Kisah Tuan Hans

Kisah Tuan Hans
Chapter 44


__ADS_3

(UNGKAPAN HATI)


Selamat membaca ☺️


🌹🌹🌹


Airen mengerjapkan matanya perlahan, dia kaget saat mendapati dirinya tengah berbaring di atas brankar.


"Ughh, kenapa aku bisa ada disini?" gumamnya.


Cklek.


Suster masuk sambil membawa makanan dan juga obat untuk Airen, dia menghampiri Airen dan duduk di tepi brankar.


"Wahh, syukurlah nona sudah sadar." ujar suster tersebut.


"Maaf sus, siapa yang membawa saya ke sini?" tanya Airen penasaran.


"Memangnya nona tidak tahu? saya pikir pria bule itu adalah suami anda. Tadi, pria bule yang membawa nona kesini, sama satu anak perempuan sekitar 4 tahun." jawab suster tersebut.


"Pria bule?" tanya Airen.


"Iya benar, memang sepertinya 100% bule. Soalnya, cara pengucapan bahasa Indonesianya pun kurang fasih." ucap suster itu.


"Terima kasih, sus."


Suster itu tersenyum, "sama-sama, yasudah kalau gitu silahkan nona makan, setelah itu minum obat dan vitaminnya. Jangan terlalu stres, karena dokter bilang kandungan nona akan melemah jika anda terus menerus seperti ini." ujar suster memberitahu.


"Baik, saya mengerti. Terima kasih, sus."


"Kalau begitu saya permisi."


Airen mengangguk, suster itu pun keluar dari ruangan Airen.


Airen menghela nafasnya perlahan, dia memikirkan siapa pria bule yang telah menolongnya.


Siapapun dia, aku berdoa semoga kebaikannya dibalas dengan kebahagiaan untuknya dan juga keluarganya. batin Airen.


Airen mengusap perutnya yang masih rata, "Maafkan bunda ya sayang, karena membuat kalian susah. Bunda janji, akan menjaga kalian. Kalian harus sehat-sehat ya." Airen mengajak janinnya berbicara.


***


Drrddtt..


Roni? batin Hans.


πŸ“ž"Hallo."


πŸ“ž"Tuan, saya sudah menemukan keberadaan nona Airen, dari tuan Barra. Maaf Tuan, tadi saya meminta bantuannya. Tuan Barra akan mengirimkan alamat Nona Airen, jika Tuan mau memaafkan Tuan Barra dan kembali menjalin kerjasama." ucap Roni ditelepon.


πŸ“ž"Cepat minta alamatnya!"


πŸ“ž"Apa itu tandanya, anda memaafkannya Tuan?"


πŸ“ž"Ron! jangan banyak bertanya. Cepat kirim alamatnya!"


πŸ“ž"B--baik, Tuan."


Tut..


Hans mematikan panggilannya.


Dengan cepat Hans melajukan kendaraannya, sesuai dengan alamat yang telah diberikan asisten nya.


Cahya, tunggu aku. batin Hans.


Tak butuh waktu lama akhirnya Hans sampai di alamat yang Roni kirim, namun dia tersentak kaget saat mendapati alamat itu ternyata di rumah sakit.


Hans langsung turun dari mobil, dia sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Hans bertanya ke resepsionis rumah sakit, namun tidak ada nama istrinya disana.


Astaga, apa Barra sedang mengerjai ku? Awas saja kau Barra. batin Hans.


"Hei." Barra menepuk punggung Hans.


"Kau! Dimana istriku? kenapa namanya tidak ada disini." ucap Hans dengan marah.


"Ssttsss, diamlah. Ini di rumah sakit. Ayo, ikut aku." ajak Barra.

__ADS_1


Hans mengikuti langkah kaki Barra dari belakang, dia ingin sekali menghajar laki-laki dihadapannya ini.


"Hans, apa kau tahu? Sebenarnya bukan aku yang membawa istri mu ke sini." ucap Barra memulai pembicaraan.


"Lalu, siapa?" tanya Hans.


"Nanti, akan ku ceritakan. Sebaiknya kau temui Airen lebih dulu, dia membutuhkan mu saat ini. Oiya Dokter bilang, kandungannya melemah." ujar Barra memberitahu.


Ini semua salah ku, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu dengan istri dan juga anak ku. batin Hans.


Mereka pun telah sampai di depan ruangan Airen, Barra memberitahu Hans untuk segera masuk.


"Masuklah, dia ada di dalam. Oiya nanti aku ingin bicara dengan mu, temui aku di kantin." ujar Barra.


Hans hanya mengangguk, dia langsung masuk ke dalam ruangan istrinya di rawat.


Cklek.


Airen menoleh ke arah pintu yang terbuka, dia terkejut melihat suaminya datang.


Deg.


Airen memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak ingin melihat wajah suaminya yang akan membuat hatinya sedih dan sakit.


Hans menghampiri brankar tempat istrinya terbaring, Hans mendudukan bokongnya di kursi yang ada di samping brankar.


Hans mengambil jemari tangan Airen, dan menggenggamnya dengan erat. Sesekali dia mencium punggung tangan istrinya.


"Maaf."


Satu kata yang terlontar dari bibir Hans, Airen tak mampu untuk menahan air matanya. Dia menangis dengan menghadap ke arah lain, sangat sakit jika mengingat Hans tadi membentak dirinya.


"Sayang, hei. Maafkan aku." ucap Hans dengan lembut.


Airen tak bergeming, dia masih menatap ke arah lain. Sedangkan airmatanya sudah membasahi pipinya.


Hans mencondongkan badannya, dia menangkup wajah Airen, dan menghadapkan ke arah dirinya. Hans tersenyum, sedangkan Airen langsung memejamkan matanya. dia tak ingin menatap Hans.


Hans menghapus air mata yang mengalir di pipi Airen dengan ibu jarinya. Tanpa aba-aba, Hans langsung menyambar bibir ranum istrinya.


Hans menginginkan lebih dari sekedar kecupan, dia menggigit bibir bawah Airen dengan perlahan.


"Aww--."


Hmmpphhh.


Belum sempat Airen mengaduh kesakitan, bibirnya langsung dibungkam oleh lidah suaminya. Hans dengan lihai mencicip seluruh inci rongga mulut Airen. Dia melu mat nya dengan sangat lembut namun sedikit rakus.


Airen mulai kehabisan nafas, dia memukul-mukul dada suaminya. Hans langsung melepaskan pangutannya.


Dia mengelap sisa saliva yang berada di bibir istrinya dengan menggunakan ibu jarinya, Airen cemberut. Dia bahkan menatap ke arah lain, tak berani untuk menatap wajah suaminya.


"Cahya, maafkan aku. Maaf karena telah membentak mu, maaf karena telah mendiamkan mu." ucap Hans.


Airen bergeming, dia enggan untuk menjawab ucapan Hans. Airen ingin memberikan pelajaran untuk suaminya, bagaimana rasanya didiamkan.


"Sayang." ucap Hans dengan nada yang amat manja.


Astaga, kemana aura singa nya? batin Airen.


Hans mendekatkan wajahnya ke perut Airen, dia ingin mengajak anaknya berbicara.


"Hallo anak-anak papa, kalian sehat-sehat ya. Lihatlah Mama kalian sedang merajuk sama Papa." ujar Hans.


Namun tetap tidak ada reaksi apapun dari istrinya.


Hans menyeringai, dia langsung mencium perut Airen tanpa permisi, bahkan dia mengelusnya dengan perlahan.


"Ssshhhh, aaaaaa gelii!" teriak Airen, ada desiran aneh saat suaminya mengelus lembut perutnya.


Astaga, aku benar-benar kehilangan akal. lihatlah, hanya mendengar suara teriakannya yang seperti itu, tongkat sakti ku langsung turn on. batin Hans yang merasakan bagian bawahnya mengeras.


"Sayang, kau membangunkan sesuatu." ujar Hans.


"Apa?" tanya Airen ketus.


"Menurut mu?" goda Hans.

__ADS_1


"Sulit untuk dimengerti, sebaiknya kau pergi saja dari sini!" ujar Airen sedikit kesal dan emosi.


Hans tak menyangka dengan jawaban istrinya, mungkin memang bawaan ibu hamil moodnya berubah-ubah.


"Baiklah, aku akan pergi." jawab Hans, dia pun hendak bangun.


Namun suara isak tangis Airen membuat dia tidak jadi pergi, padahal memang tadi niatnya hanya untuk mengerjai istrinya saja.


"Hikss.. kau jahat!" tangis Airen pecah seketika.


Hans tersenyum, lalu membalikkan badannya. Dia memeluk erat istrinya, namun Airen sedikit memberontak.


"Tenanglah, maafkan aku ya. Maaf karena telah menyakiti mu." ucap Hans dengan lembut.


"Kenapa kamu membentak dan mendiamkan ku?" tanya Airen di sela-sela tangisnya.


"Cemburu." jawab Hans.


Airen diam, dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Aku cemburu, karena kamu terlalu dekat dengan kak Bima. Salahkah aku, jika cemburu kepada istriku? Aku takut, kamu malah mencintai kakak ku." ucap Hans dengan nada yang sedih.


Apakah itu tandanya dia benar-benar mencintai ku? Tapi aku tidak suka, kalau dia cemburu. sikapnya sungguh menyakiti hati. batin Airen.


"Kenapa kita tidak tinggal berdua saja? kalau terus-terusan seperti ini, aku ngga sanggup. Padahal aku tidak pernah ada niat untuk menggoda mas Bima." ujar Airen.


Hans melepaskan pelukannya, hatinya kembali memanas saat mendengar istrinya memanggil Bima dengan sebutan Mas.


Hans kembali diam, dia sedang mengontrol emosinya agar tak meluap. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan emosi akibat rasa cemburunya.


"T--Tuan." panggil Airen, terkadang dia belum terbiasa memanggil suaminya dengan sebutan Mas.


Hans menatap tajam Airen, "Kamu bahkan memanggil Bima dengan sebutan Mas, sedangkan kamu memanggil aku dengan sebutan Tuan? Apa ini adil untuk ku, Cahya! Bisakah kamu benar-benar menjadi istriku meskipun kamu belum mencintai ku! Bisakah kamu menjaga perasaan ku? Aku tahu, aku pria jahat yang kau sebutkan, aku pria brengsek bagi mu. Aku tahu, aku salah. Tapi, bisakah kamu memberikan aku tempat di hati mu." ujar Hans dengan nada tinggi.


Airmata Iren kembali turun, sakit sekali dibentak oleh suami nya.


"Kamu pikir aku tidak berusaha mencoba menjadi istri mu hah!? Aku sedang berusaha menjadi istrimu, bahkan aku dengan senang hati membuatkan mu sarapan dan membawakan nya ke kantor mu! Kau tahu, resepsionis mu mendorong ku, dimana kamu saat aku membutuhkan mu? Bahkan saat aku masuk ke dalam ruangan mu, kamu malah menyuruh ku keluar. Aku pikir, aku berarti bagi mu, ku pikir kau akan mementingkan ku, namun ternyata salah. Bahkan saat aku pingsan di jalan, apakah kamu ada untuk ku dan juga anak kita hah! Hikss... Cemburu mu memang tidak salah, tapi sikap dari kecemburuan mu membuat hati ku sakit! Bisakah kamu membicarakan segalanya kepada ku dengan baik-baik, bisakah kamu mempercayai ku bahwa aku tidak akan mengkhianati mu! Untuk apa aku menggoda kakak mu, sedangkan aku memiliki dirimu! Kau bodoh, hikssss.. Pergi saja, tidak usah mengkhawatirkan ku. Hikss.." Airen berteriak sambil menangis, dadanya begitu sesak.


Hans tak kuasa melihat istrinya, menangis seperti itu. Dia memeluk kembali Airen dengan erat, kini Hans menyadari kesalahannya.


"Maaf, maafkan aku." Hans terus memeluk Airen, meskipun istrinya hanya diam tak memberontak.


Hanya ada suara isak tangis yang terdengar, Airen tak mampu berkata lagi, semua unek-unek di hatinya sudah dia keluarkan.


"Cahya, tatap aku." pinta Hans dengan suara yang bergetar.


Airen tidak menggubris ucapan suaminya, tatapan nya hanya kosong ke arah lain.


"Hei, sayang. Maafkan aku, tidak seharusnya aku cemburu berlebihan. Hanya saja, aku terlalu takut untuk kehilangan mu."


"Aku tidak ingin tinggal dimansion." ucap Airen.


"Baiklah, kita tinggal di apartemen untuk sementara waktu ya." ucap Hans.


"Aku tidak ingin tinggal satu atap dengan kakak mu, jika hal itu menyakiti hatimu." ucap Airen.


"Aku akan mencoba untuk lebih percaya kepada mu, dan akan meminta penjelasan mu lebih dulu. Jika bukan karena Gibran, aku sudah membawa mu jauh dari sana. Aku tak ingin egois, karena kamu juga kebahagiaan Gibran. Setidaknya, sampai kak Bima menemukan pendampingnya. Pokoknya, kamu harus jaga jarak dengan kak Bima ya." ujar Hans dengan lembut.


Jadi, dia tetap ingin aku ada di mansion karena Gibran? Dan dia lebih memilih menyakiti hatinya sendiri demi kebahagiaan Gibran. sungguh Om yang berbaik hati. batin Airen.


Airen mengangguk patuh, Hans menyuruh istrinya untuk istirahat dulu. karena dia mau menemui Barra di kantin.


"Yasudah kamu istirahat ya, aku keluar sebentar." ucap Hans.


"Jangan lama-lama." pinta Airen, dia pun memalingkan wajahnya karena malu mengatakan hal itu kepada Hans.


Hans terkekeh, syukurlah masalah ini sudah selesai. Dia lega karena kembali aku dengan Airen.


Cup.


"Iya sayang, ngga lama." ujar Hans setelah mencium kening istrinya.


Bersambung...


Terimakasih banyak untuk kalian yang sudah mampir dan membaca cerita yang aku buat jangan lupa untuk memberikan dukungannya melalui vote, komen dan like ya.


Tetap sehat dan bahagia semuanya ❀️.

__ADS_1


__ADS_2