langsung makan, ngga usah nungguin kakak." Airen duduk di samping Eza.


"Disuruh kak Hans, katanya ngga boleh makan sebelum kakak ikut makan. Oiya kakak mau tau ngga? semua masakan ini, kak Hans yang buat." ucap Eza dengan bangga.


Airen melirik sekilas ke arah Hans, dan dia langsung melihat ke arah lain saat matanya bertemu dengan mata Hans.


"Sudah, ayo cepat makan." ujar Hans dia pun duduk dihadapan Airen. Sedangkan kursi yang disamping Hans kosong.


Duh kenapa harus duduk di depan sih. batin Airen.


Mereka makan dengan hikmat.


Wah tak disangka, Tuan Hans ternyata jago masak. Ini enak bangat. batin Airen.


Hans tersenyum melihat Airen makan dengan lahap, dia pun menyendokan nasi lagi ke dalam piring Airen. dan tak lupa sayur dan juga ikannya.


Hans sedikit mencondongkan badannya ke arah depan, dia berbisik ditelinga Airen dengan lembu


"Makanlah yang banyak, aku akan lebih menyukai tubuh mu yang sedikit berisi." ucap Hans dengan lembut, dia pun segera menjauh dan tersenyum tanpa dosa ke arah Airen.


Seketika bulu kuduk Airen langsung berdiri, karena bibir Hans terlalu dekat dengan telinganya.


Dasar Omes! batin Airen.


Ini pertama kalinya kita makan malam bersama, bahkan sudah dalam ikatan yang sah. Aku bahagia melihat pemandangan seperti ini. Jika suatu saat kau bertanya, Apa makanan favorit ku? Maka aku akan menjawabnya dengan lantang. Makanan favoritku adalah yang dihabiskan bersamamu. seperti saat ini. batin Hans, dia tak henti-hentinya menatap sang istri.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.

__ADS_1


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


__ADS_2