Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 84


__ADS_3

Hai semuanya, maaf aku baru sempet updet.


Selamat membaca ☺️


Kebahagiaan yang nyata tersimpan rapi dalam benak Hellena saat melihat seluruh anggota keluarganya kembali berkumpul bersama. Hellena menyunggingkan senyumannya, melihat keakraban yang terjalin satu sama lain. Kini dirinya bahkan tidak membeda-bedakan kasih sayang untuk cucu-cucunya. Kehadiran Airen mengajarkan Hellena banyak hal, dia bersyukur keluarga Hans sudah lengkap sempurna.


Sorot mata Hellena mengarah kepada Bima, melihat putra keduanya tertawa bersama dengan Gibran membuat hatinya damai. Namun tidak bisa Hellena pungkiri, jauh direlung hati Bima pasti laki-laki itu merasa kesepian.


"Bim, Bella kenapa belum diajak kesini?" tanya Hellana kepada putra keduanya.


Semua orang langsung menoleh ke arah Bima, terutama Raja yang menatap heran kepada adiknya.


"Bella? Memangnya Bella ada disini?" tanya Raja penasaran.


Bima tidak menjawab pertanyaan kakaknya maupun ibunya, dia memilih bangkit dari duduknya kemudian langsung mengambil jas dokter miliknya.


"Sudah siang, aku harus segera berangkat ke rumah sakit." ucap Bima lalu pergi begitu saja.


Dasar keturunan William. batin Hellena.


"Hans kamu tidak ke kantor?" tanya Raja.


Hans menatap jam dipergelangan tangannya, masih jam tujuh pagi. Hans memutuskan berangkat lebih siang, karena waktunya masih luang. Roni juga masih belum memberikan jadwal dia hari ini.


"Nanti siangan." jawab Hans.


"Hans ayo sekarang, berangkat bareng papih." ujar William, mendekatkan dirinya ke arah Hans.


"Lho Papih ngapain ke kantor?"


"Ck melakukan pengawasan terhadap kinerja kamu dan karyawan lainnya. Lagi pula Papih mau ngecek produk baru yang launching." ucapnya.


"Oke, ayo."


Hans dan William pun pergi bersamaan menuju kantor, begitupun dengan Raja yang langsung berangkat ke bandara karena dia ada jam penerbangan ke luar negeri.


Eza, Eranson dan Gibran pergi ke sekolah mereka ditemani oleh Ratu, kini hanya tinggal Mbok Nin, Hellana, Airen dan kedua anaknya di dalam mansion. Hellena menghampiri menantunya yang tengah menggendong Amara.


"Yang mirip kamu namanya Amira ya, dia sering bangat tidur dan tidak banyak cakap. Sedangkan ini adiknya bawel sekali." ujar Hellena menatap cucu-cucunya.

__ADS_1


Amira memang tidak banyak tingkah, bahkan dia terbilang tidak bawel meskipun di dalam keranjang bayi. Sedangkan Amara sangat bawel sekali.


"Iya mih, kakaknya sepertinya pendiam. Sedangkan adiknya lumayan rewel."


"Sepertinya sikap Amira mirip dengan Hans, wajahnya mirip kamu. Sebaliknya, Amara sikapnya mirip kamu dan wajahnya mirip dengan Hans." tutur Hellena.


Airen tersenyum, "Sepertinya begitu Mih."


Hellena menatap ke arah Airen, dan kemudian memeluk menantunya itu.


"Ren, mamih tau ada banyak kesalahan mamih terhadap kamu dan juga Hans. Mamih minta maaf untuk itu, maafin keegoisan mamih ya Ren. Sekarang mamih hanya berharap kebahagiaan untuk anak, menantu serta cucu-cucu mamih. Mau berapapun anak yang kalian inginkan, mau laki-laki ataupun perempuan yang menjadi cucu mamih. Mamih akan tetap berusaha untuk menyayangi mereka dengan adil, sebagai manusia tentu terkadang hati mamih lebih condong ke suatu hal yang lebih Mamih sukai. Tapi, mamih berharap kasih sayang mamih untuk semua cucu-cucu sama rata."


Airen tersenyum mendengarnya, dia bahagia karena kini mertuanya lebih bisa bersikap dengan baik dan dewasa.


"Aku sudah memaafkan mamih, sudah ya jangan dibahas lagi masalah itu. Yang terpenting sekarang hubungan keluarga kita sudah membaik, oiya mih aku mau bertanya suatu hal tentang mbak Bella."


"Kamu kenal Bella, Ren?"


Airen mengangguk, "Jadi waktu itu aku pernah ditolong oleh mbak Bella, aku juga kaget ternyata Mbak Bella kenal dengan mas Hans dan juga kak Bima." ujar Airen menjelaskan.


Hellena menarik nafasnya pelan, mungkin sebaiknya dia memberitahukan kepada Airen tentang cerita Bima, Bella dan Gina.


Hellena pun, mulai menceritakan tentang bagaimana pertemuan Bima dan Bella, terus sampai pertemuan Bima dan Gina yang membuat mereka berdua jatuh cinta satu sama lain.


"Jadi seperti itu ceritanya, Ren." ucap Hellena mengakhiri ceritanya.


Airen manggut-manggut, dia masih terpaku dengan kisah Bima, Bella, dan Gina yang Mamih Hellena ceritakan tadi.


"Ternyata kisah cinta kak Bima luar biasa ya." gumam Airen.


Hellena terkekeh, "Lebih seru dan menantang itu kisah cinta Raja dan Ratu, nanti kapan-kapan Mamih ceritain kisah cinta tentang mereka." ucap Hellena dengan senyuman yang begitu bahagia.


Wah aku semakin penasaran, bagaimana kisah mbak Ratu dan Kak Raja. Dari namanya saja mereka sangat serasi. batin Airen.


"Lebih baik sekarang kamu makan gih, biarkan Amira dan Ara sama mamih." ucap Hellena.


Airen mengangguk, "Baik, kalau gitu aku titip mereka ya mih."


"Iya Ren, jangan khawatir. Mamih akan menjaganya dengan baik."

__ADS_1


Airen pun pergi menuju dapur untuk mengisi perutnya yang kosong.


***


Bima sudah menghapus tuntas segala tuduhan tentang Bella tempo lalu, dia juga sudah menemukan orang yang membuat rumor tersebut.


"Jadi apa tindakan mu selanjutnya?" tanya Rio menatap Bima.


Bima menghela nafasnya pelan, "Memberi peringatan kepada Rani, atau perlu memecatnya. Kemudian menyuruh dia untuk meminta maaf kepada Bella, dan setelah itu aku berniat untuk memperjelas tentang perasaan ku terhadap Bella." ucap Bima.


Rio menatap sahabatnya itu sambil mengerutkan dahinya, "Memperjelas bagaimana?" tanya Rio tidak mengerti.


"Kau tahukan, bahwa aku menganggap Bella hanya sebagai adik ku. Karena dia sepantaran dengan Hans, dari dulu hingga kini aku hanya menganggapnya sebagai adik. Tapi sepertinya ada yang aneh dengan perasaan ku kepadanya belakangan ini."


"Cinta? Apa kau mencintainya?" tanya Rio tak percaya.


Bima menggeleng, pasalnya dia pun tidak mengerti terhadap perasaannya kepada Bella. Bima tidak tahu, perasaan apakah ini?


"Kalau cinta sebaiknya kau langsung ajak dia menikah saja, ingat umur mu sudah tidak muda lagi. Ngga usah pacar-pacaran segala lah." celetuk Rio.


"Hei apakah kau melupakan fakta bahwa kita seumuran? aku sudah pernah menikah, sedangkan kau? masih membujang diusia tiga puluh tahun."


Rio menghela nafasnya kasar, selalu saja dirinya ternistakan oleh Bima. Sebaiknya dia diam dan tidak angkat bicara.


"Aku hanya memberi saran saja, sebelum semuanya terlambat."


"Tapi apakah mungkin jika aku menikahi Bella, bukankah itu aneh? sedangkan aku menganggap dia hanya sebatas adik saja."


"Tidak mungkin kenapa? Bahkan sepupu saja bisa menikah selagi mereka tidak ada hubungan darah. Apalagi kau yang hanya menganggap Bella sebagai adik, itu hanya anggapan bukan benar-benar kenyataan kan?"


Bima menatap Rio tak percaya, tumben sekali laki-laki ini bisa berkata bijak seperti itu.


"Kau berobat dimana? tidak bisanya kau seperti ini."


"Ck sudahlah, sebaiknya aku ke ruangan ku saja. Kau itu mau aku bagaimana? begini salah begitu salah." ucap Rio tak tahan.


Rio pergi meninggalkan ruangan Bima, sepertinya duda yang satu ini telah menggoreskan luka di hati sahabatnya.


Astaga, seharusnya aku tidak mengatakan hal itu kepada Rio. Seharusnya aku berterimakasih padanya. Ck sudahlah, nanti saja aku berterimakasih. Sebaiknya sekarang aku mencari Rani. batin Bima.

__ADS_1


Bersambung..


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.


__ADS_2