
(PULANG KE DESA)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Airen tengah dilanda kegelisahan, dia sedang memikirkan bagaimana agar bisa melupakan kejadian dan trauma yang dia alami. Meskipun setiap Minggu dia menjalani perawatan rutin ke psikiater bersama Tante Hellena yang menemaninya. Namun, saat melihat Hans tetap saja rasa takut kembali menghantuinya.
Apa aku harus pulang ke desa? batin Airen.
"Kak, melamun aja. Aku udah laper, kakak masak apa?" tanya Eza yang mengagetkan Airen.
"Ayam kesukaan Eza dong." jawab Airen sambil tersenyum.
"Wahh enak nih, makasih ya kak." ucap Eza tersenyum senang.
"Makasih buat apa?" tanya Airen.
"Karena kakak uda masakin ayam kesukaan aku." jawab Eza sambil tersenyum riang gembira.
Hati Airen menghangat melihat senyuman yang terukir jelas di wajah sang adik, Airen pun melanjutkan aktivitas memasaknya.
🌹🌹🌹
Dilain sisi, Hans tengah menangis dalam diam di sudut kamar nya. Dia benar-benar sangat menyesal dengan semua hal yang terjadi antara diri nya dan Airen.
"Cahya, bisakah kamu memaafkan kesalahan saya. Kenapa kita jadi seperti ini." lirih Hans sambil meringkuk, menahan sesak di dadanya.
Andai waktu dapat di ulang, mungkin aku tidak akan mengajak Barra untuk pergi ke club. Aku sangat menyesali semua nya. batin Hans.
Hellena mencemaskan anak bungsu nya, sedari pagi dia tak kunjung turun ke bawah. Bahkan Hans enggan untuk di ganggu oleh siapa pun.
"Pih, Hans kok nggak keluar ya." Hellena nampak cemas dengan keadaan putra bungsunya.
"Tenang Mih, nanti juga Hans keluar." William berusaha menenangkan sang istri.
Kenapa aku malah mengingat tentang kejadian Hans yang ditinggalkan oleh Laura, saat hari pernikahan mereka. Hans, Mamih harap kamu nggak menyiksa diri kamu. batin Hellena.
"Mah, Pah. ayo makan." ujar Ratu kepada mertua nya.
"Kamu duluan aja Rat, bareng sama anak-anak, Mamih nanti bareng sama Hans." ucap Hellena.
Akhirnya Ratu kembali ke meja makan, Bima dan Raja menatap heran kenapa Ratu malah datang sendiri. Lalu dimana Mamih dan Papih nya?.
"Sayang, Mamih sama Papih nggak ikut makan malam?" tanya Raja pada istrinya.
"Nggak Mas, mereka bilang akan makan malam nanti bersama Hans." ujar Ratu.
"Lho, si Hans belum keluar emang Bim?" Raja bertanya ke adik kedua nya.
"Yo Ndak tau, Kok tanya saya." jawab Bima.
__ADS_1
Raja setengah kesal mendengar jawaban adiknya, kenapa orang-orang sangat menyebalkan seperti ini.
"Biar aku aja yang panggil Uncle Hans." ucap Eranson.
"Aku ikut ya Kak Elan." ujar Gibran, yang hendak mengikuti Eranson. Namun di tahan oleh Bima.
"No! kamu baru mendingan. Nanti dieleg sama Uncle Hans nangis lagi." ujar Bima.
"Ihhh Daddy nyeubeulin." Gibran mengerucutkan bibirnya.
"Dia benar-benar mirip Gina ya Bim." ucap Ratu kepada Bima.
Bima terkekeh pelan, memang benar Gibran adalah copy paste dari Gina. Hampir semua hal mirip dengan Gina, termasuk sifat nya.
"Sayang! jangan berbicara dengan si Bima. Nanti kamu naksir dia, secara kalian kan dulunya temenan." Raja nampak cemburu dengan adik nya.
"Ishh Mas Raja, bisa-bisanya berfikiran seperti itu." ucap Ratu.
"Yaa bisa aja kan, buktinya sekarang. Hans sama Bima memperebutkan satu wanita lagi, tapi sekarang yang menang si Hans. Karena dia make jalur pintas hahaha."
Pletak..
"Aduhh, sakit sayang." rengek Raja.
"Dih amit-amit, bucin bangat Lo." celetuk Bima yang melihat tingkah kakak nya.
"Dihh, Duda sirik aja. Wlek." Raja menjulurkan lidah nya ke arah Bima, Raja terus menempel kepada Ratu.
"Apa kamu bilang hah!" teriak Raja.
Hellena datang menjewer telinga kedua anak nya, Bima dan juga Raja meringis kesakitan meminta ampun pada ibunya.
"Aduhhh Mih, sakit. lepasin." pinta Raja dan Bima.
"Kalian nakal, seharusnya kalian malu sama umur!" ucap Hellena.
"Bim, Raja. Kalian panggilin Hans. Suruh ke dia makan, Mamih nungguin gitu." ujar William.
"Ko jadi kita sih, Pih."
"Apa? mau protes hah!" bukan William yang menjawab, melainkan Hellena.
Raja dan Bima dengan langkah yang lunglai mereka berjalan ke kamar Hans, mereka benar-benar sibuk dengan pikiran nya masing-masing. Merasa heran kenapa situasi ini tetap tidak berubah dari dulu.
Tck, meskipun udah punya anak. Tetep aja Mamih memperlakukan aku seperti ini. batin Bima.
Jadi keinget dulu, manggilin si patung idup tiap hari. Emang dasar si Hans, seharusnya dia sudah ada di meja makan sebelum aku dan Bima. batin Raja.
Tok.. Tok.. Tok..
"HANS ALISTER MIKHAILOV!" teriak Raja dan Bima bersamaan di depan pintu Hans.
__ADS_1
"Adek Lo ngeselin bangat dah, segala pake acara ngurung diri di kamar." Raja protes kepada Bima.
"Busetdah Ferguso, dia juga adek Lo. kita ini satu pabrik yang sama!" ucap Bima.
Cklek..
"Berisik!" ujar Hans saat membuka pintu, dengan santainya Hans langsung menutup pintu dan pergi ke bawah untuk makan.
Raja dan Bima hanya dibuat melongo oleh tingkah adek bungsu mereka, benar-benar tak tahu sopan santun.
"Adek Lo itu Bim?" Raja menyenggol lengan Bima.
"Bukan." jawab Bima santai, dia pun langsung pergi meninggalkan Raja yang masih bengong di depan pintu.
Gini amat nasib jadi kakak, kenapa Gue merasa bahwa Gue yang ternistakan di sini. suara hati Raja mengeluh.
🌹🌹
"Eza, kamu nggak apa-apa kalau kita pulang ke kampung dulu?" tanya Airen yang sudah bersiap-siap mengemasi baju-bajunya.
"Iya kak, nggak apa-apa. Tapi kita tinggal dimana? sedangkan rumah kita udah diambil sama Paman dan Bibi." ujar Eza.
"Kamu tenang aja, nanti kakak sewa kontrakan. Uang nya juga cukup, Kakak juga mau buka usaha di desa aja." Airen tahu bahwa adiknya mengkhawatirkan perihal soal keuangan, tapi beberapa hari yang lalu. Hans memberikannya uang cukup banyak.
Eza membantu Airen mengemasi barang-barang. Eza berharap dengan mereka pindah ke desa, kakak nya dapat kembali ceria seperti sedia kala.
Setelah di rasa sudah tidak ada barang yang tertinggal, Airen dan Eza menemui Ibu kontrakan untuk pamit dari sini.
"Bu, terimakasih banyak. Karena selama kami tinggal di sini, Ibu sangat baik kepada kami." ujar Airen.
"Iya Ren, sama-sama. Kamu emang mau pindah kemana?" tanya Ibu kontrakan itu.
"Ke Desa, ini Bu uang sewa kontrakan saya. Maaf ya Bu, kalau sering nunggak hehe." ujar Airen sambil terkekeh pelan.
"Iya nggak papa, yauda kamu hati-hati ya Ren. Maaf kalau selama tinggal di kontrakan Ibu, kamu kurang nyaman ataupun hal yang lain nya."
"Iya Bu, saya juga mohon maaf kalau selama tinggal di sini sering bangat nunggak buat bayar kontrakan. Yauda Bu, kami pamit ya. Assalamualaikum." ucap Airen berpamitan.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati Iren, Eza." ujar Bu Ratna si pemilik kontrakan.
Airen dan Eza jalan kaki untuk sampai di terminal bus, mereka berangkat sekitar jam 7 pagi.
Semoga ini jalan terbaik yang aku ambil, maafkan saya Tante Elle. Saya harus pergi dari sini, saya tidak ingin terbayang-bayang oleh kejadian kelam itu. Semoga kelak, hati saya bisa lapang untuk memaafkan Tuan Hans. meskipun rasanya sangat sulit. batin Airen.
Eza melihat raut kesedihan di wajah kakak nya, dia langsung menggenggam tangan Airen dan tersenyum ke arah kakak nya. seakan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.
__ADS_1