Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 111


__ADS_3

Pagi ini Airen dikejutkan dengan suaminya yang tak kunjung bangun, biasanya Hans selalu bangun tepat waktu sendiri.


"mas, mas ayo bangun. Ini sudah siang, mas." Airen menggoyangkan tubuh suaminya, namun hanya lenguhan yang terdengar dari bibir Hans.


Airen menempelkan punggung tangannya ke dahi sang suami, ternyata Hans demam tinggi. Airen cukup panik dibuatnya.


Demam mas Hans cukup tinggi, sebaiknya aku minta tolong kak Bima saja. batin Airen.


"Mas tunggu sebentar ya." Airen beranjak pergi untuk meminta tolong Bima.


Namun saat sampai di depan pintu anak yang kedua menangis, Airen lantas mengambil anaknya terlebih dulu. "Cup cup sayang." Airen membawa Amara pergi dari kamar, karena takut mengganggu suaminya.


Airen tidak berani ke kamar Bima, dia memilih ke dapur siapa tahu sudah ada mbak Bella di sana pikirnya. Dan benar saja, saat Airen telah sampai di dapur ada Bella yang tengah menyiapkan sarapan untuk Gibran.


"Mbak, kak Bima ada?" tanya Airen.


Bella mengangguk, "Ada Ren masih di kamar, memangnya kenapa?"


"Tolong panggilin ya mbak, mas Hans demam." tutur Airen.


"Hans demam? Yasuda sebentar mbak ke kamar dulu."


"Terimakasih mbak."


Gibran tengah menikmati sarapan dari mommy nya, Airen merasa senang karena kini Gibran ada yang mengurus. "Mommy, dek Mara nangis terus." tutur Gibran.


Deg. Panggilan itu.


"Gibran sayang, mulai sekarang panggil tante saja ya. Nanti kalau mommy mu dengar, dia akan sedih." ucap Airen.


Gibran mengangguk mengerti, Airen tersenyum lalu mengelus lembut kepala keponakannya itu. Airen segera mengambil kompres untuk suaminya. Dan kebetulan ada mbok Ti.


"Non, sini biar non Ara sama mbok."


Airen baru ingat, padahal semalam dia merengek agar kedua baby sister itu dialihkan fungsinya. Namun sepertinya sekarang Airen masih membutuhkannya. "Iya mbok, ini titip Amara sebentar ya." Airen menyerahkan anaknya kepada mbok Ti, dan ajaibnya Amara tidak mau.


"Ngga apa-apa mbok, biar aku saja. Amara sepertinya ingin sama aku." Airen membawa Amara juga air hangat dan kain kecil untuk mengompres suaminya.


Airen beranjak ke kamar, dia langsung mengompres suaminya sambil menunggu kedatangan Bima. Untung saja Amara tidak menangis, namun Airen nampak terlihat kewalahan.


tok..tok..tok


"Masuk kak." Airen tahu itu pasti Bima.


Krek.


Bima masuk dengan membawa alat-alat pemeriksaan umum seperti stetoskop dan lainnya yang ada di dalam tasnya.


"Wahh ternyata tuan muda Hans bisa sakit juga." celetuk Bima, biasanya meskipun sedang demam Hans selalu menimpali ucapan Bima namun sekarang tidak.


Terlihat jelas kekhawatiran di wajah Bima, dia langsung memeriksa keadaan adiknya itu. Suhunya panas sekali. batin Bima.


"Ren, lebih baik di rawat di rumah sakit saja." tutur Bima.


"Ng--ngga." lirih Hans yang mendengar samar-samar suara kakaknya.


"Nih anak kalau sakit emang susah, apalagi kalau disuntik."


Bugh. sebuah bantal tepat mengenai wajah Bima. Sialan punya adek, kalau bukan lagi sakit udah gue bales. batin Bima.


"Mas, dirawat di rumah sakit ya." ucap Airen pelan di samping suaminya. Hans menggelengkan kepalanya tanda dia tidak mau.


"Yasudah kalau tidak mau dirawat di rumah sakit tidak apa-apa, sekarang suntik aja."


Hans yang tadi terpejam kini menatap Bima dengan tajam, sedangkan Bima geli sendiri karena tahu adiknya itu paling anti dengan jarum suntik.


Airen paham dengan situasi ini, mungkin suaminya takut dengan jarum suntik. "Mas, ngga apa-apa disuntik ya. Daripada di rawat di rumah sakit?"


Hans menatap Airen memohon, "Ngga sayang, nanti juga sembuh."

__ADS_1


"Sembuh apaan, demam lo itu sekarang tinggi bangat. Kalau ngga mendapatkan penanganan khusus bisa-bisa nanti--"


"Diam!"


Oke Bima terdiam setelah adiknya mengatakan kata-kata maut itu, "Mas ngga sayang ya sama aku dan anak-anak kita?" tanya Airen dengan wajah yang dibuat memelas.


"Sa--sayang."


"Mau ya disuntik."


Oke Hans pasrah, "Iya tapi kamu disini." pinta Hans, agar Airen di sampingnya. Airen mengangguk, lalu beranjak naik ke atas kasur sambil membawa Amara. Airen duduk di samping suaminya, karena kalau tiduran tidak enak dengan Bima.


Haduhh, lebay bangat nih anak. Kalau sampai Mamih mendengar kabar anak kesayangannya sakit pasti langsung pulang. batin Bima.


"Mas lihat aku saja, ngga usah lihatin mas Bima."


"Kok panggilnya mas sih." protes Hans, padahal Airen tadi lupa dan tidak sengaja.


"Udah lo diem mau bini lo manggil apa juga terserah dia, kok lo protes sih." tutur Bima.


"Ngga boleh, cepet ganti dulu panggilannya." keluh Hans kepada Airen.


Untung cinta, kalau engga udah ta tendang ke ujung dunia. batin Airen sedikit kesal, karena meskipun sedang sakit suaminya ini sedikit menyebalkan.


"Kak Bima cepat suntik mas Hans, ngga usah pelan-pelan." ujar Airen.


"Sayanggg!!"


"Biarin saja, mas nyebelin sih." sebenarnya Airen hanya mengalihkan perhatian Hans, agar tidak memikirkan tentang jarum suntik itu.


"Sudah." ujar Bima, Hans langsung menoleh ke arah kakaknya.


Hans menatap tak percaya, betulkah bahwa dia sudah disuntik? Rasanya hanya seperti digigit semut saja. "Nanti sebaiknya minta Roni untuk datang ke rumah sakit, biar aku resepkan obat untuk mu." ujar Bima, lalu beranjak pergi.


"Makasih kak." ucap Airen, Hans hanya diam saja kepalanya masih terasa pusing.


Bima mengangguk, lalu pamit undur diri. Airen hendak meletakkan Amara ke dalam keranjang bayi, namun saat diletakkan anaknya justru menangis.


"Ngga usah, mas istirahat saja. Oiya aku ke dapur dulu, mau menyiapkan sarapan untuk mas." Airen pergi ke dapur sambil membawa Amara, karena anak itu tidak mau lepas dengannya.


Airen menghampiri mbok Nin, "Selamat pagi non." sapa mbok Nin.


"Pagi mbok." Airen tersenyum hangat, dia segera mengambil bahan-bahan untuk membuat bubur.


Mbok Nin yang melihat Airen langsung menawarkan bantuan "Mau mbok bantu non?"


Airen menatap mbok Nin, "Ngga usah mbok, aku masih bisa kok. Ini Amaranya juga anteng digendongan." Airen melanjutkan aktivitasnya, dia membuatkan bubur dengan penuh cinta untuk suaminya.


Setelah semuanya siap, Airen membawa nampan berisikan bubur dan juga teh hangat untuk suaminya. Airen ingat anak-anaknya belum dimandikan juga belum sarapan.


"Mas sarapan dulu." Airen membangunkan suaminya pelan.


Airen membantu Hans untuk duduk, dia menyuapi suaminya dengan sangat telaten. Tatapan Hans terus menatap Airen dengan penuh cinta.


"Ini teh nya." Hans meneguk teh hangat dengan perlahan.


"Makasih sayang, kamu sudah sarapan?" tanya Hans.


Airen bahkan melupakan sarapannya, "Iya nanti aku sarapan."


"Kok nanti, sekarang. Kamu juga harus sarapan."


"Iya mas, nanti juga aku sarapan. Sebaiknya sekarang kamu telepon Roni, minta dia untuk membawakan obatnya." ucap Airen mengingatkan.


Hans mengangguk, Airen membawa Amara ke kamar mandi untuk memandikan anaknya itu. Sedangkan Amira anak pertama mereka masih terlelap dalam tidurnya.


Hans ingat, bahwa Roni mengambil cuti. Dia pun menelpon asisten barunya. 📞"Hallo, saya tidak masuk kerja hari ini. Tolong kamu handle semua pekerjaan saya, dan saya minta tolong kamu ke rumah sakit z temui dokter Bima dan minta resep obat untuk saya." tut.


Setelah menelpon asisten barunya itu, Hans meletakkan ponselnya di atas meja lalu dia merebahkan kembali tubuhnya. Airen keluar dari kamar mandi, sambil menggendong Amara yang sudah memakai handuk.

__ADS_1


Pemandangan itu tak luput dari Hans, "Amira belum bangun?" tanya Hans.


"Belum mas, nanti kalau Amara sudah sarapan aku baru bangunkan Amira untuk mandi juga sarapan."


"Sayang sini." pinta Hans.


"Kenapa mas?" Airen menghampiri suaminya, Hans duduk kemudian menarik tangan istrinya untuk duduk di sampingnya.


Cup cup cup cup. kening, pipi kiri, pipi kanan, dan bibir. Kecupan ungkapan terimakasih Hans untuk istrinya karena telah merawatnya juga kedua anaknya.


"Makasih sayang." tutur Hans.


Airen tersenyum dan mengangguk, sungguh dia malu karena situasi saat ini. "Muka kamu kayak tomat." ledek Hans.


"Ihh mas Hans!"


Tawa Amara pecah seakan mengerti dengan interaksi ayah dan ibunya, Airen dan Hans saling pandang lalu ikut tertawa karena melihat tawa manis yang terpancar dari putrinya.


"Amara mirip kamu bangat ya mas."


"Tapi tingkahnya mewarisi kamu, soalnya rewel."


"Ohh maksud mas aku rewel gitu!"


"Iya rewel, tapikan aku cinta." sudahlah Airen mengalah saja, dengan ucapan suaminya.


Airen beranjak membuatkan sarapan mpasi untuk anaknya, karena Amira dan Amara sudah enam bulan lebih. Setelah Amara sarapan, Airen meletakkan anaknya di samping suaminya. Lalu Airen mengambil Amira memandikan dan juga menyuapi sang anak untuk sarapan, setelah semuanya selesai. Kini giliran Airen untuk mandi dan sarapan, untung saja anak-anaknya tidak rewel di samping ayahnya.


Saat ini Airen sedang berada di dapur, tadi dia menitipkan anak-anaknya sebentar kepada suaminya. Airen menikmati sarapan paginya sendiri, karena semuanya sudah sarapan. Suara bel pintu mengalihkan perhatian Airen. Karena mbok Nin sedang belanja, jadi Airen beranjak untuk membukakan pintu.


"Siap--a?" Airen cukup terkejut karena yang ada di hadapannya ini wanita muda dengan pakaian yang cukup ketat, meskipun tidak berbahan minim tapi pakaian itu cukup memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Permisi mbak, apa benar ini rumah tuan Hans?"


Apa? enak saja memanggil ku mbak, padahal usia dan wajahnya masih tuaan dia. batin Airen.


"Iya benar, saya istri nya. Ada apa ya tante?" tanya Airen menekankan dengan sebutan tante.


Terlihat jelas wanita itu sedikit terkejut dengan ucapan Airen, yang mengatakan bahwa dia istri tuan Hans dan juga mengatakan sebutan tante untuk dirinya.


"S--saya asisten tuan Hans, ini resep obat yang tadi tuan pinta." ujarnya.


Apa!? mas Hans ganti asisten. batin Airen sedikit kesal.


"Oh oke, terimakasih banyak." Airen mengambil obat itu dari tangan asisten baru suaminya, sedangkan wanita itu sudah pamit undur diri.


Airen langsung ke kamarnya, bahkan dia sudah tak berselera untuk sarapan. Airen merasa kesal, dengan suaminya.


Brak


Pintu kamar Airen buka dengan sangat kencang, sontak hal itu membuat Hans menatap istrinya. "Apa?!" tanya Airen yang mendapatkan tatapan tak suka dari suaminya.


"Kamu kenapa?" tanya Hans.


"Ga, ini obatnya." Airen menyerahkan obat itu kepada suaminya, lalu mengambil kedua anaknya.


Hans menahan tangan istrinya, "Kamu kenapa sayang?"


"Kimi kinipi siying."


"Airen Cahya senjani! berani kamu meledek saya hah!" bentak Hans.


Deg deg deg


Tubuh Airen bergetar hebat saat suaminya menggentak dirinya, mata Airen sudah berkaca-kaca. Bahkan dia terpaku sejenak. Hans tentu langsung merasa bersalah saat melihat tatapan istrinya.


"S--sayang maaf."


Bahkan kini tangis kedua anak Airen menggelegar, tentu hal itu semakin membuat Hans merasa bersalah. Dia telah membentak istrinya di hadapan anak-anak nya.

__ADS_1


Airen langsung membawa kedua anaknya pergi dari kamar, Hans hendak menyusul namun kepalanya terasa pusing.


Bersambung...


__ADS_2