
Sejak kedatangan tuan Jhonatan beberapa hari yang lalu, kini keluarga Mikhailov baik-baik saja. Bima meminta kepada Hans untuk merahasiakan tentang kedatangan ayah mertuanya dari orangtua nya. karena Bima tidak ingin papi Willi ikut turun tangan karena hal sepele seperti itu.
Bima dan Bella belum pergi berbulan madu, karena Bella masih ingin untuk mendekatkan diri dengan keluarga ini. Seperti yang kita ketahui, pernikahan mereka memang sangat mendadak.
Pagi ini, Bella, Ratu dan Airen membawa anak-anak mereka pergi ke taman bermain tanpa sepengetahuan suami mereka, karena para suami mereka masih tertidur pulas. Sedangkan mami Hellena dan papi Willi pergi ke luar kota sejak kemarin sore. Airen sengaja tidak membawa baby sister anak-anaknya, Airen menyuruh Ica dan mbok Ti pergi belanja bersama dengan Mbok Nin.
Eza, Gibran, dan Eranson bermain bersama. Ratu bagian mengawasi anak-anak dari tempatnya berada, Bella menggendong Amira anak pertama dari Airen dan Hans, sedangkan Airen menggendong Amara, anaknya yang paling rewel itu.
"Bel, si Bima memangnya tidak mengajak kamu berbulan madu?" tanya Ratu penasaran.
"Ngajak mbak, tapi akunya masih belum mau. Pengen disini dulu, nikmatin waktu bareng kalian." tutur Bella.
"Atau kamu khawatir dengan Gibran? Anak itu pasti menurut. Lagi pula ada kita yang akan menjaga nya."
"Iya bener apa kata mbak Ratu, mbak Bella ngga usah khawatir tentang Gibran. Anak itu penurut sekali, lagi pula Gibran pasti senang kalau Daddy dan mommy nya memberikan adik untuk nya." tiba-tiba saja pipi Bella memerah, saat Airen mengatakan hal itu. Ntah mengapa degup jantungnya tak karuan.
"Ren, kamu ngga mau nambah anak laki-laki?" tanya Bella mengalihkan pembicaraan.
Airen yang mendengar pertanyaan itu sedikit terkekeh, memang sih dia ingin anak laki-laki. Tapi nanti, kalau anak kembarnya ini sudah agak besaran.
"Nanti aja mbak, mending mbak Ratu dan mbak Bella dulu yang nambah. Kan kalian baru ada anak laki-laki aja." tutur Airen kepada keduanya.
Ratu yang mendengar penuturan Airen pun langsung menjawab "Ngga deh, satu aja kepala rasanya pusing. Mbak takut, kalau nanti anak kedua juga gen nya dari ayahnya, aduh bisa-bisa mati muda."
"Lho memangnya kak Raja kenapa?"
"Nanti juga kamu tahu Bel, pokoknya aku mah satu aja cukup. Kalau mau nambah mending kamu sama Airen aja yang nambah, lagi pula menurut mbak anak kalian juga anaknya mbak." Ratu tidak ingin menambah anak karena takut jika gen suaminya lebih dominan, kalian tau sendiri kan bagaimana absurd nya suami dari Ratu.
***
Di lain sisi, di kediaman keluarga Mikhailov. Bima yang baru bangun langsung mencari keberadaan istri dan anaknya, namun rumah nampak sepi. Mbok Nin, mbok Ti, dan Ica juga tidak ada di mansion.
Bima mengetuk pintu kamar Hans, berharap jika istri dan anaknya tengah mengunjungi Amira dan Amara.
"Hans buka pintunya!!" teriak Bima.
Hans yang baru bangun langsung menuju ke arah pintu, dan membukakan pintu untuk Bima. Dengan mata yang masih merem melek, Hans berusaha menatap Bima.
"Kenapa?" tanya Hans.
"Di dalem ada Bella dan Gibran tidak?"
Hans menggeleng, "Diumpetin si Raja kalih."
Bima menghela nafas pelan, lalu pergi dari kamar Hans tanpa sepatah kata pun. Bima menuju kamar Raja untuk menanyakan langsung kepadanya.
Hans menutup pintu kembali, lalu merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur namun saat Hans ingin memeluk sang istri. Dia justru kaget karena tidak ada Airen di sampingnya, mata Hans yang tadinya sayu sekarang malah tidak.
__ADS_1
Hans beranjak turun, dia mencari di dalam kamar mandi tidak ada, di ruang ganti pakaian tidak ada, bahkan di dalam boks bayi anak-anaknya pun tidak ada.
Kemana mereka. batin Hans.
Hans dengan buru-buru langsung turun ke bawah mencari istrinya, "Airen sayang, kamu dimana?" teriak Hans di dalam mansion.
Sepi.
Tidak ada yang menyahut, Hans mencari ke ruang bermain tidak ada, di dapur tidak ada, di ruang keluarga juga tidak ada. Saat Hans tengah kesana kesini mencari keberadaan istrinya, Raja dan Bima turun dari atas dengan tergesa-gesa.
"Airen juga ngga ada?" tanya Bima.
Hans mengangguk, "Kenapa mereka semua tidak ada? mbok Nin, sama baby sister anak lo juga ngga ada." tutur Bima.
"Mbak Ratu ngga ada?" tanya Hans menatap Raja.
Raja menggeleng, "Ngga ada, terus mereka semua kemana ya?" tanya Raja kepada kedua adiknya.
"Mana kita tahu." jawab Hans dan Bima kompak.
Di saat Bima dan Hans panik setengah mati, berbeda dengan Raja. Justru laki-laki itu malah melimpir ke dapur mencari makanan.
Bima dan Hans membuntuti Abang mereka, saat sampai di dapur Raja mengambil roti dan mengoleskan selai bahkan Raja menyeduh susu dengan santainya.
"Ja, kok lo ngga panik sih. Istri sama anak lo ngga ada!" tutur Bima.
"Punya Abang gini amat dah, kalau anak istri kita di culik bagaimana?"
"Ya ngga giman-- Apa?! Culik. Kenapa ngga bilang kalau mereka diculik." ucap Raja panik.
"Paniknya telat." ucap Hans.
Ntah mengapa mereka bertiga menjadi bodoh, padahal ada cctv di mansion. Kenapa ngga coba melihat cctv.
Mereka bertiga justru pergi keluar mencari istri dan anak-anak mereka, Bima mengemudikan mobilnya, Hans duduk di samping Bima sedangkan Raja duduk di kursi tengah.
"Hans, kalau penculiknya minta tebusan pake duit lo aja ya." ucap Raja, meski keadaan genting seperti ini pelitnya Raja masih bersemayam dalam dirinya.
"Nggak ada! Kalau penculiknya minta tebusan satu orang seratus juta tekor gue."
"Yaelah segitu mah apanan kecil, nanti tinggal jual saham aja."
"Bim, Abang lo otaknya konslet deh."
"Abang lo juga."
"Aduh adik-adik Abang tersayang, kenapa pada rebutin Abang sih. Sini-sini Abang peluk." Raja menerobos ke depan untuk memeluk Hans dan Bima yang tengah mengemudi.
__ADS_1
"Go bl ok homo, lepasin Ja gue lagi nyetir nehh." teriak Bima berusaha menyingkirkan kepala kakaknya.
"Bosen hidup?" dua kata dari Hans nyatanya berhasil membuat Raja duduk kembali.
Tanpa ada tujuan yang jelas mereka terus saja berputar-putar mencari keberadaan istri dan anak mereka. "Ini kemana sih?" protes Hans.
"Ya gue juga gatau, emang penculiknya dimana?" tanya Bima.
Hans mengusap wajahnya kasar, "kenapa gue jadi ikutan bodoh kayak kalian sih, harusnya kita cek cctv, atau telepon mereka dulu."
"Yauda cepet telepon mereka!"
"Ngga bawa hp."
"Nih gue bawa, bentar gue telepon my queen." ucap Raja mengeluarkan handphone miliknya dan berusaha menghubungi istrinya.
Pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini-----.
Raja menyengir kuda, sedangkan Hans dan Bima sudah menatap tajam Abang nya itu. Bisa-bisanya anak orang kaya kehabisan pulsa.
"Gue heran kenapa mbak Ratu mau sama lo." ucap Bima.
"Gue juga heran kenapa si Bella mau sama duda kayak lo." ucap Raja tak mau kalah.
"Diem!" ucap Hans melerai perdebatan mereka.
Akhirnya setelah tiga puluh menit tidak membuahkan hasil, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, justru pintu mansion terbuka lebar.
Lantas ketiga bersaudara itu langsung turun dnega tergesa-gesa, sesampainya di depan pintu ternyata benar. Ada Airen, Ratu dan Bella yang sedang berdiri di ruang depan menunggu kedatangan suaminya.
Mereka bertiga heran karena istri mereka menatap tajam ke arah mereka, Hans berusaha tersenyum sambil berjalan ke arah Airen, begitupun dengan Raja dan Bima.
Namun siapa sangka, saat mereka telat berada di hadapan istri masing-masing. Istri mereka malah mundur.
"Dari mana?" tanya Airen kepada Hans.
"Nyariin kamu dan anak-anak kita sayang."
"Kalian juga?" tanya Ratu dan Bella, Raja dan Bima mengangguk iya.
"Kalian keluar hanya memakai pakaian dalam saja hah?!" teriak Airen Bella dan Ratu.
Lantas hal itu membuat Hans, Bima dan Raja saling berpandangan kemudian mereka mengecek bagian bawahnya. Ternyata benar, mereka hanya memakai box er saja.
Mampus. batin mereka.
Dan yang terjadi setelahnya, mereka mendapatkan hukuman dari istri masing-masing. Mereka di suruh menjaga anak-anak mereka seharian penuh, sedangkan Airen, Bella dan Ratu pergi berbelanja ke mall mempercantik diri mereka.
__ADS_1
Bersambung...