Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 46


__ADS_3

(Digigit nyamuk)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Hellena sudah menyiapkan pernikahan Hans dan juga Airen, mulai dari dekorasi, tempat, makanan dan lainnya. Resepsi pernikahan mereka akan dilaksanakan seminggu lagi, karena William baru dapat pulang dari Prancis sebelum hari H.


"Ratu, Mamih minta tolong. Kamu panggilin Hans dan juga Airen." ujar Hellena.


"Oke Mah, sebentar." ucap Ratu, dia pun pergi menuju ke atas.


Saat dalam perjalanan ke kamar Hans, Ratu bertemu dengan Bima yang akan turun untuk sarapan.


"Ada apa si? pagi-pagi Mamih ribut bangat." tanya Bima kepada kakak iparnya sekaligus teman nya itu.


"Sedang menyiapkan pernikahan Hans dan Airen." jawab Ratu.


Deg.


Aku sampai lupa, jika mereka belum mengadakan resepsi. batin Bima.


Terlihat jelas raut kesedihan di wajah Bima, Ratu sedikit iba terhadap teman sewaktu SMA nya itu.


"Si Raja ngga pulang?" tanya Bima mengalihkan pembicaraan.


"Mas Raja 6 hari lagi baru pulang, katanya mau menyelesaikan jam terbang. Biar bisa hadir diacara pernikahan Hans. Nanti juga pulangnya sama Papa William." ucap Ratu.


"Oh." Bima hanya ber-oh saja, dia langsung turun tidak ingin membuat hatinya sakit karena harus mendengar tentang pernikahan adiknya.


Tok..tok..tok.


"Airen, Hans. Dipanggil Mamih." ucap Ratu diambang pintu.


Cklek.


"Ayo mbak, kita turun. maafin aku ya mbak, selama tinggal disini belum pernah bangun pagi." ujar Airen yang keluar dari kamar.


"Ngga apa-apa, Ren. Namanya juga bumil, mungkin bawaan bayi. Oiya, Hans mana?" tanya Ratu.


"Mas Hans masih mandi, kita duluan aja mbak." ujar Airen.


Ada apa dengan Airen? dia seperti orang yang sedang malu. batin Ratu melihat gerak gerik adik iparnya.


Tatapan Ratu tertuju ke arah leher Airen, Ratu terkekeh pelan melihat ada tanda kemerahan di leher Airen.


Astaga, apa karena Hans melakukan hal itu. Airen sampai malu seperti ini? batin Ratu.


"Mbak, kenapa tertawa?" tanya Airen.


"Ngga apa-apa, ayo kita sarapan."


Mereka berdua menuju meja makan, di sana sudah ada beberapa orang. Bahkan Bima juga sudah ada di sana.


Airen memilih tempat duduk di samping adiknya, Gibran pindah ke samping Airen yang masih kosong.


"Gibran, jangan disitu. Itu tempat Uncle mu." ujar Bima memperingati.


"Tapi Dad, aku mau disini." lirih Gibran.


"Ngga apa-apa, nanti biar Uncle Hans duduk di samping Oma ya." ucap Hellena.


"Makasih Oma."


Airen menyendokan makanan ke piring Eza, dan juga dirinya. Begitupun Gibran, dia meminta Airen untuk menyendokannya makanan.


Hans datang, dia melirik ke arah istrinya. Hans langsung duduk di samping Hellena. Airen tersenyum, dia mengambil piring Hans untuk diisi.


"Ini mas." Airen memberikan piring itu kepada suaminya.


"Makasih sayang." jawab Hans.


Uhukk.. Uhuk..


Bima tersedak saat mendengar adiknya memanggil sayang kepada Airen, sedangkan Gibran nampak asyik menikmati makanan. Dia tidak mendengar uncle nya berbicara, jika saja Gibran mendengar. mungkin anak laki-laki itu akan protes.


"Hati-hati Bim makannya, jangan terburu-buru." ujar Hellena.


Bima hanya mengangguk.


Semua orang makan dengan hening tanpa suara, sedangkan Gibran sudah lebih dulu selesai makan. Dia mengamati wanita yang dipanggil Mommy olehnya, Gibran senang karena sekarang dia tinggal satu rumah dengan Mommy-nya.


Pandangan mata Gibran tertuju ke leher Airen, "Mommy, leher mommy ko merah-merah. Digigit nyamuk yah?" tanya Gibran polos.


Uhukk..Uhukk..


Bima dan Airen tersedak saat mendengar ucapan Gibran, Hans tersenyum senang hasil karyanya dapat di lihat oleh kakaknya.


Airen tersenyum kikuk, kenapa dia melupakan hal ini. Aaaa malu sekali rasanya.

__ADS_1


"I--ini, iya kakak di gigit nyamuk." ucap Airen.


"Nanti malam Mommy tidurnya sama aku dan Daddy saja, di kamar Uncle mah banyak nyamuk." ujar Gibran.


Uhukk..Uhukk..


Kini giliran Hans dibuat tersedak oleh ucapan keponakannya, bagaimana bisa istrinya tidur dengan kakaknya.


"Gibran, ayo ikut Daddy." ujar Bima.


"No, Daddy. Aku ingin bersama Mommy." ucapnya tanpa memandang Bima.


"Hari ini ayah akan membelikan mu es krim." Bima berusaha membujuk putra semata wayangnya.


"Otey, let's go. Mommy ikut ya?"


"No, Tante Iren akan ikut bersama dengan Oma. Karena dia sudah janji, lain kali aja ya." ujar Hellena.


"Otey deh, Oma. jagain Mommy ya, dahh Mommy aku mau beli es krim. Muachh." Gibran langsung mencium pipi Airen.


Airen mematung ditempat, dia tidak tahu harus berkata apa. karena tatapan suaminya sudah tak lagi bersahabat.


Bima langsung menggendong putranya, pergi dari meja makan. Sedangkan Hellena bernafas lega, karena situasiny sudah membaik.


"Hans, ayo cepat selesaikan sarapan mu. Habis ini kita fitting baju." ujar Hellena.


"Hm."


Mereka melanjutkan makannya, sedangkan Airen hatinya sudah gelisah tak karuan. Karena dia takut, jika suaminya kembali mencuekan dirinya.


Setelah sarapan, mereka semua langsung pergi untuk fitting baju, tak terkecuali Eza, Eranson dan Ratu. Mereka pun ikut serta untuk fitting baju.


🌹🌹


Lov Butik.


Butik ini adalah butik milih Hellena, kecintaannya terhadap dunia fashion membuat Hellena ingin terjun langsung dalam bisnis dibidang itu.


Butik yang sudah lama dia dirikan, bahkan jauh sebelum dia mengenal dengan William. Kisah cinta mereka ada di butik yang penuh sejarah ini. Dulunya, butik ini sangat kecil namun seiring dengan berjalannya waktu. Hellena dapat mendirikan butik ini dengan megah.


Hellena ingin memiliki cucu perempuan, karena dia ingin yang mewarisi butik ini adalah cucunya. Bukan hanya sekedar cucu perempuan, namun cucunya harus ahli dan suka dalam dunia fashion.


"Ren, ini butik Mamih. Bahkan jauh sebelum Hans ada, butik ini sudah ada." ujar Hellena memberitahu tentang kisah butiknya.


"Dulu namanya bukan Lov butik, pokonya ini sejarah yang tak boleh diceritakan hehe." ucap Hellena.


"Oma, aku sama kak Eza ke mall saja ya. Aku ngga suka lihat-lihat baju." ujar Eranson.


"Yasudah, Ratu ajak mereka bermain saja. kamu fitting baju nya nanti saja." ujar Hellena.


"Baik, Mah. Ayo anak-anak kita pergi ke mall."


"Eza, kamu hati-hati ya. jangan merepotkan mbak Ratu." pesan Airen kepada adiknya.


"Kakak tenang saja."


Mereka pun pergi dengan riang gembira.


***


Sedangkan Hans dari tadi hanya diam, mengamati interaksi istri dan juga ibunya. Hans seperti Dejavu, bahkan dia pernah mengantarkan Laura mantan tunangannya pergi untuk memilih baju pengantin disini.


ibunya juga dengan gembira memperkenalkan banyak hal kepada Laura pada waktu itu, Hans tersenyum kecut hingga detik ini dia tidak tahu mengapa Laura kabur di hari pernikahannya.


Laura, aku sudah merapat semua kisah kita. aku harap kamu tidak kembali, karena aku sudah membuka lembaran baru kisah ku bersama dengan Cahya. batin Hans yang berharap, jika Laura tak kembali ke dalam kisah nya.


"Mas, kok melamun saja?" Airen membalikan tubuhnya, menatap suaminya yang diam di belakang nya.


"Sudahlah, jangan hiraukan Hans. sebaiknya kita lihat baju pengantin kalian." Hellena langsung menarik lengan menantunya pergi dari sana


"Bisakah aku mengatakan bahwa ibuku yang mencuri istriku." gumam Hans.


Airen melihat banyak sekali gaun pengantin, sangat indah. Airen tak pernah membayangkan akan mengenakan gaun sebagus dan seindah itu.


"Ayo, dicoba satu-satu. Ini semua Mamih yang rancang." ujar Hellena membanggakan dirinya sendiri.


"Wahh, indah bangat." puji Airen.


Airen mencoba satu persatu gaun pengantin itu, dia sangat bahagia karena tak pernah membayangkan bahwa dia akan menikah dengan memakai gaun sebagus ini.



Airen keluar dari ruang ganti pakaian, dia berjalan dengan sedikit kesulitan karena ukuran gaun yang sangat besar.


"Wahhh, Mamih ngga percaya kalau kamu berasal dari desa." ucap Hellena.


Sedangkan Hans tak menyadari keberadaan istrinya, dia fokus memainkan handphonenya karena masih harus mengurus pekerjaan lewat online.


"Hans!" ujar Hellena dengan sedikit keras.

__ADS_1


Hans menatap ke arah ibunya, dia mengernyitkan dahinya. Hellena menunjukkan Airen kepada Hans, sedangkan Hans menatap tak percaya istrinya.


Plak.


"Makanya, jangan main hp terus. Istri cantik gini kok dianggurin, sekarang aja natapnya udah kayak anjing lihat tulang. Ini cocok ngga?" tanya Hellena.


"No, bagian dadanya terlalu terbuka." protes Hans.


"Astaga kamu ini kuno bangat sih." ucap Hellena kepada Hans.


"Ayo Ren, kamu coba lagi yang ini."


Sudah beberapa kali percobaan, Hans selalu protes bahwa gaun istrinya inilah itulah. Sampai Hellena dan Airen dibuat kesal oleh Hans.


"Mah, aku nggamau ada resepsi pernikahan. capek, gunta ganti gaun terus." Airen mengeluh karena sedari tadi dia harus bolak balik ke ruang ganti.


"Mamih ngga tanggung jawab lho Hans, istrimu sudah protes seperti ini." ucap Hellena.


"Sayang, ayo coba yang ini ya." bujuk Hans.


"Ngga mau, kamu mah gitu. Yang ini itu ngga boleh, aku capek gunta gantinya." protes Airen.


"Yang ini, coba sekali lagi ya." ucap Hans.


Airen hanya cemberut, dia benar-benar sudah badmood. Begitupun dengan Hellena, dia tak habis pikir dengan anak bungsunya itu.


Dasar Hans, kamu benar-benar mirip dengan Papih mu. waktu mamih memilihkan gaun untuk Gina dan juga Ratu, si Bima dan juga raja tidak terlalu banyak protes seperti mu. batin Hellena.


Hans langsung menggendong Airen masuk ke dalam ruang ganti, Airen dibuat terkejut oleh tindakan suaminya.


"Ayo coba gaun yang ini, atau aku yang memakaikannya?" goda Hans.


"Dasar mesum, sana keluar! aku bisa sendiri."


Hans langsung keluar setelah istrinya mau memakai satu gaun lagi, Hans dan Hellena menunggu Airen keluar dari ruang ganti.



Airen keluar dengan wajah ditekuk, karena takut jika suaminya akan menolak gaun yang ini.


"Mama." panggil Airen.


Hans dan Hellena langsung menoleh ke arah Airen, mereka menatap takjub dengan kecantikan Airen saat memakai gaun pengantin yang terbilang elegan.


"Wahhh." Hellena dibuat ternganga, begitupun dengan Hans.


"Mas! Mama." panggil Airen yang sudah badmod, karena kedua orang itu malah terdiam.


"Aaaa sayang, kamu cantik bangat." Hellena langsung menghampiri menantunya, dan memutar balikan tubuh Airen.


Hans mendekat ke arah istrinya.


**Cup.


Hmmpphhh**


Hans langsung menyambar bibir ranum Airen, Hans me lum atnya dengan sangat dalam.


Astaga, anak nakal! batin Hellena yang menyaksikan hal itu.


Plak.


Hellena memukul kepala Hans, sehingga ciu man itu terhenti. Wajah Airen mendadak seperti kepeting rebus.


"Astaga, kau ini sangat nakal Hans. Dimana sopan santun mu hah!" teriak Hellena.


"Bilang saja iri, karena Papih tidak ada." ucap Hans dengan santai.


William, lihatlah anak mu ini! batin Hellena.


***


Di Prancis.


William sedang menatap layar laptop, tiba-tiba dia mendadak bersin.


Hatttchiii.


"Tuan, apa anda demam? apa perlu saya membawakan dokter untuk anda." tanya asistennya. (Anggep aja pake bahasa Prancis ya).


"Tidak." jawab William.


Sepertinya ada yang sedang mengumpat ku. batin William.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat angan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❤️.

__ADS_1


__ADS_2