
(MENYAKITKAN)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Mentari pagi menyinari bumi dengan cahayanya, semua orang yang tengah tertidur pulas kini membuka matanya perlahan. Ada yang masih didalam mimpi, ada yang sudah mulai beraktivitas bahkan baru saja ada yang membuka matanya.
Airen menatap langit-langit yang ada di kamarnya, Airen tersenyum senang karena dia tak menyangka jika bisa kembali ke rumah ini.
Airen melirik ke arah samping, dilihatnya laki-laki yang masih tertidur dengan pulas. Airen mengukir senyumannya, melihat kebahagiaan penuh di wajah sang adik kemarin.
"Eza, takdir kamu harus jauh lebih baik dari pada kakak. Kakak mendoakan apapun yang terbaik untuk kamu." gumam Airen sambil mengelus kepala Eza.
Airen dan Hans tidur secara terpisah, karena Airen masih enggan untuk berkontak langsung dengan Hans.
Hoekk.. Hoekk..
Airen merasakan mual, dia punbergegas bangun dari tempat tidurnya. Airen langsung berlari ke arah kamar mandi, dan memuntahkan isi perutnya.
Hoekk.. Hoekk..
Airen menangis karena tak enak sekali rasanya jika harus mual-mual seperti ini, dia merasa lelah dan tak bertenaga.
Ada tangan kekar yang sedang memijat tengkuk leher nya, Airen sudah merasa lebih baik. Aroma parfum ini sungguh membuat dirinya tenang.
"Apa sudah enakan?"
Deg.
Airen langsung berbalik melihat siapa yang sedang memijatnya, dia pun sedikit syok dan reflek mundur ke belakang. Namun kakinya kurang keseimbangan, dengan cepat Hans langsung menangkap tubuh mungil istrinya.
Wajah mereka begitu dekat, Airen bisa merasakan hembusan nafas Hans. hembusan nafas yang sedikit panas, menerpa wajahnya. Hans mengamati wajah Airen, dan tatapannya beralih ke arah bibir ranum sang istri.
Hans perlahan mendekatkan wajahnya dengan Airen, dia mengikis jarak diantara mereka hingga hanya menyisakan jarak beberapa senti saja. Airen langsung memejamkan matanya, saat Hans hendak menyatukan bibir mereka suara teriakan Eza membuyarkan kesadaran mereka.
"Kakak." teriak Eza.
'Tck, menyebalkan.' batin Hans.
Airen tersadar, dia langsung mendorong tubuh Hans agar menjauh. Hans pun membantu Airen untuk berdiri. Dengan cepat, Airen langsung keluar dari kamar mandi.
"Kakak disini Za, kenapa?" tanya Airen.
"Aku laper."
"Yasudah, kakak buatkan sarapan ya. Kamu tunggu sebentar."
"Oke kak, aku tunggu diteras luar."
Airen mengangguk dan tersenyum, dia pun melihat ke dapur tidak ada apapun kecuali nasi bekas semalam dan satu butir telur. Airen pun berinisiatif membuat nasigoreng saja.
Airen memasak dengan senang hati, untung saja dia tidak mual-mual karena aromanya. Tangan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
Grepp
Airen membulatkan matanya, dia langsung berbalik badan dan mendorong sekencang mungkin agar Hans menjauh. Namun akibat dorongannya, Hans jatuh ke lantai dan kepalanya membentur meja makan.
"Awwhh." ringis Hans sambil memegangi kepalanya.
H--Hah.
__ADS_1
Airen dibuat kikuk sendiri, namun dia tersenyum senang. Siapa suruh main peluk-peluk saja.
"Kenapa kamu dorong saya?" Hans mengutarakan pertanyaan itu sambil bangun.
"Aku nggak suka dipeluk-peluk sama laki-laki brengs*k seperti kamu." ucap Airen.
Deg.
Sakit sekali rasanya, mendengar ucapan seperti itu, yang terlontar dari bibir wanita yang ia cintai.
"Maaf." lirih Hans, dia langsung pergi dari sana.
Ntah mengapa tiba-tiba Airen merasa bersalah, namun rasa itu langsung ditepisnya. Airen melanjutkan aktivitas memasaknya.
"Akhirnya sudah siap." gumam Airen.
Airen menuju ke arah depan teras rumahnya melewati Hans yang tengah duduk di ruang tamu, dia membawakan nasi goreng itu untuk Eza.
"Za, ini nasigoreng nya sudah jadi. selamat makan."
"Terimakasih Kak."
Airen mengangguk, dia kembali masuk ke dalam. Kini saatnya menyendokan nasi goreng untuk dirinya sendiri. Airen memilih makan di dapur, karena di ruang tamu ada Hans.
Kruukk.. Krukk.. (anggep aja bunyi perut yang lapar)
Hans memegangi perutnya yang terasa lapar, dia pun bergegas menuju dapur dan menghampiri Airen yang tengah asyik menyantap makanan.
"Cahya, sarapan untuk saya mana?" tanya Hans.
Airen melirik sekilas ke arah Hans, dia fokus menyantap makanannya. Bahkan Airen tak menghiraukan ucapan Hans.
"Apa? kalau mau sarapan ya tinggal bikin aja sendiri! Saya bukan babu kamu." ucap Airen yang langsung berdiri dari duduknya.
"Saya suami kamu! Suka atau tidaknya kamu terhadap pernikahan ini, kita harus tetap menjalaninya seperti kebanyakan pasangan pada umumnya!"
Brak
Airen menggebrak mejanya dengan kasar.
"Saya tidak pernah menginginkan pernikahan ini! Saya tidak ingin memiliki suami brengs*k seperti anda! Bahkan saya tidak menerima kehadiran anak ini!" ucap Airen dengan lantangnya.
Deg.
Berulang kali, hati Hans terluka oleh perkataan istrinya. Dia tahu, letak kesalahannya begitu fatal. Tapi bisakah Airen tidak menghukum anak yang ada di dalam kandungannya.
"Baiklah, aku akan membuat perjanjian untukmu. Lahirkan anakku, setelah itu kita berpisah." ucap Hans, dia langsung pergi begitu saja.
Hatinya benar-benar sakit, karena mendapatkan penolakan mentah-mentah dari Airen.
Airen menangis pilu meratapi segala nasibnya, dia tidak bisa menerima hal ini dengan mudah. Begitu sakit kala mengingat bahwa dirinya ternodai oleh Hans.
🌹🌹🌹
Hans menyuruh Endah untuk menemani istrinya, karena saat ini Hans ingin menenangkan pikirannya. Dia kembali ke kota bersama dengan Roni, Hans menitipkan uang kepada Endah untuk Airen. Dia enggan berpamitan kepada istrinya.
"Tuan?"
"Hm, ayo."
Roni mengangguk, dia langsung melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan Hans menatap ke arah luar jendela, airmatanya lolos begitu saja. Mungkin ini hal memalukan untuk seorang pria, namun Hans tak sanggup untuk tidak menangis. Mengapa rasanya lebih menyakitkan, ketimbang saat dia ditinggalkan di hari pernikahannya dengan mantan tunangannya.
__ADS_1
Ini sungguh menyakitkan. batin Hans.
Tuan, saya turut prihatin dengan keadaan anda. Saya berharap kebahagiaan untuk anda akan segera hadir. batin Roni.
Dilain sisi, Hellena menatap sendu ke arah bingkai foto anaknya. Karena Hellena tahu, sedari kecil Hans dituntut untuk displin bahkan dia kehilangan masa kecil dan remajanya. Hans dituntut untuk terus belajar, karena dirinya sebagai pewaris sang ayah.
"Hans, maafkan Mamih." lirih Hellena.
"Mamih, dimana Gibran?" teriak Bima, yang menanyakan keberadaan sang anak.
Buru-buru Hellena menghapus airmatanya, lalu tersenyum ke arah Bima. Sedangkan Bima menatap heran kepada ibunya, seperti seseorang yang tengah menutupi sesuatu.
"Mamih kenapa?" tanya Bima.
"Nggak apa-apa Bim, Oiya Gibran tadi di ajak pergi ke mall bersama dengan Ratu dan Eranson." ungkap Hellena.
"Mamih kenapa? Kenapa Mamih menangis." Bima tahu betul, pasti ibunya habis menangis.
Hellena tak tahan lagi, dia langsung menangis sesenggukan. Bima meraih tubuh ibunya, dan membawa ke dalam dekapannya.
"Hiks.. Ma--mamih kasihan sama Hans." ungkap Hellena.
"Nggak apa-apa Mih, Hans anak yang kuat. Dia selalu bisa untuk menyelesaikan masalah apapun." ujar Bima sambil menenangkan ibunya.
"Tapi Bim, Mamih kasihan sama dia. Kenapa permasalahan cintanya selalu rumit seperti itu." ungkap Hellena.
"Tenang Mih, aku yakin Airen kelak akan memaafkan kesalahan Hans. Mereka pasti bahagia, aku yakin itu." ujar Bima.
Hellena menarik nafasnya dalam-dalam, dia mencoba untuk tetap tegar dan tenang. Hellena melepaskan pelukan Bima, dia menatap anak keduanya lalu mengusap pipi anaknya dengan sayang.
Hellena tersenyum, "Iya kamu benar, Hans pasti akan mendapatkan kebahagiaan nya. Begitupun dengan kamu Bim, Mamih yakin kelak kamu akan mendapatkan pendamping hidup yang dapat menerima dan mencintai kamu dan juga Gibran." ucap Hellena.
Bima tersenyum senang, dia langsung mengecup pipi ibunya. Dan mencium tangan sang Ibu, namun tiba-tiba ada seseorang yang menjewer telinganya.
"Awwwhhh." ringis Bima memegangi telinganya.
"Dasar anak nakal! Beraninya kau mencium istriku!" ucap William yang langsung memeluk Hellena.
"Dasar orangtua." gumam Bima.
"Apa kau bilang? Hah!"
"E--ehh, nggak Pih. Aku nggak bilang apa-apa kok." ucap Bima sambil tersenyum menampilkan giginya.
Lebih baik aku pergi dari sini. batin Bima.
Dia pun langsung kabur sambil berteriak.
"Dasar orangtua, sama anak nggak mau ngalah wlek. Aki-aki bucin." teriak Bima.
"Heh Anak nakal! Awas kau ya." teriak William.
Hellena hanya menggelengkan kepalanya, dia bertepuk jidat melihat tingkah anak dan suaminya.
Hadeuhh, dasar.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.
__ADS_1