
Peringatan : Yang bacanya pas puasa, mending skip dulu ya. Bacanya nanti malam saja.
(Minta nambah)
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
Ntah mengapa hari-hari belakangan ini, fokus Bima tertuju pada Bella. Bahkan dia sudah mulai melupakan Airen.
Pletak
"Woi, ngape lu cengengesan kayak gitu. Kesambet dimana pak dude." ujar Rio yang tengah melihat Bima melamun sambil tersenyum.
"Ck, apa urusannya sama lo."
"Wisss, kalem dong. Woi Bim, ada saran ngga bagaimana cara nembak cewek gitu?"
"Astaghfirullah, istigfar lo. Anak orang mau ditembak."
"Ngga gitu konsepnya bambang."
"Pffttt Haha, emang lo mau nembak siapa? Daripada ngajak pacaran, mending langsung lamar aja. Tar keduluan orang lain nanti nangis." ujar Bima meledek.
"Ck sial lo, jangan sampe deh keduluan orang lain. Bim, menurut lo gue pantes nggak sama Dokter Novi?" tanya Rio yang tidak percaya diri.
"Yailah Man, kalau ditanya soal itu sih jelas ngga pantes. Bagai langit dan bumi, cewek sesoleha dokter Novi itu pantesnya sama ustadz-ustadz. Sedangkan lo yang notabennya seorang player ranjang, mana cocok sama dia. Kasihan Dokter Novi, kalau nikah sama yang bukan perjaka hahaha. Tapi, balik lagi yang namanya jodoh kita kan ngga tahu." ujar Bima terus terang.
"Jawaban lo membuat gue bimbang, antara maju atau mundur. Yang lo omong emang bener sih, tapi gue udah ninggalin dosa itu. Gue pengen berubah lebih baik, kan katanya jodoh adalah cerminan diri sendiri. Btw nama gue Rio, bukan man." ujar Rio.
"Rio Armansyah kan, terserah gue dong mau manggil lo apa ge."
"Ck iya-iya, Dokter Bima Kyle Mikhailov. Pak dude anak satu, yang patah hati karena adik kandungnya sendiri. pfftt haha."
"Bosen kerja lo? Atau mau jadi pengangguran aja." ancam Bima dengan mata yang tajam.
"Yailah canda Bim, santai dikit dong bos hehe. Nanti buat mahar neng Novi, gimana ceritanya tuh kalau gue nganggur."
"Hn, udah sono lo kerja. Banyak pasien yang harus lo tangani."
"Iya iya, ini juga mau kerja. Assalamu'alaikum."
Rio langsung pergi dari ruangan Bima setelah dia memberikan salam, dan menutup pintu secara pelan-pelan. Sontak hal itu membuat Bima kaget.
"Busetdah, kesambet dimane tuh bocah." gumamnya yang melihat perubahan Rio.
🌹
Semalam Airen dan Hans saling diam, bahkan sampai mereka di kamar dan tertidur lelap. Airen merasa sangat bersalah, karena dia belum mampu untuk meminta maaf duluan.
Pagi ini, Airen sudah bangun lebih dulu. Dia melihat wajah Hans yang sedang tertidur pulas, sangat damai dan menyejukkan hatinya.
Mas, kamu tampan bangat sih. batin Airen.
Tiba-tiba ada desiran aneh dalam tubuh Airen, seakan dia menginginkan suaminya. Airen menggigit bibir bawahnya, dia pun segera memposisikan dirinya agar terduduk.
Airen meneguk salivanya kasar, saat melihat bagian inti suaminya yang sedikit menonjol. Ntah mengapa ada perasaan ingin tahu dan memegangnya.
Astaga, ada apa dengan ku? kenapa menjadi seperti ini. ayolah Airen sadar. batin Airen bergemuruh.
__ADS_1
Tangan Airen mulai terangkat, untuk menyentuh bagian yang membuat dirinya penasaran.
Gluk
Airen menelan salivanya kasar, saat tangan dia sudah menyentuh area inti suaminya. Keringat sudah basah membanjiri kening Airen, bahkan tangannya bergetar. Sontak hal itu membuat Hans melenguh merasakan hal yang tidak biasa.
"Ughh."
Airen dibuat terkejut oleh suara Hans, tanpa disadari dia malah makin menggenggam erat milik Hans. Sontak, Hans terkejut. dia langsung membelalakkan matanya, saat bagian intinya diremas.
"H--Hah, sayang apa yang kamu lakukan?" tanya Hans dengan wajah yang sedikit pusing, karena dia terjengkat bangun.
Mampus ketahuan. batin Airen.
"A--ano, itu mas. a aku, aku ingin--."
"Ingin apa hm?" tanya Hans, yang kesadarannya sudah pulih sepenuhnya.
Airen menggigit bibir bawahnya, menahan rasa malunya. bahkan tangannya belum terlepas dari sana.
Ada apa dengan istriku? Mengapa dia memegangi milik ku. Apakah dia tidak tahu, bahayanya hal itu? batin Hans.
"Sayang, kamu kenapa hei?" tanya Hans.
"M---mas, aku mau ini." ucap Airen dengan suara yang berat.
Apa!
Setelah mendengar suaminya berbicara dengan suara yang tinggi, Airen langsung melepaskan tangannya dari sana. Air matanya meloroh begitu saja.
"Hikss.. kenapa sih, kamu selalu bentak aku?" ujar Airen.
"Ngga jadi, udah ngga mood." jawab Airen ketus.
Justru Hans malah mendekatkan dirinya dengan tubuh sang istri, memeluk Airen dengan erat.
"Ayo sayang, lihatlah dia sudah bangun. Tanggung jawab ya." ujar Hans dengan suara yang berat.
"Apanya yang bangun?" Airen pura-pura tidak tahu.
Hans tersenyum licik, dia mengambil tangan istrinya dan meletakkannya di tongkat sakti miliknya. Airen dibuat gugup, apa-apaan ini, mengapa suaminya sekarang yang mendominasi.
"Sshh, sayang. Mau ya?" ucap Hans dengan suara yang sudah menginginkan hal lebih.
Airen mengangguk, Hans dibuat senang oleh jawaban Airen. dengan cepat, Hans menarik tengkuk leher sang istri. Mereka bertukar Saliva di pagi hari. decapan menghiasa kamar hotel mereka di pagi hari yang cerah ini, keduanya sama-sama terlena dan hanyut dalam kenikmatan yang ada.
Hans terus melakukan pemanasan, hingga akhirnya dia sudah tidak tahan lagi. Dengan nafas yang memburu, kini mereka berdua sudah tidak memakai sehelai benang pun. Hans menatap Airen dengan penuh cinta, mengecup singkat kepala istrinya.
"Are you ready baby?" tanya Hans.
Airen mengangguk pasrah, meskipun masih ada sedikit rasa takut. namun, keinginannya luar biasa lebih besar. atau mungkin ini karena faktor kehamilannya?
"Tahan ya sayang." ucap Hans, karena dia tahu mereka baru melakukan hal ini untuk yang kedua kalinya.
"Pelan-pelan mas, inget anak kita." ucap Airen.
"Iya sayang pasti, aku sapa mereka dulu deh. Hallo anak-anak papa, kalian jangan kaget ya papa akan menjenguk kalian. Baik-baik disana ya." ucap Hans, dan langsung mencium perut sang istri.
Tanpa banyak bicara, Hans memulai penyatuannya. Hans dibuat terlena dengan kenikmatan yang ada, sedangkan Airen menahan perih dibagian intinya yang terasa penuh. Hans melihat ketidaknyamanan yang terpancar dari wajah istrinya, akhirnya Hans memilih untuk berhenti terlebih dahulu dari aktivitas nya. Setelah di rasa cukup, Hans melanjutkan kembali menggoyang kan pinggulnya dengan perlahan. Bahkan Airen juga sudah mulai merasakan kenik matannya, Hans terus memompanya dengan sedikit cepat.
__ADS_1
"M---mas."
"Bersama sayang."
Aaahhh.
Tubuh keduanya meremang dan ambruk, setelah mereka melakukan penyatuan lmya bersama. Nafas Airen tersengal-sengal, Hans mendekap istrinya ke dalam pelukannya. mereka menikmati paginya yang indah, Hans tersenyum ke arah istrinya.
"Terimakasih sayang, terimakasih karena sudah memperbolehkan aku mengambil hak ku." ujar Hans.
Airen tersenyum dan mengangguk, bahkan dia tak sanggup untuk menjawab ucapan suaminya.
"Lagi ya?" pinta Hans kembali.
"Mas!!." keluh Airen.
"Ayo sayang plis, tongkat ku bangun kembali." ucap Hans.
"Mas aku sedang hamil lho.." Airen memperingatkan suaminya.
"Sayang, satu kali lagi aja. Yaa plis, aku janji pelan-pelan. Habis ini kita langsung cek up ke dokter kandungan, pasti anak kita juga senang karena papanya jengukin."
"Nggak mau mas, cape ihhh."
"Dosa lho yank, nolak suami." ujar Hans.
Airen mengerecutkan bibirnya, dan akhirnya dia pun pasrah dengan apa yang suaminya inginkan. Mereka pun melalui pagi panasnya dengan beberapa ronde.
(Maklum Hans baru buka puasa, ibarat kata mah bales dendam. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada😂)
🌹🌹
Di lain sisi, Laura kini bersiap-siap untuk ke Indonesia. Dia sangat bersemangat untuk kembali ke dalam pelukan Hans.
"Hans, wait for me honey. I will come." ucap Laura di depan cermin, sambil melihat foto Hans.
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Lusiana.
"Of course ready, mom." ujar Laura kepada ibunya.
Laura, apapun untuk kebahagiaan mu akan mama lakukan termasuk membantu kamu untuk kembali bersama dengan Hans. batin Lusi.
cklek
"Kalian sudah siap?" tanya Daniel yang masuk ke dalam kamar Laura.
"Sudah Dad, Let's go back to Indonesia. I can't wait to meet and hug Hans."
(Ayo kita balik ke Indonesia, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dan memeluk Hans.)
Lusi dan Daniel saling pandang, mereka pun tersenyum. apapun akan mereka lakukan demi putri semata wayangnya.
Sedari kecil, Laura selalu mendapatkan hal yang dia inginkan. Kasih sayang berlimpah dari orangtuanya membuat dirinya sangat manja, karena Laura selalu bergantung kepada kedua orangtuanya. bahkan sampai urusan percintaan nya pun, orangtua Laura ikut andil di dalamnya.
Papa janji sama kamu Laura, papa akan melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan mu. Termasuk menyingkirkan orang-orang yang menghambat bahagia mu. batin Daniel.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
__ADS_1
Kayaknya besok aku ngga updet🙏, makanya sekarang nyempetin untuk updet.