Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 78


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Sudah seminggu Airen sadar, kondisi tubuhnya semakin membaik bahkan sekarang wanita itu tidak membutuhkan alat medis apapun. Tiga hari yang lalu, Airen bertemu dengan adiknya. Eza merasa bahagia karena kakaknya sudah sadar, namun Eza tidak diperbolehkan untuk menemani sang kakak. Airen meminta Eza untuk ikut pulang bersama Roni karena tidak ingin adiknya harus tidur di rumah sakit.


"Sayang, kamu benar sudah merasa sehat?" tanya Hans menatap wajah Airen.


Airen mengangguk, "Iya mas, aku bosan berada di rumah sakit. Kita balik saja ya." pinta Airen.


Hans tersenyum dan mengangguk, "Baiklah kalau itu mau kamu, aku akan konsultasi ke dokter terlebih dahulu tentang kondisi kesehatan kamu." ucap Hans beranjak dari ruangan.


Airen mengangguk menatap punggung suaminya yang sudah menghilang dari balik pintu, Airen melihat kedua anak-anaknya di keranjang bayi. Dia bahagia karena selama seminggu ini menghabiskan banyak waktu bersama anak dan suaminya, namun ada keresahan di hati Airen mengapa keluarga yang lain tidak pernah terlihat?


"Hallo anak-anak bunda yang cantik." ucap Airen dengan suara yang sedang menggoda anak kecil.


Salah satu anaknya yang terlihat sangat mirip dengan dirinya tertidur pulas, sedangkan anaknya yang terlihat mirip dengan Hans tertawa melihat Airen yang tengah menggodanya.


"Aduaduadu senyumannya manis bangat kamu ini, semoga sifat kamu tidak seperti papa kamu ya sayang." ucap Airen yang masih menggoda anaknya.


Grep


Hans memeluk istrinya dari belakang, menenggelamkan kepalanya diceruk leher Airen. "Kenapa memangnya kalau sifatnya seperti ku hem?" tanya Hans, ikut menatap wajah anak-anaknya.


Kamu tanya kenapa? Jelas aku tidak ingin anak-anak ku memiliki sifat seperti mu yang sangat menyebalkan. batin Airen.


"Kan mereka perempuan, pokoknya sifatnya harus seperti aku ataupun seperti kebanyakan wanita pada umumnya, pokoknya tidak boleh seperti kamu."


"Kita lihat saja nanti, bagaimana sifat dan sikap mereka. Yang harus kita lakukan sebagai orang tua adalah membentuk karakter yang baik untuk mereka sejak dini. Kita harus memberikan contoh yang baik-baik untuk mereka, jadi ayo kita bekerjasama untuk itu." ucap Hans yang masih setia memeluk pinggang istrinya.


Wah mas Hans, apa aku tidak salah dengar? batin Airen.


"Iya mas, jangan tinggalkan kami ya." lirih Airen, sontak hal itu membuat Hans terkejut.


Dengan refleks Hans membalikan tubuh istrinya agar menghadap dirinya, Hans menatap lekat kedua manik mata Airen ditatapnya dengan penuh kehangatan.


Cup


Hans mendaratkan satu kecupan di bibir ranum istrinya, Hans menangkup wajah Airen. "Sttsss jangan berbicara hal seperti itu, kita akan tetap bersama apapun yang terjadi. Kita akan membesarkan mereka bersama-sama." ujar Hans.


Grep


Airen memeluk erat suaminya, rasa hangat dari kenyamanan yang diberikan suaminya sungguh membuat Airen merasa tenang.


"Mas aku boleh bertanya?"


"Tentu saja."


"Kenapa hanya ada kamu saja selama aku di rumah sakit ini? Kemana keluarga kita?" tanya Airen pelan.


Hans mengusap lembut kepala istrinya dan mengecup pucuk kepala Airen, "Nanti akan aku ceritakan, sekarang kamu siap-siap ya. Roni akan menjemput kita." ucap Hans.


"Yasudah masnya minggir dong, sesak tau." portes Airen karena Hans masih memeluknya.


Cklek


Dokter masuk ke ruangan dengan sangat tiba-tiba, bahkan tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Hans langsung melepaskan pelukannya saat melihat kedatangan sang dokter.


"T--tuan, nyonya. Saya datang membawakan resep obat untuk nyonya, dan tolong pantangannya yang tadi saya sebutkan kepada tuan Hans diberitahukan kembali ke nyonya Airen. Apa saja hal yang tidak boleh dilakukan, dan tolong rawat luka bekas operasi nya dengan benar agar lukanya cepat kering." ujar sang dokter.

__ADS_1


"Iya dok, terimakasih. Kalau begitu silahkan dokter pergi dari sini. Masih ada banyak hal yang harus kami lakukan." pinta Hans dengan raut wajah datar.


Dokter itu langsung keluar saat melihat tatapan tak bersahabat dari Hans, sedangkan Airen merasa bingung dengan tingkah laku suaminya.


***


Bella ke rumah sakit untuk menemui temannya yang sedang dirawat, namun suster-suster di sana menatap tidak suka dengan kehadiran Bella. Tentu saja Bella merasa heran, apa yang sudah dia perbuat hingga orang-orang menatapnya dengan tajam?


Bella melihat dokter Novi, "Dokter Novi!" ucap Bella.


Dokter Novi menoleh ke arah Bella, wanita itu segera menarik Bella menjauh dari kerumunan banyak orang.


"Bel kamu kenapa ke sini?" tanya Novi khawatir.


"Lho memangnya kenapa? aku ingin menjenguk teman ku yang sedang dirawat."


"Kamu tahu tidak? Ada seseorang yang menyebarkan fitnah kepada mu, lihat ini." ucap Novi sambil memperlihatkan foto Bella yang keluar dari ruangan Bima dengan wajah yang terlihat acak-acakan.


Bella terkejut, dia lebih terkejut dengan kata-kata difoto itu yang mengatakan bahwa dirinya seorang ****** yang sedang berusaha menggoda dokter Bima namun tidak berhasil.


"Nov, percayalah aku tidak melakukan hal itu." lirih Bella.


"Aku percaya sama kamu Bel, tapi sebaiknya kamu pergi dari sini. Aku akan bantu kamu untuk mencari tahu siapa yang berani memfitnah mu, kalau perlu kita laporkan dia ke pihak berwajib atas tuduhan pencemaran nama baik." ujar Novi.


Bella terdiam, rasa kecewa terhadap Bima memenuhi hatinya. Andai saja laki-laki itu tidak berbuat demikian, mungkin saat ini tidak ada orang yang memfitnahnya.


"Yasudah kalau gitu aku pergi ya Nov, terimakasih bantuannya."


Bella pergi dari sana, wanita itu setengah berlari kecil agar cepat keluar dari rumah sakit ini. Karena Bella tidak tahan dengan tatapan tajam orang-orang yang melihat ke arahnya.


Bruk


"Lepasin kak!" ujar Bella dingin.


"Kamu kenapa Bel?" tanya Bima yang masih menggenggam tangan Bella.


"Bukan urusan kakak, lepasin!"


"Ngga ak--."


"Oh ternyata apa yang beredar itu benar ya, jal@ng ini sedang menggoda dokter Bima namun tidak berhasil. Pak Dokter hati-hati dengan jal@ng seperti dia, jangan sampai termakan rayuannya." celetuk salah satu suster.


Hati Bella merasakan sesak, baru pertamakali dalam hidupnya dia dituduh menggoda seorang pria bahkan dirinya dihina dengan sebutan jal@ng.


"Lepasin!" Bella menghentakkan tangan Bima kasar, setelah tangan Bima terlepas Bella langsung berlari pergi dari sana.


Bima diam ditempat, dia berusaha mencerna ucapan salah satu suster itu. "Apa yang kalian katakan?" tanya Bima.


"Jal@ng tadi sedang berusaha menggoda dokter kan, lihat ini dok dia pasti malu karena beritanya sudah tersebar luas." ujar suster itu sambil memperlihatkan berita mengenai Bella di dalam grup seputar rumah sakit itu.


Apa! Siapa yang berani menuduh Bella seperti itu. batin Bima.


"Hapus foto itu, atau kalian saya pecat! Dan ingat satu hal, bahwa dia bukanlah jal@ng!" ucap Bima dingin.


Suster itu kaget, dengan segera mereka menghapus foto Bella yang beredar. Bima dengan hati yang kesal segera pergi ke ruangannya untuk mencari tahu siapa yang menyebarkan berita itu.


***

__ADS_1


Ddrrddtt drrddtt


πŸ“ž"Ron, kenapa kau lama sekali!" protes Hans.


πŸ“ž"Saya sebentar lagi sampai Tuan."


Tut


Hans mematikan panggilan teleponnya, dia menghampiri Airen yang sedang duduk di sofa sambil menggendong salah satu anak mereka.


"Mas, sudah menyiapkan nama untuk mereka? kita belum memberikan nama untuknya lho." ucap Airen menatap suaminya.


"Nanti saja saat di rumah, kenapa kamu hanya menggendong dia, nanti kalau kakakmya cemburu bagaimana?" Hans duduk si samping istri nya.


"Lihatlah kakaknya tertidur pulas di keranjang bayi, tenang saja aku dapat berlaku adil kok mas."


Hans memeluk pinggang istrinya dengan posesif, "Tapi tetap harus aku ya, yang jadi prioritas utama. Kalau perlu nanti setelah pulang dari sini, aku akan mencarikan pengasuh untuk mereka."


Airen tidak menjawab dia hanya diam, karena takut salah bicara. Biar bagaimanapun Airen tidak akan membiarkan anak-anaknya lebih dekat dengan pengasuh, sebenarnya Airen ingin menjaga kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri. Namun apa boleh buat jika suaminya seperti Tuan Hans ini.


Tok tok tok


"Tuan, saya datang." ucap Roni mengetuk pintu.


"Masuk."


Roni segera masuk ke dalam ruang rawat itu setelah diperbolehkan mausk oleh Tuannya. Eza ikut dengan Roni, anak laki-laki berusia sebelas tahun itu langsung berlari masuk dan memeluk kakaknya.


"Kakak aku kangen." ujar Eza sambil terus memeluk Airen dari samping kiri, karena di samping kanan ada Hans yang juga memeluk Airen.


"Kakak juga kangen bangat sama kamu Za."


"Hallo keponakan Uncle Za yang cantik." ucap Eza menyapa keponakannya.


"Hello uncle Za." jawab Airen menirukan suara anak kecil.


Roni melihat raut wajah tuan Hans yang terlihat menahan kesal karena dunianya kini terbagi, ada rasa ingin menertawai atasannya itu namun enggan Roni lakukan.


"Tuan nyonya, sekali lagi saya ucapkan selamat atas kelahiran kedua nona muda Mikhailov." Roni mengucapkan selamat untuk Airen dan Hans.


"Terimakasih Ron." ujar Airen.


Hans menggendong anak pertamanya yang tertidur pulas, sedangkan Airen menggendong anak kedua mereka, Eza melangkahkan kakinya menyamai kakaknya, sedangkan Roni jalan dibelakang sambil membawa barang-barang Airen. Mereka berenam keluar dari rumah sakit dan segera menuju mobil, ada rasa bahagia di hati Airen karena kini dia dapat keluar dari rumah sakit.


Hans membukakan pintu mobil untuk istrinya, mereka berdua duduk di kursi tengah sedangkan Eza duduk disamping Roni. Airen terus menatap malaikat kecilnya yang wajahnya lebih dominan dengan wajah Hans.


"Tuan kita berangkat kemana?" tanya Roni, karena dia belum tahu kemana tujuan tuan nya.


Airen langsung menoleh ke arah suaminya, terlihat jelas bahwa Hans sedang memikirkan sesuatu hal.


"Apartemen ku." jawab Hans datar.


Ada apa ini? Apa mas Hans sedang berantem dengan keluarganya? Apa mungkin ada sebabnya karena aku? batin Airen terus bertanya-tanya.


Mulai hari ini, aku akan memulai kehidupan rumah tangga ku bersama dengan Airen dan juga anak-anak ku serta Eza. Aku berharap semoga kedepannya kebahagiaan terus menyertai keluarga kecil ku, meskipun aku tahu pasti papih akan mengancam dengan embel-embel posisi jabatan di perusahaan. Aku tidak peduli dengan jabatan dan juga kekayaan, aku pasti mampu mencari pekerjaan yang layak untuk menghidupi kebutuhan keluarga kecil ku ini dengan kemampuan ku sendiri. Maaf Mih, Pih aku memilih untuk keluar dari mansion itu. Aku akan memulai kisah baru ku yang indah bersama dengan istri dan juga anak-anak ku. batin Hans, semua rencana awal baru ini sudah tersusun dalam benaknya.


Hans sungguh-sungguh akan memulai kisah baru yang lebih indah bersama dengan istri dan juga anak-anaknya kelak.

__ADS_1


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.


__ADS_2