Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 60


__ADS_3

(Bertemu kakak ipar)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Sudah empat hari Hans dan Airen berada di kota Paris dengan sejuta keromantisan yang ada, kedua pasangan itu sangat bahagia terlebih Airen, karena kini rasa trauma terhadap suaminya telah hilang.


Saat ini mereka sedang menikmati malam yang indah dan syahdu berkeliling kota Paris melihat-lihat pemandangan yang ada. Hans dengan erat menggenggam tangan istrinya.


"Mas, kapan pulang? aku kangen sama orang-orang di rumah." ucap Airen, yang tiba-tiba ingat dengan keluarga nya.


Hans menoleh ke arah istrinya, "Sabar ya, kita nikmatin dulu disini, nanti pasti pulang. Kamu tenang saja ya."


Airen mengangguk patuh, mereka pun melanjutkan aktivitas jalan-jalannya. Saling beriringan bersama, dalam keheningan malam.


Hans mengajak Airen untuk duduk, karena dia takut Airen kelelahan.


"Sayang, sini duduk dulu." ujar Hans menepuk-nepuk kursi kosong disampingnya.


"Ayo mas jalan-jalan dulu."


"Kamu memangnya tidak lelah? Atau aku kurang dalam membuat mu lelah."


Pletak.


"Ihhh udah dong jangan bahas itu, sebel." Airen mengerecutkan bibirnya.


Hans terkekeh, "Memangnya aku bahas apa? Perasaan tadi cuma bilang, apa aku kurang dalam membuat mu lelah."


"Tau ah, sebel sama kamu. Aku mau jalan-jalan sendirian saja." ketus Airen.


Hans menarik tangan istrinya dengan lembut, dan membawanya untuk duduk di samping dirinya.


"Sini, aku mau ceritain masa kecil ku." ujar Hans.


Airen mengerenyitkan dahinya, dia pun duduk di samping sang suami. Kepalanya dia letakan di bahu Hans, mereka menatap ke arah depan dengan pemandangan yang indah.


"Dulu, aku lahir di kota ini lho. Bahkan besar di sini juga, mungkin sampai usiaku 17 tahun baru pindah ke Indonesia. Karena papih ingin aku menjadi penerus perusahaan LovMart yang bercabang di Indonesia." ucap Hans.


"Waktu itu mbok Nin juga pernah cerita kalau kamu lahir disini, oiya kenapa kamu yang menjadi penerusnya? Kenapa ngga kak Raja atau kak Bima." ucap Airen dengan gamblang.


Hans langsung menatap ke arah istri nya, dengan tatapan tidak suka karena tadi Airen menyebut nama Bima.


"Ya ampun mas, kok aku sampai dipelototi seperti itu sih."


"Memang kamu berharapnya kak Bima yang jadi penerus papih yaa?" tanya Hans tidak suka.


"Astaga, sudah ah tidak usah cerita. padahal aku cuma nyebut namanya aja, kamu sampai segitunya melototi aku. Lagian juga dia itu kakak ipar aku, kamu kenapa sih cemburu bangat, kan kita sudah pernah membahas masalah ini." ketus Airen sebal dengan kecemburuan suaminya.


"Iya sayang maaf, hati aku saja yang masih belum menerima kalau kamu nyebut nama si Bima ataupun yang berkaitan dengannya, karena biar bagaimanapun dia pernah mencintai mu."


"Mas, kamu kan tahu. Aku cintanya sama kamu, aku juga sudah memberikan hak kamu. apalagi yang kamu takutin?" ucap Airen lembut.


Hans memeluk Airen dengan erat, "Jangan pernah pergi dari sisiku, apapun yang terjadi. Seberat apapun masalah dalam rumah tangga kita, jangan pernah kamu berniat untuk pergi." lirih Hans.


Airen tersenyum, sambil menepuk-nepuk punggung suaminya dengan sayang.


"Iya mas, aku juga maunya sama kamu saja, Seumur hidupku. Mas, maafkan sikapku dulu yang tidak menerima kehadiran mu."


Hans melepaskan pelukannya, dia menangkup wajah Airen dengan kedua tangannya. Menatap lekat mata indah sang istri, Hans tersenyum.


"Tidak apa, sudah ya jangan pernah bahasa tentang dulu. Kita jalani hari ini dan masa depan bersama, nanti kalau anak kita yang ini sudah lahir kita buat yang asli Made in Paris ya. nanti kita buat disini." ucap Hans tertawa lepas tanpa beban.


Plak.


Airen memukul lengan suaminya, sambil menatap tajam ke arah Hans.


Duh, istriku lama-lama seperti mamih. Kenapa suka sekali, memukuli seperti ini. batin Hans.


"Aduhh, ini namanya kdrt lho sayang." ujar Hans, pura-pura meringis.


"Aku cuma mukul pelan aja kok, lagiankan kamu tidak selemah itu. siapa suruh bicara sembarangan, padahal anak kamu saja sudah ada dua disini lho. Masa sudah mau ngerencanain lagi sih." ucap Airen menunjuk perutnya.


"Ngga apa-apa dong, harus direncanain. Aku mau punya anak yang banyak."

__ADS_1


"Dua anak cukup!"


"No sayang, aku mau lebih dari dua. Kamu tenang saja, aku bahkan sanggup untuk memberikan uang bulanan 50 juta perbulan kepada setiap anak." ujar Hans dengan bangga.


"Nggamau, pokoknya dua aja." kekeh Airen.


"Yauda kita tentuin lagi nanti, mending sekarang kita pulang ke hotel yuk. Sekalian praktek buatnya." ajak Hans dengan tatapan mesum.


"Ihhh mas, kamu kok jadi mesum bangat sih. Ngga mau pokoknya, aku masih mau jalan-jalan." rengek Airen.


Hans menghembuskan nafasnya kasar, dia harus mengalah saja daripada nanti tidak dapat sama sekali.


"Yasudah ayo jalan-jalan, tapi sehabis pulang mau ya." rengek Hans seperti anak kecil yang meminta permen.


"Tadikan sudah seharian ihh, masa masih kurang aja."


"Sayang." ucap Hans dengan wajah yang dibuat seperti anak kecil.


Astaga, nak lihatlah papa kalian. Kenapa menggemaskan seperti itu. Batin Airen.


"Iya, ayo sekarang jalan-jalan dulu." ucap Airen menarik lengan suaminya.


"Benar ya sayang, janji dulu pokoknya." ucap Hans sambil mengaitkan jari kelingking mereka.


"Yeayy, makasih sayang." ucap Hans.


cup.


Hans mengecup singkat bibir istrinya, mereka pun pergi melanjutkan jalan-jalan malamnya menikmati kota Paris dengan riang gembira.


🌹🌹🌹


Kini Laura sudah berada di Indonesia, namun wanita itu sengaja tidak ingin menampakan diri langsung kepada Hans.


Laura ingin menunggu momen yang pas untuk bertemu dengan Hans, saat ini Laura tengah berbelanja ke mall bersama dengan mamah nya.


"Mom, apakah gaun ini bagus?" tanyanya.


"Untuk apa kamu memakai gaun seperti itu?" tanya Lusi, karena melihat gaun yang Laura pilih adalah gaun yang minim bahan.


"Yasudah pilihlah, itu cocok untuk mu." jawab Lusiana.


Laura pun memilih gaun itu, dan mencari baju yang lainnya. Saat Laura tengah asyik memilih pakaian, tiba-tiba perutnya terasa lapar.


"Mom, aku mau cari makan dulu. Mommy ikut tidak?" tanyanya.


"No, mommy mau memilih baju yang bagus."


"Oke."


Laura melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari toko itu, Laura mencari tempat makan favorit dia bersama dengan Hans sewaktu dulu.


Bruk


"Awwhhh." anak kecil itu meringis kesakitan karena menabrak Laura.


"Hei bocah, bisakah kau berjalan dengan hati-hati!" teriak Laura mengomeli anak perempuan itu.


Anak kecil itu, menatap Laura dengan tajam. Untuk sesaat Laura terpana akan tatapan tajam anak ini.


Ini? Tidak, ini tidak mungkin. Jelas-jelas papa bilang bahwa an--.


"Tante kalau jalan tuh lihat-lihat!" teriak anak itu.


"Heh, beraninya kamu membentak saya. Jelas-jelas kamu yang salah." teriak Laura.


"Aku bilangin Daddy baru tahu rasa lho."


"Bilangin saja, lagi pula siapa yang takut dengan Daddy mu huh."


Daripada meladeni tante ini, lebih baik aku segera mencari mommy untuk Daddy. batin anak itu.


Anak kecil itu langsung pergi dari sana tanpa sepatah kata pun, sedangkan Laura menatap marah kepada anak kecil yang tidak punya sopan santun itu.


"Dasar anak jaman sekarang, pasti sifat dia menurun dari ibunya." gumam Laura.

__ADS_1


***


"Pelayan," panggil Laura yang sedang duduk sendirian.


Pelayan itu menghampiri Laura, dan menanyakan apa yang ingin dipesan. Laura pun memesan makanan favoritnya.


"Baik nyonya, tunggu sebentar ya." ujarnya, pelayan itu pun pergi dari sana.


Dilain sisi kini Bima, Bella dan juga Gibran tengah menyantap makanan di sebuah restoran yang ada di dalam mall.


"Bel, jagain Gibran sebentar ya. Aku mau ke toilet."


"Iya kak." jawab Bella.


Bima melangkahkan kakinya menuju toilet, namun dia kaget saat melihat sosok yang dia kenali.


L--Laura? batin Bima.


"Ini tidak mungkinkan, untuk apa dia datang kembali ke Indonesia?" gumam Bima bertanya.


Bima merasa bodoamat dengan kehadiran Laura, dia melewati meja Laura tanpa melihat ke arahnya. Sedangkan Laura terkejut melihat Bima yang melintas.


"Kakak ipar!" teriak Laura.


Sontak hal itu membuat semua orang menatap mereka, Bima tidak ingin mencari masalah dengan wanita ini. Sebenarnya Bima menahan amarahnya, karena Laura pernah menyakiti Hans sangat dalam.


"Hai kakak ipar, how are you? Do you miss me?" tanya Laura mendekat ke arah Bima.


Bima tak menghiraukan ucapan Laura, dia langsung pergi begitu saja namun tangannya di tahan oleh Laura. Bella yang menyaksikan hal itu sangat tidak suka, karena wanita itu memegang lengan Bima.


"Tante cantik, ayo kita bantu Daddy." ajak Gibran.


Bella mengangguk, dia menggendong Gibran dan langsung menghampiri mereka. Dengan sigap, Bella menarik lengan Laura agar dia tidak memegang tangan Bima.


"Heh, Siapa kamu hah!? Berani sekali terhadap ku." ujar Laura.


"Kenapa aku harus takut?" ujar Bella tidak kalah sinis.


Bima terkekeh dalam hati melihat wajah Bella yang terlihat menahan kesal dan marah, Bima hanya mengamati pertunjukan ini.


"Kakak ipar lihatlah wanita ini, dia menyakiti ku." ujar Laura, dia pikir Bima akan membelanya.


"Hei tante jelek, dia mommy ku. Apa urusannya dengan mu." celetuk Gibran.


"Berani kamu mengataiku jelek!" Laura hendak memukul Gibran, namun pukulan itu ditahan oleh Bima.


"Jauhkan tangan kotormu dari anak dan juga istri ku!" ucap Bima dingin.


Deg.


Apa!


"A--anak dan istri?" ucap Laura tak percaya.


Yes, Daddy akhirnya mengakui tante cantik sebagai istri. Selanjutnya tinggal aku memainkan peran ini, untung saja sudah direkam hehe. batin Gibran tersenyum penuh kemenangan.


"Kakak ipar jangan bercanda, aku tahu kamu dulu memiliki satu anak laki-laki. Tapi istrimu sudah tiada."


"Jangan pernah menyebut ku sebagai kakak ipar mu, aku bukan kakak ipar mu. Dengar ya! Hans sudah bahagia, dia sudah memiliki istri bahkan sebentar lagi dia akan memiliki anak. sebaiknya kau tidak usah kembali, lebih baik pergi sejauh mungkin. Atau aku sendiri yang akan menghancurkan mu." ucap Bima dengan dingin.


Tidak! Aku harus mendapatkan bantuan dari kak Bima agar bisa kembali bersama Hans. batin Laura.


"Ayo sayang kita pulang." Bima menggandeng lengan Bella yang masih diam mematung.


Deg deg deg


degup jantung Bella sangat kencang, terlebih dia masih terngiang-ngiang dengan ucapan Bima yang menyebut dirinya sebagai istrinya. Mereka pun pergi meninggalkan Laura yang sedang mematung.


Bersambung..


Maaf baru updet, terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


Selamat menunaikan ibadah puasa.

__ADS_1


__ADS_2