
Hari ini Bima bersiap untuk mencoba melamar Bella, siapa tahu wanita itu sudah berbaik hati menerima lamarannya. Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia membawa bunga juga cincin untuk melamar.
Hatinya berdebar kencang, ntahlah meskipun Bima sudah berpengalaman namun perasaan semacam ini memang sangat lumrah bagi laki-laki yang hendak melamar.
Beberapa jam perjalanan, hingga mobilnya terhenti di depan rumah yang sudah tidak lagi asing. Bima sudah meminta doa dan restu kepada Hellena agar dia dimudahkan dalam mengucapkan kata, hanya saja Bima memilih untuk tidak menceritakan hal ini kepada Hans juga Raja. karena dia takut dibully habis-habisan kalau semisalkan Bella tidak menerimanya.
Sebelum keluar dari mobil, Bima berusaha mengontrol degup jantungnya. Berkali-kali laki-laki itu menarik nafasnya dan menghempaskan nya perlahan.
Ayo Bim, Lo pasti bisa. Ada banyak yang ngasih dukungan, termasuk para readers. batin Author ini mah hehehe.
Perlahan Bima membuka pintu mobil, dengan bunga di salah satu tangannya. Saat Bima keluar dari mobil, dia merasa menjadi laki-laki yang gagah dan tampan. bukan tanpa sebab, Karena saat ini dia meminjam mobil milik Hans yang sangat keren.
Ada gunanya juga si Hans jadi adek, gue ngga perlu modal gede buat terlihat keren. batin Bima.
Laki-laki itu berjalan pelan masuk ke halaman rumah Bella, sementara itu Bu Ani yang hendak keluar melihat Bima dari jendela dekat pintu. Seketika wanita paruh baya itu terdiam, lalu masuk ke dalam kamar Bella dengan tergesa-gesa.
"Bella! Bangun neng, cepet mandi! Ada Bima di depan rumah." Bu Ani menggoyang-goyangkan tubuh Bella, awalnya Bella malas bangun namun saat mendengar nama Bima dia langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Ibu kenapa baru bilang sekarang sih." teriak Bella dari kamar mandi.
Bu Ani tidak menjawab, dia justru mengambilkan baju terbaik untuk Bella kenakan. Setelah itu dia pergi keluar untuk menyambut sang calon mantu.
Tok..
Belum sempat pintu terketuk tiga kali, namun sudah terbuka lebar. Bima cukup terkejut melihat sang calon mertua tersenyum lebar saat membuka pintu.
"Assalamu'alaikum Ibu." Bima mencium tangan Bu Ani.
"Wa'alaikumussalam, e--ehh ada nak Bima. Ayo masuk atuh, tunggu sebentar ya. Ibu buatkan minum."
"E--ehh ngga usah Bu, Bella nya ada?" tanya Bima.
Bu Ani nampak kikuk, mana mungkin dia mengatakan bahwa anaknya baru saja mandi. Apakah nanti Bima tidak jadi melamar anaknya, kalau seandainya laki-laki itu tahu kebiasaan Bella.
"Ada, mmm Bella la--lagi bersihin tempat tidur. Ibu buatkan minum sebentar, nak Bima duduk saja dulu." ucap Bu Ani, lalu pergi begitu saja meninggalkan Bima.
Bima tersenyum, Apa Bella sudah berubah? Biasanya dulu dia malas mandi pagi, tingkah wanita itu hampir mirip dengan laki-laki. Meski begitu, aku tetap mencintai nya. batin Bima tersenyum.
Tidak butuh waktu lama, Bella keluar dari kamar. Cukup tegang suasananya, karena Bima berpakaian rapih dan formal. "Kak Bima?"
Bima menoleh menatap Bella dari ujung rambut sampai kaki, memang banyak perubahan sekali dalam diri Bella. "Cantik." ucapnya.
Hal itu membuat rona wajah di pipi Bella, Bima sangat suka melihatnya. Bima menyerahkan bunga yang dia bawa kepada Bella.
"Untuk kamu."
Bella pun mengambilnya, "Terimakasih kak."
__ADS_1
Bima mendengus kesal, "Kamu lupa ya? kalau panggil aku kakak nanti ada hukumannya lho." Seketika Bella mengingat hukuman itu.
"M--maaf mas."
Bima tersenyum senang, saat mereka saling adu pandang tiba-tiba Bu Ani datang sambil membawa nampan berisikan air juga beberapa cemilan.
"Hayuh atuh duduk dulu, ini nak Bima silahkan di minum. maaf atuh ya, suguhannya hanya ini saja."
"Ngga apa-apa Bu." Bima duduk lalu mengambil air di gelas itu dan meneguknya.
Hening sejenak, tidak ada yang memulai pembicaraan. "Atuh ini teh kenapa jadi diem-dieman, malu ada ibu ya? yasudah atuh ibu tinggal kalian berdua." Bu Ani hendak pergi namun di tahan oleh Bima.
"Ngga usah pergi Bu, disini saja. ada hal yang mau saya bicarakan."
Bella terlihat heran, hal apa yang mau dibicarakan? Tiba-tiba saja jantung nya berdetak tak karuan.
"Sok atuh, memang hal apa yang mau dibicarakan?"
"S--saya, m--maksud kedatangan saya ke sini mau meminang Bella untuk menjadi istri saya." ucap Bima sedikit gugup.
Deg deg deg
Padahal Bella sempat memikirkan hal ini, namun tetap saja rasanya ah sulit untuk dijelaskan. Bima terlihat berkeringat, Bu Ani pun yang sudah menebak cukup terkejut dibuatnya.
"Bisa dibilang saya sedang melamar Bella, ini cincinnya. Kamu mau kan Bel?" kini tatapan Bima teralihkan kepada Bella.
"A--aku, ngga--."
"Hilihh, kamu teh ngga sinkron pisan. Bilang enggak, tapi kepala kamu tuh mengangguk iya." ledek Bu Ani.
"Ibu!!"
Bima terkekeh pelan, dia tidak ingin membuat Bella malu jadi sebisa mungkin menahan tawanya.
"Pakein saja cincinnya, Bella sudah mau kok." ujar Ibu.
"Bentar! Bagaimana dengan--."
"Aryo? Itu mah biar jadi urusan ibu, Bel. Kamu ngga usah mikirin soal Aryo, toh dia juga pasti menemukan pendamping hidupnya kelak." ujar Ibu menasehati.
Tanpa di sangka dan diduga Aryo datang, terlebih bersama putrinya. Hal itu membuat mereka terkejut bukan main, karena baru saja dibilang orangnya sudah datang.
"Ibu benar bel, insyaallah aku ikhlas melepas kamu. Cinta bukan hanya tentang memiliki, tapi juga mengikhlaskan."
"Kesambet dimana Lo?" tanya Bima tanpa ragu.
"Eh duda, harusnya lo bersyukur karena gue ngalah."
__ADS_1
"Duda teriak duda, gue sih bentar lagi bukan duda." celetuk Bima sambil merangkul pinggang Bella.
Meski Aryo berusaha untuk ikhlas, namun tidak bisa dipungkiri dalam lubuk hati terdalamnya dia masih merasakan ngilu saat melihat Bima dan Bella bersama.
Bu Ani mengambil putri, anak Aryo. mengajaknya ke dapur, membiarkan ketiga orang itu berbicara dengan santai dan nyaman.
Aryo menghela nafas berat, "Bel, insyaallah aku ikhlas. Berbahagialah, aku yakin si duda satu itu dapat membuat mu bahagia. Dan kalau nanti kamu tidak bahagia, aku masih sanggup untuk mendekap mu dalam tangis."
Kenapa jadi dia sih yang banyak bicara, harusnya kan ini momen gue buat mengungkapkan perasaan. batin Bima.
"Mas Aryo maaf, ak--."
"Aku yang minta maaf Bel, maaf jika kemarin-kemarin aku egois. Aku hanya minta, jika putri ingin main dengan kamu. Aku harap calon suami kamu itu tidak menghalangi." Bella melirik pada Bima.
"Tenang aja, gue ngga akan menghalangi aktivitas Bella dengan anak Lo. kecuali kalau ada Lo nya."
"Ck iya, yauda bel terima aja kasihan tuh duda pasti udah bulukan. Ngebet bangat pengen nikah romannya."
"Apaan sih Lo, so kenal so Deket." ujar Bima acuh.
Aryo yang melihat raut wajah Bima seperti itu, lantas langsung memeluk Bima dengan kencang. "Selamat ya pak duda, sini peluk biar gue ketularan dapet istri."
"Gila lepasin!! Bela sayang tolong!! Masa calon suami mu di peluk duda." ujar Bima memberontak melepaskan pelukan Aryo.
Bella yang menyaksikan itu sontak tertawa, sungguh dia merasa bahagia melihatnya. Hatinya menghangatkan melihat ini, dia berharap jika kelak ada sosok wanita yang dapat mendampingi Aryo dengan baik.
"Udah buru pakein tuh cincin, atau perlu gue yang wakilin?" ujar Aryo, sontak dapat tatapan tajam dari Bima.
Bima memakaikan cincin itu kepada Bella, sungguh rasanya sangat melegakan. Tanpa aba-aba, Bima langsung menarik Bella ke dalam dekapannya. Aryo hanya dapat tersenyum kecut menyaksikannya.
"Kalau mau mesraan tau kondisi dong! Gue kan lagi usaha buat lupain calon istri Lo. Nyeri hate da aing mah." keluh Aryo, lalu beranjak pergi ke dapur menyusul Bu Ani.
Bima tertawa melihat Aryo yang pergi, lalu tatapannya beralih menatap Bella sang pujaan hati.
"Makasih ya."
"Buat apa?"
"Makasih karena sudah menerima ku, Bel aku cinta kamu. Jangan pernah meragukan perasaan ku ya, kamu punya tempat tersendiri di hati aku bel. mulai sekarang panggil aku mas ya, jangan kakak lagi." ungkap Bima tulus.
Bella mengangguk iya, sungguh rasanya sangat bahagia. Dia bersyukur karena setelah sekian tahun perasaannya terbalaskan.
Bersambung...
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen hadiah dan like ya.
Btw, maaf ya mas Bima nya ngga bisa romantis)
__ADS_1