Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 38


__ADS_3

(REBUTAN DOKTER DAN CEO)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Pagi ini, Airen dan Hans sudah rapih, mereka menunggu Eza yang sedang mengemasi beberapa barangnya.


Hans membawa barang-barangnya, dan memasukannya ke dalam bagasi. Sedangkan Airen tengah menyantap roti dan juga susu di halaman depan rumah. Sambil melihat suaminya sedang memasuki barang-barang ke dalam bagasi.


Eza keluar dari dalam rumah, sambil menenteng tas sekolahnya. Dia menghampiri kakaknya dan duduk di sampingnya.


"Nyarap Za." ucap Airen menawarkan.


"Ngga kak, tadikan kita udah makan nasi goreng." jawab Eza.


Saat mereka tengah asyik mengobrol, Hans pun datang. Dia duduk di samping sebelah Airen, sehingga istrinya itu berada di tengah-tengah.


"Apa ada yang belum di kemas? Atau sudah semua?" tanya Hans kepada istrinya.


Airen hanya mengangguk sebagai bentuk jawaban, karena mulutnya penuh dengan roti yang ia makan.


Hans tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya yang menyantap makanan dengan begitu bersemangat.


"Kakak makan terus, nanti gendut lho.." ujar Eza memperingatkan.


Ntah mengapa perasaan Airen sedikit tersinggung dengan penuturan adiknya, dia pun menghentikan aktivitas makannya. Airen menaruh roti kembali ke dalam piring. Dia hanya cemberut tanpa menjawab ucapan Eza.


Hans pun menyadari jika istrinya tersinggung dengan ucapan Eza, dia pun menyuruh Eza untuk pergi masuk duluan ke dalam mobil.


"Za, kamu masuk duluan ke mobil ya." ujar Hans.


"Iya kak, oke." Eza langsung pergi masuk ke dalam mobil.


Hans menatap wajah istrinya yang cemberut, dia pun mengambil tangan Airen dan menggenggamnya. Airen menoleh ke arah Hans, ternyata suaminya itu tengah tersenyum dan menatap ke arahnya.


"Tidak apa-apa, Eza hanya bercanda. Gendut ataupun tidak, kamu tetap cantik. Lanjutkan saja makannya, mubazir rotinya kalau ngga dihabiskan." ucap Hans dengan lembut, dia berusaha agar istrinya tidak tersinggung dengan ucapannya.


"Aku ngga mau gendut." ujar Airen.


"Iya, ngga gendut. ini kan cuma roti dan susu. Tidak akan membuat mu gendut." Hans mengambil roti dan menyuapkannya kepada Airen.


"Aku bisa sendiri." jawab Airen, dia mengambil roti yang ada ditangan suaminya. Dan kembali menyantap roti itu.


Drrdddttt...


Papih? batin Hans.


Hans melirik ke arah Airen, dia pun tersenyum dan memperlihatkan handphone miliknya kepada Airen.


"Aku angkat sebentar ya, dari Papih." ujar Hans, dia pun sedikit menjauh dari istrinya.


πŸ“ž"Hallo, Pih?" tanya Hans.


πŸ“ž"Kapan kamu pulang? Papih mau berangkat ke Paris. Karena perusahaan disana sedang tidak stabil." ujar William memberitahu.

__ADS_1


πŸ“ž"Baiklah, hari ini aku pulang." jawab Hans.


πŸ“ž"Jangan lupa membawa menantu Papih, awas kalau kau pulang sendiri!." ucap William.


πŸ“ž"Iya Pih, aku pulang bersama adik ipar, istri dan juga anakku." ucap Hans.


πŸ“ž"Percayaa, sekali cetak langsung jadi." ujar William.


πŸ“ž"Hmm, langsung jadi dua." ucap Hans santai.


πŸ“ž"Apa!." teriak William kaget.


Tutt..


Hans mematikan panggilannya, dia tak ingin membicarakan hal itu sekarang. Nanti saja, biar menjadi kejutan untuk kedua orangtuanya.


***


Di TPU.


Mereka pergi mengunjungi makam orangtua Airen, Hans dengan setia menggenggam tangan istrinya. Eza melangkahkan kakinya lebih dulu, dia menjadi pemandu bagi Hans.


"Hati-hati sayang." ujar Hans, karena jalannya sedikit licin.


Mereka akhirnya sampai di makam kedua orangtua Airen, Eza yang begitu antusias langsung menceritakan semua hal yang terjadi.


Airen dan Hans melihat Eza yang begitu bersemangat membuat kedua insan ini tersentuh.


"Ayah, Ibu. Kalian tahu tidak? Kakak sudah menikah, dan ini suaminya kakak. Namanya Kak Hans, dia orang baik. Ayah dan Ibu tenang saja ya, kak Hans sudah berjanji akan selalu menjaga kakak dan juga aku." ucap Eza.


"Tapi aku sedih, karena saat kakak menikah. aku tidak diberitahu olehnya." ujar Eza.


Airen dan Hans tersenyum menampakkan giginya, penuturan Eza sangat lucu.


Ayah, Ibu. Yang dikatakan Eza benar, aku telah menikah. Dan ini suamiku, meskipun aku sempat membencinya. Tapi sekarang, aku sedang berusaha untuk menerimanya. Aku harap ibu dan ayah juga mendukung keputusan ku. Oiya.. Kalian juga akan segera memiliki cucu, Dokter bilang aku hamil anak kembar. Aku akan merawatnya dengan baik, seperti ibu merawat ku dan Eza dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. Semoga kalian bahagia disana, aku dan Eza akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Aku datang mengunjungi kalian, karena ingin berpamitan. Aku akan ikut dengan suamiku untuk tinggal di kota. batin Airen, karena dia tak berani untuk mengungkapkan isi hatinya di depan Hans.


Ayah dan Ibu mertua, aku Hans. Suaminya anak kalian. Aku berjanji akan selalu membuat Airen dan Eza bahagia, dan akan selalu menjaga mereka. Ayah mertua, Maaf. karena pernah membuat putri mu terluka. Tapi aku berjanji akan menukar setiap kesakitan dengan kebahagiaan. Ibu mertua, terimakasih karena telah melahirkan wanita secantik dan sebaik dirinya. Semoga istriku ini, bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kami. Seperti Ibu mertua. batin Hans.


"Kakak dan kak Hans, kok diam saja sih." ujar Eza.


"Ayo Za, sebaiknya kita mendoakan ibu dan ayah." ucap Airen.


Mereka pun memberikan doa untuk alm ayah dan ibu Airen. Setelah selesai, Airen dan Eza menabur bunga ke makam itu.


"Ayah, Ibu. Kami pamit, Assalamu'alaikum." ucap Mereka bersamaan.


Hans melajukan mobilnya, membelah jalanan desa yang begitu damai dan tenang. Hans berharap jika hubungannya dengan Airen lebih membaik lagi saat berada di kota.


🌹🌹


"Mih, Hans akan balik hari ini." ucap William memberitahu.


Apa!


Semua orang yang tengah berada di ruang keluarga, sangat amat terkejut.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Airen, Pih?" tanya Hellena antusias.


"Iya, dia kembali bersama istrinya." ucap William.


Apa!


Kini giliran Bima dan juga Raja yang dibuat kaget dengan ucapan sang ayah.


Jadi, Hans sudah menikah dengan Airen? lirih Bima dalam hati.


"Anak nakal itu sudah menikah? kenapa dia tidak memberitahu kita semua?" tanya Raja.


"Sudahlah, nanti saja tanyakan langsung kepada adik mu." jawab William.


"Bim, adik Lo beneran gila. Nikah ngga ngasih tau kita." ucap Raja, sedangkan Bima hanya terdiam. Tatapannya begitu kosong.


Airen, sekarang kamu benar-benar menjadi adik iparku. batin Bima.


Hellena menyadari jika anak keduanya sedang bersedih, bisa Hellena lihat raut wajah Bima yang kaget dan sedih.


"Bim, Lo kenapa sih diem aja. Sakit hati, gara-gara si Hans nikah sama calon Mommy nya Gibran?" tanya Raja dengan gamblang.


Ratu mencubit pinggang suaminya, karena dia tidak dapat menjaga omongan dan juga perasaan adiknya itu.


"Mas Raja, kalau ngomong tuh disaring." bisik Ratu ditelinga suaminya.


"Tapikan say---."


Pletak.


Belum sempat Raja melanjutkan kata-katanya, Hellena sudah lebih dulu memukul kepala anak sulungnya itu.


"Kamu diam saja, tidak usah berbicara apapun." ujar Hellena.


"Bim." panggil Hellena dengan lembut.


Bima mendongakkan kepalanya menatap ke arah Mamihnya dengan tatapan yang sendu.


"A--aku, aku masih ada urusan di rumah sakit. Aku pamit Mih, Assalamu'alaikum." ucap Bima, dan langsung pergi begitu saja.


Huuffhhh..


Hellena menghembuskan nafasnya kasar, dia tahu pasti saat ini Bima sedang sakit hati. Karena Hans sudah menikah dengan Airen, bahkan tanpa memberitahu semua orang.


"Tuhkan Mih, apa aku bilang. Si Bima pasti sedang sakit hati, gara-gara Hans nikah dengan Airen. Secantik apasih dia, sampai-sampai menjadi rebutan seorang Dokter dan juga CEO. Wah adik ipar ku ini ternyata sangat hebat dan berbakat." ujar Raja.


"Mas Raja!" teriak Ratu dengan tatapan tajam ke arah suaminya.


Astaga, istriku sudah marah. Bisa-bisa nanti malam tidak dapat asupan vitamin. Ini mulut tidak bisa dikontrol dikit napah. batin Raja merutuki kebodohannya.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen, dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❀️.

__ADS_1


__ADS_2