
(Resepsi 1)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Hari ini semua keluarga Mikhailov sangat ramai sekali, mereka semua sudah menuju gedung pernikahan Airen dan juga Hans.
Hanya tinggal Airen, Hans, Hellena dan William di kediaman Mikhailov. Airen benar-benar sangat gugup, dari semalam dia tidak dapat tidur dengan nyenyak.
Kenapa saat akad waktu itu, tak semendebarkan saat ini. Aku benar-benar gugup, padahal belum memakai gaun ataupun hal lainnya. batin Airen.
Cklek.
Pintu kamar terbuka, Hans tersenyum ke arah istrinya yang sudah mandi. Mereka berniat untuk dandan di gedung pernikahan nanti, karena ini masih pagi jadi Hans tak ingin terburu-buru.
"Sayang, ayo sarapan dulu." ucap Hans sambil duduk di samping istrinya.
"Ngga nafsu makan mas."
"Harus dipaksain sayang, kasihan anak kita. Aku takut nanti kamu kenapa-kenapa, kan kita mau acara. Aku suapi ya?"
"Tapi aku beneran ngga pengen makan mas, mules sama panas dingin rasanya. Jantung aku deg-degan bangat."
"Rileks sayang, kan akadnya udah. Lagi pula cuma ngadain resepsi saja."
"Deg-degan mas, aduhh aku jadi mulas nih." ujar Airen sambil memegangi perutnya.
"Yasudah buang air besar aja dulu, aku pasti nungguin kamu."
"Masalahnya mulas aja, dari tadi capek bolak balik kamar mandi."
"Bentar, aku buatin teh hangat. Kamu sarapan ya?"
Airen mengangguk, dia mengambil piring yang suaminya bawakan. "Makasih ya mas, maaf ngerepotin kamu."
"Tidak apa-apa."
Cup
Setelah mengecup singkat kening istrinya, Hans langsung pergi menuju dapur membuatkan teh hangat untuk istrinya.
Hellena melewati dapur, dia melihat anaknya yang sedang membuat teh hangat.
"Lho Hans, kamu belum siap-siap? Airen mana? Ayo kita berangkat ke gedung. Kan kamu dan Airen harus di make up dulu." ujar Hellena.
"Bentar ya Mih, Airen masih belum siap katanya."
"Buruan, ini sudah hampir jam 06.00"
"Kan acaranya jam 08.00, ngga usah diburu-buruin kasihan istri aku."
"Percaya yang sudah punya istri, dulu aja disuruh nikah nggamau." celetuk Hellena.
"Kata siapa nggamau?"
"Pas ditinggal kabur sama Laura, kan kamu udah ngga pengen nikah."
Hans tak menjawab ucapan ibunya, dia fokus membuatkan teh hangat untuk Airen. Setelah selesai membuat teh hangat, Hans langsung masuk lagi ke kamarnya.
"Sayang, nih teh hangatnya." ucap Hans sambil menyerahkan teh hangat itu.
"Makasih mas."
"Mulasnya sudah hilang?"
Airen hanya mengangguk, dia pun menyeruput teh hangat yang suaminya buatkan. Syukurlah rasa mulasnya sudah menghilang.
🌹
Dilain sisi, Bima terbangun dari tidurnya. Dia melirik jam ditangannya, ternyata sudah pukul 06.00 pagi. Bima melirik ke arah Bella, yang masih memejamkan matanya di atas brankar.
Bima langsung keluar dari ruangan Bella, karena dia harus bersiap-siap untuk menghadiri acara pernikahan adiknya.
"Sus, tolong jagain pasien di ruangan ini ya. Kalau dia menanyakan saya, bilang saja saya sedang ada urusan mendadak." ujar Bima berpesan kepada suster.
"Baik, Tuan."
Bima langsung pergi dari rumah sakit, dia melajukan mobilnya langsung ke gedung pernikahan Hans. Karena semua orang bersiap-siap di sana.
Aku harus menyiapkan hatiku, tenang Bim. Santai saja, lo pasti bisa melewati ini semua. batin Bima.
Tak lama akhirnya Bima sudah sampai di gedung pernikahan adiknya, ada banyak petugas yang menjaga. Karena tak sembarang orang dapat masuk ke dalam pesta.
"Selamat pagi, Tuan Bima." ujar salah satu staff.
Bima hanya tersenyum dan mengangguk, dia pun berlalu pergi masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Bima dikejutkan dengan teriakan anaknya.
"Daddy!!" teriak Gibran, yang langsung memeluk ayahnya.
"Hei son, wihh anak Daddy sudah tampan." puji Bima.
"Daddy kok semalam tidak pulang? Aku tidur bareng Oma dan Opa. Oiya, kita semua ngapain disini Daddy?" tanya Gibran.
"Maafin Daddy ya sayang, Daddy banyak pekerjaan. Nanti juga kamu tahu, mengapa kita disini. Daddy ke atas dulu ya, mau siap-siap." ujar Bima, dan langsung menurunkan Gibran dari gendongannya.
"Otey Daddy, aku mau main sama kak Eza. Dadahh Daddy. Daddy harus tampil yang tampan, agar Mommy mau sama Daddy." Gibran langsung pergi setelah mengucapkan hal itu.
Aku harus memikirkan cara bagaimana agar Gibran mengerti, bahwa Mommy yang dia sebut adalah istri dari Uncle nya. batin Bima, dia pun langsung menuju lantai atas.
**
Taklama Bima turun, dia hendak sarapan. Namun, ada salah satu gadis asing yang tengah mengedipkan mata ke arahnya.
Apa gadis itu gila? batin Bima.
"Woii, semalam kemana lo?" tanya Raja yang mengagetkan Bima.
__ADS_1
"Ck, mau tau aja apa mau tau bangat?"
"Gaya lo Bim, siapin hati tuh ntar mewek lagi pas lihat Hans dan Airen di atas pelaminan." ucap Raja.
"Lah idih, khawatir lo sama gue? Santai aja bang." ujar Bima sambil menepuk bahu Raja, dia pun pergi ke meja makan.
"Ade luknut, awas lo ya." geram Raja.
"Mas, Bima udah sampai apa belum?" tanya Ratu yang menghampiri suaminya.
"Ada sayang, noh bocahnya lagi ngambil makan. Nyiapin tenaga, biar ntar ngga lemes liat sang pujangga bersama pria lain di atas pelaminan." Raja terkekeh pelan.
"Mas Raja ngga boleh gitu, sama adik sendiri juga."
"Aku cemburu nih, kamu selalu belain Bima. Mentang-mentang dia temen SMA kamu." rengek Raja.
"Adik ipar mas, masa sama adik sendiri cemburu."
"Ya cemburu lah, bisa saja dia naksir sama kamu. Buktinya, Bima sama si Hans selalu mencintai wanita yang sama."
"Tapikan aku cintanya sama kamu mas, biarpun kadang kamu ngeselin bangat. Udah ayo, kita juga harus sarapan." Ratu menarik lengan suaminya.
🌹
"Mih, ini sudah hampir jam setengah 7. Dimana Hans sama Airen? Mereka belum turun juga." ujar William, yang sudah tak sabar menunggu.
"Sabar Pih."
Tak lama, akhirnya Hans dan Airen keluar dari kamar. Mereka menghampiri kedua orangtuanya.
"Hans, kamu lama bangat sih. Nanti saja digempurnya, kalau selesai resepsi." celetuk Wiliam.
Dasar orangtua, kalau aku bilang ke Papih bahwa aku belum dapat menggempur bisa-bisa diledekin. Udahlah diam saja. batin Hans.
"Maaf ya pah, ini bukan gara-gara mas Hans kok. Ini salah aku." ucap Airen sendu.
"Tuh Papih sih, menantu kita jadi murung gitu."
"E--ehh, tidak apa-apa nak. Mih, bantuin Papih dong." bisik William kepada Hellena.
"Sudah ayo, kita pergi. Airen maafin Papih kamu ya."
Airen hanya mengangguk kecil, dia digandeng oleh suaminya menuju ke dalam mobil. William tak mau kalah dengan anaknya, dia pun menggandeng Hellena.
Hadeuh, pasti iri sama anak sendiri. batin Hellena saat melihat tingkah suaminya.
Mereka pun segera pergi menuju gedung pernikahan.
***
Saat ini Airen tengah berada di ruang make up, dirinya benar-benar sangat gugup. Endah menemani sahabatnya itu dengan tenang dan santai.
"Rileks Ren, jangan tegang gitu atuh. Perasaan waktu akad mah kamu biasa aja." celetuk Endah.
"Isshh, beda Ndah." Airen mengerecutkan bibirnya.
"Iya beda, kalau sekarang kan udah cinta. Jadinya agak berbeda." celetuk Endah.
"Ya ampun bumil, moodnya gitu amat sih. Yauda deh aku minta maaf ya." ucap Endah.
Apa!
"N--nyonya sudah h--hamil?" tanya wanita yang sedang mengoles wajah Airen dengan make up.
Deg.
Ada perasaan sakit, kala mengingat bahwa dirinya hamil di luar nikah. Perasaan sesal itu kembali hadir dalam hati Airen.
"Duh, mbak ngga usah ikut campur. Lagi juga kenapa kalau teman saya sudah hamil? Kan ini hanya resepsi pernikahan. Teman saya dan tuan Hans sudah menikah lebih dulu, memangnya salah?" bela Endah.
Airen tersenyum melihat pembelaan Endah terhadap dirinya, beruntungnya Airen karena masih memiliki sahabat seperti Endah.
"S--saya pikir, nyonya ha--."
"Sudah, tidak sudah banyak bicara. Cepat selesaikan make up nya, nanti saya adukan kamu ke Tuan Hans." ujar Endah.
"B--baik, saya mohon maaf, tolong jangan adukan saya ke Tuan Hans." wanita itu langsung melanjutkan aktivitasnya.
Cklek.
"Wahh, kamu cantik bangat sih Ren. Mbak jadi iri." ujar Ratu, dia mengambil posisi duduk di samping Endah.
"Mbak bisa saja."
"Sudah selesai, sekarang tinggal pakai bajunya." ujar wanita itu.
"Ayo Ren, biar mbak bantu."
Endah dan Ratu membantu Airen untuk memakai gaun pengantin, jantung Airen berdegup kencang.
"Wahh, kamu cantik bangat Ren." puji Endah.
"Gaunnya yang cantik, Ndah." Airen terkekeh.
"Sudah ayo kita harus bersiap turun ke bawah." ujar Ratu, sambil memegangi lengan Airen.
**
Begitupun dengan Hans, dia sudah siap dan Rapih. Jantungnya sedikit berdetak, kala mengingat bahwa dia pernah berada di posisi ini sebelumnya.
Laura, aku sudah menutup kisah kita dalam gembok yang bernamakan kenangan. Aku harap kamu tidak kembali lagi ke dalam kisah ku, sekarang kisah ku hanya bersama Airen Cahya Senjani dan juga anak-anak kami, aku hanya mencintainya, hanya mencintai dia seorang. batin Hans.
"Hufhh, semoga aku bisa membahagiakan Cahya. Sebagaimana mana Papih selalu membahagiakan Mamih." gumam Hans.
__ADS_1
Cklek.
Raja masuk ke dalam ruang ganti Hans, dia menepuk pundak adiknya.
"Selamat bro, semoga kamu dan wanita pilihan mu dapat hidup dengan bahagia." ujar Raja.
Hans tersenyum, "Terimakasih k--kak." ujar Hans.
Raja tersenyum, dia langsung memeluk sang adik dengan erat. "Ku pikir, kau tidak lagi menganggap ku kakak. Bahkan saat akad nikah mu, kamu tidak memberikan kabar kepada kami." ujar Raja.
"Maaf, semuanya berjalan begitu rumit dan sulit." lirih Hans.
Raja melepaskan pelukannya, "Mungkin memang ini balasan untuk mu, karena kamu anak kesayangan Mamih. jadi, kisah hidup yang kamu alami jauh lebih berat ketimbang kami." Raja terkekeh saat mengatakan hal itu.
Hans hanya tersenyum biasa saja, karena ada sedikit rasa sakit dihatinya saat mengingat tentang kakak keduanya.
Cklek.
Bima masuk ke dalam ruang ganti Hans, dia langsung memeluk adiknya itu tanpa sepatah kata pun.
Raja tersentak kaget saat menyaksikan bagaimana Bima langsung memeluk Hans dengan lembut.
"Maaf." kata itu terlontar dari bibir Bima.
Raja tak kuasa menahan tangisnya, dia pun terisak menyaksikan kedua adiknya kembali akur.
"Maafkan aku juga." lirih Hans.
Bima melepaskan pelukannya, dia menatap Hans sambil tersenyum.
"Tidak, kau tidak salah. Aku yang salah, karena menaruh rasa terhadap istri adik ku sendiri. Jaga dan bahagia kan lah Airen, tentang Gibran jangan kau pikirkan. Aku sudah mendapatkan kandidat ibu sambung untuk Gibran, kau tenang saja Hans. Aku baik-baik saja, begitu pun dengan Gibran. Aku bahagia kalau kau dan Airen bahagia, percayalah aku sudah mengikhlaskan nya untuk mu. Rasa ku kepada Airen sekarang hanya sebatas kakak kepada adik. Kau lebih pantas dengannya." ujar Bima panjang lebar.
Hans merasa lega, kini dialah yang memeluk Bima. "Terimakasih kak, terimakasih banyak." Hans kehabisan kata-kata untuk mengucapkan rasa terimakasihnya.
"Sama-sama, jangan lupa kompensasi untuk Gibran ya. hehe."
Pletak.
"Hikss.. kau curang sekali." Raja memukul kepala Bima, masih dengan Isak tangisnya.
"Astaga, lihatlah. Betapa tidak beruntungnya si Ratu karena memiliki suami cengeng seperti mu." ujar Bima.
"Adik si@lan, aku tidak cengeng hanya terharu dengan kalian berdua. Hans jangan lupa juga kompensasi untuk Eranson ya. srroott (anggep saja suara tarikan ingus)"
"iihhh, Raja kau benar-benar jorok. akan kuadukan kepada Mamih." ujar Bima.
"Hei, ingus ku ini berkualitas tinggi." celetuk Raja.
"Aku heran, Mamih ngidam apa saat mengandung mu." Bima bergedik ngeri melihat tingkah laku Raja yang sangat berbeda.
"Sudahlah, sini kalian berdua. Aku ingin memeluk kalian, wahai adik-adik ku tersayang." Raja langsung memeluk Bima dan Hans.
Mereka bertiga berpelukan, saling memberikan kenyamanan dan kasih sayang.
"Bim, kau harus cepat menyusul si Hans ya. Agar kita bertiga dapat liburan bersama dengan pasangan masing-masing." ujar Raja.
"Sip pokoknya mah, asal gratis."
"Aku akan memberikan mu hadiah, jika mampu mencari ibu sambung untuk Gibran dalam waktu tiga bulan." Hans menantang sang kakak dengan iming-iming hadiah.
"Deal!" Bima langsung mengiyakan hal itu.
"Kalau lo gagal, lo harus ngasih hadiah ke gue." ujar Raja kepada Bima.
"Iya oke, siapa takut." jawab Bima.
Cklek.
Hellena masuk ke dalam ruangan, sambil menatap tajam ke arah tiga anaknya. Raja, Bima, dan Hans saling pandang.
"Dasar anak nakal!" ucap Hellena dengan suara yang sangat dingin.
Astaga, titisan Nenek lampir benar-benar kumat. Batin Raja.
Bima menyenggol lengan Hans, agar mampu membujuk Mamih mereka.
"M--mih, ayo kita keluar. Acara sudah mau dimulaikan?" Hans basa basi kepada Mamihnya.
"Ya ampun, anak Mamih tampan sekali. Ayo sayang, semua sudah menunggu kamu dan Airen." ujar Hellena dengan senyum yang mengembang.
Aku anak siapa? Dimana? batin Raja.
"Mamih duluan saja, nanti aku diantar oleh kak Raja dan kak Bima." ujar Hans.
"Oke sayang, jangan lama-lama ya. Muahh." Hellena mengecup pipi Hans dengan sayang.
What the heck!
Bima dan Raja saling pandang, mereka berdua langsung menjitak kepala Hans.
Pletak.
"Kau benar-benar keterlaluan, mengambil seluruh kasih sayang Mamih." ujar Raja.
"Awas kau Hans, jika sampai menyakiti Airen aku tak akan segan untuk merebutnya." ucap Bima.
"Hei, apa kalian sudah tak menginginkan kompensasi untuk anak-anak kalian?" tanya Hans dengan senyum yang menyungging.
"Aku menyesal, karena menolak tawaran Papih untuk menjadi penerusnya." gumam Raja.
"Hei, IQ mu sangat rendah dibanding dengan kami berdua. Bagaimana bisa kau menjadi penerus perusahaan Papih." celetuk Bima.
"Kalian berdua!! Benar-benar kurang ajar. Sini kalian!" teriak Raja.
Mereka bertiga malah bermain lari-larian di dalam ruangan.
Bersambung....
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.