Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 23


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Airen sudah sadar dari tidurnya, dia melihat ada Hans yang tengah menjaganya, perasaan Airen kala malam itu. Terus menghantuinya, dia belum sepenuhnya ikhlas atas kejadian yang pernah dia alami bersama dengan Hans. Rasa sakit yang ada pada hati gadis itu benar-benar sangat fatal.


"Cahya, syukurlah kamu sudah sadar." ujar Hans saat dia melihat Airen yang sudah membuka matanya.


'Emangnya pingsan apa, orang bangun tidur juga.' batin Airen.


Mata Airen mengedar, menatap sekeliling nya. Dia benar-benar merasa tidak nyaman, berdua dengan Hans. Airen sangat was-was dan takut.


Hans mengerti betul, terlihat jelas dari raut wajah Airen yang sepertinya sedang gelisah dan ketakutan. Hans pun tahu, mata Airen mengedar mencari sosok teman nya.


"Teman mu sedang ada diluar, dia akan segera kemari." ujar Hans.


Airen hanya diam, dia berusaha untuk tidak berfikir banyak hal. Sedangkan Hans dibuat gelisah, bagaimana cara dia menyampaikan bahwa saat ini Airen tengah mengandung anak mereka.


Cklek..


Roni dan Endah masuk ke dalam ruangan, kini Endah sudah tahu semua kebenarannya. Karena Roni menceritakan setiap detail ceritanya, Endah tentu kasihan dengan Airen. Tapi dia juga kasihan dengan Hans. Jadi, Endah memutuskan untuk mendukung Hans dan Airen agar bersatu.


"Airen." panggil Endah.


Endah menghampiri Airen, dan duduk di kursi samping brankar. sedangkan Hans, mundur perlahan dan duduk di sofa yang ada di ruangan itu bersama Roni.


"Ndah, aku mau pulang." ucap Airen.


'Ren, cobaan hidup kamu berat sekali. kamu hebat Ren. Aku bersyukur memiliki teman sekuat dan setegar kamu.' batin Endah menatap iba kepada sahabatnya.


"Tapi, kamu belum diizinkan untuk pulang Ren." ujar Endah.


"Ndah, nanti Eza mencariku. Ayo Ndah, aku mau pulang." ajak Iren.


"Cahya, kamu bermalam disini dulu ya. Besok pagi, baru diperbolehkan pulang. Menurutlah." ucap Hans.


Airen menatap tajam kepada Hans, dia benar-benar kesal dan marah dengan laki-laki satu ini.


"Tuan, tidak memiliki hak apapun terhadap hidup saya!" ujar Airen dengan tajam.


Hans tersenyum, "Sebentar lagi juga ada hak di hidup kamu, pertama kamu akan menjadi istri ku. Kedua, kamu juga akan menjadi ibu dari anak-anak ku." ucap Hans dengan santai.


'Gila, nih bule sedikit narsis.' batin Endah.


'Astaga, apa benar ini Tuan Hans?' batin Roni.


"Kebanyakan halu." ujar Airen dengan sinis.


"Nggak apa-apa, yang penting akan segera terlaksana." ucap Hans dengan bangga.


🌹🌹🌹


"Mih, ada kabar buruk dan baik." ucap William kepada Hellena.

__ADS_1


"Apa Pih! Papih jangan aneh-aneh dong." Hellena tak suka dengan perkataan suaminya itu.


"Serius, Mamih mau tau gak?" tanya William.


"Yauda cepet, kasih tau." ujar Hellena yang mulai kesal.


"Cium Papih dulu." William tersenyum senang, sambil menunjuk pipinya.


"Ck, dasar bule tua yang mesum." ujar Hellena.


Cup!


"Udah, cepetan kasih tau."


"Mamih harus ikhlas dong, masa cium suami ketus gitu." ucap William.


'Astaga, nih bule benar-benar nyebelin!' batin Hellena.


Hellena sudah jengah dengan suaminya, dia hendak pergi dari sana. Namun William menahan tangan Hellena.


"Mih, jangan ngambek dong. Iya nih Papih kasih tau." niat hati ingin mengerjai istrinya namun malah balik ngambek.


"Jadi gini, kabar buruknya. Tadi, kata orang suruhan Papih. Airen di dorong oleh paman dan bibinya. Trus kabar baiknya, ternyata rumah sakit yang dibangun Hans, ada di desa tempat Airen tinggal. Dan kebetulan tadi Hans sempat untuk menolong Airen, jadi mereka bertemu deh." ucap William kepada sang istri.


"Apa Pih! Syukurlah kalau Hans sudah menemukan Airen, tapi bagaimana dengan kondisi Airen?" tanya Hellena.


"Mana Papih tau, tanya aja sama si Hans."


🌹🌹🌹


Drddddttt... Drrdddttt...


'Tuan Bara?' gumam Roni yang melihat ponsel bergetar.


πŸ“ž"Hallo Tuan, ada apa?" tanya Roni.


πŸ“ž"Ck, aku mencari si Hans. Kemana dia?!"


πŸ“ž"Tuan Hans, sedang tidak dapat diganggu Tuan. Kalau ada hal penting sampaikan saja kepada saya."


πŸ“ž"Ck, pasti dia masih marah kepada ku kan. Arghhh bagaimana cara mendapatkan maaf dari nya." kesal Barra, karena Hans tak kunjung memaafkan dirinya.


πŸ“ž"Kalau soal itu, saya tidak tahu Tuan."


Tut...


Barra kesal, dia pun mematikan panggilannya.


Roni menghampiri Hans, dan memberitahu kan kepadanya bahwa tadi Barra menelpon dan mencari keberadaan Hans.


"Aku tidak akan memaafkan nya, kecuali. Jika Cahya sudah dapat memaafkan aku." ucap Hans datar.


Roni hanya diam tak berani untuk menimpali.

__ADS_1


Hari ini Airen sudah diperbolehkan untuk pulang oleh Dokter, Hans masih menyembunyikan tentang kehamilan Airen. Dia takut jika Airen tahu, dan mencoba untuk mengugurkan janin nya.


'Maafkan aku Cahya, aku tak bermaksud untuk membohongi mu ataupun menutupi tentang kebenaran ini. Aku hanya butuh waktu untuk membicarakan hal ini, karena aku takut jika kamu akan melukai bayi kita. Meskipun aku tak berniat untuk memiliki anak, tapi dia sudah hadir diantara kita. Aku harap kamu dapat untuk menerima nya, seperti aku menerima kehadirannya. Meskipun aku tahu, ini sulit untuk mu.' batin Hans.


"Ron!" ucap Hans.


Roni paham betul maksud dari Tuan nya, karena tadi Hans sudah mengatakan kepadanya untuk memberitahu kan kepada Endah agar dia dapat menjaga Airen, dan tidak mengutarakan tentang kehamilan Airen.


"Endah, ikut saya sebentar." ucap Roni.


Endah mengenyeritkan dahi nya, Roni langsung menarik lengan Endah untuk menjauh dari sana.


Airen tak sempat untuk menahan Endah, karena Roni menariknya begitu kencang.


Airen sungguh tak nyaman dengan situasi seperti ini, rasa trauma dan takutnya terhadap Hans masih melekat.


"Kamu tenang saja, aku lagi nggak dalam kondisi mabuk atau pun terangsang oleh obat. Cahya, bisakah kamu memaafkan aku. Aku tahu, aku salah. Aku berniat untuk bertanggung jawab terhadap mu, Cahya a---."


"Cukup!"


belum sempat Hans menyelesaikan kata-katanya, namun Airen sudah lebih dulu memerintahkan Hans untuk tetap diam.


Hans pun diam, tak berani untuk mengucapkan sepatah kata pun. Dia memilih untuk lebih bersabar.


Roni dan Endah, sudah datang kembali. Dan mereka pun keluar dari rumah sakit.


"Ayo, masuk."


Hans membukakan pintu mobil untuk Airen. namun Airen acuh dan menarik Endah untuk berjalan saja.


'Astaga, bisa-bisanya si Iren nolak bule ganteng kayak gini.' batin Endah.


"Ren, sebaiknya kita naik mobil aja ya. Aku capek bangat deh, serius." ujar Endah.


"Tck, yauda gih kamu aja. Aku mah mending jalan aja." ucap Airen.


'Duh Ren, Gue tuh kasihan sama kondisi kesehatan Lo dan calon keponakan Gue.' batin Endah.


"Cahya, masuk!" ucap Hans dengan nada dingin.


Ntah apa yang merasuki Airen, sehingga wanita itu menurut begitu saja. Dia langsung masuk ke dalam mobil, setelah mendengar ucapan dingin dari Hans.


'Lho, Gue kenapa dah? Bisa-bisanya badan Gue langsung patuh begitu saja.' batin Airen.


'Waduh, pasti bawaan calon anak nya si Airen sama bule ini deh.' batin Endah.


Bersambung..


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita aku jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❀️.


Mohon maaf, ini lagi nggak ada ide buat ceritaπŸ™.

__ADS_1


__ADS_2