
Setelah kemarin Airen membujuk suaminya agar dia dapat ke kampung halamannya, akhirnya hari ini Airen diizinkan dengan syarat suaminya juga ikut. Padahal Airen ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak dan adiknya saja. Karena Airen tahu bahwa belakangan ini suaminya sangat sibuk.
"Mas kamu mending kerja aja, aku pasti baik-baik saja disana." ucapnya berusaha mencoba membujuk suaminya.
Hans menatap tajam istrinya, "Kamu ngga suka kalau aku ikut?" tiba-tiba tatapan tajam itu berubah seperti anak anjing yang tengah kelaparan dan ingin diberi makan.
Aahh kenapa suami ku sangat menggemaskan seperti ini. batin Airen.
"Ngga gitu sayang, a--ah yasudah kita pergi bersama saja. Tapi, bagaimana dengan pekerjaan mu?"
Hans memeluk istrinya penuh cinta, "Ngga usah dipikirkan, ada Roni yang dapat menangani semuanya."
Hans tersenyum menatap mata istrinya, lalu mengecup pelan kening Airen dengan lembut dan penuh kasih sayang. Airen luluh, mana bisa dia menolak suaminya yang bersikap manis ini.
"Sekarang bantu aku mengemasi barang-barang." pinta Airen dengan senyumnya yang paling manis.
Hans pun membantu istrinya mengemasi barang-barang, mereka akan tinggal di kampung selama tiga hari. Sebenarnya Airen ingin tinggal satu minggu, tapi dia tidak bisa menawar. Saat mereka sedang berkemas, Amira dan Ara digendong oleh mamih Hellena dan Ratu di ruang keluarga.
Mamih Hellena sedari tadi sudah menangis, karena dia pasti akan merasa sepi kalau Hans dan keluarga kecilnya pergi dari mansion ini. Meskipun hanya tiga hari saja, berat sekali bagi mamih Hellena. bahkan Raja dibuat ngambek oleh tingkah ibunya, karena dia tidak pernah merasa ditangisi oleh sang ibu berbeda dengan Hans yang selalu dikhawatirkan dan disayang.
Author : Ja kamu udah ngga pantes buat ngambek begitu, inget umur udah mau kepala empat lho. Malu sama para readers.
"Sayang udah dong jangan nangis gitu, nanti cucu kita ikutan sedih." papi Willi berusaha menenangkan istrinya dengan pelan dan lembut, karena dia takut jika salah berucap nanti yang ada tidur di luar.
"Mira, Ara hikss.. O--opa kalian bawel ya hikss.. Oma kan hanya mengeluarkan air mata, habis cucu Oma yang paling cantik ini mau pergi hiks..." tutur mami Hellena dengan isak tangisnya.
Hans, tidak bisakah kau turun lebih cepat. Nanti bisa-bisa papi kena imbas oleh mami mu. batin papi Willi.
Ratu hanya diam, dia sudah sangat sabar dan paham menghadapi kerandoman keluarga ini. Mulai dari suaminya, mertuanya, bahkan adik iparnya pun sama saja terkadang ada saja tingkah yang bikin geleng-geleng kepala.
Hans dan Airen pun pergi ke ruang keluarga sambil membawa satu koper besar, mereka sudah siap untuk pergi ke kampung halaman. Saat Airen dan Hans masuk, isak tangis mami Hellena semakin kencang. Lantas Amira yang sedang berada digendong sang nenek pun ikut menangis.
Hans dengan tergesa-gesa menghampiri ibunya dan mengambil anaknya dari gendongan sang ibu, Hans memberi kode kepada papinya untuk menenangkan mami Hellena.
"Mih sudah jangan menangis, nanti cantiknya hilang." ujar papi Willi sambil mengelus lembut pundak mami Hellena.
"Hiks.. jadi menurut papi, mami itu jelek kalau lagi menangis? hiks.."
Astaga salah bicara kan. batinnya.
"Oma sudah jangan menangis, jangan kayak anak kecil dong." celetuk Eranson yang sedang bermain puzzle.
Ratu tersenyum kikuk, Astaga anak itu. batin Ratu tak habis pikir dengan tingkah anaknya.
__ADS_1
"Huaaaa... pih, masa mami dibilang kayak anak kecil hikss.." kini mami Hellena memeluk suaminya dengan erat, sedangkan papi Willi tersenyum senang. dalam hati dia berterima kasih kepada Eranson.
Ja, ada untungnya juga gen kamu nurun ke si Eran. batin papi Willi.
Hans menghela nafas pelan melihat tingkah maminya, sebelas dua belas dengan kakak pertamanya. "Mih sudah jangan menangis, nanti mami bisa menyusul dengan papi." ucap Hans.
Perkataan Hans membuat mami Hellena berhenti memeluk suaminya, dia langsung bangun dengan bersemangat sambil mengusap air matanya. "Wahh benar juga apa yang kamu bilang Hans, baiklah nanti mami akan menyusul kalian." ucapnya dengan senang gembira.
Hans!! Kau memang anakku yang paling menyebalkan. batin papi Willi.
Hans menatap wajah papi nya yang seperti menahan kesal, ah tidak sepertinya memang kesal. Hans menahan tawanya.
Airen menghampiri Ratu dan mengambil Ara dari gendongannya, "makasih ya mbak udah jagain Ara."
"Kayak sama siapa aja kamu Ren, duh pasti mama bakal kangen bangat sama Ara nihh." ucap Ratu mengelus lembut pipi Amara.
"Aku uga pasti lindu sama mama." Airen berbicara menggunakan suara seperti anak kecil, seolah-olah bahwa Amara yang sedang berbicara kepada Ratu.
"Aaaa Oma juga kangen sama Amira dan Amara, cepat kembali ya cucu-cucunya Oma. kalian sehat-sehat ya." mami Hellena mencium kedua cucunya secara bergantian, begitupun dengan Ratu yang mencium dua keponakannya yang menggemaskan.
Dimana Gibran dan Bella? Mereka tidak ada, ikut bersama Bima ke rumah sakit. Karena tiba-tiba Bella ingin menemani suaminya bekerja.
"Yasudah mih, pih, kami berangkat ya." tutur Hans.
"Aku disini kak, sudah siap. Ayoo." Eza muncul di depan pintu ruang keluarga sambil membawa koper miliknya, Airen tersenyum melihat raut kebahagiaan di wajah adiknya.
"Eza! kamu belum pamitan sama mami. Sini kamuu!!" mami Hellena berteriak, padahal Eza memanggilnya Oma. tapi mami Hellena tetep ingin Eza memanggilnya mami, karena dia menganggap Eza sebagai anak bukan cucu.
"Tapi Oma janji jangan peluk kencang-kencang ya, aku udah keren gini." bisa dilihat memang pakaian Eza sangat rapih, apa anak itu mau pamer kepada teman-temannya di kampung? ntahlah.
"Astaga anak itu sifatnya agak mirip dengan si Bima." gumam mami Hellena yang masih didengar semuanya.
Hans tersenyum simpul, memang sepertinya sifat Eza lebih mirip dengan Bima yang setengah-setengah. Maksudnya setengahnya milik Raja dan setengahnya milik Hans, sifat Bima itu berada ditengah-tengah. Kadang bisa absurd seperti Raja, kadang bisa dingin seperti Hans.
"Eza pamitan dulu, kamu ngga boleh seperti itu!!" ucap Airen.
"Hehe iya kak." Eza melangkahkan kakinya mendekat ke arah mami Hellena, dia pun mencium punggung tangan mami Hellena.
seperkian detik kemudian mami Hellena memeluk Eza dengan sangat kencang, "Aaa anak mami yang satu ini sudah mulai beranjak remaja rupanya."
Sudah kuduga. batin Eza yang hanya bisa pasrah dipeluk kencang oleh mami Hellena.
"M-mih itu kasihan si Eza, jangan kencang-kencang peluknya." tegur papi Willi.
__ADS_1
"Apa hah?! Iri bilang pih." akhirnya mami Hellena melepaskan pelukannya dari Eza, dengan cepat Eza juga mencium punggung tangan papi Willi dan juga Ratu.
kemudian Eza beralih kepada Eranson yang asyik bermain puzzle, "Hei Eran, kakak mau ke kampung halaman. kamu main baik-baik dengan Gibran ya, jangan dibuat nangis dia."
Eranson memeluk Eza, "Aku mau ikut kakak." tiba-tiba saja Eranson seperti itu.
Hans diujung batas kesabaran, kenapa mau pamitan saja ribet bangat? nggatau apa kalau ini sudah mau seribu kata. Nanti para readers kecewa kalau ceritanya hanya habis karena mau pamitan saja. Kan mereka juga mau liat keuwuan Hans dan Airen di kampung.
"Pangeran sonharth Mikhailov!" Hans memanggil Eran dengan sangat dingin dan datar.
gluk. Eranson mengerti, dengan peringatan dari pamannya itu.
"Eumm, yasudah kakak hati-hati ya. Om Hans dan kak Airen juga, kalian semua hati-hati. Bye-bye Amira Amara, kakak pasti merindukan kalian." ucap Eranson.
Tumben anaknya si Raja waras. batin Ratu yang sudah sangat kesal dengan anak dan suaminya.
"Pih Mih, kami berangkat dulu. Assalamu'alaikum." ucap mereka bertiga.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati ya. jangan lupa kabarin mami kalau sudah sampai."
Hans mengangguk, mereka pun melanjutkan perjalanan ke kampung dengan supir pribadi Hans. Airen sangat berdebar, sudah lama rasanya ya tidak ke kampung halaman.
Airen tersenyum menatap suaminya yang berada tepat di sampingnya, Hans yang merasa diperhatikan lantas menatap istrinya. Airen semakin tersenyum manis.
"Mas, terimakasih banyak." ucapnya dengan senyuman yang terus merekah.
Deg.
Sial, aku semakin dibuat jatuh cinta oleh istriku. batin Hans.
Hans menutup mata kedua anaknya dengan tangannya, Airen yang melihat suaminya melakukan itu pun bingung. Dan tanpa sadar wajah mereka sudah berdekatan.
Jantung keduanya berdebar tak karuan, apalagi Airen. Deru nafas keduanya terasa, Hans tersenyum. "Za! tutup mata mu." perintah Hans kepada adik iparnya yang duduk di kursi belakang.
Belum sempat Airen menoleh ke arah adiknya, bibirnya lebih dulu dibungkam oleh bibir suaminya. Kecupan lembut berubah menjadi ses@pan kecil, mereka berdua menikmati momen itu.
Aku dimana? aku siapa? astaga mengapa aku berada disini, situasi macam apa ini? batin supir pribadi Hans, yang tidak sengaja melihat adegan itu dari cermin yang ada ditengah mobil. Dan langsung menutup cermin itu, dia tidak mau mengganggu privasi tuannya.
Apa yang sedang dilakukan kak Hans kepada kakak ku? Intip jangan ya? batin Eza yang sangat penasaran.
bersambung...
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen like dan hadiah ya.
__ADS_1