
(NASEHAT SAHABAT)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Hans menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu, dia memejamkan matanya perlahan. Hans memikirkan bagaimana membawa Airen kembali ke kota.
Aaaargghh, kenapa lagi dan lagi permasalahan hidupku adalah wanita. batin Hans.
"Kak Hans." panggil Eza dengan pelan.
Hans membuka matanya, menatap adik iparnya yang sudah berada di sampingnya.
"Ada apa?" tanya Hans.
"Ke empang yuk kak, disana ada lomba memancing." ajak Eza.
Hans nampak berpikir.
"Baiklah, ayo kita izin ke kakak mu." Hans dan Eza menuju depan pintu kamar Airen.
"Kakak, aku sama kak Hans mau lihat lomba memancing. Kakak ikut ngga?" teriak Eza di depan pintu.
"Ngga, Za. Yasudah kamu hati-hati." ucap Airen pelan.
"Oke, kakak di rumah baik-baik ya." Eza pun berjalan lebih dulu keluar, sebenarnya dia ingin bertanya kepada Hans namun enggan. Menurut Eza ini permasalahan orang dewasa.
"Cahya, kamu baik-baik di rumah ya. Aku menemani Eza untuk melihat lomba memancing." Hans langsung pergi dari sana. Mengikuti langkah Eza.
🌹
Pukul 16.00 Sore
"Mak, saya pamit pulang. Assalamu'alaikum." ucap Endah kepada Mak Suma.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati Ndah. Salam buat Iren ya, kalau kamu bertemu dengannya."
"Iya Mak, siap." Endah pun pergi menuju rumah Iren sesuai janjinya dengan Hans.
Di perjalanan Endah bertemu dengan mantan pacarnya yang sedang bersama istrinya, mereka tengah menikmati bakso nya Mang Ujang. Endah berpura-pura untuk tidak melihat mereka, namun Siti mengejutkannya dengan meneriaki nama Endah.
"Endahhh!" teriak Siti dengan sengaja.
Astaga, si Durjana benar-benar minta dirobek mulutnya. batin Endah yang kesal dengan Siti.
Damar yang tak lain adalah mantan pacar Endah, dia pun langsung berbalik badan saat mendengar nama Endah diteriaki.
"Endah." gumam Damar.
Tck, gadis itu benar-benar kurang hajar! Berani sekali dia muncul. batin Mala yang tak lain adalah istri Damar.
"Wihh, buru-buru amad. Mau kemana kamu?" tanya Siti dengan sedikit kencang.
"Tck, bukan urusan kamu." Endah langsung bergegas pergi, namun Siti menahan lengannya.
"Panass ya Ndah, makanya buru-buru pergi." ujar Siti dengan penuh penekanan.
"Panas? Wah kamu kebanyakan dosa kali Sit, aku ngga merasa panas tuh." ucap balik Endah.
Tck, ngga si Iren ngga si Endah. Sama aja! batin Siti.
Mala tersulut emosi karena tatapan mata Damar, terus menatap lekat kepada Endah. Mala segera menghampiri Endah, dan langsung menjambak rambutnya.
Srrakk (Anggep saja suara rambut ditarik yahhe)
"Awwhh."
__ADS_1
"Mala!" Damar sontak kaget melihat istrinya yang tiba-tiba sudah berada bersama dengan Endah.
"Dasar jal@ng." ucap Mala dengan emosi.
Emosi Endah langsung menggebu saat Mala memanggilnya dengan sebutan jal@ng.
Plak
Endah langsung menampar Mala.
"Jaga bicara kamu! Saya atau kamu yang jal@ng. Hah!" teriak Endah kesal.
Saat Mala hendak menampar balik, namun tangannya sudah dipegang oleh Damar. Siti hanya menyaksikan dengan senang hati.
"Lepasin aku, ngapain kamu belain wanita ini hah." teriak Mala kepada Damar yang tak lain adalah suaminya.
"Sudahlah, ingat dengan kondisi kehamilan mu. Jangan tersulut emosi." ucap Damar dengan sabar.
Endah menatap jengah kepada dua pasangan itu, dia langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka yang tengah menatap tak suka padanya.
***
Tak butuh waktu lama, akhirnya Endah telah sampai di rumah Airen. Rumah itu nampak sepi tak berpenghuni.
Tok..tok..tok..
"Assalamu'alaikum." ucap Endah memberi salam.
Endah? batin Airen yang mendengar suara sahabatnya.
"Ren, ini aku. Assalamu'alaikum."
Tuan Hans sedag pergi bersama Eza, yasudah lah lebih baik aku keluar sebentar menemui Endah.
"Wa'alaikumussalam."
Endah langsung menghambur ke dalam pelukan Airen, dia memeluk erat sahabatnya yang sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu.
"Duh bumil, itu mata kenapa? Ampe sembab seperti itu." tutur Endah, dia pun langsung mengajak Airen untuk duduk di kursi depan rumah.
"Kamu ada perlu apa, Ndah?" tanya Airen mengganti topik pembicaraan.
"Memangnya harus ada perlu dulu ya, kalau ingin bertemu dengan sahabat?"
"Tck, ngga gitu maksudnya Ndah."
"Yauda terus apa? Oiya itu mata kamu kenapa sih Ren." Endah lagi-lagi menanyakan tentang mata sembab Airen.
"Nangis." jawab Airen yang memang tidak bisa berbohong kepada Endah.
"Nangisin apa?" Endah berusaha memancing Airen agar mau bercerita dengannya.
Airen menyipitkan matanya menatap dalam mata Endah.
"Kamu apaan sih Ren, jangan natap aku kayak gitu dong. Yauda kalau emang ngga mau cerita ga apa-apa." ucap Endah.
Hufffhh..
Airen menarik nafasnya dan menghembuskan nya dengan pelan.
"Sebenernya aku lagi mikirin tentang pernikahan ini, rumah tangga yang belum lama aku bangun bersama Tuan Hans. Aku bingung dan tidak yakin, Ndah." ujar Airen jujur.
"Apa yang membuat kamu tidak yakin?"
"Sepertinya Tuan Hans hanya merasa bersalah akan kejadian malam itu, dan dia hanya bertanggung jawab sebagai bentuk rasa bersalah dan kasihannya kepada ku. Terlebih kehadiran anak ini, dia memang menunjukkan sikapnya yang begitu lembut dan perhatian. Tapi dia sama sekali tidak pernah mengutarakan cinta atau apapun, dan yang paling aku takutkan adalah ketika aku sudah mencoba menerimanya kemudian rasa cinta itu tumbuh di hati aku, Ndah. Dan saat itu tiba, aku harus apa dan bagaimana?" ungkap Airen yang membuat dirinya tidak yakin.
"Astaghfirullah Ren, kamu mah kebanyakan overthinking. Kalau dari penglihatan aku, Tuan Hans itu udah jatuh cinta sama kamu. Karena memang sifat dan karakter nya yang seperti itu, mungkin dia tidak pandai untuk mengungkapkan perasaannya. Coba deh, kalian bicarakan satu sama lain, tentang unek-unek kalian berdua. Dari hati ke hati, pasti ada solusinya." ucap Endah.
__ADS_1
"Aku ngga tau, Ndah. Aku masih bingung, terlebih aku sama sekali ngga tahu masalalu dia seperti apa? Tentang orang yang pernah dia cintai ataupun yang menjalin hubungan dengannya. Kamu tau sendiri, aku sama sekali belum pernah jatuh hati kepada laki-laki mana pun. Aku takut, jika cinta pertamaku tidak sempurna." Airen menuturkan setiap kata yang keluar dari hatinya.
"Ren, aku yakin Tuan Hans itu sudah jatuh cinta sama kamu. Jangan sampai sikap kamu membuat dia menyerah untuk mempertahankan mu, ingat Ren ada anak yang harus kamu pikirkan kebahagiaan nya. Kalian harus bisa menerima, mempercayai, dan saling mencintai satu sama lain. Demi keharmonisan rumah tangga kalian." ujar Endah memberi nasehatnya.
Airen tersenyum, antara tersentuh dan geli mendengar penuturan Endah yang bahkan dia belum menikah.
"Bahasa mu lho, Ndah. Sudah seperti seseorang yang berumah tangga." kata Airen sambil terkekeh pelan.
"Tck, ihh kamu mah kalau dibilangin. Malah ngeledek seperti itu, doain aja Ren. Semoga aku cepat menyusul, ayah ku sudah tak sabar ingin menimang cucu hahaha." ujar Endah sambil tertawa kala mengingat pesan ayah nya yang ingin segera menimang cucu.
"Aamiin, semoga kamu cepat nyusul deh. Biar anak kita usianya ngga beda jauh."
"Aku boleh elus perut kamu, Ren?" tanya Endah penuh harap.
"Tidak."
"Tck, pelit."
"Nanti ya, biar ayahnya dulu yang mengelusnya." ucap Airen tersenyum.
Apa!
"Jadi, selama ini Tuan Hans belum pernah kamu izinkan, untuk mengelus perut kamu?" tanya Endah tak percaya.
Airen hanya mengangguk pelan sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Endah.
"Astaga Ren, kamu ini benar-benar aneh. Tuan Hans itu sangat amat tampan, nanti jika sudah kepincut janda sebelah. Berabe urusannya." Endah asal ucap saja.
"Memangnya disini aja janda?" tanya Airen penuh khawatir.
"Pffttt hahaha, itu Ceu Edoh sama Mak Suma jandakan. Oiya, apalagi sekarang ada lomba memancing pasti disana ada banyak kembang desa, ataupun janda-janda yang menonton perlombaan itu."
Apa!
Kini giliran Airen yang dibuat panik dan terkejut, karena suaminya saat ini tengah berada di sana.
"Ayo Ndah, antar aku ke sana." ucap Airen penuh semangat.
"H--Hah, mau ngapain kamu ke sana. Nanti yang ada, kamu ketemu kang Bahar."
"Tck, suamiku di sana bersama dengan Eza."
Endah membelalakkan matanya, dia menatap Airen dengan heran. Apakah ini tanda jika Airen tengah cemburu?
"Pfftt Hahaha, kamu cemburu Ren? hahaha." Endah menertawakan Airen dengan sangat luas.
"Nggak, siapa yang cemburu." jawab Airen bohong.
Padahal hatinya merasa kesal sendiri saat dia membayangkan jika saat ini suaminya tengah dikerumuni oleh janda dan perawan di sana.
"Oke aku anterin, tapi kamu ingat Ren. Nanti jangan lupa untuk berbicara berdua dari hati ke hati."
"Tck, iya-iya. Kamu bawel ih, ayo cepetan." Airen langsung menarik lengan Endah, dengan wajah yang sedikit muram.
"Oiya, tadi kamu dapet salam dari Mak Suma." ucap Endah.
"Hah serius? Mak Suma memang ter the best lah pokoknya. Aku jadi kangen deh, ingin bekerja kembali." ucap Airen sambil tersenyum.
Ya ampun Ren, kamu ini aneh bangat. Dasar bumil, moodnya naik turun seperti itu. batin Endah.
Mereka pun pergi menuju tempat lomba pemancingan, Airen dibuat kesal dengan pikiran negatif yang menghantuinya. Saat ini dia membayangkan jika suaminya tengah bermesraan dengan wanita lain.
Bersambung...
...Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya....
Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.
__ADS_1