
Selamat membaca ☺️
🌹🌹🌹
...Terkadang hidup memang tidak dapat kita duga, tentang rasa sedih dan bahagia sudah Tuhan atur. Tergantung bagaimana cara kita bersyukur dan ikhlas dalam menjalaninya....
...(Airen Cahya Senjani)...
Airen bersyukur, karena saat ini rumah tangganya sudah dipenuhi oleh cinta, dan kaish sayang.
"Mas, bangun." suara lembut itu keluar dari mulut Airen.
"Ughh, bentar sayang." jawab Hans yang masih terpejam.
Airen menghembuskan nafasnya kasar, dia langsung beranjak dari tempat tidur dan pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Hans membuka matanya perlahan saat dirinya mendengar gemercik suara air yang terdengar dari dalam kamar mandi.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, menampakan Airen dengan rambut yang basah. Airen tak menyadari jika suaminya sudah bangun, dia melewati ranjang begitu saja. Namun, tangannya tertahan.
Grep.
Hans menarik lengan istrinya, dan membawanya ke dalam pelukannya. Airen tergelak kaget saat mendapati dirinya duduk di paha suaminya dengan Hans yang memeluknya erat.
"Mas, lepasin."
"Bentar sayang, nanti ada yang bangun. kan kamu belum siap buat tanggung jawab." ujar Hans.
Airen memilih diam, membiarkan suaminya seperti ini. Hans menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam.
"Wangi bangat sih."
"Kan habis mandi, mas."
"Sayang, kapan siapnya?" pertanyaan ambigu itu keluar dari mulut suaminya.
"Siap apa, mas?"
"Siap tempur, terbang menuju nirwala." ujar Hans tanpa melepaskan pelukannya.
"Apasi mas? kamu sulit untuk dimengerti." kesal Airen.
"Kamu tidak mau mencoba untuk menyelami ku?"
"Inikan sedang usaha, untuk mengerti dan memahami kamu." ujar Airen.
"Mana? Tidak pernah tuh, kamu tidak pernah berusaha untuk mengerti dan memahami aku. Aku berbicara menjerumus ke yang a, kamu malah ke yang z." ujar Hans.
"Namanya juga lagi usaha, ngga langsung bisa!" teriak Airen yang sudah tersulut emosi, dia langsung bangun dari pangkuan suaminya
Astaga aku sampai lupa, jika istriku sedang hamil. batin Hans.
"S--sayang, jangan seperti itu. Aku minta maaf, jangan marah nanti kasihan anak kita." ucap Hans dengan panik.
"Kamu baru ingat, jika kita menikah karena sebuah kecelakaan? hingga hadirnya anak ini. Seharusnya kamu mengerti, kenapa aku belum bisa mengerti dan memahami kamu. Memangnya pernikahan kita seperti pasangan pada umumnya? yang menikah karena saling mencinta? Nggak mas!" teriak Airen, dia pun langsung pergi ke ruang ganti. Meninggalkan Hans yang termenung sendirian.
Salah bicara lagi, baru juga mesra. Sudah muncul masalah. batin Hans.
Pesta pernikahan Hans akan digelar dua hari lagi, William dan Raja pun belum kembali. mungkin besok baru sampai di Indonesia.
Hellena menghubungi beberapa teman-temannya, agar dapat hadir ke pesta pernikahan anak kesayangannya.
"Ratu, undang teman-teman kamu juga ya. Suruh mereka hadir ke acara nanti."
"Iya mah, siap. Aku juga sudah mengundang beberapa orang." jawab Ratu.
"Bagus, kalau seperti itu."
"Oiya, ma mau tau tidak? Bella kembali." ujar ratu.
Uhukk...Uhuk..
Hellena tersedak "Yang benar?" tanyanya.
"Iya mah, tapi Bima bilang dia sudah memiliki anak."
Apa!
"Coba ceritakan secara detail." pinta Hellena.
Namun belum sempat Ratu bercerita, Airen datang dengan wajah yang sangat muram. Seperti seseorang yang hendak menerkam.
"Ren, kamu kenapa?" tanya Hellena.
__ADS_1
"Ngga apa-apa, ma." jawab Iren.
Ratu mengisyaratkan kepada mertuanya, untuk tidak bertanya kepada Airen. Sepertinya wanita itu benar-benar tak ingin diganggu.
Airen menyantap makanan nya dengan lahap, dia langsung mengajak Eza untuk berkeliling sebentar. Mereka pun pergi, Airen tak berpamitan kepada siapapun. Namun, kepergian Airen terlihat oleh Ratu dan juga Bima.
**
Di taman.
Airen menatap lurus ke depan, melihat pemandangan yang ada. Airen mengelus-elus perutnya perlahan.
Maaf, Bunda tak bermaksud marah kepada kalian atau ayah kalian. Bunda hanya kesal, itu saja. Bunda juga sudah menerima kalian semua, jadi tenang saja oke. Bunda hanya memberikan ayah mu pelajaran. batin Airen.
"Kakak kenapa?" tanya Eza.
"Kangen saja sama kamu, Za." ucap Airen tak memandang Eza.
"Lah kan kita tiap hari bertemu."
"Tapi tidak seperti itu, kita sudah jarang quality time bersama. Memangnya Eza tidak kangen dengan momen seperti ini?" tanyanya menatap sang adik.
Eza mengangguk dan langsung memeluk Airen, "Kangen kak, waktu kakak tidak lagi untuk Eza. Disaat Eza ingin bercerita pasti selalu ada Gibran dan kak Hans yang menghalangi." lirih Eza.
Airen tersentak kaget, padahal dirinya hanya bertanya asal saja agar Eza tak menanyakan lebih. Namun, selama ini Eza tidak memiliki kesempatan untuk bercerita padanya.
Airen membalas pelukan sang adik, dia meminta maaf kepada Eza untuk kesalahannya.
"Maafin kakak ya Za, belum bisa jadi kakak yang baik untuk Eza. Kamu kalau mau bercerita, bilang saja. Kakak siap kapan pun, Gibran dan Kak Hans pasti mengerti. Kalau kamu tidak bercerita ke kakak. Kamu mau bercerita kemana lagi? Jadi jangan sungkan untuk meminta waktu kakak ya sayang. Maafin kakak." ucap Airen tulus.
"Ngga apa-apa kak, yang terpenting bagi Eza adalah melihat senyuman yang merekah di sudut bibir kakak. Jangan pernah bersedih lagi ya kak, selama ini kakak banyak mengalami kesulitan. Eza berharap, hari-hari kedepannya kakak selalu berbahagia."
Kata yang terlontar dari bibir Eza membuat hati Airen bergemuruh. bagaimana dia bisa mengabaikan adiknya, sedangkan Eza selalu berharap kebahagiaan untuknya. Air matanya pun lolos begitu saja.
"Kakak jangan menangis." pinta Eza.
Airen pun menyeka air matanya, mereka saling diam hanya mengamati pemasangan di taman. Tiba-tiba sebuah tangan kokoh, mengulurkan dua es krim.
Airen dan Eza mendongak ke atas, menatap siapa yang memberikannya es krim. Airen dibuat terkejut, tenyata orang itu adalah Bima.
"Ambilah. Gibran selalu bilang, jika es krim mampu meredakan kesedihan." ucap Bima.
Airen pun mengambil es krim yang diberikan Bima, begitu pun Eza.
Bima mengangguk, "Boleh saya duduk disini?" tanya Bima.
Ada kekhawatiran dan ketakutan di hati Airen, takut jika suaminya mengetahui hal ini. Bima paham apa yang dirasakan Airen melalui gestur wajahnya, sebenarnya dia hanya ingin menyampaikan sesuatu kepada Airen.
"kalau begitu saya permisi." ucap Bima, dan langsung pergi.
Tanpa mereka sadari ternyata Hans mengamati interaksi mereka, bahkan Hans menjatuhkan es krim ditangannya yang tadi sempat dia beli.
Hans melajukan kendaraannya, langsung menuju kantor.
🌹
Di kantor.
Hans menyuruh Roni, untuk memberitahu keluarga Airen di kampung. Agar mereka dapat hadir, di pesta pernikahan nya.
"Ron, tolong beritahu keluarga dan juga teman istriku di desa. Suruh mereka datang ke acara repsesi pernikahan kami." ujar Hans.
"Baik, Tuan." Roni berlalu pergi.
Hans menghembuskan nafasnya kasar, dia menatap ramainya jalanan dari atas gedung.
Hans sadarlah, jangan cemburu buta seperti ini. batinnya.
**
Malam pun tiba, saat Hans pulang dari kantor rumah sudah nampak sepi. Dia pun langsung melesat ke kamarnya.
Cklek.
Hans membuka pintu perlahan, dia sengaja pulang lebih larut karena tak ingin menyakiti sang istri karena kecemburuan yang masih tersisa.
Namun usahanya untuk menghindar tidak bisa terelakan, Airen menunggu dengan sabar di sofa kamarnya.
"Mas, baru pulang? Banyak ya pekerjanya?" tanya Airen, sambil mencium punggung tangan suaminya.
Hans hanya mengangguk, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Airen menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Setelah selesai mandi, Hans langsung memakai pakaian yang sudah disiapkan istrinya. Hans menuju ranjang, dan segera memposisikan diri untuk tidur. Airen mengikuti suaminya, dia pun tidur disebelahnya.
__ADS_1
Hans membelakangi Airen, "Mas." panggil Airen lembut.
"Tidurlah, aku capek." ucap Hans.
Ada rasa sakit di hati Airen, kalau tiba-tiba suaminya bersikap seperti ini. Belakangan ini Airen selalu ingin dipeluk jika hendak tidur.
air mata pun mengalir deras di pipi Airen, suara tangisan pun tak dapat dihindarkan. Hans menghembuskan nafasnya perlahan, saat mendengar isak tangis istrinya. dia membalikan badannya, agar menghadap sang istri.
Cup.
Hans mengecup kening Airen dengan lembut, dan mengusap air mata yang menetes di pipi lembut istrinya.
"Kenapa?" tanya Hans dengan suara lembut.
"M--mau dipeluk." lirih Airen.
Ada rasa senang di hati Hans saat melihat istrinya seperti ini.
"Kenapa tidak bilang? kok malah menangis sih."
"Biasanya kan, kamu selalu peluk tanpa aku pinta." ucap Airen.
"Sini sayang." Hans merentangkan tangannya, Airen pun langsung masuk ke dalam dekapan sang suami.
"Maafin aku." ucap Hans dengan suara berat.
Mendengar suaminya meminta maaf, Airen mengingat tentang kejadian tadi saat di taman.
"Aku juga minta maaf."
"Untuk apa?" tanya Hans.
"Janji jangan marah ya?"
Hans mengangguk dan tersenyum, dia tahu pasti istrinya akan jujur tentang masalah tadi pagi.
"Tadi pagi kan aku kesel sama kamu, terus aku ajak Eza untuk pergi ke taman. sekalian menghabiskan waktu bareng Eza, karena selama tinggal disini aku jarang berinteraksi sama Eza. Trus, ada m--kakak ipar datang, memberikan eskrim untuk ku dan Eza. Sudah gitu aja, ngga yang lain kok. Jangan marah ya mas." ucap Airen menjelaskan.
"Kakak ipar namanya siapa?" tanya Hans.
"Mas pasti tahu, udah ah aku marah nih."
"kak Bima ya?"
Airen mengangguk kecil, Hans tersenyum meskipun di lubuk hatinya ada perasaan sedikit sakit. Namun, dia mencoba untuk tidak cemburu buta.
"Mas marah?" tanya Airen menatap sang suami.
Hans menggeleng, "Tapi mas kok diem aja." protes Airen.
"Aku senang, karena kamu menjelaskan. Semoga kedepannya kamu selalu jujur dan terbuka sama aku. aku menyukai kejujuran meskipun itu menyakitkan, jangan ada yang ditutup-tutupi di antara kita ya sayang." ucap Hans dengan sangat lembut.
"Iya Mas, maafin aku ya. Insyaallah aku akan selalu jujur sama kamu. Makasih karena hari ini sudah berbaik hati untuk tidak mendiami ku." ujar Airen.
Hans tersenyum, "Aku akan menaruh kepercayaan sama kamu, tapi aku belum mendengar kamu mencintaiku. jadi, wajar ya kalau aku takut kehilangan kamu."
"Aku tak pandai mengutarakan perasaan, tapi satu yang pasti aku cinta sama kamu mas Hans. Kalau dipikir-pikir, aku bersyukur karena pernah mengumpat mu." ujar Airen sambil terkekeh pelan.
"Senang karena memiliki suami yang bucin? yang manja? seperti umpatan mu waktu itu." goda Hans.
Airen mengangguk masih dengan senyuman yang mengembang.
Cup.
Hans mengecup singkat bibir mungil istrinya, merasa gemas dengan tingkah Airen.
"Mas, jangan terlalu cemburu nanti malah membuat cinta semakin jauh. Cemburu boleh, tapi sekadarnya saja sebagai bumbu gairah dalam rumah tangga. Tapi kalau aku ngga bisa cemburu aja, soalnya kamu terlalu sempurna. Jadi, wajar kalau aku cemburu bangat." ujar Airen sambil terkekeh.
"Cemburu berlebihan, akan membuatmu kehilangan energi dan pikiran positif. Nanti malah jadi posesif, kayak aku contohnya."
Mereka berdua pun tertawa, menikmati malam indah bersama. Hans bersyukur jika masalah dapat diselesaikan dengan cara seperti ini.
Setelah pembicara singkat tentang kecemburuan, akhirnya mereka berdua sadar bahwa mereka sama-sama takut kehilangan satu sama lain.
Aku akan selalu menjaga mu agar terus berada disisi ku. batin Hans.
"Sudah larut, ayo tidur. Kasihan anak-anak kita di dalam perut, pasti mengantuk." ucap Hans.
Airen mengangguk, Hans mencium seluruh wajah istrinya dengan sayang. Dan mereka pun larut dalam mimpi nya.
Bersambung...
Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote komen dan like ya.
__ADS_1
Mumpung hari Senin, jangan lupa vote nya. Terimakasih kalian. ❤️