Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 55


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Satu Minggu kemudian.


Hari pun telah berganti, hubungan Bella dan Bima semakin dekat meskipun sampai saat ini Bima belum tahu kalau Bella belum menikah.


Bahkan hubungan Airen dan Hans juga semakin mesra dan dekat, meskipun terkadang ada kerikil dalam rumah tangganya. Namun mereka bisa saling memaafkan dan berakhir dengan perdamaian.


Barra dan Maya juga kian akrab, Barra yang memang sering mengunjungi perusahaan Hans, dia bertegur sapa dengan Maya teman dari Airen sewaktu ia bekerja menjadi office girl.


Endah dan Roni juga terlihat akrab, mereka bertukar pesan melalui WhatsApp. Bahkan Roni sepertinya sudah menaruh hati pada gadis desa itu.


Banyak hal yang terjadi di keluarga Mikhailov selama satu minggu ini.


Hari ini Airen dan Hans ingin berkonsultasi ke dokter kandungan, karena mereka ingin menikmati liburan bersama ke luar negeri.


"Mas, kamu serius mau liburan ke luar negeri?" tanya Airen tak percaya.


"Iya sayang, masa aku bohong. Sekalian honeymoon dan babymoon. Ayo kita periksa kandungan kamu dulu, kira-kira aman atau tidak jika berpergian jauh." ucap Hans.


"Nanti Eza bagaimana mas? aku ngga tega ninggalin dia sendirian di sini." Airen khawatir dengan adik semata wayangnya.


"Dia tidak sendirian sayang, kan ada Mamih Papih, Gibran Eranson, dan juga mbak Ratu yang akan menjaganya." ucap Hans lembut.


"Tapi mas--."


"Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Jangan mencemaskan soal Eza, aku pasti jamin Eza tidak akan merasa kesepian ataupun sendiri. Keluarga ku juga keluarga kamu, jangan khawatir oke?"


Airen tak menjawab dia hanya mengangguk, Hans berusaha memaklumi kecemasan istrinya. Karena biar bagaimanapun Eza adalah adiknya, sebenarnya Hans juga ingin mengajak keluarganya namun dia ingin menikmati waktu berdua bersama Airen lebih lama.


Maaf Cahya, untuk kali ini aku ingin egois. Aku ingin menikmati waktu berdua dengan mu, tanpa ada siapapun diantara kita. batin Hans.


Akhirnya Hans dan Airen pergi menuju rumah sakit, karena tadi Hans sudah membuat janji dengan dokter kandungan tersebut bahwa mereka akan tiba jam 08.00 di rumah sakit.


***


"Wahh, ternyata nyonya Airen benar-benar hamil anak kembar. Lihatlah ini mereka berdua, kondisi kesehatan semuanya bagus dana aman tidak ada yang perlu dicemaskan. Tapi tetap harus dijaga kandungannya, usia kehamilan nyonya juga sudah memasuki 4 bulan. Apa mau lihat jenis kelamin mereka?" tanya sang Dokter.


Hans nampak berbinar melihat anak-anak nya di dalam sana, tidak bisa dipungkiri jika satu kali mencetak dapat dua sekaligus.


"Mas, jangan diliat dulu ya jenis kelaminnya." ujar Airen.


"Kenapa sayang?" tanya Hans tersadar.


"Nanti saja ya, jangan sekarang."


Hans tahu jika istrinya takut untuk melihat jenis kelamin anak mereka, karena tuntutan dari sang ibu yang menginginkan cucu perempuan.


"Oke sayang, Dok apakah ini aman untuk diajak berlibur ke luar negeri?" tanya Hans kepada sang dokter.


"Wah ternyata kalian ingin mengadakan babymoon ya, sebenarnya kalau hamil anak kembar agak dikhawatirkan sekali jika ingin berpergian jauh. Tapi karena ini memasuki usia kehamilan empat bulan, dan semua kondisi kesehatan ibu dan janin aman. Jadi saya izinkan, tapi harus tetap dijaga kandungannya dengan baik ya. Nanti saya resepkan beberapa vitamin, untuk nyonya." ucap Dokter itu.


"Baik dok, terimakasih banyak." ucap Hans semangat.


"Ini benar tidak ingin melihat jenis kelaminnya?" tanya sang dokter sambil tersenyum.


Hans dan Airen menggeleng, keduanya kompak sepakat tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak-anaknya.


Setelah dari dokter, Hans mengajak istrinya untuk makan di sebuah restoran tempat mereka dulu bertemu untuk pertama kalinya.


"Mas, kita kok sini?" tanya Airen.


"Iya sayang, mari kita mengenang momen saat itu." ucap Hans sambil tersenyum manis.


Momen apaan, bikin kesel yang ada. Gara-gara nih orang, aku sampai dicepat oleh atasan. batin Airen.


Hans menggandeng tangan istrinya masuk ke dalam restoran, Hans memilih tempat waktu itu dia duduk.


"Sayang, kamu diam disini sebentar ya. Pesan saja sesuka mu, aku ke toilet sebentar." ucap Hans, dia pun berlalu pergi ke toilet.


Airen bersenandung kecil, dia memanggil pelayan karena ingin memesan makanan dan juga minuman.


"Mbak." panggil Airen.


Pelayan itu langsung datang menghampiri, dan dia tergelak kaget saat mendapati Airen disini dengan pakaian yang bagus.

__ADS_1


Nur menatap Airen dari ujung kaki hingga kepala, dia benar-benar kaget dengan penampilan Airen saat ini.


"Hai Nur, kamu apa kabar?" tanya Airen ramah, kepada teman sewaktu dulu dia bekerja disini.


"Halah, jangan so baik deh lo. Ngapain ke sini hah? Mau nunjukin kalau sekarang lo ini udah banyak uang, iya? Heh Ren, jadi orang ngga usah kecakepan deh lho. Pasti barang-barang yang lo pakai, dari om-om ya. Dih, gue sih ogah jadi lo. Ngejual diri, demi mendapatkan barang-barang mewah. Inget Ren, ngga halal!" ujar Nur dengan sinis dan sedikit kencang.


Hingga semua orang yang sedang berada disana membicarakan Airen, mereka semua berbisik-bisik. Nur tersenyum puas, kebenciannya terhadap Airen benar-benar membuat gadis itu di luar kendali. Sedangkan Airen hanya menanggapinya dengan santai.


"Kamu jangan sembarangan menebar fitnah." ujar Airen.


"Hahaha, sembarangan? Heh Ren, semua orang juga tahu lo itu miskin. Lihat tuh perut lo aja udah buncit seperti itu, pasti sedang hamil anak haram." ujar Nur tanpa rasa bersalah.


Brak.


"Jaga omongan kamu Nur! Kamu boleh menghina saya, tapi tidak dengan anak ini!" ucap Airen marah, dia sampai menggebrak meja.


"Apa lo berani-beraninya menggebrak meja, udah mampu buat bayarnya hah!?" teriak Nur tak mau kalah.


"Ada apa ini?" tanya Hans dengan raut wajah yang sudah menahan amarah.


Hans sempat mendengar keributan yang terjadi, Airen langsung menghampiri suaminya dan memeluknya erat. Seolah ingin menunjukkan kepada Nur, bahwa dia bukanlah simpanan om om.


"Heh Airen, lo ngga tahu malu ya. Dasar jal@ng." sinis Nur.


"What did you say? You *****." ucap Hans dengan penuh penekanan.


Nur dibuat ketakutan dengan tatapan yang Hans berikan, tatapan seperti seseorang yang hendak membunuh mangsanya. Nur, menelan salivanya kasar.


"Mas, aku mau pulang. Nggamau disini." rengek Airen yang sudah hampir menangis.


"Sebentar sayang, aku harus menyelesaikan wanita ini." ucap Hans lembut, sambil mengusap punggung Airen agar lebih tenang.


"Panggil atasan kalian ke sini!" teriak Hans kepada para pelayan di sana.


Salah satu diantara mereka langsung memanggil atasannya untuk segera ke sana, Hans menunggu dengan sabar.


"Ada apa ini?" tanyanya.


"Aku ingin memberi mu dua pilihan, pecat wanita itu atau ku tutup restoran mu!" ujar Hans dingin.


"Saya memiliki hak, karena wanita itu telah berani menghina istri saya!" ujar Hans dengan nada yang dingin.


"I--istri? Ya ampun, Airen ini kamu? Lho sebentar-sebentar, bukannya tuan ini adalah orang yang dulu pernah meminta saya untuk memecat Airen?" ucapnya.


"Bukan urusan mu! Cepat pilih salah satu pilihan yang ku berikan."


"Mas lama, cepat putuskan. Aku ngga terima anak ku di hina oleh dia." ujar Airen yang tiba-tiba menjadi tak berperasaan.


"Pecat dia, sesuai dengan keinginan istriku." ucap Hans sambil menunjuk ke arah Nur.


"Tidak bisa, Tuan." atasan itu membela Nur.


"Tidak bisa kenapa?" tanya Airen.


"Baiklah, tunggu dalam 24 jam restoran ini akan tutup. Dan perselingkuhan mu dengan wanita ini akan ku berikan kepada istri mu." ancam Hans.


Apa!


Semuanya nampak terkejut begitu pun dengan Airen, terlebih bagi Nur dia sangat syok. Bagaimana pria ini bisa mengetahui hubungannya dengan sang atasan.


Astaga, pria ini benar-benar menyeramkan. Bagaimana bisa dia mengetahui hal ini? batin Nur.


Laki-laki ini sangat berbahaya sekali, sebaiknya aku pecat Nur saja. batin laki-laki itu.


"B--baik Tuan, saya akan memecatnya. Nur kamu saya pecat, cepat pergi dari sini!" usirnya.


"Lho bapak tidak bisa seperti itu, pak jangan pecat saya. Bapak sudah janji akan menik--." pinta Nur, bersimpuh sambil menarik lengan atasannya.


Bruk.


Laki-laki itu mendorong Nur hingga tubuhnya terjembap ke belakang, ada sedikit kepuasan di hati Hans saat melihatnya di dorong.


Siapa suruh kau menghina istri dan anak ku, inilah akibatnya. batin Hans.


"Mas ayo, aku mau pulang." pinta Airen.


"Ayo sayang kita pulang." Hans langsung menarik lengan Airen pergi dari sana.

__ADS_1


🌹


Sudah beberapa hari ini Bella kembali mengajar, setelah dia pulih dari sakitnya. Bella sedang duduk di taman sekolah itu, sambil melihat anak-anak yang tengah asyik bermain.


Aku tak menyangka jika Gina sudah meninggal. batin Bella, yang mengingat Gina karena beberapa hari yang lalu Bima dan Gibran mengajaknya ke makam Gina.


"Ibu, aku kangen bangat sama Ibu." ujar Putri seraya memeluk Bella.


"Ibu juga kangen sama putri, bagaimana sekolahnya selama tidak ada ibu sayang?" tanyanya.


"Not fine, papa sibuk kerja. Aku sama si mbok terus, ibu memangnya kemana? Aku sama papa sempat mencari-cari ibu lho." kata Putri.


"Ibu hanya sedang rehat sejenak sayang, sudah bel ayo masuk kelas sayang." ajak Bella sambil menggandeng tangan Putri.


Sedari tadi interaksi nya dilihat oleh laki-laki yang mengamati mereka dari kejauhan, laki-laki itu menghembuskan nafasnya kasar.


"Bel, siapa laki-laki yang sangat kamu cintai itu? Hingga kamu tak kunjung mau untuk menjadi istriku." gumam Aryo, papa dari putri.


***


"Mas, kita berangkatnya kapan?" tanya Airen antusias.


"Dua hari lagi sayang, kamu maunya ke mana?" tanya Hans sambil melingkarkan lengannya di perut Airen.


"Aku ikut kamu saja, kemana pun asal bersama mu."


"Sudah pintar menggombal?" tanya Hans terkekeh.


"Ihhh siapa yang menggombal, orang serius juga. Sudah ah aku mau tidur aja."


"E--eeh, jangan dulu dong. Aku masih mau begini." ucap Hans, menempelkan kepalanya di ceruk leher sang istri.


"Geli mas, jangan seperti ini." ujar Airen, karena dia merasakan desiran aneh disekujur tubuhnya.


Leher kamu adalah bagian yang paling sensitif sayang, arghhh kapan aku buka puasa. batin Hans.


"Sayang, kapan aku boleh melakukanya?" tanya Hans dengan tatapan yang nanar.


Maksud mas Hans apa ya, jangan-jangan dia menanyakan hal itu. batin Airen.


"M--melakukan apa mas?" tanya Airen terbata.


"Menengok anak-anak kita, boleh ya?" ujar Hans dengan suara yang berat.


Deg.


Aduh bagaimana ini. batin Airen.


Airen menggigit bibir bawahnya, nafasnya seketika memburu cepat. Hans yang melihat hal itu, langsung melahap bibir ranum sang istri.


Hmpphhhh!


Hans melu mat bibir yang menjadi candu untuknya, menye sapnya dengan dalam. Menikmati setiap kenikmatan yang ada. Hans menarik tengkuk leher istrinya, agar lu matan itu semakin dalam. Perlahan Airen membalas ciuman itu.


Setelah cukup lama bergelut dengan lidah satu sama lain, Hans menyudahi aksinya saat melihat sang istri yang mulai kehabisan nafas. Airen menelan salivanya berkali-kali, berupaya untuk menetralkan degup jantungnya. Hans mengikis jarak, dia menempelkan keningnya dengan kening Airen, Hans mengusap bibir sang istri dengan ibu jarinya.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, Hans berupaya mengatakan sekali lagi kepada istrinya. "Sayang, bolehkah?" tanya Hans kembali.


Deg deg deg.


Hati Airen tak karuan, dia bimbang dibuatnya. Rasa takut itu masih ada, Hans menghembuskan nafasnya kasar menjauh dari wajah sang istri.


"Ayo kita tidur." ucap Hans, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Meskipun kepalanya sedikit pening, karena sesuatu yang dia inginkan belum terkabulkan.


Airen menatap nanar suaminya yang sudah berbaring, sedangkan dia masih duduk di sisi ranjang. Airen dibuat bingung, ada kesedihan yang terpancar dari raut wajah suaminya.


Maaf mas, aku aku masih sangat takut. Aku harap kamu bisa lebih sabar, maafkan aku yang belum bisa menjadi istri mu yang baik. batin Airen.


Bersambung...


Jangan lupa vote nya, mumpung hari Senin.


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.


selamat menunaikan ibadah puasa.

__ADS_1


__ADS_2