Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 7


__ADS_3

(PERIHAL KECOA)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Setelah minta beberapa hari untuk cuti karena harus merawat adiknya yang sedang sakit, akhirnya kini Iren kembali bekerja. setelah kondisi Eza sudah membaik.


"Eza, kamu istirahat aja ya. nggak usah main, soalnya baru mendingan." pesan Iren pada Eza.


"Iya kak, maafin Eza ya. karena sering sakit-sakitan, jadinya kakak bolos kerja deh buat jagain Eza."


"Hushh, nggak boleh ngomong gitu! kakak nggak bolos kok. kan kakak minta cuti sama Om Hans." ucap Iren.


"Ternyata Bos kakak, itu Om yang nabrak aku ya. kan aku bilang kakak tuh jodoh sama dia." ucap Eza.


"Ihh, sembarangan kamu kalau ngomong!"


"Barangkali jadi doa, biar kakak nggak perlu repot-repot nyari uang. kan nanti punya suami yang kaya raya." ucap Eza.


Iren hanya tersenyum mendengar omongan Eza, Iren tak meminta banyak hal untuk dirinya. dia hanya ingin kebahagiaan penuh atas adiknya.


"Kakak berangkat ya Za, kamu hati-hati di rumah. Dadah, assalamualaikum." ucap Iren.


"Iya kak, wa'alaikumussalam."


🌹🌹🌹


Iren masuk ke dalam kantor dengan senyum hangat pada semuanya, namun Bunga semakin tak suka dengan kehadiran Iren.


"Duhh enak bangat ya, kerja baru beberapa Minggu udah bisa dapet cuti." sindir Bunga pada Airen.


Airen memutar bola matanya malas, seperti biasa dia enggan untuk bertengkar dengan Bunga yang tiap hari selalu menyindirnya.


Saat sedang berjalan di koridor, Airen dikagetkan dengan kehadiran teman barunya. dia menyapa Airen dengan ramah.


"Haii Airen, Lo apa kabar? Gue kangen tau!" ucap Maya.


"Alhamdulillah, baik May. Lo gimana?" tanya Airen.


"Nggak gimana-gimana." jawab Maya, yang berhasil membuat Airen tertawa.


Sedari tadi interaksi mereka disaksikan oleh Hans dari cctv nya, bibir Hans mengukir senyum saat dia melihat senyuman dari Airen.


"Tuan Hans, saya dapat telepon dari Tuan Bara. kalau hari ini dia ingin bertemu dengan Tuan." ucap Roni.


'Tck, Tuan Hans kenapa sih! dia malah senyum-senyum sendirian.' batin Roni.


"Tuan!" teriak Roni.


Hans kaget dibuatnya, dia menatap tajam ke arah Roni yang mengagetkan dirinya. seakan tahu tatapan yang diberikan oleh Hans. akhirnya Roni kembali ke ruangannya.


Drrdddttt.. drddddttt..


πŸ“ž"Hei, aku ingin bertemu dengan mu! kenapa susah sekali." ucap Barra.


Tut..


Hans langsung mematikan panggilannya, saat ini Hans enggan untuk bertemu siapa pun. Tak lama, Airen masuk ke dalam ruangan Hans. dia memberikan sapaan selamat pagi untuk Hans, namun Hans tak menanggapinya. dia tetap berusaha untuk cool. karena Hans tak ingin jika hatinya kembali tertaut pada seseorang.


'Nih orang, manusia apa bukan sih. ada pula modelan orang kayak begini!' batin Airen.


Airen langsung membereskan ruangan Hans, kali ini dia membuka lemari buku yang sudah sedikit berdebu. Airen membuka laci yang ada di lemari tersebut. hingga ada satu kecoa yang hinggap di lengan Airen, namun dengan santainya Iren mengusir kecoa tersebut. Kecoa itu terbang dan hinggap tepat di depan Hans.


"Aaaaaaaaa Kecoaaaaaaaa!! Mamihh tolong!" teriak Hans.


hilang sudah wibawa dan juga karisma yang ada pada diri Hans, Airen langsung menoleh melihat Hans. Iren tertawa terbahak-bahak melihat wajah Hans yang ketakutan. Hans berlari ke sembarang arah tanpa melihatnya, hingga dia berlarian ke arah Iren.


Bruk..


Hans jatuh menimpa Iren, tubuh kekarnya menindihi tubuh mungil Iren. mereka berdua sama-sama diam mematung, tatapan mereka bertemu dan terkunci satu sama lain. Airen mendorong tubuh Hans, dengan kasar.


"Aduhhh, kira-kira dong Tuan. badan segede gaban malah nindihin badan sekecil gini." ucap Iren, sambil berusaha menormalkan detak jantungnya.


"Maaf."


hanya satu kata yang keluar dari bibir Hans, dia sungguh berterimakasih pada kecoa. karena berkat kecoa Hans bisa memeluk Airen meski hanya beberapa detik.


"Aneh bangat sih! pria arogan kaya Tuan. malah takut sama kecoa. hahahahaha" Iren kembali tertawa, mengingat saat Hans teriak ketakutan akibat kecoa.


"Gaji kamu saya potong sampe bulan berikutnya." ancam Hans.


"E--ehh jangan dong Tuan, masa saya nggak dapet sampe 2 bulan. kan perjanjiannya hanya sebulan!" ucap Iren memohon.


"Saya tidak peduli." Hans langsung pergi dari ruangannya.


'Tega bangat sih, padahal kan cuma ngetawain doang. sensi bangat lagian jadi cowok! gimana mau bayar uang kontrakan kalo gini caranya.' batin Iren.


🌹🌹🌹


Disaat jam pulang kerja, Iren merenung di depan kantor. dia bingung jika naik angkutan umum, pasti uangnya tidak cukup untuk makan sampai lusa. sedangkan besok dia juga harus membayar kontrakan.


"Woiii, ngelamunin apasih?" tanya Maya yang datang menghampiri Iren.


"Mikirin makan buat besok, kira-kira cukup nggak nih uangnya." jawab Iren.


Maya melongo dibuatnya, bagaimana bisa Iren memikirkan uang buat makan sampai segininya. Maya memang belum tau banyak hal tentang Iren, karena baru seminggu dia berteman dengannya.

__ADS_1


"Sabar, 2 hari lagi kan gajian." ujar Maya.


Iren tak ingin memberi tahu Maya, jika dia bekerja di sini hanya untuk mengganti kerugian Hans. tentu Iren tak akan mendapatkan gaji pertamanya, sebab gaji itu akan dibayar untuk mengganti kerugian Hans.


"Iyaa May, yaudah aku duluan yaa." ujar Iren.


"Iya Airen, kamu hati-hati ya. dadah, sampai jumpa besok!" ucap Maya.


Iren pun melambaikan tangannya, dia memilih untuk berjalan kaki. karena harus menghemat uang yang dia punya.


"Duhhh, ternyata masih jauh." gumam Iren.


sedangkan di mobil, Gibran melihat Iren dari kejauhan. dia memberitahu Daddy nya untuk memberhentikan mobil.


"Daddy, belenti. itu ada Mommy, kasian ya Mommy jalan kaki. pasti Mommy cape. Ayo Ded kita tolong Mommy." ucap Gibran.


Bima langsung melihat arah yang ditunjuk Gibran, dan benar saja Iren sedang berjalan kaki dengan perlahan.


Tiiitttt..


Bunyi suara klakson menyadarkan Iren dari lamunannya, dia melihat mobil yang ada di hadapannya. seperti tak asing baginya.


Gibran beranjak turun dari mobil, dan menghampiri Iren.


"Mommyyyyyy." teriak Gibran, dan langsung memeluk Iren.


Iren langsung memeluk dan membawa Gibran ke dalam gendongannya, Gibran memeluk erat Iren.


"Mommy, aku kangen cama Mommy!" ucap Gibran.


"Kakak, juga kangen sama Gibran."


Bima keluar dari mobil, menghampiri Iren yang masih setia menggendong Gibran.


"Gibran turun, kasian Mommy nya pasti cape." ujar Bima.


"Nggak apa-apa kok Mas Bima, Gibran nggak berat." ucap Iren.


Deg.


'Astagaa dia benar-benar memanggil ku dengan sebutan Mas.' batin Bima.


"Daddy, ayo anteulin Mommy pulang." ucap Gibran.


"Baiklah, ayo."


"E--ehh, nggak usah Mas. saya jalan kaki saja." ucap Iren menolak.


"No Mommy! ndak bouleh nolak tawaran aku cama Daddy." ucap Gibran.


"Maaf ya Mas Bima, saya jadi merepotkan." ucap Iren.


"Nggak apa-apa, ayo masuk."


Bima membukakan pintu mobil untuk Iren, Gibran juga ikut duduk di depan. dia duduk dipangkuan Iren, karena Gibran tak ingin jauh dari Iren.


Saat ditengah perjalanan, Iren melihat ada konter hp. pikirannya terbesit untuk menjual ponselnya. demi untuk menghidupi kebutuhan yang lainnya.


"Mas Bima, berhenti!" ucap Iren, dan Bima memberhentikan mobilnya.


"Kenapa?" tanya Bima.


"Sebentar ya Mas, saya mau ke sana dulu." tunjuk Iren ke arah konter hp.


"Yasudah, ayo saya antar." ucap Bima.


"Ehh nggak usah Mas, saya sendiri aja. ini lebih baik Mas jaga Gibran aja, dia tertidur." ucap Iren.


Gibran akhirnya dipangku oleh Bima, karena tak ingin jika tidurnya terusik. Iren pun turun dari mobil dan menjual ponsel miliknya. setelah selesai bernegosiasi, akhirnya dia mendapatkan uang dari hasil ponsel yang Iren jual. meski hanya mendapatkan satu juta dia ratus, namun Iren bersyukur. karena kontrakan yang dia tempati dapat terbayarkan.


Iren pun masuk ke dalam mobil Bima, dia mengambil alih Gibran dari pangkuan Bima. Gibran pun tak terusik sedikit pun, dia tetap menikmati tidurnya.


"Air, kamu tunggu sebentar ya. saya mau ke luar." kini bergantian Bima yang ingin keluar.


"Ohh yaudah Mas." ucap Iren.


Bima menghampiri konter hp, yang tadi Iren datangi. dia menanyakan kepada orang di sana. tentang Iren yang datang ke sini.


"Permisi Mas, tadi wanita yang datang ke sini ngapain ya?" tanya Bima.


"Oh ngejual hp Mas, katanya lagi butuh uang."


"Saya mau lihat hp, yang tadi wanita itu jual." ucap Bima.


"Ini mas, hp nya."


Bima meneliti Hp yang tadi Iren jual, dia benar-benar merasa sedih dengan kehidupan yang Iren jalani.


"Mas saya beli hp ini dan juga tolong berikan saya hp keluaran terbaru." ucap Bima.


dan akhirnya Bima membeli dua hp sekaligus, hp yang tadi sempat Iren jual. dan juga hp baru keluaran terbaru.


***


Mereka telah sampai di rumah Iren, Gibran pun menggeliat bangun.


"Mommy, kita udah ada di lumah Mommy ya?" tanya Gibran sambil mengucek-ngucek matanya.

__ADS_1


"Iya sayang, Gibran mau mampir nggak?" tanya Iren.


"Auu Mommy." Gibran menganggukan kepalanya.


"Tanya Daddy gih, boleh nggak mampir di rumah kakak." ucap Iren.


"Daddy, bouleh ndak?" tanya Gibran dengan mata berbinarnya.


"Iya ayo, Daddy juga pengen mampir ke rumah Mommy kamu." Bima buru-buru keluar setelah dia berbicara seperti itu, Iren hanya tersenyum menanggapi ucapan Bima.


"Mommy, lumah nya kecil ya. mending Mommy tinggal di lumah aku cama Daddy." ucap Gibran. yang masih dalam gendongan Iren.


"Ini bukan rumah kakak, kakak cuma ngontrak disini." ucap Iren.


"Kamu bukan asli orang sini?" tanya Bima.


"Bukan Mas, saya dari Desa. yang singgah di sini." ucap Iren.


Bima hanya ber-oh saja, dia hanya manggut-manggut.


"Assalamualaikum, Eza." panggil Iren.


"Wa'alaikumussalam, sebentar kak."


Ceklek


"Wahh, ada Om dokter." ucap Eza, yang melihat kedatangan Bima di rumahnya.


"Ayo Mas, masuk." ajak Iren.


Bima menatap seluruh ruangan itu, memang terbilang kecil bahkan ukuran kamar Bima lebih besar dari rumah ini. tak banyak perabotan yang ada, bahkan kursi pun tak ada. di ruang depan hanya ada tikar.


"Maaf ya mas, kalau nggak nyaman." ucap Iren.


"Iya Nggak apa-apa."


"Gibran sini sama Daddy dulu, kasian Mommy-nya pasti cape." ucap Bima.


"Ndak au Daddy, ntar Mommy peulgi." ucap Gibran.


"Hah Mommy? Kakak udah punya anak?" tanya Eza kaget.


"Mas Bima, tolong jelasin ke Eza ya. saya mau masak sebentar. Gibran mau ikut kakak, atau disini bareng Daddy sama Kak Eza?" tanya Iren.


"Dicini aja deh Mommy, aku ndak suka masak." ucap Gibran.


Akhirnya Bima menjelaskan semuanya kepada Eza, kini Eza mengerti. tak lama Iren membawa lauk pauk dan juga nasi ke ruang depan. Sebenarnya tadi pagi, Iren membeli 4 paha ayam, dan untung saja masih ada sisa tiga potong. cukup untuk Gibran, Bima, dan juga Eza. Iren hanya memasak telur ceplok untuk dirinya.


dengan telaten Iren menyendokan, nasi ke piring Bima, dan juga Gibran. Bima merasa senang, sudah lama dia tak mendapatkan perhatian seperti ini. dia seperti memiliki keluarga yang baru.


'Gina, apa kamu setuju? jika aku menikah dengan wanita yang dipanggil Mommy oleh anak kita?' tanya Bima dalam hati.


"Ayo Mas silahkan dimakan, maaf hanya ada ini saja." ucap Airen.


"Iya nggak apa-apa Air, justru saya yang minta maaf karena merepotkan kamu." ucap Bima.


"Mommy, cuapin aku yaa."


"Nggak boleh! kakak harus suapi Eza." protes Eza.


"Ihh kak Eza udah beusal, aku masih keucil. jadi Mommy halus cuapi aku yaa." ucap Gibran.


"Eza, kamu makan sendiri ya. kakak mau nyuapin Gibran." ucap Iren.


Eza cemberut, Bima akhirnya membuka suaranya.


"Eza disuapin sama Om ya, mau nggak?" tanya Bima.


"Iya Om Dokter mauuu." ucap Eza bersemangat.


Mereka akhirnya makan dengan disuapin, setelah Eza dan Gibran selesai makan, kini Iren dan Bima yang gantian untuk makan.


'Tenryata seperti ini, rasanya menjadi seorang istri dan Ibu. hahaha bicara apa aku ini.' batin Iren.


Cukup lama Bima di rumah Iren, karena hari sudah semakin gelap. pria itu pun tak ingin membuat kesalahpahaman warga setempat. dia akhirnya pamit untuk pulang, sebelum itu Bima menyerahkan bingkisan pada Iren. dan Iren pun menerimanya setelah beberapa kali dia berusaha untuk menolaknya.


"Makasih Mas." ucap Iren.


"Iya sama-sama Airen, yasudah kami pamit pulang dulu ya. maaf kalau saya dan Gibran sering merepotkan mu." ucap Bima.


"Nggak apa-apa Mas, Dadah Gibran hati-hati ya sayang."


"Iya Mommy, dadah. nanti kita ketemu lagi yaa." ucap Gibran, yang diangguki oleh Iren.


Setelah Bima pulang, Iren dan Eza masuk ke dalam rumah. mereka membuka bingkisan yang diserahkan oleh Bima. alangkah kagetnya Iren, yang mendapatkan uang lima juta.


"Astaghfirullah, ini banyak bangat." ucap Iren.


"Alhamdulillah kak, akhirnya Eza bisa beli seragam baru dan juga makan ayam tiap hari." ucap Eza.


Iren tersenyum melihat tingkah Eza.


'Maaf Iren, saya belum mau memberikan handphone ini kepada mu. saya rasa uang itu cukup untuk kamu, mungkin handphone ini akan menyusul nanti.' batin Bima, dia pun mengendarai mobilnya dengan perlahan.


bersambung..


Terimakasih banyak, untuk kalian yang sudah mampir dan baca cerita aku. jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya melalui vote, komen, dan like ya.

__ADS_1


__ADS_2