
(PERMASALAHAN KELUARGA)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Pagi ini, di kediaman Mikhailov.
Semua orang nampak sibuk dengan aktivitasnya, Ratu yang membantu Mbok Nin menyiapkan sarapan.
Gibran dan Bima, yang masih tertidur pulas. Raja yang sedang mandi, Eranson dan Eza yang sedang bermain bersama.
William yang sibuk dengan dokumen yang harus dia bawa ke Paris hari ini, serta Hellena yang sibuk menyiapkan barang-barang suaminya yang hendak berangkat ke Paris.
Sedangkan di kamar Hans, dia masih sibuk memandangi wajah istrinya yang tertidur pulas. Hans sebenarnya merasa bersalah karena sejak kemarin malam dia terus mendiamkan istrinya.
Cup.
Satu kecupan mendarat di dahi Airen, Hans bangkit dari tempat tidurnya dia pun langsung menuju kamar mandi.
Hufhh.. Papih akan kembali ke Paris, sudah dipastikan aku akan lebih sibuk. batin Hans.
Byurr.. Byurr..
Suara gemercik air membangunkan Iren dari tidurnya, wanita itu mengucek-ngucek matanya perlahan.
Airen menatap sekeliling kamar, tidak ada suaminya. Namun, Iren yakin jika suaminya sedang mandi karena suara air yang terdengar dari kamar mandi.
"Sebaiknya aku siapkan baju untuknya, aku harus bisa menjadi istri yang baik. Meskipun aku belum tahu tentang perasaan ku padanya." gumam Airen.
Dia beranjak menuju almari, dipilihnya pakaian Hans dengan sangat teliti. Mulai dari jas dan juga kemeja, serta celana dan juga dasinya.
Krek..
Krek..
Hans keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya sepinggang, Airen langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Hans menghampiri istrinya yang masih berdiri didekat almari dengan pakaian yang sedang dipegangnya.
Hans mengernyitkan dahinya, apakah istrinya itu sedang memilihkan baju untuknya? Hans tak menggubris, dia langsung memilih pakaiannya sendiri. Namun diurungkan, karena Airen sudah lebih dulu membuka suara.
"Ini, sudah aku ambilkan." ucapnya, dengan tatapan yang masih tertuju ke arah lain.
Hans menghela nafasnya perlahan, dia pun langsung mengambil pakaian yang dipegang istrinya.
"Terimakasih." ucapnya dingin, lalu pergi ke ruang ganti.
Mengapa hatiku terasa sakit? Mengapa aku tidak suka, kalau Tuan Hans mendiamkan aku. batin Airen.
Airen memutuskan untuk mandi, dia tidak ingin memikirkan hal yang membuat hati dan pikirannya tak karuan.
Setelah beberapa lama, Airen keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membalut tubuh mulusnya. Hans sedikit tercengang, begitu pun dengan Airen. Dia tersentak kaget saat melihat suaminya sedang duduk di sofa dekat balkon.
Airen buru-buru berlari masuk ke dalam ruang ganti, sedangkan Hans sedikit mengukir senyumannya. Tingkah istrinya membuat dirinya gemas sendiri.
Astagaa, kenapa aku bisa lupa. Bahwa ada Tuan Hans di dalam kamar, aaaaaa malu bangattt. batin Airen.
Airen langsung memilih baju untuk dirinya sendiri, dia tersenyum karena suaminya sudah menyiapkan semua keperluannya.
Airen
Airen keluar dari ruang ganti, dengan dress berbahan levis. Ntah mengapa semenjak hamil, dia lebih menyukai dress ketimbang harus memakai celana dan atasan.
Cantik, baju-baju seperti itu sangat cocok untuknya. Aku akan menyuruh Roni untuk membelikannya lagi. batin Hans yang menatap takjub kepada istrinya.
Tok..tok..tok..
"Uncle Hans, Tante Iren. Sudah ditungguin untuk sarapan!" teriak Eranson.
Airen dan Hans sama-sama tersentak kaget saat mendengar suara teriakan dari Eranson.
Cklek.
"Tante sarapannya sudah siap." ujar Eranson kepada Airen.
"Baik, Terimakasih ya."
Eranson hanya mengangguk, dia pun pergi untuk membangunkan Gibran dan juga Om Bima.
Saat Airen berbalik badan untuk memberitahu suaminya, namun ternyata Hans sudah berada tepat dibelakang istrinya. Sehingga kepala Airen membentur dada bidang suaminya.
"M--maaf, aku tidak sengaja." ujar Airen panik.
"Tidak apa, ayo." Hans mengajak istrinya untuk turun ke bawah.
Airen mengangguk, Hans berjalan di depan istrinya. Sedangkan Airen hanya mengekor dari belakang, ada kesedihan yang dirasakan dalam hatinya saat Hans tidak menggenggam tangannya.
***
"Om Bima, bangun! Sudah ditungguin sarapan sama yang lain." ucap Eranson.
__ADS_1
Bima langsung keluar dan memberitahu keponakannya, agar yang lain tak menunggu dirinya. Dia akan tidur lebih lama lagi.
Eran langsung duduk di meja makan, dan dia memberitahu semua orang agar tak menunggu Om Bima.
"Kata Om Bima, kita sarapan duluan. Om Bima sama Gibran nanti sarapannya." ucapnya.
Mungkinkah Bima tidak ingin melihat Hans dan juga Airen?. batin Raja.
Kenapa tiba-tiba aku ingin sarapan dengan bubur. batin Airen.
"Ren, kamu kenapa?" tanya Hellena yang melihat menantunya nampak bimbang.
"Ngga apa-apa, Mah." ucapnya.
Apa dia bersedih karena kak Bima tidak ikut sarapan? batin Hans yang menduga-duga.
Hans memilih sarapan dengan sandwich, dia tidak ingin makan yang berat-berat. Sedangkan yang lain ada juga yang sarapan dengan nasigoreng.
"Ja, anterin Papih berangkat ya." ujar William.
"Selagi ongkosnya oke mah, ya oke."
"Apaansih, ambigu bangat kamu."
"Yailah Papih, pura-pura tidak tahu."
"Mau ongkos berapa memangnya?" tanya William menantang.
"50 juta sekali berangkat."
"Oke." jawab William.
"Yes, gitu dong Pih. Sama anak ngga boleh pelit." ucap Raja.
"Ya Oke, tapi gaji mu di maskapai penerbangan bulan ini tidak cair." ucap William.
"Perhitungan bangat sih sama anak sendiri." ketus Raja.
"Perhitungan bangat sih sama orang tua sendiri." ujar Hellena membantu suaminya.
"Ihh Mamih, ngapain sih ikut-ikutan aja."
"Mas Raja sudah, lanjutkan sarapannya!" ucap Ratu kepada suaminya.
Mereka pun makan dengan hikmat, Airen hanya makan dua suap saja. Karena dia tidak berselera.
🌹
Hans berpamitan kepada semua orang, dia langsung pergi berangkat untuk bekerja.
"Aku berangkat." ucapnya dan langsung pergi begitu saja.
"M--Mas." panggil Airen terbata.
Hans menghentikan langkah kakinya, dia menoleh ke arah Airen.
"Ada apa?" tanya Hans.
Airen menarik tangan suaminya, dan mencium punggung tangan Hans dengan lembut. Dia tahu, pasti Hans masih marah dengannya karena kejadian semalam.
"Hati-hati mas." ucap Airen tersenyum.
Hans hanya mengangguk, lalu pergi begitu saja.
Kenapa rasanya sakit sekali, waktu di desa Tuan Hans begitu perhatian, lembut dan manis. Kenapa dia menjadi seperti dulu. batin Airen, hatinya terasa ngilu melihat sikap suaminya yang acuh.
**
"Airen kamu jangan kemana-mana ya, Ratu temani adik ipar mu ya. Mamih mau mengantarkan Papih ke bandara."
"Iya Mah." jawab Airen dan Ratu bersamaan.
"Eran mau ikut tidak?" tanya Hellena kepada cucu pertamanya.
"Ikut Oma, tapi sama kak Eza juga ya." ucapnya.
"Iya, ayo sama Eza. kalian berdua ikut Oma. Mumpung Gibran belum bangun. Let's go." ujar Hellena.
"Hati-hati Mas." ucap Ratu kepada Raja.
"Papah sama Mamah, hati-hati ya." ucap Airen yang sudah membiasakan panggilan untuk mertuanya.
"Iya, kalian juga di rumah hati-hati. Yang akur ya." ujar William.
Jagain adik ipar kita, kalau Bima deket-deket sama Iren lapor sama aku ya. Biar aku aduin ke si Hans, supaya si Gibran tidak mendapatkan kompensasi. bisik Raja kepada istrinya.
Bukan malah dapat dukungan, Raja malah mendapatkan cubitan di pinggangnya.
"Aww, sayang sakit." keluh Raja.
"Sudah ayo berangkat, nanti Papih mu kesiangan Ja." ujar Hellena.
Akhirnya mereka berlima pun berangkat.
🌹🌹
__ADS_1
Ratu ikut duduk di samping adik iparnya yang sedang melamun di ruang tamu, Airen tersenyum kepada Ratu.
"Airen, kamu jangan sungkan sama Mbak ya." ujar Ratu.
"Iya Mbak, Oiya mbak Ratu sudah berapa lama menikah dengan Kak Raja?" tanya Airen penasaran.
"7 sampai 8 tahun mungkin, kalau kamu sama Hans lagi kapan nikah nya? Itu anak ngga ngabarin ke sini. Mbak sampai kaget, tau-tau dia sudah bawa istri pas balik." ujar Ratu.
"Sekitar satu bulan Mbak." jawab Airen.
"Ooh, tadi kenapa sarapan mu dikit Ren? apa karena masakan mbak tidak enak?" tanya Ratu.
"Bukan begitu mbak, aku lagi kepengen makan bubur. Makanya tadi tidak nafsu." ucap Airen.
"Seharusnya kamu tadi bilang, biar Hans belikan. Sepertinya kamu ngidam." ujar Ratu memberitahu.
Airen hanya terkekeh pelan, dia tahu mungkin ini bawaan bayinya. Semenjak datang ke mansion ini, Airen terus ingin berada di sisi Hans. Dia masih kurang nyaman jika harus berkeliaran sendirian.
Saat mereka tengah asyik berbincang, Bima dan Gibran baru turun dari kamarnya. Bima langsung menuju meja makan dengan setelan jas dokternya, sedangkan Gibran berlarian menghambur ke Airen.
"Mommy!" teriak Gibran dan langsung memeluk Airen.
"Hallo anak ganteng." ucap Airen.
"Selamat pagi Mommy, aku sayang Mommy." ucap Gibran yang masih terus memeluk Airen.
"Lho.. Mamah ngga dipeluk juga nih? Mentang-mentang sudah ada Tante Iren." Ratu pura-pura marah pada Gibran.
"Ihhh Mamah Ratu iri aja deh. Iya nih aku peluk." Gibran pun bergantian memeluk Ratu.
Sedangkan Bima enggan untuk melihat interaksi anaknya dan juga Airen, hatinya begitu sakit jika mengingat saat ini Airen sudah menjadi adik iparnya.
Setelah selesai sarapan, Bima langsung menghampiri mereka meskipun saat ini hatinya masih tak karuan.
"Gibran, ayo ikut Daddy ke rumah sakit. Nanti kamu sarapan di sana saja." ujar Bima.
"Tidak mau, aku mau disini saja bersama dengan Mommy." ucap Gibran memeluk Airen dengan erat.
"Sudahlah Bim, biarkan Gibran disini bersama kita. Kamu tenang saja, Gibran pasti aman. Iyakan Ren?" ujar Ratu.
"Aa aaa I--iya Mbak." ucap Airen terbata.
"Oke, Gibran jangan nakal ya. Daddy mau berangkat kerja dulu." ucap Bima kepada anaknya.
Cup.
Bima mencium kening Gibran, dia pun bergegas pergi.
"Daddy, tunggu! ada yang ketinggalan." ujar Gibran.
"Apa?" tanya Bima penasaran, padahal dia sudah membawa semua barang-barangnya.
"Daddy belum mencium Mommy!"
Uhukk. Uhukk..
Ratu dan Airen langsung terbatuk saat mendengar ucapan Gibran, sedangkan Hans hanya membeo mendengar ucapan sang anak.
"Ayo Daddy, cium Mommy dulu. Seperti Om Raja mencium Mamah Ratu." ucap Gibran polos.
"Gibran, Om Raja dan Mamah Ratu adalah pasangan suami istri. Sedangkan Daddy dan Tante Airen bukan pasangan suami istri. Jadi tidak boleh melakukan hal itu." Bima memberitahu Gibran dengan lembut.
"Kapan Daddy dan Mommy menjadi pasangan suami istri?" tanya Gibran dengan tatapan polosnya.
Astaga Gibran, Tante Airen itu istri dari Uncle Hans. Bagaimana bisa menjadi istri Daddy mu. batin Ratu.
Hufhhh.. anak ini terlalu banyak bertanya. batin Bima.
"Tidak akan pernah." jawab Bima.
"Kenapa? Aku mau Mommy menjadi istri Daddy." ujar Gibran dengan tatapan sendu nya.
Astaga anak ini benar-benar menguras emosi. Daddy juga mau menjadikannya istri Daddy, tapi Uncle mu lebih berhak untuk menjadikan dia istrinya. batin Bima.
"Gibran, Mamah punya es krim baru lho.. kamu mau?" ucap Ratu megalihkan pembicaraan.
"Iya Mamah, aku mau." Gibran langsung bersemangat saat mendengar kata es krim.
"Ayo, kita ke dapur." ajak Ratu.
Gibran akhirnya pergi ke dapur bersama Ratu, untuk mengambil es krim. Sedangkan Bima dan Airen hanya sama-sama diam bahkan tak berani menatap satu sama lain.
Ehem..
"Maafkan sikap Gibran." ujar Bima.
"Tidak apa, dia masih kecil." jawab Airen, yang berusaha mengerti Gibran.
Bima bingung harus mengatakan apa lagi, hatinya menginginkan Airen namun pikirannya terganggu oleh adiknya.
Akhirnya Bima memutuskan untuk langsung berangkat bekerja, meninggalkan Airen sendiri di ruang tamu.
Ya Tuhan, semoga Mas Bima segera menemukan pendamping hidupnya. Agar Tuan Hans tidak lagi salah paham dengan ku dan juga Mas Bima. Semoga mereka kembali akur, aku tidak ingin menjadi sebab permusuhan bagi keluarga ini. batin Airen.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat, jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen, dan like ya.
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.