
Pesta pernikahan 2B belum berakhir, malam ini semua wanita mengenakan gaun dan para pria mengenakan setelan formalnya seperti kemeja yang terbalut oleh jas.
Bima terus menatap wanita yang tadi pagi sudah sah menjadi istrinya, bahagianya sungguh luar biasa. Kini mereka berdua tengah berada di dalam kamar pengantin miliknya.
Bima memeluk Bella dengan penuh kasih sayang, Bella membalas pelukan suaminya itu. Rasa bahagia menyelimuti keluarga mereka.
"Sayang bangat deh sama manusia satu ini." ungkap Bima sambil terus memeluk Bella dengan erat.
"Ishh sejak kapan kak Bima jadi seperti ini."
"Ganti dong yang, masa sudah jadi suami masih di panggil kakak. Nanti orang-orang mengira kamu itu adik aku, mulai sekarang panggil mas ya. Biasain oke."
Bella mengangguk, terkadang dia lupa memanggil suaminya masih dengan sebutan kakak. Bella bahagia karena kini hidupnya merasa sempurna dengan kehadiran seseorang yang dicintainya.
"M--mas, awas dulu aku mau ganti pakaian."
Bima sama sekali tidak mendengarkan ucapan Bella, dia masih terus memeluk erat wanitanya sungguh rasanya tidak rela jika melepaskan Bella.
"Sebentar saja, lagi pula ini acara kita. Semua orang pasti maklum."
"Mas aku juga mau berbincang dengan Airen, Mbak Ratu, Mama juga Gibran."
"Nanti dulu sayang, biarin Gibran sama mereka dulu. Nanti aku ngga kebagian kalau kamu sama dia." rengek Bima.
Bella hanya pasrah, membiarkan suaminya memeluk dirinya. Sebenarnya Bella pun bahagia karena dapat seperti ini bersama dengan Bima, hanya saja dia belum terbiasa ada rasa malu yang melandanya.
Dilain sisi, Barra menatap jengah ke arah Hans yang tengah bergelayut mesra kepada istrinya, bukan hanya Hans tapi Raja juga Papih William. Barra tak habis pikir dengan keluarga Cemara ini, astaga rasanya ingin menghilang dari bumi.
Tuhan, kirim satu wanita saja untuk ku. astaga aku iri sekali rasanya. batin Barra.
"Makanya Bar, cepetan sana kamu cari istri." ujar William yang menatap paham raut wajah Barra.
Ngga anak ngga bapak udah kayak cenayang aja.
Hans melirik ke arah Barra, namun dia masa bodo dengan kehadiran sahabatnya. Sedangkan Raja malah sengaja memperlihatkan kemesraannya kepada Barra.
"Tau tuh si Barra udah tua juga, si Hans aja udah punya buntut dua. Masa kamu belum ada wanita." ledek Raja.
Ratu mencubit tangan suaminya yang masih berada di perutnya, sedangkan Raja langsung menutup mulutnya saat dia dicubit oleh sang istri.
"CK bang Raja gausah ikut campur, si Hans juga kalau bukan karena saya mah ngga bakal dia punya buntut dua. Lahirnya Amira dan Amara itu berkat saya Bang." ucap Barra bangga, meskipun dulu dia sempat babak belur sedikit oleh Bima dan papih William.
Hans melempar bantal sofa tepat di wajah Barra, "Diem!" ucap Hans tajam, tentu hans tidak ingin membuat istrinya ingat masa-masa menyedihkan itu. Jujur saja, sampai detik ini pun Hans masih merasa bersalah dengan kejadian itu.
Airen paham suaminya ingin menjaga perasaannya, Airen mengelus lembut kepala Hans yang saat ini tengah bersandar di dadanya. Hans menatap ke arah Airen, langsung disambut oleh senyuman hangat dari Airen. Seolah Airen mengatakan bahwa dia baik-baik saja dengan hal itu.
Hans cukup lega, karena tidak menemukan kesedihan di wajah istrinya. Tamu berdatangan, Hellena dan William menyambut para tamu. Sedangkan Barra masih setia duduk mengamati Hans dan Raja yang sedang bermesraan dengan istri mereka.
Gini amat nasib jomblo. batin Barra menderita.
__ADS_1
Bima dan Bella turun ke bawah dengan bergandengan tangan, setelan gaun yang Bella kenakan sangat cantik dan menawan bak seorang putri kerajaan.
Hans ikut bahagia dengan apa yang kakaknya capai, dia bersyukur karena kini baik dirinya maupun kakaknya mendapatkan cinta nya masing-masing.
"Iya tau mbak Bella cantik bangat." ucap Airen yang merasa cemburu karena suaminya terus menatap ke arah dua pasangan yang tengah menuruni tangga.
Hans melirik istrinya, lalu tersenyum jail. "Iya beruntung bangat ya kak Bima, padahal dulu dia yang ngejodohin aku sama Bella lho." ucap Hans sengaja membuat Airen cemburu.
Apaan sih mas Hans, kok jadi bahas itu. batinnya kesal.
"Lepas ah, aku mau main sama anak-anak aja." Airen melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.
Saat Airen hendak bangun, Hans langsung menarik istrinya agar terduduk di pangkuannya. "Mas apaansih awas ah jangan rusuh, malu banyak tamu." protes Airen.
Raja yang melihat itu merasa jengah dengan tingkah Hans, Raja membawa istrinya pergi menjauh dari sana. Sedangkan Barra masih setia duduk, berusaha untuk tidak melihat ke arah pasangan yang tengah bermesraan itu.
"Jangan cemberut gitu dong sayang."
"Siapa yang cemberut? Aku emang gini, asem mukanya. Kalau mau yang kayak mbak Bella silahkan kamu cari. Aku ikhlas." ucap Airen sedikit emosi.
"Yakin?" Hans justru menantang ucapan istrinya.
Ish sumpah demi apa mas Hans nyebelin bangat. Bukannya di bujuk kok malah jadi gini. batinnya.
"Ohh kamu mau mas? Silahkan, setelah pesta kak Bima berakhir urus saja surat perceraian kita." tanpa aba-aba Airen langsung bangun dan pergi dari sana dengan suasana hati yang muram.
Sedangkan Hans menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan istrinya, Astagaa, cerai? batin Hans ketakutan.
***
Aryo datang sendiri tanpa putrinya, dia menghadiri acara pesta pernikahan Bima dan Bella. Meski masih ada sedikit rasa sakit yang mendera dalam hati, namun dia berusaha menguatkan hatinya.
Aryo sudah lengkap dengan setelan jas nya yang berwarna biru dongker, dia masuk ke dalam pesta itu. Kebetulan sekali Bella dan Bima sudah berada di atas pelaminan.
Dengan perasaan yang bercampur aduk antara sakit, kecewa, sedih serta bahagia Aryo berjalan ke arah pelaminan. Berusaha memberikan ucapan selamat untuk kedua mempelai.
Bima yang melihat kedatangan Aryo cukup kaget, Wah si duda satu itu tak ku sangka dia mau datang. batin Bima.
Aryo menatap Bima jengkel karena dari raut wajahnya sudah tercetak jelas tengah meledek dirinya. CK sial, seharusnya aku datang ke sini bersama seorang wanita. Meskipun wanita sewaan. batin Aryo.
Ehem.
"Bel, selamat yaa. semoga pilihan kamu ini tepat." ucap Aryo kepada Bella.
"Makasih mas Aryo, semoga mas juga secepatnya menemukan pendamping hidup ya mas." ucap Bella tulus.
Saat Aryo hendak menyalami Bella, Bima dengan cepat menggantikan tangan istrinya dengan menjabat tangan Aryo.
"Ck posesif amat sih duda." ujar Aryo.
__ADS_1
"Heh enak aja! Ralat! bukan duda, tapi pengantin baru. Gak liat apa Lo ini istri gue." ujar Bima membenarkan.
"Terserah deh."
"Udah sana mending makan aja gih, ga baik ngeliatin istri orang sampe segitunya." celetuk Bima.
Bella menyenggol lengan suaminya, berharap Bima menghentikan kata-kata seperti itu. "Mas gabaik seperti itu." bisiknya.
"Songong bangat Lo, awas Lo ya. Tar kalau gue nikah, Lo orang pertama yang bakal gue undang!" ucap Aryo.
"Gue tunggu undangannya bro." Bima menepuk bahu Aryo.
Aryo langsung pergi dari sana, lebih baik dia mencicipi makanan saja. Mumpung gratis. Saat Aryo hendak mengambil hidangan pembuka, namun dia tidak sengaja menabrak tubuh seorang wanita, dengan cepat Aryo menahannya.
Mereka bertatapan sebentar, seperkian detik berikutnya wanita itu bangun dari lengan Aryo yang menahannya. "M--maaf." ucapnya.
"Aah? ah iya ngga apa-apa. Saya yang minta maaf."
Barra yang melihat Ica tengah berbincang dengan laki-laki yang usianya seperti Bima, lantas menghampirinya.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan suara seperti hans, agar berusaha terlihat arogan.
Aryo melirik Barra dari atas sampai bawah, "Tidak ada apa-apa, apa kamu kenal dengan wanita ini?" tanya Aryo kepada Barra.
"Ya! Dia calon istri saya." ucap Barra tanpa ragu, lalu menarik pinggang Ica dengan posesif.
"Oh."
Sedangkan Ica menatap tajam ke arah Barra, lalu menginjak kaki Barra dengan cukup kencang.
"Aaaaa-mmpphhh." Saat Barra berteriak cukup kencang, Aryo menutup dengan telapak tangannya.
Sedangkan Ica langsung pergi meninggalkan dua laki-laki berbeda generasi itu, Barra dengan segera menyingkirkan tangan Aryo.
"Sepertinya dia bukan calon istri mu." ucap Aryo menebak dari tingkah Ica yang terlihat enggan mengakui.
"Ck gausah ikut campur! Lagian siapa si Lo, bang Bima segala ngundang orang ga dikenal."
"Abang? Dia Abang mu?"
Barra tersenyum licik di dalam hatinya, dengan semangat 45 Barra mengangguk iya. "Iya dia Abang gue, kenapa emang?" tanya Barra dengan muka yang tidak bersahabat sama sekali.
Masih gantengan si Bima, tapi sifatnya 11 12 lah. batin Aryo.
"Ngga, saya permisi. Oiya, sepertinya saya tertarik dengan wanita tadi." ucap Aryo di telinga Barra saat hendak pergi.
Barra mengumpat kesal, "Enak aja, itu incaran gue. Awas saja Lo berani dekat-dekat dengan Ica!" gumam Barra marah.
Bersambung...
__ADS_1
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir, dan setia membaca cerita KISAH TUAN HANS.
jangan lupa untuk memberikan dukungannya, melalui Vote, komen, like, dan hadiah yaa.