Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 94


__ADS_3

Selamat membaca ☺️


Tidak sulit untuk Bima menemukan keberadaan Bella, kini Bima sudah berada di kampung halaman Bella. Jujur, ini pertamakali Bima ke datang ke kampung itu. Bahkan Bima juga belum tahu tentang orangtua Bella, meskipun dulu saat di kota mereka akrab.


Bima membawa sahabatnya yaitu Rio, untuk membantu dirinya ketika berada di kampung. Bima dan Rio segera mencari kontrakan untuk mereka singgah. Karena di kampung tentu saja tidak ada hotel mewah.


"Ck, belagu sih lho. Waktu di kota kenapa ngga ngejar si Bella, giliran orang udah mau nikah aja baru bertindak." omel Rio karena dia merasa terbebani oleh temannya ini.


"Diem, ini semua demi Gibran."


"Basi lo Bim, percuma lo ke sini kalau alasannya demi Gibran. Gue jamin si Bella gabakal mau nikah sama lo, kalau alasannya Gibran."


"Udah diem deh, mending sekarang kita cari kontrakan."


Mereka berdua menanyakan tempat tinggal sewaan kepada orang-orang sekitar.


"Bu, permisi. Disini ada yang menyewakan tempat tinggal sementara?" tanya Rio kepada kerumunan ibu-ibu.


"Ya ampun ganteng bangat ini bujang, orang kota ya mas?" bukan menjawab, ibu-ibu itu justru bertanya balik.


"Iya Bu, kita lagi nyari kontrakan di sini. Apa ada yang menyewakannya?"


"Di rumah saya aja, rumah saya besar lho. Ada satu kamar kosong, boleh kok kalian tempati. Gratis juga tidak masalah." ujar ibu-ibu berbadan besar.


Besar kayak orangnya. batin Rio.


"Maaf Bu, kalau ibu tidak bisa memberitahukan kami yasudah tidak apa. Kami pergi dulu." ujar Bima karena merasa kesal dengan ibu-ibu ganjen seperti itu.


"E--ehh jangan pergi dong mas, iya nanti kita kasih tau tapi tolong beri no handphone nya dulu." ucap ibu itu sambil menyerahkan ponselnya.


Tanpa banyak basa basi, Bima mengambil handphone tersebut dan mengetik nomor di ponsel ibu itu.


"Ini, sekarang cepat beritahu dimana orang yang menyewakan tempat tinggal?"

__ADS_1


"Oke terimakasih ya mas, mas silahkan lurus saja, terus belok kanan. Di pertigaan itu ada yang menyewakan kontrakan." ucapnya.


Bima mengangguk, lalu menarik Rio menjauh dari kerumunan ibu-ibu itu. Bima langsung mengambil alih kemudi mobil, karena dia tidak betah jika berada lama-lama disana. Mereka pun pergi dari sana.


Sesuai dengan yang ibu tadi katakan, sekarang Bima dan Rio tengah berbincang dengan seseorang yang memiliki kontrakan tersebut. Bima menyerahkan uang sewa, dan langsung masuk ke dalam kontrakan. Meskipun terbilang sederhana, namun okelah untuk singgah sementara.


"Woi Bim, tadi lo beneran ngasih no hp?" tanya Rio.


"Ya nggaklah."


"Lah terus nomor siapa?"


"Gausah banyak nanya, udah mending istirahat dulu. Besok bantu gue, cari rumah Bella."


Bima bergegas membersihkan tubuhnya lebih dulu, sedangkan Rio mengamati sahabatnya itu yang kian menjauh. Rio tengah berpikir nomor siapa yang Bima kasih, atau mungkin dia hanya mengarang saja?.


***


drrddttt.. drddttt..


Siapa ini? batin Hellena.


"Angkat tidak ya? Kalau nunggu papih lama, karena papih lagi mandi. Angkat deh, takut penting. Lagi pula akukan istrinya."


πŸ“ž"Hallo ganteng!" suara wanita terdengar menggelegar di telinga Hellena.


Hellena menahan emosinya yang hendak meluap, dia masih belum berbicara karena ingin tau reaksi wanita itu.


πŸ“ž"Hei ganteng kok diem aja sih, nanti malam kita ketemu yuk."


Cklek


William baru selesai mandi, namun dia terkejut karena melihat tatapan mematikan dari sang istri yang tengah menghadapnya sambil menggenggam ponsel ditelinganya.

__ADS_1


Hellena segera menghidupkan pengeras suara ponsel, agar suaminya dapat mendengar apa yang wanita itu katakan.


πŸ“ž"Hallo ganteng kok diam saja sih, ngomong-ngomong makasih ya nomor teleponnya. Baik bangat sih, kirain bakalan ngga di kasih." celoteh wanita itu.


πŸ“ž"Oh jadi suami saya yang memberikan nomor ponselnya pada mu ya, hahahaha hebat bangat ya." ucap Hellena dengan lantang.


Tutt..


Sambungan telepon itu tiba-tiba terputus, karena si wanita yang mematikannya. Hellena langsung melempar ponsel suaminya ke kasur, dia memilih pergi dari kamar.


"Mih tunggu, ini salah pah--."


"Ngga usah dijelasin, semuanya sudah jelas. Mamih kecewa sama papih, hampir 35 tahun kita bersama, membina rumah tangga. Baru kali ini mamih menerima panggilan telepon seperti itu, semakin tua ternyata Papih semakin nakal. Apa karena Mamih sudah tidak muda lagi?" ujar Hellena menahan air matanya, Hellena pun tidak kuasa menahan tangisnya. Dia memilih pergi ke kamar Airen.


"Mamih tunggu!" William tidak dapat mengejar istrinya keluar, karena dia belum mengenakan pakaian.


William segera mengambil baju dan memakainya, pikirannya kalut memikirkan sang istri. Sungguh tidak tega melihat air mata yang hampir barjatuhan karena dirinya, meskipun William tahu dia tidak bersalah tentang ini.


"Siapa yang berani memberikan nomor ponsel ku kepada orang lain, tidak mungkin Hans. Ini pasti antara Raja dan Bima!" ucap William geram dengan putranya.


Hattchiii


Raja yang sedang mengemudikan pesawat tiba-tiba bersin. "Are you okay, capt?" tanya co-pilot yang berada di sampingnya.


"I'm Okay." jawabnya.


Apa ada orang yang tengah membicarakan ku? batin Raja.


*


*


Bersambung...

__ADS_1


Maaf up nya dikit, insyaallah besok aku up lagi😁. Terimakasih banyak orang-orang baik, yang sudah membaca dan memberikan dukungannya di cerita KISAH TUAN HANS.


Tetap berikan dukungan kalian, melalui vote komen hadiah dan like ya.❀️


__ADS_2